#KinkinEdoRabi Part III : Soal Wedding Venue, Tabah Sampai Akhir! (+ Review Sambi Resort)

“Kamu yakin mau di outdoor venue-nya?”

Pertanyaan tersebut selalu menemani tiap percakapan soal pernikahan antara saya dan keluarga. Yup, baru kali ini di keluarga besar kami dimana venue pernikahan di luar ruangan dan tanpa tenda. Dan saya juga selalu #tabahsampaiakhir meminta restu dan menjelaskan baik buruknya venue outdoor kepada mereka. Maklum saja, selama ini tentu penggunaan rumah atau gedung sudah menjadi syarat mutlak dalam penyelenggaraan, bukan ūüėÄ

Mengenai wedding venue ini adalah salah satu item yang paling drama dan menghabiskan tenaga. Pemilihan wedding  venue berpengaruh terhadap sebagian besar keputusan lainnya mulai dari dekorasi, transportasi, katering, sampai pemilihan pakaian. Saya menghabiskan hampir dua bulan waktu untuk survei dan sebagian besar saya lakukan via internet dan handphone. Jika korespondensi dengan venue A di awal tidak membuat saya nyaman, akan langsung saya coret dari list.

Seperti yang pernah diceritakan di awal bahwa saya pernah galau gegara masalah venue ini. Awalnya saya sudah fix DP tanggal di salah satu gedung pertemuan di area UGM, tapi saya ngga sreg karena semua fasilitas dan kebutuhan saat pernikahan harus diambil secara paketan. Tadinya sih merasa lega ya, tinggal terima beres aja nih, tapi rupanya jiwa EO saya berkobar ngga mau nerima begitu saja. Untunglah, tim marketing nya baiiiik banget, mau bantu urusin refund DP yang sudah telanjur saya bayarkan. Makasih banget!

Perburuan pun saya lanjutkan. Setelah minta restu dari Ibu dan keluarga besan, saya memilih untuk mencari venue di luar ruangan. Kriterianya antara lain berbentuk taman atau tanah lapang, ada pepohonan, punya tempat parkir yang cukup luas, aksesnya tidak sulit, tidak memaksakan untuk pakai paketan, dan pemandangannya bagus.

Saya list satu-satu ya yang pernah saya survei. Semoga bisa jadi referensi teman-teman yang ingin membuat pernikahan outdoor di Jogja.

 Jogja Utara

  • Ndalem Notorahardjan

Ada di top list saya, tapi langsung saya coret setelah tanya harganya yang naik banyak banget dari tahun sebelumnya huhu. Selain itu di tanggal yang saya mau sudah ada yang booking juga. Saat saya tanya harganya 25 juta sudah ngga bisa nego, jika tambah sewa guesthouse-nya jadi total 34 juta. Dipikir-pikir, kalau tamu saya banyak pasti cocok di Ndalem ini karena tamannya super luas dan sekarang katanya parkirnya usdah diperbesar. Dulu waktu nikahan teman sih parkiranya masih harus di ruko-ruko seberang Ndalem. Kalau emang mau bikin pesta kebun yang besar di taman dengan pohon-pohon rindang dengan bangunan ala ala ningrat gitu, Ndalem Notorahardjan pilihan tepat banget sih.

  • Sasanti Gallery and Resto

Sangat cocok untuk intimate party dengan jumlah tamu ngga lebih dari 200 orang,  karena di tengah area ada kolam yang cukup memakan tempat. Atmosfernya homy banget, sejuk karena pohon di mana-mana. Korespondensi dengan Sasanti sangat enak, marketingnya njelasin apa yang kita butuhkan. Saya hanya via email lho, belum kesana langsung. Kontranya, tempat parkirnya kecil dan makanannya harus paketan. Sebelahan sama Hotel Hyatt di Jalan Palagan.

  • Joglo Mlati

Letaknya di belakang Terminal Jombor. Modelnya joglo gitu.. Ngga cocok dengan tema saya. Makanan juga harus paketan. Langsung coret. Hehe

  • Westlake Resto

Kalau yang ini letaknya di Ringroad Barat, malah deket  banget sama rumah saya yang sekarang. Dulu pertama kesana makanannya lumayan enak dan atmosfernya cozy banget. Sayangnya katering paketannya menunya kurang menggugah selera dan tidak ada venue khusus, jadi nanti acara pernikahan disaksikan sama para tamu yang main bebek-bebekan :p Tapi kemarin teman saya ada yang nikah di sana, kayanya sekarang ada venue khusus buat acara outdoor kaya pernikahan gitu.. Kalau tertarik langsung kesana aja mendingan, hehe.

Jogja Tengah dan Selatan

  • Omah Budaya Tembi

Lama berkutat di Jogja utara dimana memang sebagian keluarga besar saya tinggal, akhirnya beranjak ke selatan, langsung ke daerah Bantul. Buat yang sering ke Sate Pak Pong, nah Tembi deket-deket situ. Tembi sangat terkenal di kalangan pegiat seni karena kegiatan seninya ngga pernah berhenti. Selain jadi padepokan seni, Tembi juga menawarkan penginapan bergaya joglo dengan latar belakang sawah dan gunung Merapi. Waktu itu pernah menginap di sana, tempatnya memang nyaman dan makanannya cukup enak. Sayangnya venue outdoornya sempit.. nylempit di antara joglo-joglo penginapannya gitu.. Dan tau kan Bantul itu pwanas… kasian tamu saya kepanasan kalau acaranya siang.

  • Lemah Ledok Resto

Resto ini memang sudah lama terkenal sebagai tempat pernikahan. Tetapi saya kurang sreg dengan makanannya (namanya juga resto, kateringnya ya sudah paketan dong), dan venue nya terasa gelap. Akhirnya coret lagi.

  • Den Nanys Resto

Resto ini letaknya di Prawirotaman kalau ngga salah. Bagus bentuknya taman gitu dan ada joglonya. Tapiii saya ngga kebayang tamu-tamu saya pada kejebak macet di area situ, harus lewatin Malioboro pula, langsung coret lagi…

  • Gazebo Garden Restaurant

Pertimbangan yang sama dengan Gazebo Garden yang letaknya di dekat Purawisata ini. Takut macet! Dan lagi-lagi makanannya harus ambil dari restonya.

Intinya kalo judulnya resto, makanannya harus paketan dong dengan venue-nya. Rugi bandar kalau hanya nyewakan venue dan makanan bisa pesan dari luar, hahaha. Dan kemungkinan harganya  lebih mahal daripada katering-katering nikahan lain. Jadilah saya mencoba cari alternatif selain resto sehingga saya bisa memilih katering favorit saya.

Ada satu resort yang mencit di utara yang sempat jadi pilihan saya yaitu Kalyana Resort. Tempatnya memang oke banget, ada taman berumput yang luaaas di area berbukit. Duh tapi lokasi agak jauh, saya takut tamu saya nyasar. Suatu ketika Mas Pandu nyeletuk nama salah satu resort di Kaliurang yang pernah dia gunakan untuk menjamu tamu dari Jepang, dan overall para tamu itu puas. Namanya Sambi Resort. Langsung deh ketika saya pulang ke Jogja, saya ajak Mas Pandu dan Mba Zaki untuk survei kesana sekalian tanya-tanya tentang harganya.

Saat sampai saya langsung jatuh cinta. Venuenya cakep banget, hawanya adem semilir, ijo royo-royo. Konturnya naik turun menyesuaikan kontur lereng Merapi yang memang ngga rata. Ada sungai alami di bawah yang bikin suasana tambah adem. Cottage-nya bentuk tingkat gitu dengan dinding luar dilapisi gedhek (anyaman bambu) untuk membuat suasana pedesaan makin kental. Aduh cakep banget pokoknya!

Saya ketemu langsung dengan General Manager Sambi Resort. Minta dijelaskan harga dan fasilitas apa saja yang didapatkan, mata saya langsung ijo. Masuk budget! Dikasih diskon lagi. Sudah dapat kamar pula dan cottage di hari H. Untuk venue pernikahannya sendiri ada dua, yaitu venue taman kecil yang cukup untuk 100 orang standing party, dan venue taman besar bertingkat dengan pool untuk 300-400 orang standing party. Enaknya lagi, mereka ngga memaksakan paketan. Dari dekor, katering, rias, semua bisa saya cari sendiri sesuai selera.

Tetapi kontranya adalah lahan parkir depan kurang luas, kontur yang berbukit mungkin akan mempersulit tamu sepuh, jarak dari parkiran depan ke venue yang lumayan, dan letaknya di Jalan Kaliurang atas! Duh kasian tamunya ngga ya… Mulai deh galau lagi.

Singkat cerita, setelah pemikiran panjang, akhirnya saya ambil venue pool di Sambi Resort tersebut. Berpengalaman dengan marketing hotel yang kadang suka janji manis, saya minta semua fasilitas dan penawaran yang sudah disepakati kedua belah pihak untuk dimasukkan ke dalam surat tertulis untuk pegangan saya. Tapi mulai deh, setelah saya membayar lunas, mereka mulai meleng kemana-mana. So typical!

Untuk masalah venue dan lain-lain sangat ngga ada masalah. Saya kasih 8 dari 10 deh. Tapi untuk manajemen resort sendiri, saya kasih 4 dari 10. Maaf, tapi tidak profesional! Untung saya minta bantuan teman-teman sebagai EO, jadi pas hari H segala kepusingan jadi mereka yang tanggung, sampai perang urat syaraf sama pihak hotelnya. Tadinya mau saya tulis poin-poinnya di sini, tapi kok seperti membuka luka lama hahaha. Intinya ada beberapa ketidakprofesionalan yang timbul akibat hobinya janji-janji manis. Beberapa vendor saya juga malah dipersulit untuk loading dengan alasan banyak tamu lain (padahal di awal manager sudah janji, iyaa janji sihhh, kalo acara saya pas di hari H tidak bersamaan dengan acara lainnya. Tapi dia baru bilang di akhir-akhir kalo acara saya barengan dengan 2 acara lain, enak banget pula ngomongnya.) Saya sengaja banyak ngobrol via Whatsapp dan email agar ada record kalau-kalau nanti ada masalah saat hari H. Eh tapi tetep lebih pinter ngelesnya, kami sudah males debat lagi dan saya makin badmood.

Semoga Sambi Resort berbenah ya. Sayang banget tempatnya bagus tapi pelayanannya seperti ini. Saya dulu malah berharap bisa bertemu langsung ownernya untuk berdiskusi mengenai uneg-uneg saya. Dan saya sudah sampaikan ini melalui surel ke manager bersangkutan dan surel resmi Sambi Resort. Ngga, saya ngga minta uang saya balik. Saya hanya berharap klien-klien selanjutnya tidak mengalami hal-hal yang kurang mengenakkan. Kalau saya ditanya apakah Sambi Resort recommended, saya jawab ‘ya’ dengan catatan sangaaat panjang ūüėÄ Kalau tertarik dan pingin tahu lebih jauh, boleh banget japri langsung ya.

Pengalaman ini sekarang buat bahan becandaan saya dan Mas. Dengan segala keriweuhan itu, bersyukur banget acara berjalan lancar. Padahal saat resepsi hujan pula, tamu-tamu kesulitan parkir dan jalan ke venue, sampai Ibu saya hampir nangis karena sedih kok hujan. Tapi saya dan Mas saat itu malah ketawa-ketawa sebagai bentuk sukacita kami karena tamu-tamu tetap datang, para vendor tetap cakcek membantu mengkondisikan, dan kami diberi hujan mungkin sebagai tanda dari Tuhan untuk berdoa agar diijabah. Insha allah barokaaah. Aamin ya rabbal al amin…

Untuk teman-teman yang kemarin sempat hadir di pernikahan saya, mohon maaf banget kalau ada yang kurang berkenan. Mungkin ada yang kehujanan, kena macet di Jalan Kaliurang, atau ada hal-hal kurang pas lainnya, saya mohon maaf ya ūüôā

Ini beberapa foto saat saya survei ke Sambi Resort.

dscf1259
Bareng Mba Zaki dan Mas Pandu, yang sudah banyak bantu saya selama persiapan dan hari H
dscf1257
Jembatan pintu masuk
dscf1258
Area pintu masuk
dscf1248
Area pool dilihat dari lantai 3

dscf1243

dscf1247
area lantai 2 yang jadi pelaminan
dscf1249
area joglo tempat akad nikah. di sini saya pasang 2 tenda carnaville untuk tamu yang hadir (yang ternyata banyak banget yang dateng, makasih yaa…)

 

Honeymoon at Royal Pita Maha Resort, Bali

dscf1645

dscf1571

dscf1577

dscf1636

dscf1582

dscf1592

dscf1602

dscf1609

dscf1619

 

dscf1637

 

Ceritanya masih belum bisa move on dari cantiknya Royal Pita Maha Resort di Ubud, Bali sebagai destinasi honeymoon kami. Pada awalnya pingin banget backpacking ke Indonesia Timur, tapi ternyata energi udah abis buat persiapan pernikahan dan pingin leyeh-leyeh manja aja sambil menikmati cuti nikah :)) Backpacking-nya lain kali aja lah, nunggu ada rezeki lain.

Saya kasih rate 5/5 untuk Royal Pita Maha. Kami ambil paket honeymon standard dengan deluxe pool villa, jadi setiap villa sudah ada private pool-nya masing-masing. Ndilalah udara Ubud adem semriwing yaaa. Jadilah saya cuma renang beberapa kali dan sisanya kruntelan di dalem. Hahaha. Harga yang dibayar sangat sepadan dengan fasilitas yang didapatkan, mulai dari antar jemput bandara, free penggunaan motor selama 24 jam, spa, romantic dinner, organic lunch berdua di tepi sungai, yoga class tiap pagi, dan masih ada beberapa lainnya yang saya lupa, haha. Saat pulang dapat gift juga berupa papan ukiran kayu dengan nama Edo di atasnya. Selama di sana, saya memang ngga melihat tamu Indonesia lain. Itulah yang membuat saya agak khawatir mendapat pelayanan berbeda dibandingkan tamu asing. Mana bentuk kami mah masih kaya mahasiswa kuliahan hahaha. Eh tapi, ternyata pelayanannya sama berkualitasnya lho dengan wisatawan mancanegara. Super nyaman di sini pokoknya ūüôā Susahnya cuma karena dari lobby ke pintu keluar aja 1 km lebih jaraknya, jauhhh banget. Jadi ¬†males buat kulineran atau jalan-jalan keluar hotel.

Buat yang bingung mau honeymoon tapi males jauh dan cuti mepet, saya rekomendasikan Royal Pita Maha jadi salah satu alternatif. Ngga akan nyesel ūüôā

#KinkinEdoRabi Bagian II : Desain Sendiri Undangan Pernikahan, Mengapa Tidak?

kinkin300small

 

Seperti pernah saya ceritakan di posting sebelumnya, salah satu printilan dalam pernikahan yang ingin saya siapkan sendiri adalah undangan pernikahan. Pada dasarnya saya suka bikin repot diri sendiri, sih. Jumlah undangan saya tidak banyak sehingga saya putuskan untuk menyampaikan kabar pernikahan saya melalui undangan fisik. Tidak dipungkiri kemudahan teknologi tentu bisa dimanfaatkan, beberapa undangan yang tidak dapat saya temui langsung atau kesulitan untuk dikirimi via pos, akhirnya saya kirimi undangan online juga, hehehe.

Karena sudah punya beberapa pengalaman di bidang desain dan cetak mencetak, saya pede aja gitu untuk mendesain dan mengurus undangan pernikahan tersebut ke percetakan. Saya sempat membandingkan cost yang dikeluarkan untuk desain yang saya inginkan, antara mengurus sendiri dengan menyerahkan semuanya ke percetakan. Perbedaan cost nya bisa 30-an%. Lumayan kaan kalau dikalikan jumlah undangan, hehehe. Ya kalau waktu kalian banyak ngga masalah untuk membuat undangan sendiri, tetapi kalau kerjaan lembur terus dan weekend hanya bisa gegoleran di tempat tidur, menyerahkannya ke percetakan kayaknya bisa jadi pilihan yang tepat.

Continue reading “#KinkinEdoRabi Bagian II : Desain Sendiri Undangan Pernikahan, Mengapa Tidak?”

#KinkinEdoRabi Bagian I: 101 Persiapan

img_4609

Halo!
Ini saya sebenarnya bingung menuliskan¬†#KinkinEdoRabi¬†mulai dari mana, karena acaranya sendiri sudah hampir tiga bulan yang lalu. Oke, agak geli-geli gitu ya hashtagnya, tapi ini saya pake beneran¬†saat nikah :))¬†Secara pribadi saya memang sudah lama ingin menuliskannya dalam beberapa posting berseri sebagai usaha untuk¬†mengenang salah satu memori paling berkesan sepanjang hidup. Walau acaranya sudah kelewat lama, tapi hawa perjuangannya masih kerasa sampai sekarang. Dari kesibukan kontak calon vendor tiada akhir, jadi pejuang PJKA (Pergi Jumat Kembali Ahad) Jakarta – Jogja, dan hidup prihatin demi keinginan membiayai pernikahan sendiri. Kalau dipikir-pikir sekarang, untuk momen yang buktinya ‘hanya’ berupa foto dan video (selain cincin di jari manis dan buku nikah sih yang jelas…) memang banyak orang yang benar-benar mencurahkan hati dan pikirannya agar semua berjalan sebaik mungkin. Saya pun begitu. Mas suami dan ibu saya adalah segelintir saja dari sekian banyak yang mengamini bahwa saya begitu perfeksionis dan cenderung susah mendelegasikan pekerjaan. Selama masih bisa dikerjakan sendiri, ya¬†handle sendiri.

Ada suatu titik dimana saya berpikir, apakah saya sudah menjadi seorang bridezilla? Hahahahahaha. Entahlah.

Salah satu orang yang paling saya inginkan kehadirannya di akad nikah saya adalah eyang putri dari garis Ibu. Kebetulan memang eyang kandung saya sudah meninggal semua dan tinggal beliau saja. Sayangnya kesehatan beliau menurun drastis sejak awal 2016 akibat penyakit kanker. Saya kira beliau masih dapat bertahan dan menyaksikan pernikahan saya di bulan Juli, tetapi Tuhan berkata lain. Eyang putri meninggalkan kami semua dengan damai tepat satu bulan sebelum pernikahan saya. Beruntung saya sempat menjenguk dan mengobrol dengan beliau terakhir kali, seminggu sebelum tiada. Eyang saat itu meminta maaf kalau ngga bisa hadir, seperti sudah firasat. Sedih dan menyesal banget kalau diingat, kenapa tidak menikah lebih cepat agar beliau bisa turut menyaksikan. Tetapi insha allah kini sudah lebih ikhlas dan meyakini bahwa Eyang putri-yang memang udah suka banget sama mas suami sejak pertama ketemu-, bahagia melihat kami memulai lembaran baru.

Setelah acara lamaran sederhana di awal tahun 2016, kami berdua segera mencari tanggal yang sekiranya pas. Kedua keluarga menyerahkan sepenuhnya pada kami, hanya diberi ancer-ancer selepas Idul Fitri. Asyik? Tentu saja! Ngga perlu ada tarik ulur keinginan demi memuaskan semua pihak. Semoga kalian yang sedang merencanakan pernikahan juga dipermudah untuk hal ini, ya.

img_5180
Salah satu sudut venue pernikahan saya di Sambi Resort, Kaliurang. Selepas hujan, dingin-dingin basah hahaha.

Salah satu drama dalam pernikahan saya adalah masalah venue. Saya cukup saklek akan konsep pernikahan yang sedari dulu saya inginkan, yaitu pernikahan di luar ruangan dengan tema rustic. Tema tersebut masih cukup jarang saat itu di Jogja, dan kami menginginkannya sesuai kepribadian kami: natural dan hangat #tsaah. Tetapi mengingat kami berdua sudah harus mulai bekerja di luar Jogja, saya pribadi khawatir perencanaannya akan mawut. Keluarga besar saya kebanyakan bekerja di UGM, jadilah venue-venue yang berada di sekitar UGM ada di top list kami. Saat itu saya ngga kepikiran lagi untuk bikin pernikahan outdoor.

Saya langsung mengajak Mamase ke salah satu venue favorit di UGM yaitu University Club (UC). Tempat ini sudah sangat familiar buat kami, karena sering diadakan seminar di sana, bahkan seremoni kelulusan fakultas saya pun dihelat di UC. Luas gedungnya pas untuk kami yang tidak akan mengundang ribuan orang, tapi punya tempat parkir yang super luas, sebelah GSP gitu lho :))

Sayangnya kami harus gigit  jari karena sejak tahun 2016 itu pula UC menerapkan kebijakan yang berbeda. Kalau sebelumnya calon pengantin bebas memilih vendor (hanya membayar sewa gedung saja) sekarang mereka menawarkannya dalam satu paket, mulai dari wedding planner, make up, katering, hingga dekorasi. Macam di hotel gitu.. Kami tidak diperbolehkan mencabut item dalam paket. Yang saya kurang sukai, kan item kayak make up itu sifatnya personal ya.. Bagus buat A belum tentu bagus buat saya. Kalau untuk katering ngga masalah lah, karena UC rasanya sudah teruji. Kemudian saya ngga butuh wedding planner dan dekorasi dalam paket pun model standar adat Jawa pakai gebyok gitu. Kalau menyesuaikan dengan tema yang saya inginkan, pasti harga paketnya akan melambung.

Awalnya saya mau terima jadi aja… Bahkan waktu itu sudah DP tanggal. Biar bisa konsen dengan kerjaan di Jakarta. Tapi saya¬†jadi sering melamun kepikiran apa iya ini yang saya pinginin. Kadang-kadang sampai nangis ke mamase karena berasa ada yang ngga sreg. Saya curhat ke beberapa teman, mereka memaklumi karena sejak dulu saya kan memang suka bikin-bikin sendiri, ketika semuanya diserahkan ke orang tentu rasanya ngga lega. Akhirnya saya bulatkan tekad untuk mencoba melakukan survei ke venue-venue lain, termasuk berbagai vendor incaran saya. Lalu sebagai bahan pertimbangan saya membuat perbandingan harga apabila saya tetap ambil paketan dengan apabila saya merencanakan pernikahan saya sendiri di venue yang saya inginkan. Ada beberapa plan yang saya buat di situ.

Jatuhnya ternyata beda jauh… Karena di harga paketan sifatnya masih standar paket, kalau ada tambahan-tambahan maka harga keseluruhan akan melonjak. Sementara jika saya rencanakan sendiri, saya bisa berhemat di beberapa pos. Anak akuntansi banget ini, seratus dua ratus ribu jadi perhitungan :))

Hasil perhitungan itu saya kasih ke Ibu. Beliau manggut-manggut paham keinginan saya. Keluarga pun bisa menerima setelah beberapa kali saya negosiasi. Akhirnya saya diperbolehkan mencari venue lain.

Nah, cerita tentang survei  venue ini (termasuk pengelolaannya saat hari H yang lumayan menguras tenaga dan perasaan, haha) akan saya ceritakan dalam posting tersendiri.

Intinya ya dalam mempersiapkan pernikahan, komunikasi dan diskusi dengan pasangan itu penting. Jika pun orang tua tidak termasuk pihak yang ribet dalam perencanaan (beruntunglah kalian), mereka tetap harus diajak diskusi lho. Libatkan dalam pengambilan beberapa keputusan karena biar bagaimanapun mereka lebih berpengalaman. Nah saya serahkan ke ibu segala urusan tentang keluarga dan prosesi akad. Hal-hal lainnya beliau percaya pada saya. Ibu saya sebenarnya tipe yang kurang percaya diri dengan pilihan-pilihannya lho, takut anaknya ga suka terus ngambek. Hahaha. Sementara sebagian orang tua lain justru lebih dominan dan memaksakan keinginannya. Masing-masing ada tantangan tersendiri.

Saya pernah membaca sebuah survei di website pernikahan bahwa pasangan generasi sekarang cenderung merencanakan pernikahan yang simpel dan mengundang lebih sedikit tamu. Sebaliknya, tema dan konsep pernikahan akan lebih unik karena banyaknya informasi dan referensi yang bisa diperoleh dari manapun. Vendor pernikahan akan berlomba-lomba membuat diferensiasi mengikuti tren agar dilirik para calon pengantin.

Saya salah satu yang merasa bahwa memikirkan detail konsep pernikahan adalah sesuatu yang membuat tertekan ‚Äď tapi anehnya ‚Äď hal tersebut sangat menyenangkan! Untuk mempermudah hal tersebut, setelah konsep kasar sudah jadi, saya mendeskripsikannya dalam bentuk moodboard, timeline, dan list kebutuhan. Tiga benda ini saya jadikan pedoman. Moodboard adalah senjata saya untuk menjelaskan keinginan pada tim dekor dan menjaga saya tetap patuh pada tema. Timeline adalah pegangan saya dan tim rewang untuk memasikan kami masih punya cukup waktu persiapan. Sementara list kebutuhan tentu saja sangat membantu saya dalam memetakan apa saja yang sebenarnya perlu ada dalam tiap pos beserta budget yang dibutuhkan. Saya jadi lebih mudah mengutak atik alokasi budget tiap pos dengan adanya list ini.

Ketiga item tersebut masih saya simpan. Jika ada yang ingin intip-intip, boleh japri saya atau via komen ya. Soalnya ada beberapa yang sifatnya personal, malu kalo dishare di sini hehe.

dsc00169
Para bridesmaid yang banyak bantu selama persiapan, jadi teman diskusi dan curhat. Cantik-cantik pake flower crown dibecandain sama MCnya: Mba-Mba Snapchat :))
img_5240
Thanks to Cinta dan Tuhan! Minus Yusrina dan Icha, we miss you.

Jangan lupa untuk memetakan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki baik selama persiapan atau hari H. Nah, saya memilih untuk meminta bantuan pihak di luar keluarga saya secara profesional karena pertimbangan berikut:

  • Posisi saya dan calon suami yang sama-sama tidak di Jogja, Ibu yang sibuk merawat Eyang Putri, anggota keluarga besar yang berpencar hingga keluar pulau, membuat saya merasa bahwa menyerahkan sepenuhnya kepada keluarga bukan keputusan yang tepat.
  • Saya ingin keluarga saya tidak disibukkan mondar mandir mengurusi tamu, katering, bahkan ngatur parkir, karena sudah selayaknya mereka hadir untuk berkumpul, reuni, dan bersenang-senang.

Teman-teman yang saya mintai bantuannya ini ngga mau disebut EO tapi rewang, haha. Mereka membantu saya menyusun jadwal dan eksekusi saat hari H. Diketuai oleh Mas Pandu, tim ini isinya orang-orang yang baru pertama kali handle acara nikahan… Hahaha. Semuanya sama-sama belajar, alhamdulillah kehadiran mereka sungguh membantu saya. Mereka juga saya posisikan sebagai penengah antar keluarga apabila ada keputusan yang harus diambil saat hari H nanti. Untuk masalah keuangan saya serahkan kepada adik saya, dan masing-masing pihak keluarga tetap ada perwakilan yang dapat langsung dihubungi tim rewang apabila ada hal urgent yang harus didiskusikan.

Nah, hal paling bikin stress sekaligus paling seru adalah saat survei vendor! Waktu itu kok betah ya saya korespondensi dengan vendor via WA, email, dan alat komunikasi lainnya, ga kenal waktu. Survei vendor gampang-gampang susah, dan kalo boleh saya bilang dapat vendor itu jodoh-jodohan!

Survei vendor tidak saya lakukan secara bersamaan tetapi sesuai dengan timeline. Yup, timeline itu penting banget agar kita tahu apa yang harus dilakukan di minggu keberapa. Timeline itu juga yang membantu saya mengefisienkan jadwal pulang ke Jogja, bangkrut cuy kalo tiap minggu PP Jakarta-Jogja. Seminggu sebelum pulang saya pasti sudah sibuk kontak vendor, buat janji rapat dan ketemu orang-orang, atau sekedar menemani Ibu cari seragam keluarga. Kalau diingat-ingat betapa hectic dan padatnya dua hari dalam weekend itu, saya merasa kagum pada ketahanan tubuh ini hahaha.

Misalnya dekorasi vendor A baguuus banget, tapi budgetnya udah setengah dari budget nikah keseluruhan. Bayar katering darimana cyinnn. Venue B cantik banget, tapi manajemennya saklek kayak satpam. Katering C makanannya lumayan, tapi petugasnya ngebiarin piring kotor bertebaran. Pusing kan kalo gitu?

Saya paling sering coret vendor kandidat karena budgetnya ngga masuk dan jadwalnya sudah penuh, huhuhu. Beberapa vendor memang saya prioritaskan dengan budget lebih seperti katering dan make up, sementara penghematan saya lakukan di dekor, misalnya. Tapi saya pernah lho mencoret satu vendor dengan penuh emosi, padahal reviewnya bagus banget di mana-mana. Pertama, mereka menyepelekan janji pertemuan kami, padahal H-1 sudah saya konfirmasi ulang. Kedua, mereka memberikan foto portofolio palsu yang diakui sebagai hasil kerjanya! Lupa kali kalo bisa dilacak di Google. Langsung dong saya ilfeel, padahal kalo mereka mengakui bahwa portofolio untuk tema saya memang belum ada, saya akan maklum. Bhay lah sama yang begini.

img_4950
Kalau ambil paketan, saya ngga mungkin bisa didandani mba Arnie Suryo yang super baik dan talented.
dsc00289
Dapat flower bouquet sesuai keinginan saya dari Hanabira
img_5004
Oke muka mamase failed
dsc00133
Saya meminta dekorasi yang sederhana tapi dibuat dari bahan-bahan alami. Benji made it.
img_20160723_094816
Saat langit masih cerah :))
img_5390
Ini lho yang bikin acara saya jadi rame banget. Thanks Mas Gundhi dan Afgandhozz!

Justru pertemuan saya dengan vendor dekor terjadi ketika saya sudah lemes ngga nemu vendor yang klop di hati. Saya udah pesimis gitu saat menghubungi mereka. Eh si mba ternyata tanggap banget dan langsung ngajak ketemuan untuk ngobrol lebih jauh. Ketika saya tanyakan portofolionya di sosmed, mereka jujur bilang kalo ngga main sosmed hahaha (sekarang udah main tapinyaa) dan saya percaya aja gitu. Sekali ketemu, langsung lho klop obrolannya, tema yang saya pinginin langsung bisa ditangkap. Bahkan mereka banyak kasih saran soal penyusunan acara dan kebutuhan lain yang mungkin saya lewatkan. Kekurangannya saat itu hanyalah masalah koordinasi, karena komunikasinya bersifat segitiga, saya ‚Äď tim rewang ‚Äď tim dekor. Saya yang salah sih, meski sudah saya serahkan ke tim rewang, tetep saya pengen ikut ribet ngurusin, mereka jadi bingung harus koordinasi dan laporan ke siapa. Hahaha.

INI SEBENERNYA MAU NIKAHAN ATAU BIKIN SEMINAR SIH?? Serius amat. Hahahaha. Tapi ya bener, 11-12 lah mereka nih. Bedanya, bintang tamunya kita sendiri :)))

Jika susunan acara telah disiapkan, list kebutuhan mulai bisa dipenuhi, jangan lupa untuk bersiap dengan plan cadangan. Kondisi terburuk, naudzubillah, meski telah kita antisipasi, masih mungkin hadir. Memang siapa kita sih bisa atur-atur? Allah lah yang atur semua, dan kita hanya bisa berusaha.

Nah kondisi terburuk untuk saya yang akan mengadakan pernikahan di luar ruangan, di kaki gunung Merapi adalah: hujan! Mending kalo mendung anginnya sepoi-sepoi, nah tambah semangat kan nyeruput soto nya. Gimana kalo yang datang adalah hujan angin nan dingin? Iyaaaa, itulah yang terjadi saat resepsi saya. Padahal saat akad panasnya cetar-cetar sampe Merapi pun kelihatan. Nah tentang ini akan saya ceritakan di postingan tersendiri juga, karena perasaan saya campur aduk ketika tetes hujan pertama mengenai baju saya sore itu : )))

Terakhir, banyaklah berdoa dan tetap jaga kesehatan! Ini yang suka dilupakan sama calon pengantin. Memforsir diri untuk persiapan tapi lupa jaga diri, eh pas hari H malah ambruk karena sakit. Jangan sampai yaa…

Sebagaimana saran para orang tua, perbanyak berdoa dan ibadah sunnah bagi yang Muslim. Katanya sih, agar aura kita memancar di hari pernikahan nanti. Hahaha. Kalau buat saya tentu untuk menenangkan hati. Jikalau doa tidak dikabulkan Allah, paling tidak doa mampu menentramkan hati dan pikiran yang senantiasa kalut. Bisa dihitung jari deh dalam enam bulan itu saya berapa kali tidur bener-bener nyenyak.

img_5480

And the show must go on. You are the queen.

Pada akhirnya, kita sudah berusaha semampu diri memenuhi. Ketika persiapan sudah maksimal, meski kurang di sana-sini, tetapi di hari pernikahan nanti, nikmatilah apa yang sudah kita persiapkan ini. Ada yang kurang, pasti. Ada yang jadi omongan tamu, jelas. Tetapi bukankah saat berdiri di pelaminan ada anugerah luar biasa yang kita dapatkan.. yaitu pasangan halal yang tersenyum sama lebarnya, dan keluarga baru yang menerima apa adanya. That’s your day, so enjoy it!

#bersambung

Hai dan Maaf!

 

photo by Kresno Bagus @afteryoupicture
photo by Kresno Bagus @afteryoupicture

Hai dan Maaf.
Dua kata itu nampaknya paling tepat untuk memulai post kali ini. Enam bulan? Yaaaa, nyaris enam bulan lamanya saya tidak menulis di blog ini, bahkan menyapa teman-teman pun tidak ūüôĀ Saya memohon maaf karena¬†kemalasan ke-hectic-an pada bulan-bulan yang lalu menumpulkan keinginan saya untuk membuat barang satu-dua post saja.

Alhamdulillah, akhirnya saya resmi jadi istri orang. Ga single lagi! Tapi tidur teteep sendirian #pejuangjarakjauh sementara Mamase berada di pulau seberang. Semoga saja ini hanya sementara, dan ada waktunya kami bisa berkumpul lagi.

Tulisan ini hanya akan menjadi awalan penyemangat saya untuk mengumpulkan dan menuliskan kembali memori-memori selama enam bulan tersebut. Saya banyak terbantu dengan tulisan-tulisan di blog orang mengenai persiapan pernikahan; mulai dari yang rempong bikin pengen mecah tabungan sampai yang sangat sederhana tetapi penuh makna. Pengalaman-pengalaman mereka membantu saya membuat konsep pernikahan saya pada akhir Juli lalu, yang walaupun penuh kekurangan di sana-sini tapi akan terus kami ingat sampai tua nanti. Saya memang mengurus sendiri sebagian besar printilan pernikahan saya, kecuali pada saat hari H saya menyerahkan pelaksanaan acara pada teman-teman EO (mereka ngga mau dibilang EO sih, katanya rewang. Okthx). Berangkat dari rasa terima kasih itulah, saya bertekad untuk membuat potongan-potongan cerita persiapan pernikahan saya siapa tahu ada yang punya keinginan atau konsep yang sama, saya akan sangat senang dapat berbagi.

Saya beruntung punya begitu banyak teman dari kalangan kreatif yang bisa dimintai tolong (secara profesional tentunya) sehingga saya tidak perlu menabung kecewa akibat keamatiran saya memilih vendor. Meski awalnya saya sangat ingin membuat seremoni pernikahan yang intim dan hanya dihadiri keluarga dan kerabat dekat, nyatanya saya harus berdamai dengan kondisi. Saya bekerja di sebuah instansi yang cukup besar dan punya rasa kekeluargaan yang kuat, kami berdua punya teman-teman kuliah yang masih akrab hingga saat ini, geng SMA yang masih membersamai, hingga teman-teman yang saya kenal dari dunia maya dan masih menjadi rekan diskusi. Belum kolega dari keluarga Mamase, tetangga-tetangga Ibu, teman pengajian, dan lain-lain, akhirnya kami memaklumi bahwa seremoni ini tidak seintim yang kami bayangkan sebelumnya. Tetapi rupanya kami justru bersyukur, kehadiran mereka membuktikan bahwa pernikahan kami diberkahi. Aamiiin…

Saya ingin sekali membagi postingan mengenai persiapan pernikahan saya dalam beberapa bagian. Sementara ini masih dalam tahap editing foto dan susun-susun kronologi (duilee gaya pake kata kronologi). Mumpung masih rada anget dan topik selanjutnya belum bergeser jadi calon buah hati hahaha (mohon doanya, ya!)

Chi trova un amico, trova un tesoro
Who finds a friend, finds a treasure..

Yes my Rifian Ernando, my lifetime bestfriend, my lifetime partner,
you’re my treasure.