• Uncategorized

    Adit Akhirnya Pulang

    Selamat jalan, Adit… Di tengah teriakan anak-anak didik yang asyik bermain bola di lapangan tepi pantai Bhayangkara, saya duduk dan membiarkan kaki terendam genangan air di antara ceruk karang. Fauzan, rekan sepenempatan yang ikut meramaikan piknik mendekati saya tanpa banyak bersuara. Sejurus setelah saya membaca pesan singkat yang ia tunjukkan, suara anak-anak itu tak lagi terdengar nyata. Sebulir air mata turun perlahan. Saya tak percaya. *** Halimun di Ranca Upas menjadi saksi akan dimulainya perjalanan kami sebagai guru tepat selepas hasduk merah putih dikalungkan oleh ketua yayasan, Anies Baswedan. Memori itu, tepat lima bulan yang lalu, mengakhiri cerita kebersamaan kami selama dua purnama sebelumnya di camp pelatihan Pengajar Muda. Kami,…

  • Uncategorized

    Obrolan Cepo Mak Masnah

    Pada malam-malam yang beranjak sunyi, Emak Masnah senantiasa melakukan hal yang sama: membuat cepo dari bambu. Cepo adalah tempat menyimpan barang-barang dapur atau beragam makanan. Potongan bambu yang diambil dari rumpunnya tersebut ditipiskan, diserut hingga halus kemudian dianyam dan diberi tatakan datar. Tekun sekali Emak mengerjakan satu demi satu cepo berukuran sedang tersebut. Jika sudah banyak yang dibuat, Emak kemudian menjualnya ke Pasar Kepuh yang terletak di pesisir laut. Kadang berjalan kaki turun gunung, kadang menumpang colt, kadang diantar oleh anak tertuanya. Cepo Emak yang tertumpuk membisu menunggu dijual, bercerita pada saya tentang banyak hal. Mungkin dahulu, cepo itu dibuat Emak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Seperti layaknya penduduk desa yang…

  • Uncategorized

    Nostalgia dalam Telepon

    Ada sebuah titik istimewa di teras rumah orangtua angkat saya. Di antara anyaman dinding bambu yang menghadap ke lembah tersebut, tergantung beberapa telepon genggam milik penghuni dan tetangga rumah. Bersebelahan satu sama lain, benda-benda tersebut saling berebut satu dua garis sinyal. Sebut saja sinyal-tempel-tembok, sisa-sisa sinyal dari kecamatan sebelah inilah yang menghubungkan warga Serambah ke dunia luar sana. Meskipun semua telepon genggam tersebut tergantung di sana sepanjang hari, tidak ada satupun telepon yang pernah hilang diambil orang. Dering masing-masing telepon juga begitu keras, ketika ada satu yang berdering maka seluruh penghuni rumah – baik yang sedang di dapur atau di kebun – akan berlarian ke titik tersebut untuk sekedar melihat…

  • Uncategorized

    Menepikan Pertanyaan

    Malam ke-45, purnama kedua Sudah lebih satu bulan sejak pertama saya menginjakkan kaki di bumi Serambah. Ya, saya hitung betul malam demi malam yang telah saya lewati bersama keluarga angkat dan tanggung jawab baru sebagai seorang guru. Saya terhenyak. Sebenarnya, sudah lebih dari tiga bulan saya mengucapkan sampai jumpa pada tanah kelahiran Jogjakarta. Waktu yang tak sebentar, tapi tak terasa dilewati dengan begitu cepat. Mungkin dalam tahun-tahun sebelum ini, saya begitu fokus pada diri sendiri. Apa yang saya lakukan adalah untuk kepentingan diri dan orang-orang terdekat. Dan dalam 90 hari belakangan, saya ‘dipaksa’ untuk mengesampingkan urusan diri, memperhatikan orang-orang yang bahkan sebelumnya tidak pernah saya kenal. Masuk ke dalam masyarakat…

  • Uncategorized

    Rapor Tingkah Laku

    Kisra, anak kelas lima yang bertubuh bongsor tersebut sibuk mengiris-iris pepaya muda yang dipetiknya sendiri dari halaman rumah. Beberapa menit sebelumnya, ia tergopoh-gopoh menyiapkan tikar dan air minum di ruang tengah. Semua itu ia siapkan untuk saya yang datang berkunjung sepulang sekolah. Mulutnya tak henti menggumam, “Kema Emak, Bu Kinkin la datang…” (Emak kemana, Bu Kinkin sudah datang…) “Sudah, Ibu di sini saja,” cegah Kisra ketika saya berniat membantunya membuatkan bumbu rujak. Segera ia membenamkan diri dalam kesibukan mengulek cabai dan garam, yang oleh masyarakat Bawean biasa disebut bumbu buja cappi. Saya senyum-senyum sendiri memperhatikan tingkahnya yang lucu. Ia benar-benar bersemangat menjadi tuan rumah yang menyenangkan. Dan pada siang itulah…

  • Uncategorized

    Anak-anak, Ayo Jepret!

    Posting singkat berikut ini khusus saya dedikasikan untuk Kak Wira Nurmansyah, photographer cum traveler (yang katanya) kece asal Bandung. Selamat membaca, Kak! Sejak berangkat tugas ke Pulau Bawean, saya sudah memikirkan beberapa hal yang kiranya dapat saya lakukan di tempat penugasan nanti. Salah satunya adalah rencana saya membuat ekskul fotografi untuk anak-anak SD di Serambah. Yang saya inginkan tidak muluk. Saya tidak menginginkan anak-anak saya paham mengenai diafragma, shutter speed atau penggunaan filter lensa. Saya hanya ingin mereka sendirilah yang menangkap momen-momen yang mungkin tak akan mampu saya dapatkan. Saat itu saya mendengar dari pengajar muda pendahulu bahwa anak-anak di dusun saya memiliki karakter yang cukup unik. Mereka sangat pemalu…

  • Uncategorized

    Dalam Tiga Puluh Menit

    Hanya kurang lebih tiga puluh menit saya mendengar suara khasnya setiap kami bertemu dalam telepon. Mendengar suara tawanya, saya hanya bisa membayangkan ia di sana tergelak menampakkan gigi-giginya yang putih dengan perut naik turun. Mendengar ia bercerita, saya hanya bisa membayangkan ia di sana tengah duduk sendirian dalam remang lampu karena ditinggalkan oleh orang-orang rumahnya. Mendengar ia menguap, saya membayangkan ia bersandar di dinding dengan mata berat tetapi tetap ia tahan demi komunikasi yang terus terhubung. Awal cerita kami sangat berbeda. Saya begitu dimanja oleh kebaikan penduduk yang tidak membiarkan saya kelaparan dan tanpa tempat tinggal, sementara ia di sana sendirian harus membeli makan di warung dan tidur tanpa ditemani…

  • Uncategorized

    Cinta Sekeping Gili

    Betapa diberkahinya saya ditugaskan di pulau kecil nan subur ini. Tanah perbukitannya yang subur saling berjajar membentuk barisan menawan sesekali ditutupi larik-larik awan. Hijaunya sawah menyejukkan mata, ditingkahi debur ombak berkilauan yang berjarak tak lebih dari dua puluh depa. Inilah Bawean, pulau penuh keajaiban yang terapung tenang di tengah Laut Jawa. Mungkin ribuan tahun yang lalu Bawean adalah sebuah gunung api purba yang besar. Di tengah-tengah pulau ini terdapat danau dalam berwarna biru kehijauan yang dikeramatkan penduduk Bawean. Tak seperti pulau-pulau kecil di tengah lautan lepas yang kering kerontang, ribuan mata air menjamin kesuburan tanah Bawean. Tak perlu heran melihat persawahan menghijau yang bersebelahan dengan pantai berpasir putih dan air…

  • Uncategorized

    Belajar dari Sebuah Kelas

    Anak-anak adalah pengkritik yang paling jujur. Sejak tiga purnama lalu, panggilan untuk saya berubah. Saya tidak lagi mengendarai motor kemana-mana untuk melakukan hal-hal yang saya sukai, kini pagi saya diisi dengan berjalan kaki mendaki bukit diiringi teriakan “Ibu Guru!” dari penjuru sekolah. Saya punya ruang kerja sederhana – sebuah kelas yang diisi dua rombongan belajar tanpa sekat yaitu kelas 5 dan kelas 6. Sebagai seorang yang sebelumnya mempunyai nilai transaksi sosialisasi rendah – atau dengan nama lain suka menyendiri – saya dipaksa bertemu dengan banyak orang. Enam puluh anak yang saya temui hampir setiap hari, lebih dari sekedar angka statistik. Mereka adalah manusia-manusia kecil yang punya kemampuan mencontoh lingkungan lebih…

  • Uncategorized

    Ode Tengah Juni

    Akhir Juli, 2011 Saya masih berdiri mematung di depan kelas. Anak-anak itu duduk diam menatap saya sembari sesekali mengedipkan matanya. Saya diam, mereka diam. Jika saja ada jangkrik, mungkin suara deriknya yang akan mengisi ruangan ini. Tuhan, apa yang harus saya lakukan? Buku acuan yang saya pegang tidak memberikan inspirasi apapun agar saya mampu berbicara panjang lebar. Omongan saya patah-patah menjelaskan apa itu kewirausahaan di depan anak-anak SMP Satu Atap yang sedari tadi menunjukkan ekspresi tidak paham. Kakak ini sedang apa sih, mungkin itu yang ada dalam pikiran mereka. Keringat dingin mengucur deras. Tatapan polos mereka dan keheningan kelas justru makin menekan saya. Akhirnya kelas saya serahkan kepada Siti, rekan…