Sahabatku Ninda

Sahabatku Ninda, mungkin ketika aku sudah terjaga pukul empat menanti subuh, kamu masih terlelap di awal tidur setelah berjibaku dengan segala pekerjaanmu. Kita sama-sama letih dengan kantong mata hitam yang besar, mengais-ngais sisa waktu yang dapat digunakan untuk kembali terlelap. 

Boleh kita sebut diri kita sebagai wanita tangguh (tapi sebenarnya berhati rapuh)?

Dua bulan yang lalu, masa-masa tanpa kesibukan yang dahulu senantiasa kita keluhkan, akan segera menjadi masa lalu yang manis. Eh, manis kubilang? Mungkin aku menggigau. Tapi bukankah bangun setelah matahari terbit, menghabiskan siang dengan tidur atau mengobrol di kafe, atau menikmati sore sembari duduk di tepi rel Lempuyangan, adalah hal-hal mahal yang manis? 

Jika saja kita tahu bahwa masa itu akan segera menjadi tumpukan kenangan di pojok memori kita.


Ninda, dalam waktu yang kurang dari satu purnama itu, aku akan segera menjadi ibu guru. Akan kupakai pakaian terbaik yang kupunya, berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki dan tak sabar memastikan murid-muridku sudah menyambut dengan senyuman ceria dari balik dinding-dinding kelas. Membayangkan rutinitas baru itu, aku merinding hebat. Ada keraguan besar di dalam diri, mampukah aku menjadi panutan yang digugu lan ditiru. Aih, guru. Berat sekali tanggung jawabku. Manusia berumur 20an awal ini, akan mengajar di depan kelas, mengestafetkan mimpi-mimpi kepada anak-anak bermasa depan cerah, setiap hari selama satu tahun penuh. Kubayangkan hari-hari yang kubagi dengan murid-muridku yang haus ilmu, mungkin kami akan bersama-sama menanti sore di tepi punggungan bukit sembari belajar tentang cuaca. Atau mungkin, kami akan bercengkrama di bawah pepohonan berlomba membuat puisi tercantik untuk ibu gurunya.

Dan kamu Ninda, kamu akan menyongsong apa yang kamu sebut masa-depan-jangka-panjang-yang-cerah-namun-berliku. Sadarkah kamu, bahwa untuk mencapai jalan yang lurus, kadang Tuhan tak mengizinkan kita menuju ke sana tanpa lika-liku yang mendebarkan. Kubilang mendebarkan, karena kamu tak pernah tahu kapan jalan berlikumu itu akan berpotongan dengan jalan lurusmu- dan kamu akan segera mendapatkan masa-depan-jangka-panjang yang kamu inginkan.

Tak pernah ada pilihan yang salah. Karena benar atau salah sebuah pilihan, itu tergantung kita yang menamainya. Mungkin dalam empat minggu ke depan, kamu sudah duduk di dalam sebuah ruangan dingin, menghadapi tugas-tugas proyek dan rencana survei yang menumpuk, serta menyimak denyut nadi ibukota dari jendela ruanganmu yang jernih. Kita sama-sama sedang mencari muara yang tepat untuk kita mengendap. Muara tempat kita mengenolkan diri. Sesederhana itu. Ada masanya segala pencarian ini berakhir dan kita memilih untuk berlabuh di tempat yang kita inginkan. Sekarang, aliran sungai kita sedang deras-derasnya. Kita begitu tertantang melompati jeram-jeram tinggi, kelokan maut, dan batu-batu tajam yang melingkupi permukaan. Aliran itu menghanyutkan dan menerjang segala rintangan. 

Semoga itu kita. 

Ninda, akan kunanti sebuah masa ketika kita akan kembali menikmati hal-hal mahal yang manis itu. Satu, dua, atau tiga tahun ke depan. Kumohon, jangan lupakan bahwa kita pernah punya sebuah kisah klasik dimana kita benar-benar bisa tertawa lepas tanpa beban.

Cerita Tentang Kedai Ibu

Sebenarnya saya ingin melanjutkan menulis ttg Kelana Nusa Tenggara, tetapi rupanya tangan lebih tergerak untuk membuat tulisan ini.

Ibu saya membuka sebuah kedai makan di rumah. Tidak begitu besar, hanya diisi beberapa meja dan kursi untuk para pelanggan yang ingin makan langsung di sana. Masakan yang disediakan pun hanya masakan ala rumah Jawa. Rumah kami memang berada dekat dari kampus dan dikelilingi banyak kos-kosan. Inilah yang membuat Ibu memutuskan untuk membuka kedai makan pada lebih dari tiga tahun yang lalu.

Pada dasarnya, Ibu suka sekali memasak. Sejak kecil beliau sudah terbiasa membantu eyang saya yang juga membuka rumah makan. Sejak kecil saya tidak terbiasa jajan karena memang semua makanan sudah disediakan oleh Ibu di rumah. Masa-masa kejayaan perut saya adalah saat Ibu masih membuka katering roti dan kue karena sembari membantu Ibu memasak kue, saya bisa melahap remah-remahnya seenak jidat.

Kedai makan Ibu punya pelanggan-pelanggan setia yang senantiasa mampir hampir setiap hari. Mereka adalah para mahasiswa, ibu rumah tangga yang tidak memasak, pekerja kantoran, hingga para tukang dan penjual keliling. Ibu mengenal satu persatu pelanggannya meskipun makin hari jumlah mereka makin banyak. Beliau mampu menghafal si A makan pakai apa, si B biasa ambil lauk yang mana, dan seterusnya. Mungkin semacam ada database pelanggan di otak Ibu yang sudah diset otomatis, hahaha. Kebiasaan Ibu ini membuat beliau seakan-akan punya banyak anak yang tidak lain adalah para mahasiswa langganan kedai makannya.

Seperti halnya memasakkan untuk sang anak, apabila ada permintaan khusus dari pelanggan Ibu akan berusaha memenuhinya. “Bu, mbok besok masak terong balado yang pedes,” maka Ibu dengan senang hati membuat masakan tersebut. “Bu, tempenya sudah matang?” maka Ibu akan tergopoh-gopoh menyuruh mbak rewang mengambil tempe goreng dari dapur. Ibu juga terkadang tidak tega melihat pelanggan mahasiswa yang mungkin kehabisan uang sehingga beliau akan menambahkan nasi atau lauk sederhana. Mungkin karena perilaku inilah Ibu begitu disayang oleh ‘anak-anak’nya tadi.

Saya sering tidak habis pikir dengan Ibu yang tidak mau mengambil untung banyak meskipun seharusnya beliau bisa melakukannya. Ibu memang begitu mengikuti falsafah orang Jawa: yang penting sudah cukup, tidak perlu dilebih-lebihkan. Dan hebatnya, beliau terlihat bahagia bisa ‘memberi makan’ begitu banyak orang, sesuai dengan passionnya di dunia masak. Duh, seharusnya saya bisa belajar ini dari beliau.

Tanpa disadari oleh dirinya sendiri, Ibu telah melakukan strategi marketing paling tokcer untuk menjaga hubungannya dengan pelanggan. Satu hal yang kemudian saya pelajari dari apa yang beliau lakukan: selama usaha dilakukan dengan hati dan penuh kesenangan, kita tidak butuh strategi marketing canggih untuk mempertahankan perusahaan. Boleh percaya boleh tidak, tetapi Ibu saya sudah membuktikannya.

Graduation Trip At A Glance

Tahun 2012 ini nampaknya semesta berkonspirasi untuk terus menerus menjauhkan saya dari hangatnya rumah. Kaki ini menjadi lebih banyak melangkah, mata ini lebih banyak melihat warna-warni, dan tangan tak henti menjabat tangan orang-orang baru yang ditemui sepanjang perjalanan.

Baru kemarin lusa saya pulang dari perjalanan yang lain. Sebulan setelah saya mengikuti upacara wisuda dan resmi menjadi seorang pengangguran, saya bersama ketiga teman lain mulai berjalan lagi ke Timur. Haha baiklah, nampaknya kami semua memang begitu jatuh cinta dengan Bumi Timur.

Pada awalnya saya merencanakan pendakian ke Rinjani sebagai seremonial kelulusan. Foto dengan toga di puncaknya. Haha, iya deh saya emang tipikal orang Indonesia banget, suka dengan selebrasi. Namun saat-saat seperti ini nampaknya tidak cocok untuk mendaki karena musim hujan dan Rinjani pun ditutup untuk pendakian. Sejak awal saya sudah bertekad untuk melakukan paling tidak satu kali perjalanan jauh sebelum akhirnya menyambut realita untuk segera mencari sumber penghidupan.

Bersama seorang teman, kami menjadikan Flores sebagai destinasi utama. Saya teracuni oleh berbagai posting dari teman-teman blogger yang sudah lebih dahulu ke sana. Rupanya cukup sulit mencari orang yang mau ikut trip kere-memble-tapi-banyak-maunya ini. Bongkar pasang anggota terus menerus dilakukan, pun kami sudah sempat putus asa dan legowo jika trip ini terpaksa dibatalkan. Tetapi jodoh memang nggak kemana. Beberapa hari sebelum tanggal keputusan final, dua orang bergabung! Kebetulan mereka pun baru saja lulus dan kami menyebut ini sebagai semacam graduation trip.

Rupanya banyak sekali yang bisa dikunjungi di sekitaran Flobamora sana. Alamnya, penduduknya, sejarahnya, semuanya ada dan tersimpan cantik di Nusa Tenggara. Tetapi apa daya, uang adalah pembatas utama yang membuat kami harus merencanakan trip ini baik-baik. Bahkan sempat ada rencana untuk ikut menumpang pesawat Hercules ke Kupang lalu menyisir dataran Flores dari timur ke barat lalu pulang ke Jogja. Sayangnya jadwal keberangkatan Hercules sangat tentatif dan sempat pula kami baru dapat kabar pada pukul 10 malam bahwa Hercules akan berangkat ke Kupang esok paginya pukul enam. Hahaha, nggak jodoh!

Pada akhirnya kami memutuskan untuk melakukan perjalanan darat untuk menekan biaya. Tiga hari nonstop saya habiskan di jalan untuk dapat mencapai Labuan Bajo, Flores. Naik kereta ekonomi, ganti bis, ganti ferry, bis lagi, ferry lagi, bokong ini rasa-rasanya sudah hapal lekuk tiap moda transportasi yang kami gunakan. Mandi pun bisa tiga hari sekali. Lelah, pasti. Saya sampai bosan tidur dan main uno di sepanjang jalan. Tetapi pergi bersama tiga teman saya ini membuat perjalanan ini menjadi menyenangkan. Untungnya kami punya visi misi yang sama, dan sama-sama setuju bahwa perjalanan semacam ini menjadi lebih kaya dengan segala ‘penderitaan’ diri yang kami alami.

Kami bertemu banyak sekali orang baik di jalan. Orang Timur memang punya karakter yang keras, tapi hati mereka baik sekali. Mulai dari dua ikat anggur yang diberikan oleh seorang bapak-yang bahkan tidak saya kenal- di bis menuju Sumbawa, hingga pertolongan seorang kru kapal live a board yang mengizinkan kami menginap semalam di kapal mewah tempatnya bekerja. Ada keluarga baik di Labuan Bajo yang tidak mengenal kami tapi mempersilakan kami tidur di rumahnya bahkan menggunakan kamar anaknya selama semalam. Ada juga dua bule gila dari Belanda yang jadi teman ngetrip selama di Komodo. Anak-anak Desa Komodo yang begitu ramah senyum dan suka menyapa para tamu yang datang di desa mereka. Pun telinga kami lebih banyak mendengar cerita-cerita yang beragam. Ada cerita miris dari bapak-bapak yang mengantarkan kami berkeliling dua hari satu malam dengan kapalnya. Keluh kesah para pelaut yang selalu jauh dari rumahnya. Ya, kami belajar banyaaaak sekali dari perjalanan ini.

Sebenarnya saya sudah tak sabar berbagi cerita ini dengan teman-teman semua dan ingin meyakinkan kalian semua bahwa perjalanan ke timur itu bisa dilakukan dengan murah, asalkan kita mau bersabar dan siap menghilangkan ego. Belajar berjalan dengan tidak menjadi siapapun.

Sebenarnya kami belum mau pulang, tapi uang yang sudah benar-benar habis dan mama yang mulai rewel karena tahu uang saya habis membuat kami harus pulang lebih cepat. Ya, pada akhirnya kami hanyalah anak-anak yang merindu harum kasur di rumah sendiri. Debby, Edo, Tege, saya siap untuk kelana jilid dua bersama kalian! ๐Ÿ™‚

Untuk Suamiku Di Masa Depan

Tidak terasa sudah bulan keenam di 2012. Aku masih menenangkan diri setelah seharian ini terlalu banyak ide berlari liar di otakku. Aku mencoba untuk tidak memikirkan apapun, tetapi entah mengapa malam ini aku kepikiran melulu.

Hingga kini tidak pernah aku tahu seperti apakah parasmu. Aku selalu berdoa Tuhan memberikan barang sedikit bocoran agar aku dapat mengintipmu di dalam mimpiku, tapi itu nihil. Tuhan masih membiarkanmu bersembunyi di dalam selubung misteri yang bahkan untuk menebaknya pun aku tak pernah sanggup. Tapi aku percaya, Ia telah menjalinkan benang merah takkasat mata seperti yang sering aku lihat di film-film. Benang ini mungkin hanya beberapa meter, atau beberapa puluh meter, atau beberapa puluh kilometer, atau beberapa ribu kilometer panjangnya, itu yang aku tak tahu. Yang jelas kita sudah saling terhubung dan akan ada saatnya kita bertemu untuk saling mencintai sampai mati.

Aku selalu berdoa bisa menemuimu di kesempatan hidupku kali ini. Aku ingin di pertemuan pertama aku sudah bisa menyadari bahwa bersamamulah aku akan menghabiskan masa tuaku. Kita tidak berpacaran dalam waktu lama. Kita menikah dalam kesederhanaan yang hanya menghadirkan keluarga dan teman-teman terdekat. Di sebuah taman terbuka dengan warna-warna musim semi yang cantik. Kita bekerja sesuai dengan kesukaan kita, pulang ke rumah dengan rasa bahagia dan selalu berbagi tentang apa yang kita alami di tempat kerja.

Kau tidak pernah melarangku berjalan bersamamu, mendaki gunung atau menyusur pulau kecil entah di pelosok mana. Karena kamu tahu, aku akan selalu pulang ke rumah. Rumahku, di hatimu.

Kemudian anak pertama lahir dan kita menyayanginya dengan wajar. Anak yang lucu, parasnya begitu mirip denganmu. Ia beranjak besar dan segera mendapatkan adik. Anak pertama kita sudah familiar dengan alam dan binatang. Tiap minggu kamu tidak pernah alpa mengajaknya bersepeda sementara aku mengajak si adik bermain di taman. Kita berempat keluarga kecil yang bahagia.

Rumah kita adalah bangunan sederhana berelemen kayu. Menyerupai bentuk panggung seperti rumah tradisional Kalimantan yang sejuk. Berhalaman luas dengan pohon besar. Gazebo kecil di pinggir kolam dengan ikan-ikan berlompatan. Ayunan untuk anak-anak. Pagar yang rendah agar kita selalu menyapa para tetangga. Sebuah mobil double cabin terparkir rapi di halaman, sebulan sekali kita mengajaknya jalan-jalan ke tempat-tempat baru bersama anak-anak kita.

Kita punya perpustakaan sederhana di bagian depan. Perpustakaan ini memuat begitu banyak buku koleksi kita dan sumbangan teman-teman sejawat. Tiap sore anak-anak tetangga datang turut membaca. Aku mengajar membaca sementara kamu menceritakan sebuah buku kepada anak-anak balita. Sesekali kita undang anak-anak yatim piatu untuk kita berikan kesempatan belajar bersama. Kita bahagia dengan berbagi, begitu selalu kau ingatkan padaku.

Tiap malam dalam doa aku selalu mendoakanmu. Tak lupa mendoakan diriku sendiri. Agar saat kita bertemu nanti kita telah berhasil memantaskan diri: aku pantas untukmu dan sebaliknya terjadi padaku. Lelaki yang baik adalah untuk perempuan yang baik.

Aku selalu mencoba sabar, mengira-ngira kapan kita akan bertemu. Aku takut melewatkanmu. Aku takut kehilangan kamu. Orang bilang, jodoh yang tepat hanya datang satu kali. Tapi aku percaya, aku akan mengetahui ketika saat-saat itu datang.

Selamat malam, suamiku di masa depan.

tertanda,
Istrimu di masa depan.

Semangat dari Matahari Terbenam

Hidup adalah berproses. Akan ada saat-saat kita gagal menjalani sesuatu, entah itu pekerjaan, mimpi, bahkan hubungan cinta. Terpuruk dan mengasihani diri sendiri terlalu lama akan merugikan dan tidak menghasilkan apapun. Sudah seharusnya ketika kita berada di bawah, maka akan berjuang lagi untuk bisa mencapai titik atas sehingga kita bisa kembali tersenyum bahagia. Karena itulah, buat saya yang namanya move on itu adalah sesuatu yang klise, bukan hal istimewa yang harus dilakukan dengan berat hati. Namanya juga proses kita menjadi manusia yang lebih dewasa, dibalik semua kegagalan itu tentu ada pelajaran.

Namun ada kalanya saya terlalu berat mencintai atau mengharapkan sesuatu sehingga saya kesulitan untuk bisa beranjak menuju cerita selanjutnya. Di saat itulah saya butuh media pelepas kegalauan, dan karena saya suka jalan, ya cara saya adalah dengan berjalan-jalan. Menyibukkan diri dengan segala persiapan sampai perjalanan itu sendiri hingga saya lupa bahwa saya sedang sedih. Biasanya saya kemudian mendapatkan semangat baru sehingga saya bisa move on dengan cepat.

Bagi manusia melankolis macam saya, salah satu pemandangan paling cantik yang dapat membangkitkan mood adalah ketika langit senja memerah padam dan gerombolan awan menyembunyikan matahari yang perlahan tenggelam. Karena itulah, dua destinasi move on favorit saya adalah tempat-tempat di mana saya dapat menyaksikan pemandangan tersebut, entah sendirian atau bersama sahabat.

1. Stasiun KA Lempuyangan | Tugu Yogyakarta

Buat sebagian orang, stasiun hanyalah menjadi tempat transit ketika melakukan perjalanan dengan kereta api. Kereta datang dan pergi mengantarkan ribuan manusia pada pertemuan atau sebaliknya, pada perpisahan yang menyedihkan. Selebihnya, stasiun menjadi tempat mencari rupiah bagi para pedagang, calo tiket, pencopet, atau preman garang tapi ceng ceng po. Sekilas, tidak ada hal istimewa yang dapat dilakukan di sebuah stasiun kereta api.

Tetapi untuk saya, stasiun adalah sebuah destinasi favorit ketika saya butuh sendiri. Dengan sangat percaya diri pula saya tetapkan stasiun kereta api sebagai salah satu tempat paling romantis di dunia. Di sini saya menyerap berbagai energi yang membuat saya kembali melangkah pasti sekeluarnya saya dari stasiun. Ada begitu banyak emosi yang secara alami tercipta dari para pemilik kaki-kaki yang berderap di lantai stasiun setiap saat. Hawa sedih perpisahan memang selalu menyeruak dari jendela-jendela si ular besi yang menua, tetapi ada pula atmosfer kebahagiaan setiap satu kereta tiba. Tidak lupa rindu tanpa tuan yang beterbangan tanpa arah di langit-langit stasiun tumpang tindih dengan desahan khawatir calon penumpang karena keretanya datang terlambat.

Beberapa kali saat saya patah hati karena putus atau cinta bertepuk sebelah tangan, stasiun selalu menjadi tujuan utama untuk menenangkan diri. Dua stasiun favorit saya adalah Stasiun Lempuyangan dan Stasiun Tugu Yogyakarta. Keduanya punya karakteristik romantis masing-masing dan semuanya menjadi candu. Dipadu dengan langit senja dan matahari terbenam yang memerah, maka semangat saya akan cepat terisi dan rasa sakit hati karena putus cinta akan segera terobati.

Spot favorit saya di sekitaran Stasiun Lempuyangan adalah daerah dekat palang kereta di bawah jembatan layang. Di sini, saya bergabung dengan puluhan orang yang datang dengan berbagai tujuan. Keluarga muda yang membawa anaknya melihat kereta api lewat, pasangan yang menanti senja sambil makan di angkringan, atau manusia-manusia soliter seperti saya yang sekedar mencari ketenangan. Duduk di bekas rel tua tak terpakai di pojokan sambil makan cilok atau telur puyuh goreng menanti  kereta Prambanan Express lewat. Terkadang lebih menarik untuk melihat anak-anak kecil yang asik bermain di arena memancing sederhana atau bayi-bayi yang menangis karena dipaksa makan oleh ibunya.

Sayang sekali sejak beberapa bulan yang lalu saya tidak bisa lagi turun ke daerah berumput di sekitar rel yang menggoda untuk dijamah karena adanya larangan dari petugas stasiun. Pun sekarang petugas melarang orang tidak bertiket untuk masuk peron. Tetapi selalu ada cara untuk duduk di kursi stasiun menanti kereta tiba, yaitu dengan membeli tiket Pramex atau jika sedang bokek, pura-pura izin saja ke kamar mandi.

Sementara di stasiun Tugu, setelah membeli sweet corn keju dan segelas es teh manis, saya selalu memilih kursi di tengah area tunggu kereta agar bisa menyaksikan seluruh cerita yang terjadi di jalur-jalur kedatangan secara lengkap. Dulu saya pernah mengantarkan kepergian seorang mantan terkasih yang naik kereta ke ibukota. Saya duduk sambil makan sweet corn, menyaksikan dirinya melambaikan tangan dari balik jendela kereta yang mulai berjalan hingga akhirnya menghilang di ufuk barat. Ketika suara kereta sudah tak terdengar lagi, barulah saya menangis sejadinya karena tetiba merindukan dia. Di jalur tiga, pernah pada suatu ketika untuk pertama kalinya ibu memeluk saya mengucap salam perpisahan sederhana untuk saya yang akan pergi magang. Di stasiun ini, saya pernah menjadi sangat melankolis. Tetapi di sini pula saya mendapatkan energi positif untuk move on.

Saya selalu membayangkan bertemu cinta di stasiun atau kereta api. Ia pasti seorang lelaki petualang yang juga menganggap stasiun kereta api adalah tempat yang romantis.

2. Landas Pacu Parangendog

Saya pernah beberapa kali mencoba memanjat tebing yang berada di sebelah timur pantai Parangtritis yang tersohor itu. Untuk mencapai tempat pemanjatan, kami harus bersusah payah menggeber motor kesayangan mendaki jalanan yang terjal dan menanjak tajam. Saat itu jalanan menuju ke sana masih berupa makadam yang setiap saat dapat membuat motor terperosok ke selokan. Bahkan terkadang motor tidak kuat menanjak padahal gas sudah digeber di titik maksimal. Sungguh perjuangan, di saat itu, untuk bisa memanjat di tebing-tebing Parangendog.

Biasanya kami memanjat hingga sore, dilanjutkan beristirahat di warung Yu Mar yang ramah, sekedar untuk makan nasi bungkus atau pisang goreng. Jika kaki sudah tak lelah dan perut sudah terisi penuh, kami berjalan ke belakang warung dan menaiki anak tangga batu yang sudah rompal di sana-sini. Kemudian suara decak kagum akan segera keluar dari mulut kami bersamaan dengan kaki yang menapak anak tangga terakhir di puncak bukit.

Segera, pemandangan laut selatan yang terhampar luas ditingkahi angin laut yang berhembus kencang menyambut kami. Awan-awan yang berarak di ufuk barat tampak mulai memerah karena matahari bersembunyi di baliknya. Pemandangan ini sungguh candu dan menenangkan sehingga meskipun kami sudah tidak pernah memanjat lagi, kami tidak pernah absen mengunjungi landas pacu Parangndog untuk sekedar menyapa sore dari tempat yang tinggi.

Tidak ada keramaian yang memusingkan di sini. Mungkin hanya ada muda-mudi yang juga turut menanti matahari terbenam sambil sedikit bermesum ria. Tetapi selama tidak ada penjual makanan atau rombongan turis gila foto, itu masih bisa dimaklumi. Buat saya, landas pacu ini cocok dikunjungi pada tiga kesempatan: saat pedekate, saat putus, dan saat ingin mencoba move on. Yang penting jangan dikunjungi saat semangat hidup ada pada titik terendah, karena landas pacu yang berbatas langsung dengan udara pantai akan sangat menggoda dijadikan tempat bunuh diri. Naudzubillah.

Biarkan angin laut lembut membelai pipi, ditemani samudra yang berkilauan nampak tenang tanpa suara, saya akan setia menunggu senja datang dan matahari terbenam sempurna di cakrawala. Ini adalah tempat di mana menghela napas dalam-dalam sembari memejamkan mata menjadi sesuatu yang sangat, sangat nikmat.

Sayangnya, tempat ini semakin populer. Datang di akhir minggu sama saja menjemput kekesalan. Bukannya pulang dengan tenang dan berhasil move on, malah stress karena berdesakan dengan anak-anak muda yang heboh berfoto di tepi landas pacu.

———-
Saya mendapatkan tantangan menulis destinasi move on bersama-sama dengan empat penulis keren: Nuran, Dhani, Farchan, dan Awe. Sempat minder dan nyerah nulis. Tema yang benar-benar absurd dan ternyata cukup sulit! Saya akhirnya berhasil menyelesaikan tulisan ini setelah ditemani lagu Resah dari Payung Teduh. Aih, nggerus!

Ketika Waisak Penuh Sesak

ย 

 

Di bulan Mei yang seharusnya sudah memasuki musim kemarau ini, Jogjakarta masih saja diguyur hujan. Mungkin ini sisa-sisa rintik hujan bulan April yang belum selesai. Begitupun pada hari Minggu kemarin, saya dengan tenaga yang menipis setelah lava tour di Kaliadem, berangkat menembus hujan yang benar-benar menyakitkan. Menuju kosan Debbie yang sebenarnya hanya berjarak 1 kilometer dari rumah saya, tetapi rintik hujan yang besar menghujam kulit membuat saya harus mengendarai motor perlahan.

Kami akan berangkat ke kompleks candi Borobudur. Menyaksikan Perayaan Trisuci Waisak 2556 BE yang sudah saya tunggu-tunggu sejak setahun sebelumnya. Sebentar, menyaksikan? Hmm saya rasa ini bukanlah pemilihan diksi yang tepat. Tapi memang itulah yang ingin kami lakukan di sana.

Seorang sahabat pernah mengatakan bahwa ia tidak tertarik menonton Waisak. “Buat apa nontonin orang lagi ibadah? Itu kayak kita lagi sholat…tunggu, lagi haji… terus kita ditontonin orang gitu.”

Saya mengangguk perlahan. Jauh di dalam lubuk hati, saya mengiyakan pernyataannya yang sekilas begitu apatis tersebut. Saya setuju bukan tanpa alasan. Kira-kira sebulan sebelumnya, saya pernah mengunjungi rumah seorang Buddhis di kaki gunung Merbabu. Di situ kami banyak berbincang dan sedikit banyak saya tahu makna perayaan Waisak. Tidak perlu saya ceritakan di sini ya, ada banyak sekali referensi di internet yang lebih terpercaya daripada celotehan saya ๐Ÿ™‚

Di akhir pembicaraan, saya menanyakan apakah beliau akan datang ke Borobudur bersama umat Buddha di desa tersebut. Saya terhenyak mendengar jawabannya.

“Saya tahun lalu tidak datang ke Waisak. Besok tidak tahu. Borobudur kalau Waisak itu ramai sekali. Saya nggak pernah bisa khusyuk berdoa dan meditasi kalo di Borobudur.”

Dan ternyata benar, ia lebih memilih untuk berdoa bersama sebagian umat di sebuah vihara sederhana di dekat rumahnya.

Hujan masih mengguyur bumi Magelang ketika kami tiba di pelataran parkir candi Borobudur. Saya cukup lega, parkiran mobil tidak penuh. Mungkin banyak pengunjung yang sudah pulang atau justru malas datang karena hujan sesiangan ini, deras pula. Perbukitan di sekeliling Borobudur yang biasanya nampak menaungi ketika langit cerah, siang itu tidak terlihat sama sekali. Kami dikelilingi kabut yang semakin membuat udara siang itu semakin dingin.

Sampai di dalam, telah bertebaran tenda-tenda putih milik umat Buddha yang tengah merayakan Waisak. Umat terbagi dalam beberapa aliran, yang saya tahu adalah Mahayana dan Theravada, sehingga prosesi doa pun berbeda-beda tergantung pada aliran yang dianut. Pengunjung bercampur dengan umat, jalan setapak menuju pelataran candi penuh sesak. Penjual jas hujan lima ribuan dan persewaan payung laris manis, jalanan dipenuhi manusia berbungkus plastik berwarna-warni yang berjalan mengikuti arus menuju candi.

Di tengah perjalanan, saya mampir ke sebuah tenda yang memiliki panggung kecil dengan altar yang begitu menarik perhatian. Ada biksu-biksu yang duduk berbaris di depan altar mengucap doa diikuti ratusan umat yang duduk berteduh di bawah tenda. Ketika saya mendekati altar untuk sekedar mendengarkan doa-doa yang para biksu tersebut lafalkan, seorang wanita berjilbab dengan cepatnya merangsek ke depan saya, maju tanpa permisi memotret para biksu, dengan lampu flash! Saya langsung naik darah karena si mbak berjilbab memotret tanpa tahu unggah-ungguhnya. Bukan, bukan karena dia seenaknya membalap saya, tapi karena bagaimanapun juga itu adalah sebuah perayaan suci agama. Sembarangan memotret dan menganggu prosesi adalah salah satu bentuk intoleransi terhadap umat lain bukan?

Seketika saya melepas pandangan ke seluruh tenda. Rupanya cukup banyak ‘wartawan dadakan’ yang bersikap seperti mbak satu tadi. Menganggap umat dan para biksu yang tengah melangsungkan prosesi sebagai sebuah objek foto mati semata. Ayolah, dengan anda membawa kamera, bukan berarti anda bisa seenaknya melewati batas privasi orang lain. Siapa yang tidak terganggu ketika moncong kamera begitu dekat dengan wajahnya, memotret tanpa minta izin, dan meninggalkan begitu saja tanpa mengucap terima kasih atau sekedar menyapa.

Sebenarnya, saat berangkat pun saya punya niatan untuk mendokumentasikan perayaan Trisuci Waisak. Ingin memperlihatkan bagaimana umat dan pengunjung benar-benar larut dalam perayaan tersebut dan memposisikannya sebagai sebuah acara yang begitu ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Tetapi rupanya mimpi tidak sama dengan kenyataan. Memang daya tarik perayaan Waisak yang dilangsungkan di Borobudur itu begitu besaaaar. Tapi juga benar kata Buddhis di kaki gunung yang saya wawancarai, bagaimana bisa mendapatkan kekhusyukan berdoa di tengah ramainya pengunjung dan banyaknya fotografer yang memotret tanpa mau ketinggalan momen?

Saya, pun ribuan pengunjung lain, mungkin memang memiliki rasa penasaran yang sama tentang bagaimana perayaan Waisak itu dilangsungkan. Tetapi tidak semua pengunjung kemudian memiliki rasa hormat dan tetap respek terhadap para umat yang memang benar-benar ingin berdoa dan merayakan Waisak dengan penuh khidmat. Dan toleransi umat beragama tersebut bisa kita tunjukkan dari hal-hal sederhana, misalkan tidak berisik atau membuat gaduh di tenda ketika umat sedang berdoa, tidak menghalangi jalan umat yang akan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, tidak seenaknya memotret biksu-biksu yang sedang meditasi tanpa unggah-ungguh yang benar, tidak merokok di area candi (banyak sekali yang melakukan ini!) dan hal yang paling kecil yang sering dilupakan: ikut menjaga kebersihan area perayaan dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Bahkan saat menunggu pradhakshina (biksu dan umat mengelilingi candi Borobudur sebanyak tiga kali), ada saja fotografer yang tidak hanya kurang menghormati umat, tetapi juga sesama fotografer dan pengunjung lain. Entah untuk keberapa kalinya, seorang wanita dengan kamera DSLR dan lensa telenya, memposisikan diri di depan kami, yang dari setengah jam sebelumnya sudah ngetag posisi nyaman duduk di atas rumput di barisan terdepan untuk menyaksikan pradhaksina. Tanpa ucapan maaf atau sekedar meminta izin, ia berdiri memantati kami dan membuat saya kehilangan mood untuk melihat pradhaksina.

Pada akhirnya saya lebih tertarik mendokumentasikan tingkah teman-teman saya yang begitu bahagia berada di tengah area candi Borobudur yang memang selalu mempesona. Beruntunglah, momen terakhir ketika kami menerbangkan ratusan lampion ke langit Borobudur, dengan latar belakang purnama dan stupa Borobudur yang bersinar, mampu mengembalikan mood saya. Tetapi secara keseluruhan, saya sangat menikmati prosesi Waisak ini karena saya mendapatkan banyak sekali hal-hal baru yang memperkaya.

Semua orang bisa menjadi turis. Tetapi tidak semua orang bisa menjadi turis yang bermoral dan berperilaku baik ๐Ÿ™‚

ย 

 

Street Busker

Teman, boleh saya bercerita tentang kejadian kecil yang menyenangkan di sore ini?

Boleh? Asik.

Sore ini, saya pulang lebih terlambat dari biasanya. Sudah lama saya tidak berjalan pulang ke kosan ketika langit sudah gelap dan lampu-lampu gedung perkantoran mulai menyala. Seperti biasa, saya berjalan dengan bahu yang lunglai, dengan sepatu yang diinjak bagian belakangnya – kalo ketahuan manajer saya bisa dimarahin karena ga sesuai safety code – saya berjalan pelan menyusuri trotoar Rasuna.

Wanita yang keadaan hormonalnya tidak stabil memang perasaannya jadi sulit diprediksi, bahkan oleh si wanita itu sendiri. Saya, dengan perasaan yang campur aduk karena sedang PMS, akhirnya sampai di jembatan penyeberangan. Dari ujung jembatan, tatapan saya bertumbuk ke ujung jembatan yang lain. Kemudian saya mempercepat langkah agar bisa segera sampai ke sana.

Di ujung sana, berdiri seorang pengamen. Tapi bukan pengamen yang biasa bertebaran di jalanan Jakarta, yang hobi sekali bicara panjang lebar tetapi ketika menyanyi suaranya menyedihkan. Pengamen satu ini mengenakan jas hitam dan celana jeans yang lusuh sementara rambut gimbalnya yang panjang diikat jadi satu ke belakang. Di tubuhnya bersandar sebuah cello. Wajahnya nampak kotor, tetapi saya memperhatikan sejak dari jauh bagaimana ia dengan sangat telaten membersihkan alat gesek untuk cello-nya.

Ini adalah pengamen yang pernah saya temui beberapa minggu lalu, di sebuah jembatan penyeberangan di daerah Benhil. Saat itu, saya dan seorang teman hanya berdiri di depannya, mendengarkan tanpa memberikan sepeserpun. Saya melihat saat itu, wajahnya nampak kecewa ketika kami menjauh begitu saja.

Kemudian kami bertemu lagi di sini. Spontan, saya keluarkan dompet dan saya ambil lembaran uang terakhir di dalamnya. Meremasnya menjadi gumpalan dan segera menyisipkannya ke dalam softcase cello yang ia gunakan sebagai tempat uang.

“Mas, mainin satu lagu buat saya dong.”

Dia tertawa kecil, nampak kaget karena ia belum mulai main satu lagu pun. “Mbaknya suka musik juga ya?”

“Hahaha, biasa aja mas. Satu lagu ya.”

“Sebentar mbak!” bergegas ia menyelesaikan pembersihan alat geseknya tersebut dan bersiap memainkan sebuah lagu.

“Nggak ada foto ya mbak..” ujarnya dengan sopan ketika saya mengeluarkan handphone. Dia kira saya akan memotretnya.

Kemudian saya bergeser ke sebelahnya. Segera, satu lagu klasik mengalun dari cello yang ia gesek. Lagu sendu yang manis, entah apa judulnya. Saya segera menyenderkan tubuh di pagar jembatan penyeberangan, membiarkan suara-suara klakson mobil berkepanjangan berpadu dengan suara cello yang ia mainkan.

Sesaat saya memejamkan mata, tanpa mempedulikan orang-orang yang lewat dengan tatapan heran. Kemudian saya berbalik melihat kemacetan Rasuna di bawah sana sembari tetap mendengarkan gesekan cello-nya. Perasaan saya yang tadi campur aduk segera membaik, ini rasanya seperti ada lelaki yang memperhatikan kamu dan memainkan musik agar kamu tidak ngambek lagi. Hahahahaha.

Satu lagu kemudian selesai ia mainkan, saya pun pamit pulang. Berjalan begitu cepat dan masih bisa mendengar sayup suaranya mengucap terima kasih di belakang saya.

Justru saya yang harus berterima kasih ๐Ÿ™‚

kereta ekonomi

Saya sangat suka naik kereta ekonomi, akhir-akhir ini.

Selalu ada romansa di sebuah gerbong kereta ekonomi yang dipadati ratusan penumpang. Selalu ada pengalaman baru di antara kursi-kursi berbusa tipis tegak lurusnya. Selalu ada cerita saat lutut-lutut bertubrukan karena sempitnya ruang untuk kaki berselonjor.

Kereta ekonomi kini tidak seperti dulu, dimana perjuangan mendapatkan tempat duduk hampir selalu menjadi sia-sia karena kalah oleh mereka yang lebih gigih mendapatkannya. Dorong sana sini, berteriak karena terjepit, dan akhirnya harus berselonjor di lantai kereta dan kepala terantuk keranjang pedagang yang lewat. Kini semua orang pasti mendapatkan tempat duduk, walau harus berdempetan dan masih banyak pedagang yang terus berdatangan sepanjang malam.

Di kereta ekonomi, kita bisa bertemu lebih banyak orang dan berinteraksi mengenai banyak hal. Dari mahasiswa berbudget tipis yang ingin pulang kampung, ibu-ibu dan anak kecilnya yang menangis terus, pegawai kantoran yang rutin pulang ke kampung halaman tiap dua minggu, atau rombongan pendaki yang kelar muncak di gunung.

Pada awalnya saya tidak terlalu nyaman duduk di kursinya yang membuat saya tidak bisa tidur. Terkadang jendela gerbong tidak bisa ditutup sehingga ketika hujan turun saya harus berjibaku menyelamatkan laptop yang diletakkan di samping saya. Belum jika penumpang di sebelah saya berbadan besar sehingga saya terhimpit, membawa banyak barang, atau yang lebih buruk: dia bau. Tapi kemudian makin lama saya makin pandai memposisikan tubuh agar dapat tidur nyenyak di kereta ekonomi. Lima jam tertidur pulas pun kini saya mampu sehingga ketika tiba di ibukota sudah segar kembali. Terkadang kaki menjadi bengkak karena terlalu lama duduk atau muka berminyak karena semalaman berkeringat.

Sebenarnya pemandangan di perjalanan sepanjang Jogja-Jakarta itu sangat cantik. Hamparan sawah, perbukitan yang membiru, bahkan jika beruntung kita bisa melihat matahari terbit atau terbenam. Suatu saat saya tertidur tiba-tiba dengan hebohnya Uci, teman saya, menepuk tangan saya agar terbangun. Segera kami terperangah melihat pemandangan di Jawa Tengah: kereta kami melewati sebuah jembatan besar dan di depan adalah bendungan Serayu dengan latar belakang bukit hijau dan sungai besar!

Deritanya adalah, kereta ekonomi itu puanas sekali hawanya. Aku harus berbagi oksigen dengan ratusan penumpang, kami sibuk mengipasi diri, mengeluh, bayi-bayi menangis, untungnya, tidak ditambahi dengan penumpang yang merokok!

Walaupun sama-sama stasiun, perasaan antara ketika sampai di stasiun Tanah Abang Jakarta dengan stasiun Lempuyangan Jogjakarta selalu berbeda. Di Jakarta, atmosfirnya tegang, karena saya harus berpikir naik apa buat pulang ke kosan pada pukul empat pagi! Hahaha. Sementara di Jogja, sepagi apapun saya tiba, saya merasa tenang, karena ini kampung halaman saya. Pun mata selalu berbinar melihat ketika tiang-tiang stasiun Lempuyangan mulai nampak dan penumpang mulai beranjak dari kursinyaโ€ฆ

akhirnya rusak juga

Beberapa bulan yang lalu dua teman saya, Nisia dan Ferzya mengeluhkan hal yang sama mengenai macbook mereka: baterai macbook soak! katanya sih memang umurnya sekitar 3,5 tahun sebelum si batere rusak atau bocor. Semacam sudah waktunya. Nyebelinnya harga batere macbook mahal, dan ga tiap toko jual yang sesuai spesifikasi yang dibutuhkan… Terus saya menghitung umur makki saya, sudah lebih tiga tahun juga. Dalam hati agak dag-dig-dug dan khawatir batere makki akan mencapai ajalnya.

Akhirnya sekitar dua minggu lalu, si makki selalu menunjukkan gejala yang sama: crash saat masuk ke halaman desktop dan ngambek gamau jalan (padahal seumur-umur se-hang apapun makki dia pasti akhirnya jalan lagi) dan terpaksa re-boot biar bisa dipake lagi. Saya kira dia masih bisa dipaksakan kerja untuk beberapa hari kedepan sebelum saya masukin ke reparasi. Eh ternyata sebelum rencana saya terlaksana, si makki gamau booting dan cuma berhenti di gambar logo apple sambil loading ampe lebaran monyet kagak muncul juga desktopnya…

Dua hari lalu saya masukin ke reparasi, dan baru tadi dapat kabar kalau HD makki saya mati dan udah ga kedetect lagi. Wo’o, ini lebih buruk dari batere soak. Tiba-tiba dunia suram.. burung berhenti berkicau.. hujan deras dan angin kencang… Dalam hati berdoa semoga si HD bisa direcovery dan semua data, foto-foto, editan, kerjaan saya terselamatkan.. karena selama ini cuma folder-folder berisi foto mentah yang saya backup di HD external. Dalam hati rasanya nyesek banget, selama ini niatan buat nge-backup semua data di makki ga pernah terlaksana karena virus males. Makan tuh males kin.. Padahal proposal skripsi saya ada di makki dan tidak saya backup.. kebodohan kedua. Beruntung saya ngerjain penelitian di laptop satunya dan saya tiba-tiba ngerasa pengen backup semua data saya di laptop itu biar ga kejadian yang sama kayak makki.

Kemungkinan besar si HD rusak karena terlalu banyak kena goncangan. Kemudian saya mengingat-ingat style saya ngebawa si makki dan emang bener saya barbar banget ngebawanya. Seakan-akan si makki adalah pemeran film 300 yang tahan goncangan dan ahli debus. Saya googling dan menemukan bahwa ternyata macbook generasi ini memang sebagian HD nya tidak terlalu bagus (tidak semuanya) ditambah saya yang agak urakan ngebawa makki jadilah double combo faktor rusaknya. *tawa miris*

Terpaksa tabungan yang harusnya buat traveling dipake buat beli HD, padahal katanya harga HD masih melonjak tajam gara-gara banjir Thailand. Googling harga, dan yak ternyata benar…*ngunyah rumput*

Pelajaran bagus. Sayangi barangmu dan perlakukan ia seperti manusia.

“saat engkau memiliki keinginan, maka seluruh alam semesta – dengan ijin Allah – akan segera bekerja untuk membantu mewujudkan keinginanmu.”

Mestakung. Semesta mendukung.
Percayalah ๐Ÿ™‚