Pesona Lebaran Dua Kampung Halaman

Panganan yang dimakan bersama-sama di masjid

Home is where your heart is.

Saya lahir dan besar di sebuah daerah (yang konon istimewa) bernama Yogyakarta. Detak kehidupan di kota ini seakan telah menyatu dengan raga, sejak ia masih perawan dengan sawah dan ladang nan subur hingga kini ia mulai bersolek ditumbuhi pusat perbelanjaan dan hotel. Yogyakarta adalah perkara hidup yang senantiasa berubah dimana masa kecil yang diagung-agungkan sebagai masa yang indah kini sekedar bagian dari sebuah nostalgia.

Keluarga besar saya pun tinggal dan tersebar di Yogyakarta. Mereka ada di desa-desa di balik gemunung Kulonprogo hingga di tepian jalan padat di Kaliurang. Tapi tak pernah terbersit sekalipun kata bosan mengunjungi para sedulur ini karena tak tentu dalam satu tahun saya dapat bertemu dengan mereka barang sekali saja. Ada beberapa kerabat yang merantau jauh dari Yogyakarta dan saya bakal lebih jarang bisa bertemu, bahkan saya sampai sering lupa nama mereka.

Salah satu momen di mana kami bisa berkumpul adalah saat Idul Fitri. Hingga usia kurang lebih sepuluh tahun, setiap Idul Fitri saya pasti mengenakan baju baru yang dibelikan Eyang atau dijahitkan sendiri oleh Ibu. Saya mengenal dan menyukai traveling pun karena Idul Fitri. Saat itu Pakdhe saya akan mudik dari Kendari dan selalu terselip agenda jalan-jalan dalam silaturahmi kami. Pakdhe selalu tahu kemana harus membawa keponakan-keponakannya ini untuk menjelajahi daerah baru. Jika tahun lalu kami sudah ke gunung, tahun ini ia ajak kami ke pantai. Jika kami sudah bosan main ke Purawisata, ia akan arahkan mobil ke museum. Kebiasaan ini mulai jarang dilakukan sejak Eyang saya menjadi makin sepuh dan Pakdhe sendiri tak selalu pulang saat Idul Fitri.

Tradisi-tradisi lain menyambut Idul Fitri juga biasa saya lakoni saat masih kecil, mulai dari takbiran keliling kompleks rumah, berebutan dapat salam tempel dari om-tante dan tetangga sekitar, makan opor dan sambal krecek bikinan Eyang yang menggoyang lidah, hingga merasakan mewahnya shalat Ied bersama ribuan orang di lapangan Graha Sabha Pramana UGM. Saat beranjak besar, tradisi-tradisi itu makin saya tinggalkan (apalagi saya di Jogja aja gak kemana-mana) dan Idul Fitri dirayakan secara lebih sederhana.

Tahun lalu, saya mulai merantau. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh empat tahun hidup (ketahuan deh umurnya), saya terpaksa tidak dapat pulang ke kampung halaman. Ya, akhirnya saya merasakan punya kampung halaman dan di saat itu juga saya tidak dapat mengunjunginya. Saya berlebaran di Pulau Bawean! Hehehe.

Sebenarnya kebijakan kantor yang tidak mengizinkan kami untuk pulang kampung dan saya menghormati segala kebijakan tersebut. Tak ada salahnya pula merasakan kemeriahan perayaan hari suci umat Islam di sebuah pulau kecil yang yang penduduknya 100% beragama Islam. Pasti berbeda, dan pasti banyak hal baru yang bisa dipelajari.

“Besok Ibu jangan kaget kalau Lebaran di Bawean terasa sepi tidak seperti di Jogja,” celetuk salah satu guru di sekolah tempat saya mengajar.

Bawean mendapatkan pengaruh budaya Melayu karena banyak penduduknya yang merantau ke negeri jiran. Perayaan Idul Fitri di Bawean mungkin tidak semeriah di Yogyakarta atau kota-kota lain di Indonesia. Justru salah satu hari besar umat Islam yang dirayakan secara gegap gempita di Bawean adalah saat Maulid Nabi tiba. Tapi menurut saya, makna Idul Fitri di yang saya rasakan saat berada di Bawean justru lebih dalam dan lebih bersahaja.

Baju khas Bawean, dipengaruhi budaya Melayu

Takbir telah berkumandang di Bawean sejak ba’da isya di malam Idul Fitri. Di desa saya tidak ada takbiran keliling sehingga saya dan kakak angkat saya mencoba melihat keramaian di kecamatan. Di sana diselenggarakan takbir keliling tingkat kecamatan yang cukup meriah dan membuat macet jalanan Bawean yang tidak begitu besar. Beragam kendaraan pawai hias dibuat sangat unik, bahkan kadang terlalu unik sampai terlihat agak berlebihan maksudnya, hahaha. Oh ya, masyarakat Bawean cukup antusias terhadap acara-acara yang dilaksanakan di kecamatan, seperti pawai, gerak jalan, atau karnaval siswa SD. Kami tidak pernah kekurangan tontonan gratis, cukup duduk di tepi jalan Bawean (yang cuma satu mengelilingi pulau) tak perlu berdesak-desakan seperti di Malioboro, hahaha.

Macetnya jalanan Bawean saat malam takbiran

Keesokan paginya, Emak telah membangunkan dan mengajak saya bersiap-siap sejak subuh. Emak memasak berbagai panganan sejak kemarin untuk dibawa ke masjid. Shalat Idul Fitri dilaksanakan di masjid depan rumah yang tak begitu besar. Jamaah meluber hingga ke area halaman masjid. Di Bawean, masjid merupakan salah satu pusat kegiatan desa yang tak pernah sepi dari berbagai acara. Bahkan saya dulu sering melatih anak-anak menari di pelataran masjid ini.

Selesai shalat, kami langsung saling bersalaman dan bermaafan. Nah setelah acara salam-salaman inilah yang saya tunggu… Setiap rumah akan membawa satu nampan bulat besar berisi berbagai makanan seperti nasi dan gulai, ikan kela celok, buah hasil kebun, snack kering, sarikaje (ketan yang dilapisi campuran telur dan gula merah), dodol, wajik, dan panganan khas Bawean lainnya. Nampan makanan ini dikumpulkan kemudian dibagikan kembali ke warga di masjid secara acak. Kami makan bersama-sama tanpa menghiraukan bahwa isi nampan di depan kami tidak sebanyak nampan yang dibawa sendiri. Tidak ada batas antara kaya dan miskin, semua merasakan makan enak hari itu. Dan entah mengapa, saya merasakan bahwa masakan di Serambah rasanya hampir seragam meski dimasak oleh orang yang berbeda. Mungkin karena saking dekatnya dan sering mengadakan acara yang membutuhkan masak bersama, para ibu-ibu ini jadi punya pakem racikan yang serupa.

Ini disebut tradisi nyo’on, para wanita di Bawean telah terbiasa membawa berbagai barang dipikul di atas kepala

 

Acara setelah shalat Ied, semua warga berkumpul di masjid. Para ibu membawa masakan dari rumah masing-masing untuk dinikmati bersama

Selepas shalat dan makan bersama di masjid, tibalah saatnya silaturahmi keliling kampung. Sejak dua hari sebelumnya, saya bilang pada Emak bahwa saya ingin kunjungi semua rumah di Serambah. Saya lupa bahwa Emak kadang suka terlalu excited dalam bercerita. Alhasil esoknya, beredar berita bahwa Ibu Kinkin akan berkunjung ke rumah-rumah. Para ibu-ibu menyatakan bahwa mereka akan tinggal di rumah agar saya tidak kecelik saat datang kesana. Lah, jadi runyam. Hahaha.

Tak ingin ingkar janji, saya mengajak salah satu tetangga untuk menemani saya berkeliling. Ternyata rumah di Serambah banyak juga! Pukul 5 sore saya baru bisa mengunjungi 70% nya saja. Dan saat itulah saya baru tahu rumah murid-murid saya, si A ternyata anak Bu C, si D ternyata bersaudara dengan si E, dan sebagainya. Sambutan mereka juga sangat menyenangkan, kami tidak diperbolehkan pergi jika belum mencicipi panganan yang tersedia. Beberapa warga baru saya lihat dan saya kenal saat silaturahmi tersebut. Alamak, selama ini saya kemana saja?

Berkunjung ke rumah-rumah di Serambah

Kini saya punya dua kampung halaman dimana saya merasa seperti di rumah. Lebaran di Yogyakarta dan Bawean memang berbeda, tapi mereka punya pesonanya masing-masing. Yogyakarta selalu menawarkan gempita yang membuat jiwa selalu rindu untuk pulang, sementara Bawean dengan kesahajaannya mengingatkan saya bahwa Lebaran bukan saatnya untuk larut dalam simbol-simbol perayaan. Keduanya mengajarkan saya bahwa Lebaran adalah momen luar biasa untuk menjaga ukhuwah dan mempererat tali silaturahmi. Sayangnya tak banyak momen bisa saya abadikan karena lebih sibuk berkumpul dengan warga dan tak sempat memegang kamera terlalu lama.

Lebaran di tempat-tempat lain di penjuru Indonesia pasti punya kisah dan tradisi yang beragam. Bagaimana dengan suasana Lebaran di kampung halaman kalian? Mengapa tidak membagikan ceritanya melalui sebuah foto? A photograph tells us a thousand words. Yogyakarta dan Bawean saja punya cerita yang tak sama. Kota-kota lain pasti juga. Keberagaman ini yang akan selalu mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia.

Foto keluarga yang tak ternilai bersama Alm. Buppak

Yuk, bagikan momen Lebaranmu sekarang juga di Kontes Foto Instagram #PesonaLebaran! Ajak jutaan pasang mata lain melihat kekayaan kampung halaman kita masing-masing. Lebaran tak melulu soal ketupat dan opor ayam, salam tempel dan jabatan tangan. Cukup upload minimal 6 foto dalam sebuah photo series dan ceritakan secara singkat dalam caption foto. Siapa tahu terpilih, lumayan bisa menambah THR kan.. Informasi lebih lanjut mengenai Kontes Foto Instagram #PesonaLebaran bisa diperoleh melalui melalui link ini. Daripada foto-foto itu hanya tertumpuk di folder handphone, tunggu apalagi?

Sungguh, terasa betul nikmatnya hidup di negeri yang majemuk seperti Indonesia! Jadi, apa Pesona Lebaran terbaik di kampung halamanmu?

** Psst, tertarik menikmati pesona lainnya dari seluruh Indonesia? Kunjungi Indonesia.Travel dan persiapkan backpackmu!

Penghujung Senja Buppak

Foto favorit alm. Buppak. Biar giginya tinggal satu, tetapi tertawa harus paling seru…

Kupanggil dia Buppak.

Lelaki tua berperawakan kecil yang penuh keriput, namun mata tajamnya masih memancarkan semangat untuk hidup. Tiap kutanya usianya, ia selalu menggeleng. Lupa kapan tepatnya ia lahir, sebagaimana para warga paruh baya di dusun kecil ini. Mungkin ia telah hadir semasa Jepang menginvasi Indonesia. Atau bahkan sebelum itu.

Buppak – sebutan untuk bapak atau ayah dalam bahasa Bawean – adalah kepala keluarga di hostfam saya semasa penempatan di Pulau Bawean. Beberapa kali mungkin namanya pernah muncul di blog ini. Bapak Misrudi, lelaki berdarah asli Bawean ini mau menerimaku sebagai anak angkatnya di rumah.

Yang paling kuingat dari Buppak adalah tingkahnya yang lucu dan selalu energik. Ia berbicara dengan suara yang keras, membuat ciut nyali lawan bicara yang belum mengenal. Tapi dibalik suara kerasnya tersebut, ia sebenarnya senang melucu. Guyon khas Bawean senantiasa terlontar dari mulutnya yang tak henti menghembuskan asap rokok lintingan.

Rutinitas di rumah Serambah yang selalu membuatku geleng kepala adalah saat pukul enam tiba. Aku, Emak, serta para saudara angkatku biasanya telah duduk manis di dapur yang terpisah dari bangunan utama rumah. Biasanya Buppak belum terjaga dan saat itulah teriakan Emak atau saudaraku, Norma, berusaha memanggilnya.

“Buppak! Tidur terus kerjaannya, bangun! Beri makan sapi, orang lain sudah kerja dari subuh, sudah pulang bawa rumput, Buppak malah belum bangun!” ujar Emak dalam bahasa Bawean. Sekilas Emak seperti orang marah-marah. Begitulah cara orang gunung berkomunikasi karena letak rumah yang saling berjauhan.

Tapi percayalah, itu tanda sayang. Tak pernah lepas Emak atau Norma membuatkan kopi untuk Buppak dan menyiapkan makanan khusus untuknya yang sudah tak punya gigi. Usai sarapan, Buppak akan pergi untuk ngarek (mencari rumput) di gunung dan mengurus sapi. Sapi milik keluarga kami memang hanya empat ekor, tetapi rumput harus terus dicari.

Awal saya berada di sana, pohon aren milik Buppak masih rajin mengeluarkan la’ang (semacam air nira). Ia pergi setiap hari memanjat pohon tersebut dan menyadap la’ang nya untuk dibuat gula merah. Jika pohon aren tak mengeluarkan la’ang, Buppak akan pergi bersama para tetangga untuk memanen sagu di hutan. Beratnya luar biasa dan aku heran Buppak masih kuat mengangkutnya berkilometer dari rumah.

Dan ia selalu bepergian tanpa alas kaki. Kulit kakinya lebih tebal dari sandal gunung sekalipun, tak jera ditusuk kerikil tajam atau dibasuh beceknya jalanan. Bahkan jika ia harus pergi dengan mengenakan sandal demi asas kesopanan, ia sering pulang tanpa membawa sandalnya lagi. Lupa.

Buppak adalah sebuah kamus hidup. Aku sering menghabiskan waktu di malam hari untuk mengobrol dengannya. Semua pengetahuan ia dapat dari pengalaman karena ia tak pernah menyelesaikan bangku sekolah. Bercocok tanam, mencari ikan di laut, atau beternak sapi. Jika siang ia membuat jaring ikan, satu demi satu lubang jaring ia rajut hingga akhirnya tertidur begitu saja di kursi. Emak akan selalu berseloroh setiap melihat Buppak tertidur, ‘Lihat Bu, itu namanya orang tua sudah tak punya gigi,’ kemudian kami tertawa.

Tiap aku pergi ke Jawa, Buppak akan selalu menitipkan hal yang sama: tembakau untuk rokok lintingnya. Padahal Buppak punya penyakit batuk kronis menahun. Tapi asap rokok tetap kencang terhembus dari mulutnya. Katanya, Tuhan tak pilih-pilih orang mati. Merokok atau tidak, dia akan tetap mati.

Terakhir menatap wajah Buppak, Emak, dan puluhan warga Serambah lainnya adalah saat perpisahan kami di dermaga Bawean. Buppak ikut mengantarkan karena ia bisa sekalian melihat-lihat kota. Jarang betul Buppak bisa ke kota, paling jauh ke laut yang hanya sepelemparan batu dari gunung. Saat itu Buppak mengenakan kemeja hijau kotak-kotak pemberian anak bungsunya di Malaysia, dengan topi merah andalannya, biasanya Buppak mengenakan kemeja batik panjang khas orang tua. Melihatku menangis, Buppak tidak ingin bicara apa-apa. Tatapan matanya sendu, bahkan ia tidak menjawab salamku karena menahan haru. Sebelumnya Buppak sudah berjanji sekaligus sedikit angkuh mengatakan ia tidak akan menangis ketika aku pergi dari Bawean.

Buppak memang tidak menangis, tapi aku yang kembali menangisinya karena seminggu lalu ia akhirnya pergi.

Sebulan tergolek di tempat tidur karena beberapa penyakit, Buppak akhirnya dibawa ke puskesmas di kecamatan. Ketika kulihat Buppak dari foto yang dikirimkan Bu Sofi lewat Whatsapp, hatiku mencelos. Lelaki yang kuat perkasa di masa mudanya ini kini hanya jadi tulang berbalut kulit. Aku tidak dapat berharap banyak dari pengobatan ini karena dua hal: Buppak dan keluarga tidak akan betah berlama-lama di puskesmas dan puskesmas pun tidak dapat diandalkan karena minimnya fasilitas dan peralatan. Hanya tiga hari di sana Buppak dibawa pulang dengan anggapan bahwa dukun akan lebih mujarab dalam mengobati.

Selama beberapa hari sepulang dari rumah sakit aku tidak pernah lepas menanyakan keadaan Buppak lewat Bu Sofi, guru SD tempatku mengajar yang juga sering menginap di rumah Buppak. Kukirimkan beberapa obat herbal yang sekiranya bisa meringankan sakit Buppak sekaligus memberikan saran tentang asupan makanan Buppak. Hanya itu yang bisa kulakukan, sementara untuk langsung pergi ke sana belum memungkinkan. Tapi obat herbal itu belum sempat dicoba Buppak.

Selang dua hari setelah anak bungsunya datang dari Malaysia demi menjenguknya, Buppak meninggal dunia. Ia pergi di tengah keluarga yang lengkap menemaninya dan menyayanginya sepenuh hati.

“Bu Kinkin, saya menyesal tidak bisa membantu merawat Buppak dengan baik. Kenapa waktu itu saya biarkan Buppak pulang dari puskesmas. Saya kadang-kadang masih marah sama diri sendiri, Bu,” ujar Bu Sofi lewat pesan whatsapp kepada saya.

Bu Sofi, saya menyesal karena saya terakhir kali hanya melihatnya dari jauh di dermaga. Saya tidak pernah menyangka itu pertemuan terakhir saya dengan Buppak. Saya menyesal jarang telpon Buppak, walaupun dia bukan orang tua kandung saya, tapi dia mau menerima dan direpotkan oleh saya.

Orang baik akan pergi dengan cara yang baik pula. Kali ini Buppak diberi jalan terbaik berupa kesembuhan dengan cara yang diberikan oleh Allah. Teriring Al-Fatihah untuk Buppak, semoga tenang penantianmu di sana.

 

Ayu dan Refleksi Tahun Baru

Ayu saat memperkenalkan dirinya di depan audiens. (Foto oleh: Dwinawan)

Acara gathering yang diadakan di sebuah kantor akuntan publik sore itu sempat membuat saya khawatir. Sejak awal acara dibawakan dalam bahasa inggris karena audiensnya tak hanya orang Indonesia. Padahal, ada salah satu pengisi acara yang juga merupakan adik asuh di yayasan kami. Mampukah ia presentasi dalam bahasa inggris di depan para profesional yang meluangkan waktunya sesaat untuk duduk manis mendengarkan kami?

“Gapapa Kak, saya pakai bahasa Inggris saja,” Ayu, nama pengisi acara termuda tersebut, berdiri dengan penuh percaya diri ketika ditawari untuk menggunakan bahasa indonesia dalam speechnya. Decak kagum segera muncul dari sesama pengisi acara. Anak ini tidak main-main.

Lalu terdengarlah suaranya memperkenalkan diri dalam bahasa inggris yang lancar. Ruangan seketika senyap memperhatikan Ayu menjelaskan perihal keinginannya melanjutkan studi di Jepang. Saya yang duduk di kursi operator, seketika harus membalikkan badan untuk menyeka air mata. Saya terharu karena ia ternyata mampu melampaui ekspektasi kami semua.

Bertahun lalu, Ayu mungkin hanyalah satu dari sekian banyak ‘anak desa biasa’ yang hidup di pelosok Bantul, Yogyakarta. Pertemuannya dengan Hoshizora Foundation memberikannya satu alasan kuat untuk bisa melihat dunia lebih luas. Dengan kemampuannya sendiri, Ayu mengumpulkan berbagai informasi penting mengenai sekolah favorit yang ia incar: MAN Insan Cendekia di Tangerang. Ia ceritakan bagaimana dirinya mempelajari sendiri bahasa Arab melalui internet dan bertanya sana-sini demi bisa lulus ujian masuk sekolah bergengsi tersebut. Jika bukan karena tekad, seorang Ayu mungkin akan kesulitan menembus batas-batas dirinya untuk bisa memperoleh informasi yang diinginkan.

Ayu kini sudah menginjak tahun ketiga bersekolah di sana. Prestasinya luar biasa: keluar dari zona nyamannya, jauh dari keluarganya, demi menempa diri agar bisa lebih baik. Ada satu mimpi yang kini ia kejar yaitu mendapatkan beasiswa Monbukagakusho untuk menempuh studi Ilmu Komputer di Jepang. Kala saya menjabat tangannya saat perpisahan kami di Stasiun Tanah Abang, binar mata dan senyumnya menunjukkan bahwa ia akan punya masa depan yang cerah.

(Ayu menuturkan perjalanan panjangnya meraih cita-cita secara lengkap di sini.)

Di yayasan tempat saya bekerja saat ini, saya temukan banyak Ayu-Ayu lain yang tak kalah menginspirasi. Saya sering merinding saat mengetikkan cerita-cerita mereka untuk berbagai media publikasi. Anak-anak ini punya masa-masa yang lebih sulit daripada orang kebanyakan, tetapi di saat yang bersamaan mereka pun punya masa-masa yang lebih hebat untuk dikenang. Mereka ini tidak mau terkekang dalam himpitan ekonomi yang mungkin sudah dirasakan sejak baru belajar berjalan. Beberapa mulai mekar berkembang, ada yang berhasil kuliah di universitas idaman, ada yang mulai merintis usaha, ada yang bekerja lebih dari apa yang pernah dibayangkan, tapi ada pula yang masih bingung apa yang ingin diraih kemudian.

Kemudian saya malu pada diri sendiri. Saat saya di usia yang sama, sudah sekeras inikah saya berjuang meraih cita-cita? Kini ketika usia saya menginjak kepala dua puluh, sering sekali ada keinginan yang berakhir dengan gumaman “Ah, kenapa nggak dari dulu…”

Saya tidak mencoba pertukaran pelajar saat SMA padahal saya ingin. Saya tidak mencoba mengikuti kursus bahasa Spanyol padahal saya ingin. Saya tidak mencoba mengikuti berbagai kegiatan unik padahal saya ingin. Saya tidak melanjutkan studi di jurusan idaman padahal saya ingin.

Dan banyak “saya tidak mencoba … padahal saya ingin” lainnya yang kini saya sesali.

Saya menyesalinya bukan karena saya telah melakukannya, tetapi justru karena saya tidak mau melakukannya. Saya kepalang takut dan gundah melihat sekeliling, bukannya memperkuat motivasi dan menjadi percaya diri.

Nyaris tiga bulan saya bekerja di yayasan ini, saya menemukan banyak hal baru. Salah satunya adalah bahwa motivasi dan inspirasi tak melulu datang dari mereka yang lebih tua. Ternyata mereka yang berusia jauh di bawah kita membawa hal-hal baru yang tak terpikirkan oleh kepala. Di usia dua puluhan ini nampaknya banyak hal yang masih belum terlambat untuk dikejar. Mumpung belum menikah, belum berkeluarga, dan belum membawa serentetan tanggung jawab baru lainnya.

Jadi resolusi 2015 adalah mencoba apa yang sedari dulu saya ingin. Sebelum terlambat dan saya hanya bisa menyesalinya.

Selamat tahun baru 2015. Semoga di tahun ini kita bisa lebih baik dari sebelumnya, bisa lebih bermanfaat bagi sesama. Kurangi meminta dan menuntut, perbanyak memberi. Percayalah, itu tidak akan membuatmu merasa kurang.

***

Kini saya membantu teman-teman di Hoshizora Foundation, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang concern terhadap pendidikan dengan memberikan beasiswa kakak asuh kepada adik asuh di seluruh Indonesia agar dapat terus melanjutkan pendidikannya. Tertarik menjadi kakak asuh dan melihat sendiri bagaimana adik asuhmu berkembang? Sila klik hoshi-zora.org 🙂

Jenis-Jenis Pengendara Motor di Jogja: Sebuah Pengamatan (Tidak) Ilmiah

Sebulan terakhir saya rutin membelah Jogja. Bagi yang rutin main atau bahkan asli wong Jogja pasti tahu meskipun daerah istimewa ini kelihatannya hanya seuprit di peta pulau Jawa, tapi luasnya nggak kira-kira. Hahaha. Jadi setiap hari kerja saya harus berangkat dari rumah di dekat Ringroad Utara (kampus UGM) ke kantor di wilayah kota Bantul yang jauuuuh di selatan. Karena itulah saya sebut ‘membelah Jogja’. Jarak tempuh satu arah sekitar 15an kilometer. Lumayan…

Nah, dengan jarak pulang pergi sejauh itu, saya tidak mau menghabiskan waktu, uang, dan tenaga untuk berlama-lama di jalan. Jadilah selama beberapa minggu pertama saya mencoba beragam rute pulang pergi demi mendapatkan efektivitas dan efisiensi maksimal! Pertama saya mencoba pulang pergi lewat tengah kota Jogja, menyusur jalanan utama nan padat yang saya biasa lewati. Daripada nyasar? Tapi saya bisa habis 1 jam lebih di jalan dan melewati lebih dari 15 lampu lalu lintas. Kemudian saya disarankan memutari Ringroad saja, karena meski lebih jauh lampu lalu lintas lebih sedikit dan jalannya tidak sepadat lewat dalam kota. Enak sih, hanya habis 35-45 menit saja di jalan, tapi lawan saya truk-truk gede dan bis AKAP. Akhirnya saya coba rute kombinasi (berasa pesen roti bakar) melewati jalan mblasuk lewat Goa Selarong dan akhirnya blusukan lewat Soragan. Waktunya tidak jauh beda dan tidak selelah saat saya menggunakan jalur Ringroad.

Jadinya curhat.


Dengan jarak tempuh sejauh itu dan beragamnya rute yang sudah saya gunakan, otomatis saya bertemu dengan ribuan pengendara lain di jalanan. Karena naik motor, yang sering menjadi fokus saya adalah sesama pengendara motor yang jumlahnya naudzubillah makin banyak sekarang. Memang dulu nggak banyak? Dulu sih sepi… Yang banyak sepeda onthel. Ya sama saja sih jalannya penuh, karena sudah jadi rahasia umum bahwa angkutan umum di Jogja itu bapuk 🙁

Dari kegiatan pengamatan selo tersebut saya mendapati bahwa pengendara motor di Jogja itu banyak tipenya dan ada-ada saja perilakunya. Suatu ketika saya iseng membuat status tentang ini di Facebook dan ngga disangka yang lain berbondong-bondong urun pendapat. Agar dapat dibaca dengan leluasa saya ingin tampilkan di posting kali ini. Siapa tahu ada yang mau nambahin lagi. Oh iya, saya suka menuliskannya dalam bahasa campuran Indonesia-Jawa karena terkadang ada guyonan yang jadi kemripik alias tidak lucu kalau diubah ke bahasa Indonesia.

blog199

 

Jadi setelah satu bulan rutin membelah kota Jogjakarta demi mencapai kantor di tengah Bantul, saya mengamati ada beberapa perilaku pengendara motor di Jogja yang bikin geleng-geleng kepala.
1. Cah (singkatan dari kata bocah) ndadak. Mau belok ndadak, mau berhenti ndadak, mau nyeberang ndadak. Beberapa kasus lebih ngeselin misalnya menyalakan lampu sen ke kanan tapi belok ke kiri.

2. Cah nyambi. Nyetang nyambi smsan (kelihatan gelagat dari belakang biasanya naik motor tidak stabil dan pelan-pelan) atau nyambi merokok. Luar biasa karena abu dan asapnya kemana-mana 😐

3. Cah priyayi. Naik motor pelan-pelan persis di tengah jalan sempit, ada mobil mau nyalip jadi kesusahan karena arah sebaliknya jg padat merayap.

4. Cah mbablas. Lampu lalu lintas sudah merah, tetap nggeblas. Lampu lalu lintas masih merah belum hijau tapi sudah klakson berkali-kali atau maju sampai garis zebra cross. Kalau di perlintasan kereta biasanya sampai naik trotoar atau memenuhi jalur berlawanan.

Lanjutan di bawah ini adalah komen dari teman-teman yang tidak kalah serunya 🙂

5. Cah mbuang sembarangan. Mbak2 ayu dan wangi mau tak kandani soale buang botol neng kali mambu..(Drajad Sarwo Seto)

6. Cah blong. Ono pengendara sing seneng ngeblong bangjo, mudah dan sering ditemukan di prapatan bioskop permata (ruteku bike to work). pengen tak antemi tenan tapi pitku kalah banter karo pit montor (Danar Wiyoso)

7. Cah ngrogoh. lagi ngrogoh (dirogohi) njungkel neng cerak selokan. *ngakak (Faizal Afnan)

8. Cah lalen. Sering juga orang setelah belok lupa matiin lampu sign padahal jalannya udah lurus2 aja. Ini jadi misleading juga. (Icha Maisya)

9. Cah idu. Pernah di jalan (Area pramita ngidul) nonton bapak2 pakai Mobil keluar gang udah ditengah mau nyebrang (posisi bener). Motor lain berhenti,e lha ada motor nggak mau ngalah malah ngidoni kaca Mobil. Satu kejadian lg,aku arep nyalip neng jalan plered. Seko arah berlawanan motore mecucu siap2 ngidoni, untung rasido. Ps: Sebaiknya pengendara Mobil bawa semprotan mrica atau air cabe. (Handisna Hashfi)

10. Cah ra sabar. Ada yg ngambil jalur berlawanan cuman buat mendahului truk/bis, padahal di arah berlawanannya penuh, dan ttp nekat ambil aja, mungkin si pengendara berfikir kalo kendaraan lawannya bakal ngalah dan minggir secara otomatis, meski ada jg yg berani dan hampir aja terjadi kecelakaan. (Yudi Anwar)

11. Cah ndlenger. Bocah numpak sepeda motor tapi ndelak ndelok tekan ndi ndi. Kuwi yo nyebelin. Mata dimana mata (Rakhmawati Agustina)

12. Cah bingung. Antara meh mandeg ato bablas. Anu ra ngerti dalan. Hehe (Eni Megawati)

13. Cah budeg. Yang pake knalpot brisik. (Gerindra Yusuf)

14. Cah ilang. Mlipir kiwo, sithik-sithik mandeg takon ancer-ancer. Njuk muter mergo kebablasen. (Aichiro)

15. Cah 2-tak. Motor ra tau diservis, kebul e ra umum. (Asyarakhul Imro Nurriza)

16. Cah curhat/cah reuni/cah pdkt. Ngobrol numpak motor sebelahan cekikikan gayeng tenan. Meh tak suguhi kopi karo gedhang goreng sisan oq. (Febrianti Nur Ajizah)

17. Cah galau. Sering banget ketemu dua jenis pengendara motor yang agak ngayeli: cewek galau dan ibu-ibu bimbang. (Arif Lukman Hakim)

18. Cah caper. Mereka akan melakukan hal-hal yang diharapkan menarik perhatian dan reaksi kagum dari pengguna jalan yang lain. Misal:
– tidak memakai helm, membiarkan rambut berkibar sambil pasang muka sensual bak model. Yg ini biasanya utk pengendara perempuan
– utk cah caper yg laki2: tidak memakai helm, ngebut dan melakukan manuver-manuver nyelap-nyelip yg berbahaya sambil sesekali mbleyer. Lebih nyebahi kalau knalpotnya yg jenis mbrebegi (Berto Rastu Dananto)

Gayeng euy komennya teman-teman saya. Oh iya jangan khawatir, di antara para pengendara motor dengan kelakuan unik bin ajaib ini, masih banyak pengendara motor di Jogja yang benar-benar berusaha taat aturan dan menghargai sesama pengguna jalan. Mungkin perlu saya tambahkan satu lagi:

19. Cah apik tapi tetap sial. Sudah menerapkan safety riding, patuh pada peraturan lalu lintas, ndilalah masih juga ketiban sial di jalan.

Kalau kalian termasuk yang mana? 🙂

IMG_4716
Paling enak ya naik sepeda, pagi-pagi udara segar dapat sehat pula. Diambil di Bantul, Nov 2014.

PS: Tadinya kata-kata dalam bahasa Jawa mau saya translate.. Tapi jadi susah sendiri karena banyak yang tidak saya temukan padanannya dalam bahasa Indonesia.

Gunungkidul Pada Suatu Hari

Pagi masih muda. Ine memacu cepat kendaraannya, berkejaran dengan jarum menit yang belumlah genap melewati pukul enam. Hawa pagi ini tak membuat kami menggigil, mengingat semalam harus terbangun berkali-kali karena gerah bukan main. Akhir musim kemarau di Jogja kali ini cukup menyiksa: udara kering berdebu dan suhu yang cukup membuat kepala cenat-cenut.

Berangkat dari Kota Bantul, sepeda motor Ine arahkan menuju timur melewati jalan lintas kabupaten yang mulus dan berkelok-kelok. Kami menuju Gunungkidul untuk kepentingan kunjungan ke sekolah yang menjadi mitra yayasan. Saya selalu suka perjalanan ke Gunungkidul apalagi pada pagi hari. Pemandangannya luar biasa. Barisan pohon jati yang meranggas dan berwarna kemerahan adalah favorit saya.

Enaknya ke Gunungkidul lewat ‘jalan belakang’ adalah jalanan yang cenderung lebih lancar dan sama bagusnya dengan lewat jalan utama yang biasa dilewati truk-truk dan warga Jogja. Meski tanjakannya membuat motor matic Ine ngos-ngosan, akhirnya kami tiba juga di Playen, sebuah kecamatan di tengah Gunungkidul. Kalau kata orang kecamatan di Jogja itu besarnya seperti kabupaten, saya setuju seratus persen. Luas banget!

Selesai dengan urusan di sekolah, tiba-tiba saya teringat kalau wilayah ini terasa familiar. Jalanannya seperti pernah saya lewati sebelumnya. Ternyata benar, beberapa tahun lalu saya pernah mampir ke Air Terjun Sri Gethuk di sekitar sini. Sepertinya seru kalau bisa mampir sebentar sekaligus melihat seperti apa perkembangannya sekarang. Akhirnya saya rayu Ine yang belum pernah main kesana. Challenge accepted!

Sebagian besar kepuasan saya saat jalan-jalan di kampung halaman sendiri justru didapatkan ketika mengunjungi Gunungkidul. Kabupaten yang dulu dipandang sebelah mata karena ketertinggalannya kini mulai pandai bersolek dan mengundang orang untuk datang. Satu persatu destinasi diperkenalkan, mulai dari pantai, air terjun, gua, hingga wisata minat khusus yang menantang.

Petunjuk menuju Air Terjun Sri Gethuk cukup jelas. Kami tinggal mengikuti dan dalam 20 menit sudah tiba di pintu gerbang. Sepanjang perjalanan mata saya dimanjakan oleh barisan bibit pohon eucalyptus dan tanah yang tetap terlihat subur meski kemarau panjang. Oh iya, jika kemarau tiba warga Gunungkidul sering kekurangan air karena struktur tanah dan batuan karst yang tidak mungkin menyimpan air di dekat permukaan. Tapi wilayah sekitar Sri Gethuk ini unik karena pepohonan menghijau sejauh mata memandang. Para petani pun bisa menanam padi, suatu hal yang jarang bisa dilakukan di Gunungkidul.

Awalnya saya dan Ine hanya ingin mengunjungi Goa Rancang Kencana karena terpesona dengan foto yang beredar di sosial media. “Goa ini biasanya untuk meditasi,” ujar Iqbal, salah satu teman baik traveling saya. Saya tidak pasang ekspektasi tinggi karena goa ini sudah cukup populer. Yah siapa tahu bentuknya seperti Goa Jatijajar, pikir saya waktu itu.

Biaya masuk sebesar 14.000 rupiah untuk 2 orang membuat saya eman hanya datang ke Goa Rancang Kencana. Berbekal rayuan (lagi-lagi) ke Ine, akhirnya kami nantinya melanjutkan perjalanan ke Sri Gethuk.

Goa Rancang Kencana
Goa bernama unik ini punya bentuk yang unik pula, berbentuk kubah dengan puncak yang sudah runtuh. Di tengahnya tumbuh sebuah pohon berusia ratusan tahun yang menembus hingga beberapa meter ke permukaan tanah. Cerita yang berkembang di masyarakat mengatakan bahwa pohon itu dulunya adalah sebuah tongkat besar yang ditancapkan ke bumi. Hanya ada dua ruangan di dalam goa ini. Stalaktit dan stalakmitnya sudah mati karena tidak ada aliran air. Begitu tahu goa ini biasa dipakai meditasi saya jadi agak bergidik, untungnya ada mas guide yang menemani, hehehe.

Pohonnya besar banget bikin melongo :O
Bagian dalam goa, masih ada satu ruangan lagi di dalam

 

Pohon ini masih tumbuh bermeter-meter ke atas, menaungi goa dari terik matahari

 

Air Terjun Sri Gethuk

Dulu mungkin hanya sedikit warga Jogja yang tahu keberadaan air terjun ini karena letaknya agak mblasuk ke dalam. Perlu jalan kaki melewati kebun penduduk dan tepi sungai Oyo untuk mencapai air terjun Sri Gethuk. Tapi sekarang aksesnya sudah sangat mudah dan aktivitasnya beragam. ada wahana flying fox, rafting dan tubing, hingga canyoning! Kalau ingin mencapai air terjunnya pun ada dua cara, naik perahu atau jalan kaki lewat tepian sungai. Nah karena sudah sangat populer, saya sarankan untuk datang di hari biasa agar tidak kemruyuk di sana. Jika datang di musim kemarau saat airnya jernih, kita bisa renang-renang cantik di sungainya. Mau cliff jumping juga bisa. Saya senang karena pengelolaannya cukup baik, mulai dari harga tiket masuk yang jelas, fasilitas yang lengkap, lokasi wisata yang bersih, dan pengelola tidak berlebihan mengeksploitasi spot wisata, jadi daya tarik utama tetap dibiarkan alami. Awas ya kalau ada yang datang dan buang sampah sembarangan. Tempat wisata ini adalah sumber air andalan masyarakat sekitar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mohon maaf saya tidak pandai beri petunjuk arah. Sudah banyak sekali kok ulasannya di internet 🙂 Selamat berkunjung ke Gunungkidul!

Saya suka spot ini, cantik!

Dicari, Pelari Terakhir! (+Pengalaman Seleksi Indonesia Mengajar)

jalan masuk menuju Dusun Serambah, dusun penempatan saya di Pulau Bawean (2013)

*tulisan ini saya buat berbekal potongan ingatan dari lebih setahun yang lalu. maaf jika ada kesalahan penulisan, ya 🙂

Rasanya baru kemarin saya menapakkan kaki di Jalan Galuh II no 4 sembari menggendong sebuah carrier, dengan perasaan tidak karuan karena selanjutnya hidup saya akan berbeda. Halah. Yap, 22 April 2013 adalah hari bersejarah karena itulah hari pertama saya akan memasuki camp pelatihan Pengajar Muda VI. Hampir satu setengah tahun yang lalu! Oh maaan, cepet banget!

Perjalanan panjang tersebut dimulai dari sebuah titik balik. Alkisah pada akhir tahun 2012, dengan langkah gontai saya memasuki gedung Grha Sabha Pramana UGM untuk mengikuti talkshow Indonesia Mengajar bersama Pak Anies Baswedan. Motivasi saya saat itu hanya ingin lihat Pak Anies Baswedan saja. Sudah sejak lama saya ‘tersihir’ oleh berbagai speech beliau dan kali ini ingin saksikan langsung di depan mata. Selain Pak Anies, saat itu ada beberapa alumni Pengajar Muda yang ikut bercerita tentang pengalamannya selama di penempatan. Keluar dari ruangan kok ya tekad saya bisa berubah: saya ingin jadi Pengajar Muda! (thanks to Mas Arief Lukman Hakim yang sukses bikin saya ngiler ingin punya pengalaman yang sama serunya)Dan sekarang, 1 November kembali datang. Rekruitmen Pengajar Muda angkatan X sudah dibuka. Indonesia Mengajar mengundang putra-putri terbaik bangsa untuk mengabdikan satu tahunnya di pelosok negeri. Yap, sudah sembilan angkatan yang sedang dan akan diterjunkan ke 17 kabupaten di seluruh Indonesia dan angkatan 10 siap menyusul. Apakah kamu salah satunya? Jika tertarik untuk mendaftar bisa langsung klik link INI ya.. 🙂

Kok pelari terakhir sih?

Dalam satu tahun, ada 2 kloter Pengajar Muda yang dikirim ke daerah penempatan. Tujuh kabupaten di angkatan ganjil dan 10 kabupaten di angkatan genap. Indonesia Mengajar berharap, para Pengajar Muda yang bergantian datang tiap satu tahun itu bisa purna tugas setelah lima tahun saling mengestafetkan tanggung jawab untuk berkarya di penempatan. Dan kini datanglah tahun kelima. Saatnya para pelari terakhir menyelesaikan estafet dan menempuh garis finish. Lalu apakah tugas itu selesai? Tentu belum. Lima tahun ini adalah angka riil yang mampu disebut atas harapan pada sebuah perubahan.

Ada banyak teman yang bertanya bagaimana proses seleksi Pengajar Muda ini. Daripada saya cerita satu persatu sampai berbusa, lebih baik saya tuliskan di sini jadi semoga bisa lebih bermanfaat. Dulu saya juga banyak terbantu dari para kandidat Pengajar Muda yang menuliskan pengalamannya mengikuti seleksi di blog mereka. Tidak perlulah saya muluk-muluk bercerita tentang suka duka menjadi seorang Pengajar Muda agar kalian ngebet mendaftar. Saya juga sudah sering menuliskan tentang pengalaman saya selama menjadi guru di pelosok Bawean. Toh ini hanyalah salah satu dari sekiaaan banyak ladang mencari ilmu dan amal.

Apa saja proses seleksi Pengajar Muda?

Perlu diingat bahwa proses seleksi setiap angkatan tidak selalu sama. Saya hanya menuliskan pengalaman seleksi saat angkatan saya dulu, bisa saja lebih banyak prosesnya, atau justru lebih sedikit. Tapi paling tidak sudah ada gambaran dan persiapan ya 🙂

Seleksi administrasi
Meski judulnya hanya seleksi administrasi, jangan pernah sepelekan tahap ini. Indonesia Mengajar benar-benar serius dalam menyaring calon yang mereka cari. Syarat-syarat pendaftaran yang harus dipenuhi adalah:

– Belum menikah (biar ngga berat meninggalkan istri/anak dan kepikiran selama 1 tahun)
– Berusia maksimal 25 tahun (setahu saya ini bukan syarat mutlak, jika umurmu sedikit lebih dari 25 tahun tapi ada pertimbangan lain yang membuatmu lebih menarik, jangan ragu buat daftar)
– Lulus S1 semua jurusan (banyak pertanyaan: harus dari jurusan pendidikan nggak? Jawabannya: TIDAK. Justru IM memberi kesempatan pada sarjana non-kependidikan untuk merasakan nikmatnya jadi guru :D)
Kalau niat mendaftar sudah bulat, syarat pendaftaran sudah terpenuhi semua, persiapkan berkas administrasi selengkap mungkin. Scan berkas seperti ijazah dan KTP karena seleksi administrasi ini sepenuhnya via online. Tidak ada surat menyurat yang bikin kamu ketar-ketir berkasmu mungkin nyangkut di kantor pos. Hahaha. Update lah CV jadi saat mengisi form pendaftaran tidak perlu mengais-ngais ingatan lagi, cukup mengintip CV saja.

Form pendaftaran ini lumayan panjang dan menguras tenaga, selain harus melengkapi data-data, kita juga diminta menjawab beberapa pertanyaan berbentuk essay. Jangan isi sekenanya, karena recruiter akan melihat keseriusan kalian mendaftar dari essay yang dikirimkan. Pertanyaannya seputar motivasi mendaftar, pengalaman organisasi, hambatan dan prestasi, dan kesiapan menjadi Pengajar Muda. Jawab dengan jujur dan lugas karena jawaban essay ini akan ‘dipertanggungjawabkan’ jika kalian lolos ke tahap selanjutnya.

Jika tidak bisa menyelesaikannya dalam satu waktu, cukup klik simpan dan kalian bisa update jawaban di lain kesempatan. Kalau tidak salah saya waktu itu menyelesaikannya dalam satu minggu. Lama ya? Haha 😀

Jika ada pertanyaan terkait seleksi PM ini, bisa ditanyakan via twitter @JadiPM. FYI, pengalaman organisasi akan sangat berguna. Jadi kalau kalian punya segudang pengalaman oganisasi, itu bisa jadi nilai tambah. Ceritakan saja beberapa yang paling menonjol di form pendaftaran.

Direct Assessment (DA)
Jarak dari waktu penutupan pendaftaran hingga pengumuman lolos ke tahap DA kira-kira tiga mingguan. Lumayan deg deg ser nunggunya dan saat itu saya jingkrak-jingkrak saat tahu lolos ke tahap DA. Lima menit setelahnya langsung panik karena ngga tahu saat DA itu bakal ngapain aja. Hahaha. Kalau tidak salah pendaftar online saat angkatan saya mencapai 7500-an orang dan yang lolos ke DA sekitar 260-an orang. Dipangkas habis-habisan ya? Makanya, maksimalkan pengisian form pendaftaran online mu.

Saat angkatan saya dulu ada beberapa tahapan seleksi yang dilaksanakan langsung dalam 1 hari yaitu Presentasi Diri, FGD, Wawancara, Psikotes, dan yang paling berkesan adalah Microteaching. Tiap kandidat akan bergerak dalam kelompok dari satu pos seleksi ke pos lainnya. Waktu itu saya dapat jadwal DA hari pertama sekitar pertengahan Januari 2013. Saya ceritakan satu persatu ya.

1. Presentasi Diri
Kita diberi waktu (kalau tidak salah 3 menit) untuk mempresentasikan tentang diri sendiri dalam sebuah kelompok. Kemampuan kita ‘menjual potensi diri’ akan terlihat di sini. Jujur, waktu itu saingan saya hebat-hebat dengan segambreng pengalaman dan prestasi. Tapi ada beberapa yang justru terlihat angkuh dengan beragam pengalaman yang ia miliki. Saya kurang paham penilaiannya apa, tapi menurut saya pribadi sih recruiter melihat bagaimana kita membawa dan memperkenalkan diri sendiri, bagaimana kita merespon orang lain, dan bagaimana kita bisa membuat orang lain tertarik pada keunikan diri kita. Saat bertugas di penempatan, kita harus pintar-pintar menempatkan diri karena orang yang ditemui akan sangat beragam, mulai dari warga desa hingga bupati.
Tetaplah tenang saat menceritakan diri sendiri. Kalau punya banyak waktu, berlatihlah dan ingat poin-poin apa yang ingin kalian sampaikan. Ingat pada jalur yang kalian inginkan, jangan sampai kejauhan beloknya, nanti malah ngelantur kemana-mana ceritanya. Hehe. Jadilah penampil dan pendengar yang baik. Kalian bisa mengajukan pertanyaan saat ada teman yang mempresentasikan dirinya.

2. FGD
Sesi FGD hampir pasti selalu ditemui di tiap seleksi pekerjaan. Di sinilah recruiter bisa mengetahui cara kita berperilaku dalam kelompok seperti menyampaikan pendapat, merespon pendapat, membuat kesepatakan, dan mengakomodasi kepentingan orang lain. Akan diberikan kasus (biasanya terkait pendidikan) dalam kelompok tadi dan masing-masing diminta menganalisis dan mencari solusinya dulu. Kemudian akan diberi waktu mendiskusikan solusi terbaik dan mencari kesepakatan tanpa melalui voting. Susah lho kalau masing-masing mempertahankan ego dan itu bisa jadi nilai minus. Saran saya sih, tetap aktif dalam kelompok tapi lebay juga. Tetap berikan kesempatan pada yang lain. Sebaliknya jika kita masih minder dan merasa kurang mampu speak up, tawarkan diri menjadi notulen dan tetap tenang berpendapat saat diberi kesempatan berbicara. Kalau mau cari tips FGD banyak kok bertebaran di internet 😀

3. Wawancara
Ucapkan selamat tinggal pada kelompok seleksi yang membersamai sejak awal! Haha. Masing-masing kandidat akan diwawancara secara bergiliran oleh 1-2 orang, baik dari pihak IM atau recruiternya. Waktu itu saya diwawancara selama hampir 1 jam, pertanyaannya seputar jawaban essay kita aja sih. Pokoknya diputer-puter, kalau bohong pasti kelihatan.

4. Psikotes

Tahapan psikotes ini sama seperti psikotes pada umumnya, tapi ngga ada TPA nya. Tes lebih ke kepribadian saja seperti wartegg test, tes menggambar pohon dan orang, juga tes yang pilihan ganda ratusan pertanyaan itu loh.

5. Microteaching
Ini adalah seleksi paling heboh dan berkesan buat saya. Kami kembali berkumpul dalam kelompok kecil dan masing-masing diberi waktu 7 menit untuk simulasi mengajar di dalam kelas. Materinya sudah diberitahukan saat pengumuman DA jadi kita bisa bersiap apa yang mau diajarkan sampai alat ajarnya. Kalau ngga salah waktu itu saya dapat materi matematika. Wah, semua sudah saya siapkan tuh, termasuk latihan microteaching agar 7 menit bisa dimanfaatkan dengan baik.

Saat pelaksanaan? Hancur.
Masing-masing penampil akan dibully oleh satu ruangan. Luar biasa tekanannya. Saya cuma bisa cengangas cengenges mengatur kelas semampu saya. Selain teman sekelompok, akan ada beberapa alumni yang ngetem di dalam kelas dan berperan sebagai muridmu. Jangan berharap bisa menyampaikan materi ajar karena suasana kelas akan chaos layaknya TK! Waktu itu saya sampai dikunci di luar kelas oleh salah satu murid. Ada lagi yang dikerjain dimana seluruh murid diam seribu bahasa tidak mau mendengarkan gurunya. Ada-ada saja lah skenario mereka. Menurut saya sih yang dinilai adalah ketenangan kita menghadapi keributan tersebut, bagaimana kita menghandle situasi, sampai kreativitas kita dalam usaha menyampaikan materi. Kalau saran saya, ngga usah dipikir berat-berat yang bagian ini, anggap have fun saja.. Waktu itu sebelum giliran microteaching saya masih jadi murid pendiam, tapi setelah saya maju, saya ikutan jadi murid bandel. Kalau diingat masih suka ketawa, karena beberapa alumni yang jadi murid di kelas itu kini jadi teman-teman dekat saya 🙂

Medical Check Up
Rentang waktu pengumuman MCU berbeda tiap kandidat. Waktu itu saya nunggu lebih dari 1 bulan, sementara teman saya hanya 2 minggu. Jadi kalau temanmu sudah dipanggil dan kamu belum, jangan pesimis dulu. Siapa tahu giliranmu memang belum datang. Tetap berdoa!

Camp Pelatihan Pengajar Muda
Jika sudah terpilih menjadi satu dari 75 Calon Pengajar Muda, kamu harus mempersiapkan diri ikut camp pelatihan di bulan April. Ingat ya, masih calon :p

Nah, sudah ada gambaran kan bagaimana proses seleksi Pengajar Muda? Sekarang waktunya buka laptop dan ketik www.indonesiamengajar.org. Tunggu apa lagi? Ada ratusan anak-anak di penjuru negeri yang menantikan kedatanganmu, pelari terakhir.

Semoga sukses ya!

Tiap turun ke kecamatan selalu jadi hiburan buat saya, karena bisa berkendara di jalan persis tepi lautan.
Saya punya teman-teman baru, kelima manusia inilah yang jadi shelter pertama setiap masalah yang saya temui di penempatan.
Saya punya keluarga baru yang cintai saya apa adanya, menganggap saya bagian dari mereka.
Saya punya murid-murid baru yang ajarkan apa itu arti sayang.
Saya punya teman main baru yang tak pernah lelah ajak saya mengeksplor Bawean.

Sebulan Jajal Food Combining, Apa Hasilnya?

“Orang kurus kayak kamu itu justru harusnya lebih waspada. Mereka yang gampang gemuk punya alarm untuk atur pola makannya ketika berat badan mulai berlebih. Untuk kamu yang susah gemuk pasti akan merasa tenang makan apa saja. Baru nanti waktu tua kebingungan kok kadar kolestrol dan tensi lebih tinggi dari mereka yang gemuk.”

Suatu ketika seorang sahabat, yang sayangnya saya lupa siapa, kurang lebih mengatakan hal seperti ini pada saya. Saat itu kami sedang berkumpul dan membahas betapa beruntungnya orang macam saya yang tidak perlu waswas makan terlalu nggragas. Cetaar! Rasanya kayak dislepet pakai sarung dan tetiba air muka saya langsung muram terngiang-ngiang hal tersebut.

Ah, yang benar orang kurus juga rentan kena kolestrol tinggi dan penyakit lain – sebut saja, hipertensi?

Pencarian saya berlanjut dengan bertanya kepada teman-teman dokter dan membaca berbagai sumber di internet. Kesimpulannya, kelaziman orang kurus dan gemuk dalam hal kadar kolestrol tinggi tidak jauh beda. Sama aja paparannya. Ini cukup masuk akal. Saya tidak pernah merasa khawatir makan apapun yang berlemak, bahkan ada masanya saya senang betul dengan junkfood dan daging merah olahan. Olahraga jarang, dulu cuma seminggu sekali saat jam olahraga di sekolah. Saat kuliah lebih jarang lagi. Dan memang, saya tidak pernah menjadi gemuk. Sejak SMP berat badan saya konsisten di bawah 50 kilogram dengan tinggi 163 cm. Underweight cuy! Kalaupun naik hanya 2-3 kilogram. Jika pola makan saya kendor sedikit akibat banyak kerjaan atau sedang tidak nafsu, berat badan akan kembali ke awal. “Dimulai dari nol Bu…” *menghela napas karena gagal gendut.

Saya masih hepi-hepi saja dengan pola dan pemilihan jenis makanan macam itu. Ditambah lagi, saya jarang makan sayur dan buah. Oh iya, sejak SMP saya menderita sakit maag dan setahun lalu penyakit itu ‘meningkat’ derajatnya menjadi GERD (Gastroesophageal Reflux Disease). Saat kumat, saya bisa kliyengan, sesak napas, dan sensasi heartburn yang nyakitiin banget. Gejala penyakit yang mirip serangan jantung sempat bikin saya ketar-ketir. Walhasil saya tepar saja di tempat tidur seharian. Untungnya, penyakit ini belum pernah kumat waktu saya naik gunung.

Saya kembali tertampar ketika penugasan di Bawean akhir 2013 lalu. Beberapa penyakit datang hampir bersamaan: alergi, migrain, dan saat itu pula saya didiagnosis kena GERD. Padahal di masa-masa itu pula berat badan saya lagi nyenengin banget karena berhasil mencapai 54 kilogram. Unyu-unyu chubby gitu. Aneh ya, lagi di pedalaman kok malah subur. Hahaha.

Ini bermula dari kebiasaan saya melahap bercentong-centong nasi saat makan di rumah hostfam. Yap, hostfam saya punya sawah superluas jadi tidak pernah kekurangan nasi untuk dimakan. Saya selalu ngga enak jika ada nasi sisa yang akhirnya hanya dibuang dan saya dikatain ngga suka masakan mereka. Ya sudah, 2-3 centong nasi bisa masuk saat sarapan, ditemani ikan kering atau tongkol goreng. Sayur seminggu dua kali sudah alhamdulillah. Saat malam porsi makan bisa lebih mbladhog lagi ditambah teh manis dan bisa langsung tidur setelahnya. Maklum, jam makan malam saya cukup larut, sekitar pukul 8-9 malam selepas ngelesin anak-anak.

Saya jadi ngantukan parah dan suka lemes kalo lagi ngajar. Hiks.

Perubahan dalam empat bulan! Percaya kan kalo saya pernah gendut? Tapi gendutnya ga sehat 🙁

Alergi saya pun datangnya suka ngga kira-kira. Lagi tiduran, di sekolah, ngobrol di durung tetangga, tiba-tiba badan akan bentol dan gatal bukan main. Terkadang bisa sampai merata dan badan saya langsung panas. Penyebabnya tidak diketahui apakah debu, makanan, atau udara. Saya berusaha ngetrack kebiasaan dan apa yang baru saja saya makan, nihil. Dan migrain saya mengawal ke penyakit lain, sinusitis.Sakitmu banyak amat Kin! *glesotan di pinggir jalan

Tapi waktu itu saya belum ngeh bahwa penyakit tersebut datang akibat pola makan saya yang ngawur. Sampai akhirnya saya pulang ke Jogja dan beberapa bulan lalu saat jalan-jalan di toko buku, saya menemukan deretan buku Food Combining yang tampilannya menggiurkan. Akhirnya saya comot satu yang ditulis oleh Erikar Lebang. Lumayan buat baca-baca… Eh ternyata, lebih dari lumayan!

Pertanyaan saya terjawab satu demi satu. Rupanya alergi dan maag datang bisa saja karena kita tidak bisa mengatur pola dan jenis makanan yang masuk ke dalam tubuh. Makanan sampah pun dilahap. Saya miris mengingat-ngingat betapa banyak jenis makanan ‘tidak bermanfaat’ bagi tubuh yang masuk hanya demi saya bisa gemuk. Banyak makan makanan berlemak tapi tidak saya barengi minum air putih yang cukup dan olahraga. Duh, ngga kebayang lemak itu akan menumpuk dalam bentuk apa di dalam tubuh kurus saya. Mungkin juga karena metabolisme saya yang ngebut sehingga sebelum jadi lemak sudah keluar duluan. Ya tapi kalau ngga dibarengin buah dan serat serta olahraga cukup, mana bisa keluar dengan baik?

Yang saya kejar sekarang adalah sehat, punya berat badan ideal adalah bonus yang mengikuti.Intinya, food combining bukanlah sebuah pola diet. Yang diutamakan adalah kombinasi serasi-tak serasi dalam menyantap makanan. Kita tidak dibatasi untuk makan sebanyak apapun hanya saja dipertimbangkan efektivitas penyerapannya. Dan yang saya sukai adalah, pola makan kitalah yang seharusnya mengikuti sistem kerja tubuh, bukan sebaliknya. Nih, saya ambil salah satu contoh penjelasannya dari blog Wyuliandari:

Ketika kita makan makanan yg dominan karbohidrat bersama protein hewani, maka yang terjadi adalah sistem cerna kita kerepotan untuk mencerna. Enzim amilase (berfungsi memecah karbohidrat) akan berhenti saat enzim pepsin (berfungsi memecah protein),dikeluarkan. Akibatnya, karbohidrat tidak tercerna dengan baik.Ujung-ujungnya hanya menjadi sampah metabolisme. Nah, ini dia sumber beberapa penyakit yang kadang kita alami (tapi pasti enggak nyangka kalau sakitnya gara-gara salah kombinasi dalam makan). Akibat lainnya adalah, pH darah menjadi asam. Timbullah beberapa gangguan kesehatan, yang paling sering terjadi adalah maag, migren dan alergi!

Kayaknya sudah banyak sekali sumber di internet yang menjelaskan tentang Food Combining dan bagaimana menjalaninya. Teman-teman bisa langsung cari di internet dan kumpulkan infonya sesuai kebutuhan. Saya sendiri sudah hampir sebulan ini mengikuti aturan makan ala FC ini, belum 100% sih. Saya masih susah menjauhkan diri dari makanan yang diproses dan mencoba makan sayur dalam bentuk mentah. Kurang lebih inilah yang saya jalani dalam sebulan terakhir. Belum patuh-patuh amat, masih banyak godaan. Dan malesnya itu yang sering menang 🙁

  1. Awalnya saya takut mengkonsumsi buah saat pagi karena punya maag. Setelah dicoba ternyata kekhawatiran saya nggak terbukti. Kebiasaan baru ini juga bikin saya rajin nongkrong di Superindo ato toko buah. Beli buah sendiri jelas lebih hemat daripada beli juice di stand pinggir jalan. Pertama harus dipaksa banget… Lama-lama ketagihan. Saya paling suka mangga, pepaya, strawberry, melon, dan pisang. Kalau lagi males ngunyah saya bikin juice. Oh iya, dulu saya ngga bisa lepas dari bersendok-sendok gula saat bikin juice (padahal buah sudah menyimpan gula) dan kebiasaan ini bisa saya kurangi sedikit demi sedikit. Yang belum bisa adalah konsumsi juice sayur, masih berasa aneh di lidah.. -_-a
  2. Saya selalu coba kombinasikan 2-3 jenis buah dalam 1 piring. Kenyang lho.. Tapi cepet lapar lagi karena buah gampang dicerna. Ya makan lagi habis itu. Kalau mengunyah harus pelan-pelan, karena kalo makan langsung banyak bisa bikin pusing karena gula darah melonjak.
  3. Ini nih yang masih belum bisa patuh, saya jam 10 udah brunch makan nasi. Padahal harusnya mulai jam 12 baru boleh. Dari dulu memang saya ga terbiasa sarapan pagi, bahkan saya bisa tahan ga makan nasi sampai jam 2 siang. Brunch favorit saya adalah lotek atau soto, kebetulan kedua menu ini selalu tersedia di warung makan ibu. Sesuai aturan FC, protein tidak boleh digabung dengan karbohidrat, yang bisa menjadi penyeimbang masing-masing adalah sayur. Jadi lotek adalah makanan ideal nan murah buat yang baru nyoba FC. Sayurnya kan juga hanya direbus, ngga kayak sayur nangka dalam gudeg yang diproses berjam-jam sampai kandungannya hilang.
  4. Saya coba kurangi daging merah dan perbanyak ikan atau ayam. Beruntung banget Ibu punya warung makan, ada banyak menu yang tinggal saya pilih tiap harinya. Ini juga masih suka nakal, digabung dengan nasi. Plis.. Habis nasi ikan bakar itu enaknya maksimal… Sesekali juga masih tergiur KFC atau burger McD, ya namanya belajar kan pakai proses… *pembenaran*
  5. Saya perbanyak minum air putih dan kurangi minuman manis. Dulu setiap hari harus ada teh manis panas dan malamnya ada coffemix manis. Minum air putih bisa lho hanya 3-4 gelas saja sehari. Ngga sehat banget. Sekarang saya minimal harus minum 1,5 liter perhari, sampe saya install aplikasi Water Your Body di HP biar ada yang ngingetin kalo minumnya kurang.
  6. Saya ngga pantang makan apapun, semua hajar asal tahu urutan makannya. Tapi saya juga mulai mengurangi cemilan ber-MSG atau terlalu banyak gula setelah tahu makanan-makanan tersebut ga ada gunanya dalam tubuh saya selain ngempesin kantong. Hehe. Gantinya, saya lebih suka bikin kue sendiri atau beli roti yang mengenyangkan. Ini juga gara-gara belajar FC jadi nyerempet-nyerempet baca tentang asupan makanan sehat. Tapiii, saya masih belum bisa menahan godaan mie rebus pake telor. Coca Cola juga saya masih minum, tapi nahaaan banget biar 2x sebulan aja.

Dan hey! Hasilnya terpampang nyata!

  1. Badan saya terasa lebih segar, ringan, dan ngga gampang ngantukan. Mungkin ini saya dapatkan juga berkat mencoba merutinkan treadmill seminggu tiga kali. Rasanya masih kurang banget sih… Masih kalah sama rasa malasnya. Oh iya, pencernaan saya juga lancar… Cuma memang masih suka sensitif kalo salah makan yang pedas, teteup diare. Hihihi.
  2. Frekuensi kemunculan alergi saya mulai berkurang. Migrain saya juga hilang, mungkin ada banyak faktor yang mempengaruhi, tapi saya yakin perubahan pola makan adalah salah satu penyebabnya. Sepulang penugasan, saya masih rutin bentol-bentol ngegemesin nggak tahu kenapa. Sekarang alergi hanya muncul saat saya tiba di kondisi ekstrim yang memang sedari kecil saya alami, seperti cuaca terlalu dingin atau udara kering berdebu. Lumayanlah, sekarang bisa seminggu nggak muncul sama sekali alerginya. Sedihnya, saya masih bergantung sama obat alergi kalau dia sudah muncul, dioles minyak tawon aja tetep ngetem sampai keesokan harinya.
  3. Maag saya tidak pernah kambuh, pun keluhan GERD yang sebelumnya selalu saya rasakan. Mungkin karena tubuh sudah mulai adaptasi dan cocok dengan pola makan baru ini. Kenyangnya pun enak, bukan kenyang begah kayak habis makan ayam KFC atau pizza.
  4. Ngga tahu ini bonus atau engga ya.. Banyak yang berat badannya bisa berkurang setelah menerapkan FC beberapa bulan. Berat badan saya juga berkurang, kayaknya sih karena tubuh masih adaptasi dan makan saya memang jadi tidak sebanyak dulu. Tapi yang saya sukai dari FC ini adalah sifatnya yang membantu tubuh kita mencapai berat badan ideal, artinya yang kegemukan bisa turun, yang terlalu kurus bisa naik. Beberapa orang yang saya baca pengalamannya di internet sudah mencoba ini dan berat badannya berhasil naik beberapa kilogram (walau harus turun dulu). Kita lihat ya perubahan yang terjadi pada saya 2-3 bulan mendatang 😀

Mungkin pola makan ala FC ini mudah saya terapkan karena saya sekarang lagi selooo, kerja dari rumah dan tidak ada tanggungan berarti. Makanan pun selalu tersedia, kalau malas keluar cari buah tinggal titip Ibu ke pasar. Mulai susah kalau lagi traveling dimana tidak semua jenis makanan tersedia seperti yang saya inginkan. Kalau sudah begitu pilihannya antara pasrah atau pesen gado-gado. Kadang males juga ketika teman bertanya kok saya ngga makan seperti biasa, terus saya jelasin apa yang sedang saya jalani sekarang, eh malah di-cie-in. Orang lagi berusaha hidup sehat malah diceng-cengin. Hiks.

Saya khawatir juga nih besok kalau sudah kerja dan tidak di Jogja, masih bisa ngga ya seperti ini. Ah tapi, harus bisa!

Mungkin ada teman-teman yang ingin share tentang pola makan sehat kalian juga? Feel free to share ya 🙂

Riuhnya Prau di Akhir Minggu

Berhenti sejenak di pos 3 sambil lihat kepulan debu yang dihasilkan pendaki yang menuruni lereng Prau
(journalkinchan)

Setelah membuat posting panjang mengenai keresahan saya saat mendaki Gn. Prau beberapa waktu lalu, tidak afdol rasanya jika tidak memposting foto-foto saat mendaki dan mencari matahari terbit di sini. Karena malas  tidak keburu mengeluarkan kamera DSLR untuk memotret (lebih praktis jepret pakai Go Pro -.-) maka tidak banyak foto yang saya hasilkan. Karena itulah saya meminta izin pada Lingga Binangkit, seorang teman yang mendaki bersama juga, agar ia mengizinkan beberapa fotonya dimuat di blog ini. Dan berhasil, yes! Haha. Oh iya, Lingga ini meski lumayan baru di dunia fotografi tapi hasilnya foto-fotonya ciamik dan ga kalah dengan fotografer yang udah malang melintang belasan tahun. Sayangnya satu foto startrail bikinan dia lupa belum saya minta, lagipula penuhnya tenda di puncak Prau saat itu bikin foreground foto jadi nggak oye. Gaya yah, padahal bukan saya juga yang foto :))  Akhirnya saya dapat foto startrail bikinan Lingga!

Memang di malam itu Gunung Prau ramenya bukan main, lebih rame dari Ranu Kumbolo di masa film 5cm sedang booming. Lebih dari 200 tenda ada mungkin ya. Padahal satu rombongan yang naik bisa saja lebih dari 10 orang. Jadi silakan dihitung ada berapa manusia yang mencari sunrise pagi itu. Memang ya, kekuatan media maya dalam menyebarkan virus traveling itu hebat banget dan seharusnya juga beriringan dengan virus peduli lingkungan. Alam yang kita nikmati sekarang harus juga dapat dinikmati dengan baik oleh anak cucu kita nanti. *macak environmentalist*

Ingin rasanya ngedumel karena saya naik gunung untuk mencari ketenangan, tapi naiknya pas akhir pekan. Ya sama aja bohong. Apalagi kegiatan pendakian sekarang makin populer, peralatannya makin mudah didapatkan, info dan pengetahuan makin mudah dicari, maka tidak heran kedepannya gunung-gunung di Indonesia akan makin dipadati pendaki. Nah kalau sudah ramai gitu, saya mau duduk cantik di teras rumah aja sambil nyeruput teh manis. Eh tapi rumahnya di Banda Neira. *teteup* *suami mana suami*

Daripada saya meracau terus menerus, langsung scroll saja ke bawah ya! Selamat menikmati 🙂

ada pasar malam di Prau (@linggabinangkit)
Bro bro, ada persami ya bro? (@linggabinangkit)
Bintangnya kayak ketombe… (@linggabinangkit)
@linggabinangkit
@journalkinchan

 

@linggabinangkit
@linggabinangkit
@linggabinangkit
@linggabinangkit
@linggabinangkit
@jauharii
Ngelih mas? (@linggabinangkit)
@journalkinchan
@journalkinchan
@journalkinchan
@journalkinchan
@journalkinchan
@linggabinangkit

PS: Semua foto di post ini adalah copyright Journalkinchan. Saya apresiasi teman-teman yang mengunduh atau menggunakan foto-foto ini atas sepengetahuan saya. Meski tanpa watermark, bukan berarti bisa digunakan seenaknya. Terima kasih 🙂

Bertemu Emak Masnah Sekali Lagi

“Emak kapan ke Jawa?”
“Tak tau Buuuu.. Tak punya uang. Emak belum pernah ke Jawa..”
“Sekali-kali main Maaak. Biar tahu Gresik macam apa.. Tak tua di Bawean saja…”
“Tak tahuuu Buuu..”

(obrolan singkat di amben depan rumah pada suatu malam di Serambah)

Hari Jumat pukul satu dini hari. Bus Patas Jogja-Surabaya yang saya tumpangi rupanya menjadi bus terakhir yang berangkat dari Terminal Giwangan hari itu. Beruntung saya tak terlambat, bisa-bisa perjalanan-singkat-satu-hari saya akan berantakan. Dengan estimasi perjalanan 8-9 jam, sekitar pukul 9 pagi saya akan tiba di Terminal Bungurasih. Lumayan, bisa tidur nyenyak di jalan. Karena keesokan malamnya saya akan berada di bus ini lagi, kembali ke Jogja.

Apa yang membuat saya begitu bersemangat pergi ke Surabaya kali ini?


Masih ingat Kak Irul, kakak hostfam saya di Serambah? Kak Irul akan diwisuda sebagai seorang sarjana Agama Islam. Selama empat tahun terakhir memang ia menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang membuka cabang di Bawean. Proses kelulusannya sempat tertunda beberapa kali, maklum dosennya diimpor langsung dari Jawa. Tapi akhirnya kepastian didapat juga, akhir September ini ia diwisuda dan harus menyeberang ke Gresik.

Sebagai adik angkat yang melihat perjuangannya untuk lulus, tentu saya sangat bahagia. Saya masih ingat betul bagaimana Kak Irul mencoba menyelesaikan skripsinya sendiri di tengah godaan hebat untuk menyerahkannya pada jasa calo skripsi dan ia tinggal bayar. Ia sempat tergiur, tapi saya yang saat itu sok bijak mengingatkan bahwa ilmu akan barokah kalau diperoleh dengan jalan yang baik. Kalau diingat lagi, saya kepedean amat nasehatin ustadz. Berasa saya sempurna aja. Hahaha.

Ya begitulah. Mendapatkan referensi skripsi di Bawean memang sulit sekali. Boro-boro perpustakaan, buku bacaan kuliah saja minim. Sebagian besar referensi ia dapatkan dari internet (yang mungkin saja akan ditolak mentah-mentah dosen kalau yang melakukannya mahasiswa UGM – ya tapi anak UGM mah sumber ilmunya turah-turah) dan saya hanya membantu di penulisan ilmiah serta penyusunan hipotesis. Setelah melalui itu semua, pada suatu sore ia pulang dengan wajah berbinar dan bercerita pada kami bahwa ia telah lulus.

Hal kedua yang membuat saya bersemangat adalah: Emak Masnah akan menyaksikan sendiri anak sulungnya menjadi seorang sarjana. Saya mewek kalau ingat seumur hidupnya Emak belum pernah menyeberang ke Jawa, tepatnya Gresik, dan merasakan bagaimana detak kehidupan kota yang katanya satu wilayah kabupaten dengan Bawean itu. Ia menyaksikan Jawa dari layar televisi, dari sinetron-sinetron yang sering ia tonton di malam hari. Kak Irul sempat melarang Emak ikut dirinya, malu katanya. Pak Bonaim, guru yang dulu mengajar di Serambah dan ikut Emak selama 4 tahun lah, yang bersikeras meminta Emak agar ikut.

“Biar rasakan naik kapal dan tahu Jawa seperti apa, Mak. Nanti Emak harus menginap di rumah saya,” ujar Pak Bonaim.

Sayangnya Buppak dan Norma tak bisa ikut. Buppak terlalu sayang pada keempat sapinya yang harus dicarikan berkarung rumput setiap hari. Norma tak tega harus meninggalkan Buppak yang sudah sepuh sendirian tanpa teman. Apalagi dia sudah pernah ke Gresik dan bekerja di sana selama satu bulan.

“Kata Norma gantian Bu, dulu dia yang berangkat ke Jawa sekarang giliran saya, hahaha,” ujar Emak dalam bahasa Bawean, seperti biasa.

Akhirnya hari Kamis, mereka jadi berangkat dalam rombongan besar bersama para wisudawan lain dari penjuru Bawean. Usul sudah berangkat duluan jadi saya lebih mudah berkoordinasi dengannya. Sebenarnya saya ingin sekali hadir di wisuda Irul hari Sabtu, sayangnya saya tak punya banyak waktu. Alhasil saya luangkan hari Jumat untuk sekedar bertemu mereka meski hanya beberapa jam saja.

Ketika hampir tiba di Surabaya, saya baru mendapat info kalau Emak sudah ‘diboyong’ ke rumah Pak Bonaim di dekat perbatasan Tuban sana. Kak Irul dan Usul stay di kota. Dengan motor sewaan dan kemampuan spasial terbatas, saya dan Wana nekat melaju kencang di tengah Jumat siang yang panas. Karena biasanya lewat tol kota, kali ini kami kebingungan dan akhirnya mengambil jalan memutar. Butuh waktu hampir tiga jam dari Surabaya untuk mencapai rumah Pak Naim, menyusur jalan lintas provinsi bersaing dengan truk-truk besar dan bus antarkota. Belum lagi di beberapa tempat jalanan bergelombang dan rusak parah akibat sering dilewati truk raksasa kelebihan muatan.

Baru kali itu saya lihat wajah Gresik sesungguhnya. Selama ini saya hanya berkutat di kota saja, saya sempat puji habis Gresik karena terkesan ramah dan menyenangkan. Tapi begitu keluar dari pusat kota, saya menghela napas. Kota ini dilingkupi polusi dari asap-asap pabrik sepanjang jalan. Udara panas menyengat yang merupakan perpaduan hawa pesisir dan kungkungan asap membuat saya selalu berpeluh. Saya hanya tersenyum kecut mendengar Wana mempertanyakan kemana Gresik yang selama ini saya banggakan. Gresik dikuasai oleh pabrik dan industri, sementara banyak warganya yang akhirnya harus menjadi buruh di tanahnya sendiri.

Pak Naim sudah menunggu di tepian jalan menuju rumahnya. Seketika perasaan saya langsung lega seperti disiram seember air dingin di siang hari. Rumah Pak Naim terletak di Ujungpangkah, hanya selemparan batu dari muara Bengawan Solo yang tersohor itu. Di belakang desa Pak Naim terhampar perbukitan kapur nan tandus yang menjadi sumber pasokan utama pabrik-pabrik semen di Gresik. Setelah melewati satu kilometer jalanan kampung yang damai, tibalah saya di rumah Pak Bonaim yang bersahaja.

Perasaan terharu tak terbendung ketika melihat Emak berlari dari dalam rumah menyambut kami yang baru datang. Saya ciumi Emak yang sore itu mengenakan baju kurung hijau kesayangannya. Ia terlihat agak kelelahan, mungkin tak biasa bepergian terlalu lama.

“Ibuuuu, ibu akhirnya datang…” kata Emak sambil tertawa, sementara saya hanya bisa menahan tangis. Saya tak mengira bisa seemosional ini bertemu Emak.

Keluarga Pak Naim sangat hangat menyambut saya dan Wana. Tak henti hidangan mereka suguhkan untuk kami yang mungkin kelihatan kucel dan kelelahan karena tak henti berkendara. Akhirnya terjadi juga seperti yang saya ceritakan dalam posting Nostalgia Dalam Telepon, dimana kami para guru yang pernah ‘dirawat’ oleh Emak akan bernostalgia tentang masa pengabdian di Serambah. Bedanya, Emak kini mendengarkan langsung dua orang yang pernah ia asuh bercerita tentang masa lalunya. Oh iya, kini Emak makin pandai berbahasa Indonesia!

“Saya mabuk Bu waktu naik kapal. Kemarin akhirnya cuma tidur-tidur di penginapan,” Emak berkisah pengalaman perdananya naik kapal menyeberang Laut Jawa. Saya tertawa. “Saya aja mabok padahal sudah berkali-kali naik, gimana Emak endak?”

Melalui pertemuan singkat itu pula, saya banyak mendengar langsung kisah Pak Naim yang selama ini hanya saya dengarkan lewat Emak atau guru lain. Pak Naim adalah guru yang energik dan punya rasa keadilan yang kuat. Mungkin karena itulah ia dicintai masyarakat Serambah. Ia punya banyak cerita untuk dibagi, mungkin lain kali saya akan buat posting tersendiri.

Yang jelas, saya bahagia betul bisa kembali melihat Emak sore itu. Emak yang sehat dan tertawa seperti biasanya. Tak ada kecanggungan dalam diri Emak meski berada di tempat yang baru, dalam sekejap ia sudah bergabung dengan ibu-ibu tetangga yang kebetulan penasaran juga ada siapa di rumah Pak Naim.

Pukul lima sore akhirnya kami pamit pulang. Sebenarnya belum mau berpisah, rasa rindu ini masih meluap-luap. Pak Bonaim pun setengah memaksa agar kami menginap saja malam itu. Sayang, esoknya saya sudah harus berada di Jogja sehingga malam itu juga harus mengejar bus. Selain itu saya masih ingin bertemu Kak Irul dan Usul yang ‘tertinggal’ di penginapan untuk sekedar memberi ucapan selamat.

“Buuu, harus ketemu Irul ya.. Ada oleh-oleh dari orang Serambah. Orang tahu Ibu mau ketemu Emak, mereka titip oleh-oleh,” ujar Emak.

Malam itu, saya tenteng dengan hati berbunga-bunga sebuah kardus bertuliskan “Untuk Ibu Kinkin” berisi ikan kering dan kerupuk asli Serambah. Akhirnya saya bisa menemui Irul beberapa saat sebelum harus beranjak ke Bungurasih. Irul terlihat senang bisa mengunjungi Gresik lagi, untuk wisuda pula. Tapi saya juga tak kalah bahagia. Ada perasaan haru mengingat bahwa saya bukan lagi seorang guru tapi sampai kini mereka masih memanggil saya Ibu.

Selamat wisuda Kak Irul, semoga ilmumu bermanfaat bagi kamu, bagi Serambah, bagi Bawean, dan bagi masa depan generasi penerus. Dan selamat Emak, akhirnya Emak punya anak seorang sarjana. Pasti jadi kebanggaan untuk Emak yang lulus SD pun tidak. Kami, yang pernah diasuh oleh Emak, tahu betul bagaimana perjuangan Emak dan Buppak menyekolahkan anak-anaknya. Pintu sorga menunggumu, Mak. Amin ya rabbal al amiin…

 

Emaaaak… (abaikan muka kucel seharian kena debu jalanan)
Bersama keluarga Pak Bonaim

Catatan dari Prau: Sejauh Mana Kita Bisa Menghargai Diri dan Alam?

yak yang antri yang antri….
(Gn. Prau, 14 Sept 2014)

 

Prolog (yang agak kepanjangan)

Saya bukan pendaki profesional. Kecintaan saya pada kegiatan alam bebas dimulai sejak bangku SMA, saat itu saya bergabung dengan organisasi sispala di sekolah. Sejak pendidikan dasar hingga kegiatan rutin selanjutnya bersama teman sispala, saya diingatkan betul untuk selalu menjalani safety procedure. Awalnya terasa repot. Saat melihat teman dari sispala lain bisa naik gunung dengan sandal jepit dan peralatan minim, kenapa kami harus repot-repot pakai sepatu tertutup, membawa ponco yang berat dan baju ganti pula? Kenapa kami tidak boleh buang sampah sembarangan di gunung atau membakar sampahnya agar tidak perlu kami bawa turun? Bahkan saat itu saya berpikir kami terlihat cupu karena mempersiapkan diri sebegitu ribetnya.


Lalu saya lihat para senior yang rata-rata saat itu sudah kuliah atau bekerja. Kok mereka boleh pakai sandal gunung? Kok tasnya kecil-kecil seperti tidak membawa banyak barang? Oh, ini senioritas ya buat ngerjain para junior, batin saya waktu itu.

Yah, lalu berjalanlah waktu. Jam terbang saya dalam kegiatan alam bebas sudah cukup banyak dan saya mendapatkan banyak sekali pengalaman sebagai pembelajaran. Kemudian saya amini bahwa ‘keribetan’ jaman sispala itu membuat saya belajar. Iya, kenapa sih saya harus ribet-ribet dulu?

Jadi begini pembelajaran yang saya dapatkan.

Saat menjadi anak baru di dunia kegiatan alam bebas, kami adalah orang-orang yang tidak banyak tahu. Anggaplah kami belum mengenal bagaimana diri sendiri akan bereaksi terhadap hal-hal yang terjadi nantinya saat berkegiatan. Mudahnya saja ya, saat mendaki. Kami dianggap sama rata, belum pandai mengelola logistik, belum tahu bagaimana menjaga suhu tubuh dengan baik saat di ketinggian, bagaimana harus bertindak jika ada kecelakaan, dan sebagainya. Ketidaktahuan tersebut ‘dijawab’ dengan peraturan untuk membawa peralatan mendaki sesuai standar yang ditetapkan pada saat kami menjalani diksar. Lalu saat di gunung kelengkapan tersebut diambil dan kami diharuskan bertahan dalam kondisi serba minim. Intinya limit harus ditekan habis-habisan. Barulah saat muncul satu-persatu masalah kami memahami betapa pentingnya kelengkapan tersebut. Tapi ya cuma bisa misuh-misuh karena kami sedang dikondisikan untuk survive dalam kondisi tersebut :))

Pokoknya masa-masa diksar adalah masa-masa failed yang bikin saya ketawa sampai sekarang. Walau sudah dapat teori tetap saja prakteknya saat di alam bikin bingung. Untunglah, waktu itu kami belajar di bawah pengawasan senior yang sudah lama makan asam garam dunia pendakian.

Nah, makin kesini saya makin bisa memilah mana yang sebenarnya saya butuhkan atau tidak saat mendaki gunung. Senior saya ada yang bersandal saat mendaki (tapi mereka tidak pernah sandal jepitan lho) karena memang skill mereka mampu untuk itu. Saya tetap usahakan selalu bersepatu karena saya ternyata tidak tahan dingin dan suka kurang stabil saat menapak lereng miring. Saya kini sudah bisa membuat estimasi logistik yang harus dibawa saat mendaki plus cadangan jika ada apa-apa. Saya bisa mengurangi bawaan karena menggabungkan fungsi berbagai perlengkapan. Tapi P3K dan survival kit pantang ditinggalkan.

Intinya, saya harus kenali kemampuan diri sendiri dulu untuk berkegiatan alam bebas. Jika merasa belum kenal atau belum tahu akibat jika tidak membawa A atau B, saya memilih untuk membawanya saja. Gaya mendaki gunung tiap orang berbeda sesuai skill dan pengalamannya.

Saya juga pernah ngeyel kok. Waktu itu musim hujan dan saya trekking ke Baduy Dalam bersama teman-teman. Karena posisi sedang magang di Jakarta, saya tidak membawa peralatan lapangan yang memadai dan memilih masa bodoh dengan itu. Saya pakai sepatu crocs karena berpikir ia fleksibel saat digunakan di medan berlumpur. Tapi saya akhirnya kapok! Saya juga pernah nekat pakai celana jeans saat mendaki Merbabu hanya gara-gara saya lupa menyimpan celana lapangan. Dan yak ternyata celana jeans bukanlah pelindung dingin dan air yang tepat. Dingin banget untung tidak hujan. Bisa-bisa hipotermia.

***Sejauh Mana Kita Mempersiapkan Diri?Weekend kemarin saya mendaki Gunung Prau (2565 mdpl). Dasarnya sudah rindu dengan gunung, walau teman-teman mengatakan bahwa Gunung Prau sangat ramai kala weekend saya tetap nekat berangkat. Gunung Prau memang menjadi salah satu destinasi pendakian paling hip tahun ini. Dan saya menjadi satu dari ratusan pendaki hari itu yang penasaran dengan keajaiban panorama Prau.

Hari Sabtu malam pukul setengah delapan kami mulai mendaki dari Pos Patak Banteng Dieng bersama 4 teman lainnya: Mas Prastowo, Mas Jo, Lingga, dan Anggi. Tempat parkir sudah dijejali ratusan motor, para pendaki berseliweran tak henti di sekitaran basecamp. Dari situ kami dapat melihat jalur pendakian yang ditandai dengan kelip-kelip senter mengular tak ada putusnya.

“Gila, di puncak kayak apa ramenya kalo begini?”
Kami geleng-geleng pesimis. Yang penting rasa rindu mendaki bisa terobati kali ini.

Sejak dari basecamp kami sudah menemukan pemandangan unik yang bikin hati berdesir. Sebagian pendaki tidak melengkapi dirinya dengan standar pendakian yang memadai. Ada yang bersandal jepit, sepatu crocs, sandal hotel, bahkan wedges. Pakaiannya pun gaul dengan celana jeans ketat dan jaket tipis. Wot? Tapi saya masih berusaha santai karena saya pikir trek Prau cukup landai dan di atas sana tidak begitu dingin.

Eh lha ternyata…

Trek yang dapat ditempuh selama 2-3 jam ini ternyata lebih dari yang saya kira. Bagi yang pernah mendaki Semeru, mungkin trek Prau ini semacam Arcopodo mini. Berdebu, penuh batu dan pasir yang cukup licin, serta curam sampai harus berpegangan pada tali di beberapa titik. Ditambah banyaknya pendaki yang naik membuat trek rusak di sana-sini. Saya sampai memilih lewat jalur baru di kanan kiri trek utama karena di bagian tengah sudah sangat licin seperti perosotan -.-a

Belum lagi ternyata puncak Prau dinginnya bukan main. Sleeping bag saya tidak berhasil menahan hawa ala kulkas yang menerobos masuk. Padahal tenda sudah tertutup rapat dan dialasi matras dan ponco. Gila ini mah nggak bisa tidur! Tapi begitu keluar, di sebelah tenda saya ada beberapa pendaki tidur bergelimpangan begitu saja dengan sarung dan sleeping bag tanpa alas. Hanjir! Ini maunya irit apa ngga sayang nyawa?

Terhitung lebih dari 100 tenda didirikan di puncak Prau malam itu. Cendol? Iya. Ya tapi kita tidak bisa mengeluh karena gunung ini jadi super ramai. Semua orang punya hak untuk menikmati keindahan alam Indonesia. Yang membuat saya miris adalah, masih ada yang belum memahami dasar pendakian gunung serta memiliki tata krama sebagai seorang pendaki. Berperilaku di gunung jangan disamakan dengan saat di kota dong.

Saya mencatat ada beberapa hal yang saya kurang sreg saat mendaki Gunung Prau kemarin. Sayang sekali lho, padahal penduduk desa setempat sudah cukup profesional dalam mengelola wisata pendakian ini.

  1. Masih banyak yang membuang sampah sembarangan di area camping dan sepanjang trek. Padahal pengelola sudah memberlakukan denda bagi pendaki yang ketahuan buang sampah sembarangan. Ini memang masalah utama di gunung-gunung Indonesia (dan luar negeri) sih. Padahal, gunung bukan tempat sampah. Bahkan saat itu ada oknum pendaki yang melempar sampah 1 plastik besar dari atas saat kami antri di trek turun.
  2. Banyak yang tidak paham sistem antri saat mendaki gunung. Dahulukan yang turun, barulah Anda naik. Ada juga yang main serobot antrian dengan berbagai cara. Ada yang melewati antrian dengan membuat jalur baru di kanan kiri tapi gedubrakan lompat-lompat dan membahayakan orang lain. Ada yang lomba lari sama teman-temannya (satu kompi tiba-tiba lewat gerudukan sambil lari-lari, apa ngga bikin kaget?) Ada yang main perosotan tapi tidak memperhitungkan jarak jadi mengenai orang di bawahnya. Ada yang tidak hati-hati sampai membuat batu sebesar kepala menggelinding bebas dari atas dan membuat panik jalur di bawahnya. Problem? Yes.
  3. Saya selalu senang mendaki karena mendapatkan banyak teman baru di perjalanan. Meski tak kenal, kami pasti saling menyapa dan menghormati. Jika saya ingin mendahului pasti ucap permisi dan berusaha ngga bikin jalur berdebu karena lari-lari. Jika ada jalur yang berbahaya pasti saya ingatkan pendaki di belakang untuk hati-hati. Kemarin? Yah tetap ada segelintir yang menyapa, sisanya seperti anak baru gede yang sombong sama tetangga *yaelah tsurhat*
  4. Pukul 12 malam area camping masih sangat ramai oleh orang-orang yang (nggak tahu untuk apa) berteriak-teriak dan tertawa kebablasan. Padahal banyak orang yang butuh istirahat untuk bangun lebih awal demi mendapatkan sunrise di pagi harinya.
  5. Meski disebut gunung piknik sejuta umat, tetap butuh persiapan khusus untuk mendaki Prau. Minimal berpakaianlah dengan baik dan bawa logistik yang cukup. Kemarin saya lihat pendaki yang pakai sandal hotel akhirnya terpeleset berkali-kali saat turun. Mau nyukurin, kok jahat ya. Haha. Kenalilah batas diri sejauh mana kita bisa bertahan tanpa 1-2 barang. Kalau belum yakin, ngga usah ambil risiko. Nanti kalau di atas kenapa-kenapa, siapa yang repot? Ya orang lain juga.

Kegiatan alam bebas bukanlah kegiatan yang bisa dilakukan semua orang, dalam artian, perlu persiapan lebih agar kita selalu aman dan nyaman di jalan. Tidak ada yang pernah tahu kapan kita terkena musibah atau mendapat kesulitan. Cara terbaik? Ya berjaga-jaga dan pelajari dasar-dasarnya. Ini bukan tentang orang lain kok. Ini tentang bagaimana kita belajar menghargai diri sendiri meski di alam bebas sekalipun.

Jadi pendaki bijaksana yuk, karena kita tidak pernah berjalan sendirian.

 
*Foto-foto lain menyusul yaa, belum diedit >,<