A Quick Update 2016

Awal Januari lalu, saya punya satu lagi lompatan besar dalam hidup. Mas pacar membawa keluarganya ke rumah untuk menyampaikan keinginannya melamar saya. Kami sudah saling mengenal keluarga pasangan, sayangnya orang tua kami belum pernah bertemu. Perasaan saya degdegan saat keluarganya datang ke rumah dan disambut oleh keluarga saya… Almarhum Bapak diwakili oleh Eyang dan Om dari pihak Bapak. Banyak pikiran berkecamuk, duh cocok nggak ya? Acaranya lancar nggak ya? Ada yang ngeganjel nggak ya?

Alhamdulillah acara berjalan lancar dan keluarga kami akhirnya saling mengenal. Keinginan mas pacar untuk melamar juga diterima baik oleh keluarga saya, dan dalam acara sederhana itu saya merasa sangat lega. Saya pernah mengalami masa dimana saya takut untuk menikah. Yup, ada satu momen dalam hidup yang memutarbalikkan dunia di sekitar dan membuat saya sempat mengalami krisis percaya diri, yaitu saat Bapak sakit parah dan akhirnya meninggal dunia beberapa tahun kemudian.

Menerima lamaran Edo tentu melalui pertimbangan yang panjang, dan dia berhasil meyakinkan saya bahwa semua bisa dilewati dengan baik-baik saja. Dia juga berhasil meyakinkan saya bahwa ia memang benar-benar serius untuk membina hubungan – setelah tiga tahun kami saling kenal dan akhirnya berpacaran (walau 1,5 tahunnya LDR-an, haha).

Apakah posting ini menjadi terlalu personal? (kayak biasanya enggak aje, Kin! Haha)

Momen lamaran tersebut seakan menjadi titik awal saya mulai berpikir tentang persiapan nikah. Semakin banyak membaca referensi dan pengalaman orang di internet, semakin saya bingung! Yah saya orangnya memang gampang galau sih, liat A bagus pengen A, yang B bagus pengen B, eh ada C bagus, pusing terus ngributi… Hahaha, girl!

Untunglah Edo engga cerewet, dia lebih banyak mendengarkan dan manut aja (sejauh ini sih begitu) kalo saya udah mulai hectic dan potensial jadi bridezilla. Hahaha! Saya engga mau jadi bridezilla… Saya ingin mempersiapkan pernikahan ini dengan penuh kebahagiaan, harapan, dan optimisme. Dan tentu saja saya tidak ingin mengesampingkan rencana-rencana dan harapan kami setelah menikah nanti, yang tentu saja lebih penting daripada seremoni itu sendiri.

Dan aniwei, segala sesuatu kalo udah ada embel-embel ‘wedding’nya, harganya bisa meroket ngga kira-kira ya.. (lah jadi curhat) Semoga kami dijauhkan dari segala perselisihan dan dilancarkan semua urusan, aamin…

Begini Rasanya Frenektomi

Cerita ini saya share agar teman-teman ikut meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan gigi dan mulut kalian ya 🙂
Saat baru mulai merasakan indahnya masa SMA, saya mengalami kecelakaan. Singkat cerita, rahang kanan patah (untung bukan pas di sendi, jadi ngga perlu bedah dan pakai platina segala) dan saya mendapatkan perawatan spesial: pemakaian plat pada susunan gigi atas bawah untuk mengikat rahang agar bisa tersambung kembali. Sayangnya, pemasangan plat tersebut tidak pas sehingga rahang saya tersambung tidak seperti bentuknya semula. Hal ini tentu saja berpengaruh pada susunan gigi geligi saya. Jadi berantakan kayak kapal pecah! Tapi barulah pada akhir masa kuliah saya berani pasang behel demi merapikan kekacauan itu.

Dua tahun pakai behel, gigi depan saya ngga simetris juga. Akhirnya saya tanya sana-sini, baca sana-sini, dan menemukan salah satu kemungkinannya adalah lipatan frenulum saya yang memiliki kelainan. Apa itu frenulum? Coba jilat bagian dalam bibir atas kalian (tepat di atas gigi seri depan) ada semacam lipatan kecil. Nah pada beberapa kasus (termasuk kasus saya) frenulum tersebut terlalu tebal atau pendek sehingga bisa mengganggu penampilan dan tentu saja, mengundang penyakit.

Saya memutuskan untuk segera konsultasi ke dokter spesialis periodontis. Oleh seorang teman yang juga mahasiswa FKG, saya disarankan langsung ke Klinik Alamanda di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo UGM. Di sana ada beberapa dokter spesialis periodontis yang pasti paham betul permasalahan saya. Kebetulan yang ada di tempat siang itu adalah drg. D*hlia H. Sp.Perio, akhirnya saya konsultasi dengan beliau. Dan ternyata, problem perio saya banyak! :(“Wah, kamu frenektomi depan belakang kalo gini mba..”
“Depan belakang gimana Dok??”
“Iya, lapisan (lupa namanya) di belakang gigi seri atasmu itu juga terlalu tebal. Kalo hanya operasi depan ya sama aja, nanti melar lagi…” (Bu Dokter ngomongin gusi kayak ngomongin karet ban, santai amat)
*ndomblong sambil jilat miris langit-langit mulut*

Kemarin tanggal 16 Juli saya konsultasi, esoknya saya langsung memutuskan operasi mengingat masa recoverynya mencapai dua minggu, kalau ditunda-tunda nanti waktu lebaran saya ngga bisa makan opor dong. Haha. Ditemani maspacar, dengan percaya diri saya menapakkan kaki ke klinik. Meskipun hanya operasi minor dimana hanya diperlukan bius lokal, tetap saja rasanya degdegan membayangkan tangan dokter itu menari-nari di atas mulut saya. Apalagi sejak kecil kayaknya sebagian besar dari kita memang suka parno ngga sih dengan dokter gigi? Lihat alat-alatnya yang ajaib udah bikin ketar-ketir duluan.

Dalam 15 menit, saya sudah duduk manis di kursi panas. Dokternya rileks, saya jadi ikutan rileks. Kan ada ya dokter yang justru bikin takut pasiennya dengan bilang, “Mba jangan takut ya, ini agak sakit sedikit kok.. Aduh saya kasihan kamu kesakitan,” yaaa malah jadi takut beneran dok! Dokter yang menangani saya memang ngga banyak bicara, tapi kerjanya cukup cepat. Untung saya udah cukup terbiasa dengan suntik bius, saya minta bius agak banyak biar sekalian ga kerasa kalo nanti diiris-iris. Haha. Biarlah sakit di awal saat bius, tapi nanti saya bisa woyo-woyo saat operasi.

“Dok, bius lagi dong Dok,” (padahal gusi atas udah kaku sampe ke hidung)
“Lha, kamu udah saya kasih enam suntikan, udah banyak ini. Nanti aja kalo kerasa sakit baru disuntik lagi.”
(dalam hati) “Bisa keburu pingsan sebelum sempat minta suntik..”

Walaupun sudah tutup mata dan berusaha rileks, hati saya ciut juga ketika dengar frenulum saya mulai dibedah. Krek..krek… Suaranya kayak urat dipotong. Ya emang urat sih yang dipotong. Haha. Karena bibir bagian atas saya ditarik sampai maksimal, saya ngga bisa bernapas lewat hidung. Hanya lima menit, hilang sudah ‘gusi berlebih’ tersebut dan langsung dijahit. Cukup banyak darah yang keluar, saya sampai galau karena harus memilih menelan darah atau bernapas. Hahaha. Untung perawatnya gerak cepat, ‘genangan’ tersebut langsung disedot dengan alat.

Bagian depan beres. Saatnya bagian belakang. Saya membayangkan langit-langit mulut atas kan keras, gimana cara bedahnya? Baru aja dipikirin, kejawab sudah pertanyaannya. Saya merasakan bagian belakang gigi seri atas saya dikerok agar lebih tipis. Ngga tahu yaa dikerok beneran ato gimana prosesnya, yang jelas saya dengernya kayak gitu. Heaa.. Darah makin banyak yang netes. Proses bedah yang satu tadi bener-bener bikin saya mau nangis karena dengar suaranya yang bikin ngilu. Terakhir, area yang dioperasi diberi semacam gum agar proses recovery-nya cepat dan area luka tidak terpapar udara bebas. Operasi minor ini membuat bibir atas saya jontor dan saya hanya bisa senyum-senyum sombong karena perihnya lumayan juga.

Kata dokter, gum itu baru bisa dibuka seminggu lagi, lalu jahitan dilepas setelah 10 hari. Mepet lebaran, untunglah dokternya asli Jogja jadi saya bisa main ke rumahnya kapan saja. Sekarang efek biusnya sudah hilang, lumayan bikin gegulingan sakitnya. Saya ngga kebayang deh mereka yang operasi plastik sampai potong tulang rahang itu gimana rasa sakit pascabedahnya ya? :(Walau sempat degdegan mampus saat menjalani operasi, saya sekarang ingin jumawa karena akhirnya proses itu terlewati. Beauty is (really, really!!) pain. Gapapa, demi kesehatan dan kecantikan abadi!! (anaknya optimis banget)

P.S: Mungkin ada beberapa istilah atau proses yang penulisannya kurang sesuai bahasa ilmiah. Maklum, awam. Ini cerita dari sisi pasien ya, semoga teman-teman juga lebih peduli sama kesehatan gusi, jangan hanya gigi yang diperhatikan 🙂

Cinta yang Tumbuh di Tempat-Tempat Biasa

Tapi kalo ini bukan tempat biasa sih…

Cinta ini tumbuh di antara peron-peron stasiun kereta api. Cinta ini tumbuh di dek kapal berlunas rendah yang menari di tengah samudera. Cinta ini tumbuh di tapak-tapak berpasir jalan menuju atap langit Jawa. Cinta ini tumbuh di tiap sudut kota Jogja: angkringan nasi kucing, warung bakmi jawa, tebing landas pacu Laut Selatan, dan teras depan Societet Taman Budaya.

Cinta ini tidak tumbuh di tempat-tempat (yang menurut orang lain) istimewa.

Pertama menjabat tangannya, aura yang menyenangkan tersibak begitu saja. Baru saja aku bertemu ia hari itu, rasanya sudah seperti kenal sejak lama. Bersemangat dan murah senyum, kusematkan tanda di memori bahwa ia perlu kukenal lebih jauh.


Sebuah buku digital adalah prasasti yang nanti akan mengingatkan bilamana aku lupa cara kami menjadi dekat. Dek kapal, matahari terbenam, lautan lepas, koridor sempit menuju haluan, adalah tempat pertemuan-pertemuan sepintas bulan sebelumnya. Kuakui, ia tidak meninggalkan kesan biasa. Banyak hal yang membuat kami bisa bersama-sama tertegun dan berucap, “Kok sama sih?” lalu menertawakannya.

Hingga kemudian, memikirkannya mulai memakan ruang di otakku. Melihat senyumnya menjadi candu. Pernah kukatakan, mungkin akan kutemui jodohku di stasiun kereta api atau di gunung. Aku tidak menemukannya di sana, tapi dengannyalah kemudian kujelajahi tempat itu. Apa yang lebih menyenangkan dari bertemu teman dengan kesukaan-kesukaan yang sama?

Untunglah cinta itu tumbuh di tempat-tempat biasa dengan cara yang sederhana. Ucapan bertitel ‘aku’ dan ‘dia’, dengan segera pun berganti menjadi ‘kami’.

Kami tertawakan orang-orang yang terlalu serius menyikapi hidupnya, dalam sekejap kami kasihani diri sendiri yang mungkin akan segera mengalami hal yang sama. Kami coba berjanji untuk menjadi sisi yang saling melengkapi, walau kemudian seluruh angan harus disisipi kata ‘mungkin’.

Dia yang penuh keangkuhan bersumpah tak akan membawakan tas sang wanita jika jalan bersama, akhirnya luluh juga melihatku yang nampak kepayahan menahan beban. Dia yang selalu jumawa bercerita betapa ia mampu mendaki gunung-gunung yang tinggi, akhirnya menyerah kelelahan setiap menemaniku berkeliling gang-gang pasar. Dia yang tak pernah bisa diam tiap bercakap dengan banyak orang, mampu memilih tenang saat menghadapi emosiku yang sesekali memuncak.

Pandangan mata yang ia teduhkan, nada suara yang ia rendahkan, dan perilakunya yang menenangkan, membuatku yakin bahwa ia tidak pernah sembarangan dalam perihal sayang.

Semoga ini bukan sementara. Karena cinta yang tumbuh perlahan di tempat-tempat biasa, (semoga saja) akan lebih lama dapat bertahan. Dia tentu saja bukan yang pertama, tapi akan terus kupertahankan agar dialah yang menjadi paripurna.

Pada Sebuah Meja Makan

Selama menjadi bagian dari keluarga Pak Misrudi dan Mak Masnah, saya selalu dipersilakan untuk ikut makan di dapur mereka. Dapur itu sederhana, terbuat dari jalinan bambu dengan atap daun aren yang terpisah dari bangunan utama.

“Bu, noro’ ngakan sabedena pei ghi… Nyamana oreng tak andik, nya andik cukok kereng ya Ibu noro’ ngakan pei ya Bu.. Eshon tak bisa masak se nyaman-nyaman carana oreng e nagarana Ibu.”
(Bu, ikut makan seadanya saja ya… Namanya orang ngga punya, cuma punya ikan kering ya Ibu ikut makan aja ya Bu.. Saya ngga bisa masak yang enak-enak macam orang di kota Ibu.)

Di awal, pertengahan, hingga akhir masa tugas saya, selalu kata-kata tersebut yang diulang-ulang oleh Emak Masnah. Ibu angkat saya tersebut katanya sering kasihan karena saya hanya makan nasi dengan ikan kering, jika sedang tak musim ikan, dan jarang pakai sayur karena susah dicari. Jika sedang rejeki, akan terhidang sayur daun singkong, daun kelor, sayur ubi, dan sayur sawi hasil petik kebun sendiri. Mungkin Emak lupa, berat saya sempat naik sampai tujuh kilo saking nikmatnya makan masakan yang katanya ‘seadanya’ tersebut.


Jam-jam makan adalah salah satu momen yang paling saya nantikan di rumah Serambah. Emak sangat memperhatikan seluruh anggota keluarganya, termasuk saya. Jam makan saya teratur betul: pukul 6.30 sebelum berangkat mengajar, pukul 1.00 sepulang mengajar, dan pukul 19.30 selepas isya. Masakan ala Emak atau Norma, adik angkat saya, akan terhidang cantik di sebuah meja makan kayu di tepi dapur. Di meja makan itulah saya, Buppak, dan Kak Irul akan makan bersama. Emak dan Norma jarang makan di situ, mereka lebih suka ndeprok di depan tungku.

Saat makan, suasana sangat hidup. Layaknya sebuah keluarga ideal, cerita tentang keseharian kami semuanya tertumpahkan sembari menyuapkan butir-butir nasi ke dalam mulut. Emak biasanya punya cerita terbaru tentang tetangga atau orang dari dusun sebelah. Buppak akan meributkan hasil panen sagunya yang tak sebanyak biasanya, dan Kak Irul lebih banyak mendengarkan. Tawa di sela-sela suapan itu biasanya akan diselingi keluhan Emak atau Buppak, “Arapa Ibu mak ngakan satembi dheluk! Tambah Bu, eshon tak ghelem muang-muang nase!” (Kenapa Ibu makannya sedikit sekali! Tambah Bu, saya ngga mau buang-buang nasi!)

Dapur Emak yang ngangenin

Ketika santapan di piring kami sudah habis, saya akan menyeduhkan teh untuk saya sendiri dan kopi kental untuk Buppak. Sementara itu, Buppak mulai menyalakan rokoknya dan menghisapnya dengan satu tarikan napas yang dalam. Kemudian, ia pasti terbatuk-batuk. Setelah itu tinggal menunggu saya, Emak, atau Norma memarahi Buppak yang tak pernah kapok merokok tingwe (linting dewe) padahal paru-parunya sudah tak begitu kuat menerima asap rokok. Dan seperti biasa, ia akan jawab keluhan-keluhan kami dengan kata-kata yang lucu, membuat suasana semakin cair. Begitu terjadi setiap malam, tapi saya tak akan pernah bosan.

Pernah suatu ketika saya tak nafsu makan karena hanya makan sendirian. Emak, Buppak, dan Norma masih ada kesibukan di masjid sementara saya mengerjakan tugas di dalam kamar. Akhirnya ketika mereka datang saat malam telah larut, saya bergegas ke dapur dan ikut makan. Emak memarahi saya yang makan terlambat, dan saya jawab sekenanya, “Tak enak Mak makan sendirian, tak ada yang diajak bicara. Saya nunggu Buppak biar bisa makan bareng.”

Tahu yang terjadi setelahnya? Buppak selalu menunggu saya di meja makan saat makan malam, dan jika saya tak ada di tempat ia akan menyongsong ke rumah dan meneriaki saya dengan kata-kata yang sama.

“Ibu! Makan dulu! Sudah dimasakkan harus dimakan!” Buppak berkata seakan-akan saya ngga mau makan, padahal saya sebenarnya cuma menunggu beliau datang dari masjid. Duh, jadi kangen Buppak.

Meja makan kayu sederhana ini mendekatkan kami. Saya sangat mengingat potongan nostalgia ini karena di rumah saya di Jogja, meja makan telah lama nir kehadirannya. Kesibukan masing-masing anggota keluarga, ditambah adanya kedai makan di rumah, membuat kami hampir tak pernah duduk bersama untuk makan dan sekedar bercerita. Awalnya memang sebuah meja makan oval yang besar mengambil bagian di tengah ruang keluarga. Tapi tak pernah digunakan. Hanya satu dua sisi yang bersih – akibat sering digunakan, sisanya tertumpuk debu rumah. Bahkan mungkin tahun-tahun yang lalu saya lebih sering makan di luar. Karena itulah, saya sadari betapa berharganya pengalaman makan bersama, pada sebuah meja, dan saya rasakan betul hangatnya sebuah keluarga.

Rupanya pada meja makan itulah sebuah keluarga menjadi intim; antara suami dengan istrinya, dan ayah ibu dengan anak-anaknya.

Mendaki Gunung Demi Danau Kastoba

Danau Kastoba dikelilingi perbukitan, di bagian belakang adalah persawahan di kecamatan Tambak dan laut lepas!

Eits, memang di Bawean ada gunung?
Jika menganut definisi gunung di Wikipedia yang mengatakan bahwa gunung mempunyai tinggi lebih dari 2000 kaki (600-an meter) itu artinya tidak ada gunung di Bawean. Tetapi jika menganut apa kata orang Bawean, ada 99 gunung di pulau kecil ini!
Ya, di Bawean, bukit disebut dengan gunung.

***
Akhirnya setelah satu tahun lebih vakum mendaki, sore itu rasa penasaran saya terobati. Gunung Sabu yang konon terletak tepat di tengah pulau akan menjadi tempat pendakian kami bersama teman-teman dari MA Himayatul Islam Kebuntelukdalam. Tingginya tidak lebih dari 200 meter saya kira. Hanya dibutuhkan waktu mendaki sekitar satu jam saja untuk mencapai puncaknya. Tapi jangan remehkan trek pendakian Gunung Sabu. Lumayan menanjak curam dan saya berkali-kali terpeleset tanahnya yang licin setelah diguyur hujan. Untung persiapan kami sudah lumayan matang.

Kata Bapak Nurhan, kepala sekolah MA yang mengajak kami mendaki, dari Gunung Sabu bisa terlihat pemandangan seluruh Pulau Bawean, termasuk Danau Kastoba yang legendaris (dan mistis) itu. Hanya ada bukit yang lebihi tinggi di bagian selatan sehingga panorama kecamatan Sangkapura dan dermaganya tidak terlihat. Sayangnya sejak sore mendung menggelayut di langit hingga keesokan harinya sehingga kami tak dapat menikmati momen matahari terbenam. Ditambah saya yang lupa bawa tripod jadi kesusahan mainan long exposure. Tapi serunya, itulah pertama kali saya tidur beralaskan tanah dan berselimutkan jutaan bintang tanpa takut mati kedinginan. Sesekali gerimis datang pada dini hari, tapi rupanya tak mampu membangunkan kami yang kelelahan setelah berkegiatan satu hari penuh.

Jika kalian ke Bawean dan punya waktu yang longgar, coba saja mendaki gunung ini dan dapatkan pemandangan berharga yang tidak akan kalian lupakan 🙂

PS: selain foto bintang, semua foto diambil menggunakan HP Sony Experia V. Cukup recommended untuk orang yang hobi melakukan kegiatan outdoor seperti saya. *bukan iklan :p* Maaf jika tulisan ini agak cheesy, sumprit tumpul banget otak saya rasanya buat nulis :))

nangkring
waktu itu saya tidur. ketika bangun, langsung lihat ini. tanpa beranjak, saya ambil kamera dan meletakkannya di perut saya untuk mendapatkan foto ini. *akibat ga bawa tripod*
another blurry photo -.-
full team! *abaikan mukanyaa!*
pagi yang mendung, pulau kecil di bagian kanan foto itu Pulau Gili
semacam akan hujan besar
sampai bertemu di perjalanan selanjutnya!

 

Suadi, Bisakah Berdikari?

Empat siswa laki-laki istimewa di kelas yang saya ampu. Suadi berdiri paling kiri.

Selalu memilih bangku yang sama di pojok belakang kelas, ia menumpuk semua buku pelajarannya di atas meja. Seragam merah putihnya yang beranjak kumal selalu alpa dikancingkan. Ah, bukannya lupa. Baju itu sudah kekecilan, bahkan celananya menggantung hingga di atas mata kaki. Bukan karena ia tumbuh terlalu cepat, usianya yang sudah terlalu tua untuk jenjang kelas lima.

“Suadi, ini huruf apa? Lihat, gendutnya di belakang,” ujar saya sembari menunjuk huruf ‘b’ pada kertas yang saya tulisi huruf-huruf dengan beragam warna. Tujuannya agar ia mudah mengenali perbedaannya. Saat itu, satu bulan sudah saya menjadi penduduk dusun Serambah.

Lama ia berpikir, hingga akhirnya terucap ‘d’ dari mulutnya. Lirih. Ia tak percaya diri. Saya menghela napas. Belum genap lima menit yang lalu saya memperkenalkan – tentu bukan pertama kali – huruf ‘b’ padanya, Suadi sudah melupakannya lagi. Mungkin pula Suadi sebenarnya tak lupa, tapi ia tak pernah bisa mengingatnya.


“Lihat baik-baik, kalau ‘d’ gendut di depan, d – depan, kalau ‘b’ gendut di belakang, b – belakang. Kita ulang lagi ya?”

Engghi (iya) Bu.” Wajahnya lelah, dan tentu ia ingin pulang. Beberapa kali dalam seminggu, Suadi pulang lebih lambat. Saat saya tidak harus buru-buru beranjak pergi, sepulang sekolah saya selalu berusaha memberikannya les membaca selama 15 menit.

Satu bulan memberikan les, meski tak setiap hari, Suadi mulai bisa membedakan huruf ‘b’ dan ‘d’. Tetapi tantangan untuknya belum usai. Ia harus dapat membedakan ‘u’ dan ‘n’, ‘m’ dan ‘n’, huruf ‘p’ dengan dua saudara sepupunya ‘b’ dan ‘d’, serta ‘c’ dengan ‘e’. Huruf-huruf lain sebenarnya juga tak begitu ia kenal, tapi tidak sesulit ia mengenal huruf-huruf berkarakter mirip di atas.

Lima belas tahun sudah Suadi – yang mempunyai nama kecil Rap’aeli – menghirup udara secara bebas ke dalam rongga dadanya. Sudah setengah masa hidupnya pula ia belajar mengenal huruf dan angka, berbahasa Indonesia, serta mempelajari ragam pengetahuan lainnya. Tujuh tahun Suadi duduk di bangku sekolah dasar, belum pernah sekalipun ia berteman baik dengan deretan huruf latin atau Arab. Suadi kesulitan membaca.

Awalnya saya pikir Suadi mengidap diseleksia. Ia tidak mampu membedakan huruf-huruf yang memiliki karakter mirip. Tetapi setelah membaca beberapa referensi, saya dapatkan informasi bahwa penderita diseleksia biasanya punya keahlian yang sangat menonjol di bidang lain. Sayangnya, saya belum menemukan mutiara macam apa yang terpendam di dalam diri Suadi. Memang, ia begitu suka sepakbola. Tapi kesukaannya pada olahraga beregu tersebut senormal anak-anak lain yang juga menyukainya. Suadi pun agak kesulitan merespon pertanyaan dan percakapan dalam bahasa Indonesia. “Engghi.” Selalu, satu kata itu yang ia gunakan untuk menjawab pertanyaan saya.

Meski kebingungan membaca, ia bisa membedakan angka-angka. Suadi masih bisa berhitung selama angka tersebut cukup untuk dihitung dengan jari-jarinya. Entah, apakah ia memahami penjelasan selama saya mengajar di depan kelas. Tetapi, ia tak pernah membuat ribut. Ia hanya diam – menanggapi dengan berkedip atau menguap – berusaha menulis apa yang saya tulis, dan sesekali saya menemukannya tertidur. Terkadang untuk membuatnya sibuk, saya memberikannya soal-soal matematika sederhana atau memintanya menuliskan huruf-huruf.

“Bu, apa Suadi bisa naik kelas Bu? Dia kan tidak bisa membaca. Besok bagaimana ujiannya Bu?” anak-anak lain selalu menanyakan hal yang sama pada saya. Mereka nampak khawatir sekaligus iba pada teman-tak-sebaya nya tersebut. Saya hampir selalu menjawabnya dengan tersenyum sembari berujar,”Ibu masih berusaha mengajarinya membaca. Kalian sebagai temannya juga harus maklum, ya.” Hebatnya, anak-anak didik saya tak pernah menghina Suadi. Bahkan mereka sering membantu Suadi membaca atau menerjemahkan perkataan saya.

Saya selalu khawatir jika Suadi tak masuk kelas. Saya takut ia tiba-tiba berhenti begitu saja karena merasa sudah tak ada gunanya lagi bersekolah. Saya takut Suadi putus asa. Apa yang lebih menyedihkan daripada manusia yang tak punya harapan?

Biasanya saya akan mencarinya sepulang sekolah. Dan ia selalu di sana, di durung dekat jalan kampung. Suadi sering harus membantu orangtuanya mencari rumput untuk pakan sapi atau melakukan pekerjaan lainnya sampai mengabaikan sekolah. Suatu ketika Suadi tidak masuk sekolah, dan saya melihatnya menggendong adik perempuannya pergi ke sebuah warung. Ia rupanya harus menjaga sang adik sementara orangtuanya bekerja. Seketika, saya kehabisan kata-kata.

“Mungkin kamu adalah orang terakhir yang akan mengajarinya, Kin.” Guru muda pendahulu saya mengatakan hal tersebut lewat sebuah percakapan singkat. “Saya takut jika kondisinya seperti itu, Suadi akan segera berhenti dari sekolah.”

Bulan kelima sejak penempatan saya di dusun Serambah.

“Suadi, ini huruf apa?”
“Be,” jawab anak itu, lirih.
“Betul. Suadi, huruf yang seperti kursi ini namanya apa?”
“Ge.” saya menghela napas.
“Suadi, kita ulang dari awal ya. Ini huruf apa?”
“De.” Huruf yang tadinya ia sebut ‘b’, kini menjadi ‘d’. Ia lupa lagi.
“Suadi, kamu bingung ya melihat huruf-huruf ini?” tanya saya dalam bahasa Bawean yang kaku. Anak itu mengangguk pelan. Ada diam sesaat, saya biarkan ia berpikir.
“Bu, saya mau bisa baca.” Akhirnya ia berbicara pendek.Pandangannya tak berpindah dari kertas huruf yang saya bawa. Saya tahu, ia benar-benar serius. Suadi, saya masih memiliki enam bulan tersisa untuk berusaha agar kamu dapat membaca. Dan saya berjanji saya akan berusaha sejauh apa yang saya bisa.

 

Bulan kedelapan sejak penempatan saya di dusun Serambah.

Bangku paling belakang itu sudah tak berpenghuni sejak awal semester dua lalu. Suadi, ia memilih kalah perang melawan suara-suara sumbang di sekitarnya. Suadi mengeluh pada orang tuanya bahwa tubuhnya yang terlalu besar sudah tak cocok untuk belajar di sekolah dasar pun kemampuannya yang berjalan di tempat. Di belakang Suadi, tetangga sekitar mencemoohnya. Orang tua Suadi berkali-kali berbagi keluh kesahnya, tapi mereka pun akhirnya pasrah Suadi berhenti sekolah.

“Ibu, bagaimana jika Suadi tak punya ijazah. Nanti Suadi tidak bisa cari kerja, tidak bisa nikah, siapa yang mau sama orang yang tidak bisa membaca. Tapi bagaimana mau dapat ijazah Bu, membaca soal ujian saja dia nggak bisa. Tiap Suadi saya suruh sekolah, dia selalu bilang, ‘Saya benar-benar tidak tahu…’ mukanya sedih. Saya jadi tidak tega suruh Suadi sekolah. Akhirnya dia bantu saya cari rumput sama jaga Diva.” Kira-kira begitulah Bapak Suadi bercerita dalam logat Bawean yang khas.

Saya, sebagai seorang guru, merasa gagal karena telah kehilangan salah satu murid teristimewa. Saya merasa bersalah karena pernah jenuh mengajarinya. Saya merasa bersalah karena saya malas membuatnya bisa membaca. Inilah salah satu turning point di mana saya merasa bahwa kehadiran saya bukan untuk menyelesaikan semua masalah.

Beberapa hari lalu saya lihat Suadi ikut serta dalam pertandingan bola antar dusun yang diadakan di Serambah. Wajahnya nampak lebih dewasa, suaranya berat dan dalam. Rambutnya panjang, ia tak lagi dibatasi peraturan dalam ruang-ruang kelas. Suadi langsung menghindar ketika tahu saya juga ada di sana. Semoga ia masih mendengar sayup-sayup suara saya memanggilnya namanya.

Suadi, berdikarilah dengan caramu sendiri.

P.S: Berdasar diagnosis seorang ahli yang menangani anak berkebutuhan khusus, Suadi adalah seorang slow learner, entah tingkatannya apa. Satu-satunya harapan untuk Suadi adalah Sekolah Luar Biasa (SLB) yang sayangnya, belum ada satu pun di Bawean. Kisah seperti Suadi ini tidak hanya terjadi di Serambah, ada beberapa kasus serupa anak berkebutuhan khusus yang terpaksa berhenti karena ketidakmampuan sekolah memberikan pendidikan yang sesuai. SDM nya tak ada, kurikulumnya tak sesuai. Gresik, inklusi mu untuk siapa?

Mereka Yang Berproses

Saya percaya bahwa baik tidaknya perilaku anak berasal dari pembiasaan. Children do what children see. Anak yang dibesarkan tanpa amarah dan emosi akan tumbuh jadi manusia penyayang. Anak yang sennatiasa melihat atau mengalami kekerasan fisik akan menjadi manusia kasar. Anak yang dibesarkan tanpa kesabaran dan keikhlasan akan tumbuh menjadi manusia pendendam. Bagaimana cara anak dibesarkan, seperti itulah ia akan berkembang.

Saat ini sudah tujuh bulan saya bertugas di sebuah sekolah di pucuk perbukitan. Di sini, saya temui kenyataan bahwa anak-anak dusun bersekolah dan bermasyarakat dalam hawa acuh yang pekat. Acuh dengan teman, guru, dan lingkungan sekitar. Para siswa ini tidak terbiasa mencium tangan guru atau menyapa saat bertemu gurunya, membuang sampah sembarangan, dan tidak memperhatikan sekitarnya. Ah satu lagi, mereka tak terbiasa mengekspresikan diri. Awal datang, saya sempat merasa heran (sekaligus agak sakit hati) karena anak-anak ini tidak menunjukkan sambutannya pada saya. Kelihatan senang tidak, kelihatan sedih juga tidak. Baru belakangan saya tahu bahwa mereka sangat senang karena mendapatkan guru perempuan. Itupun hasil bisik-bisik di belakang saya!


Meski sudah dua tahun menjadi tempat penugasan pengajar muda, bukan berarti semudah itu perubahan entitas perilaku dapat terjadi. Salah satunya, sungguh sulit setengah mati membiasakan anak-anak itu menunjukkan sikap hormat kepada gurunya, dan mungkin butuh bertahun-tahun untuk mengubah hal tersebut. Tetapi bukan berarti tidak ada titik terang. Siswa kelas kecil cenderung cepat meniru yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya, dalam waktu singkat mereka menjalankan apa yang diminta. Guru wali kelas 1 cukup paham masalah ini. Ia mewajibkan anak-anak untuk mencium tangan para guru saat berangkat dan pulang sekolah.

Dulu saya tidak sepenuhnya setuju akan kebiasaan ini. Alasannya sepele: siapa tahu tangan para guru itu kotor dan kumannya masuk ke mulut anak-anak. Tapi kemudian saya melihat bahwa manfaatnya lebih besar. Saat anak-anak menghampiri dan berebutan mencium tangan, saya bisa berinteraksi dengan mereka begitu intens. Mengajak ngobrol, menanyakan kabar, memberi ucapan salam, atau sekedar memberikan elusan lembut di kepala.

Atas pertimbangan itulah, saya mengarahkan agar jidat mereka saja yang bersentuhan dengan tangan saya, bukan mulutnya :))

Kedua, kebiasaan membuang sampah di tempatnya. Weer.. Weer.. Bungkus permen dan makanan kecil dibuang sekenanya di halaman sekolah. Sehari mungkin tak nampak kotornya, tetapi seminggu sudah jadi semacam tempat pembuangan akhir. Saya selalu ingatkan anak-anak dan menyuruh mereka yang ketahuan membuang sembarangan untuk mengambil sampahnya (tapi lebih seringnya mereka tetap acuh dan pergi begitu saja) serta meletakkan banyak tempat sampah di koridor sekolah. Bulan pertama, saya kewalahan. Menginjak bulan kelima, perubahan baik tengah terjadi. Bulan ketujuh, saya tidak perlu lagi berteriak-teriak mengingatkan anak di ujung koridor untuk membuang sampah di tempat sampah.

Anak-anak ini berproses. Mereka bukan manusia yang jenuh menerima perubahan.

Ketiga, kebiasaan menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai. Dari hal-hal kecil saja seperti mengembalikan buku ke tempatnya, menyelesaikan kegiatan piket kelas, membereskan meja setelah percobaan. Tapi ya namanya tidak biasa, akan menjadi susah bukan main. Anak-anak ini terbiasa saling menunjuk siapa yang paling bertanggung jawab. Pada akhirnya, malah tidak ada yang menyelesaikannya sama sekali. Akhirnya saya pakai metode pukul rata jika tidak ada satupun yang mau bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Lumayan berhasil! Ibu Sofi, wali kelas 6 sekaligus partner terbaik saya lah yang banyak mengajarkan hal ini. Tadinya saya begitu lembek berperilaku pada anak-anak. Iya-iya aja begitu. Beliaulah yang mengajarkan saya agar tegas memberikan peraturan dan hukuman. Pak Mujo, kepala sekolah saya, juga menyatakan hal yang sama. “Jangan terlalu sayang lah Bu sama anak-anak. Nanti mereka tidak hormat sama sampeyan.” Meski kelihatannya kejam, tapi itu betul! Biar bagaimanapun seorang guru harus tetap menjaga wibawa di depan anak-anak didik. Caranya bagaimana, terserah diri masing-masing.

Satu dua kendala pasti ada. Yang paling menyulitkan adalah perilaku orang dewasa di sekitar mereka yang seharusnya dijadikan contoh. Bagaimana anak-anak mau buang sampah di tempatnya jika gurunya saja seenaknya meninggalkan sampah di kantor? Bagaimana anak-anak mau datang sekolah tepat waktu jika guru-gurunya saja datang terlambat satu jam lebih? Bagaimana anak-anak mau jadi ramah dan peduli jika gurunya saja acuh terhadap mereka? Bagaimana anak-anak mau tumbuh jadi manusia penyayang jika orang tua dan gurunya saja tidak pernah mengekspresikan rasa sayang?

Anggaplah anak itu adalah batuan kasar tanpa bentuk yang siap dipahat. Bentuk akhir mereka tergantung pada si pemahat. Saat masih dalam proses, jika si pemahat akan membuat perubahan tentu lebih mudah daripada setelah pahatan selesai. Jika pemahatnya telaten dan jago, ya hasilnya memuaskan. Jika pemahatnya sekenanya, ya hasilnya pun amburadul. Bukan begitu?

Mewah dalam Sederhana

Pagi itu sumpah setia Nin ‘Ali di depan petugas KUA Sangkapura telah membuat Sanna menjadi istri sahnya. Jauh dari hingar bingar akad nikah a la kota, disaksikan ratusan pasang mata, dekorasi gedung dan pakaian mewah, serta kelip lampu blitz tanpa jeda – mereka menikah disaksikan dua saksi yang juga masih tetangga. Dengan motor pinjaman, Nin’Ali membawa pulang Sanna, sang istri yang sama bahagianya, kembali ke rumahnya di balik gemunung Bawean.

Pak Jamsuri, wali kelas 1, datang tergopoh-gopoh dari luar. “Ibu, Ibu, iring-iringan pengantinnya sudah datang!” beliau sebenarnya berbisik, tetapi karena suasana sedang hening maka segeralah semua anak mengetahui isi percakapan kami. Spontan, semua siswa saya berlarian keluar menuju teras sekolah dan melompat-lompat demi bisa melihat jalan masuk Serambah. Dari kejauhan memang terdengar irama tabuhan rebana, klakson dan gerungan motor, lalu nampaklah barisan panjang pengiring pengantin dari dusun Tanarata yang berjalan menuju Serambah Barat.


Padahal lima menit sebelumnya, anak kelas 5 dan 6 yang saya ampu duduk tenang di bangkunya masing-masing. Beberapa terpekur di lantai acuh dengan keadaan sekelilingnya. Mereka sedang asyik menulis surat balasan untuk sahabat penanya yang baru di Musi Banyuasin. Satu demi satu kata dieja karena tulisan pengirimnya tidak jelas, lalu perlahan mereka tuliskan balasannya di kertas. Konsentrasi itu buyar seketika.

“Ibu! AYO PULANG IBU!” anak-anak kelas saya mulai berteriak dan merajuk meminta agar segera dipulangkan. Pak Jamsuri dan Pak Irul ternyata sudah memulangkan kelas 1 sampai 4 segera setelah suara tetabuhan itu terdengar. Kedua guru tersebut pun langsung ikut berlarian bersama anak-anak tidak ingin tertinggal iring-iringan pengantin.

Tinggallah saya bersama Pak Kepala Sekolah – yang saat itu baru saja menapakkan kaki di sekolah akibat hujan deras – dan saya tersenyum penuh arti. “Bapak, kegiatan belajar masih akan dilanjutkan?” tanya saya perlahan. Untunglah Pak Kepala Sekolah mengiyakan permintaan saya memulangkan anak-anak yang tersisa karena sebenarnya pun hasrat mereka untuk segera keluar dari kelas tak terbendung lagi.

Tak menunggu lama, saya ikut larut dalam kebahagiaan warga dua dusun tersebut. Bersama beberapa siswa saya mengikuti iring-iringan dari belakang. Terlambat memang, saat tiba di rumah pengantin prosesi serah terima dalam walimatul ursy sudah akan dimulai. Kaum bapak sudah duduk manis mengitari berbagai hidangan yang disediakan warga desa. Saya bergerak pelan menuju kerumunan ibu-ibu di dekat pelaminan sederhana yang dibuat malam sebelumnya.

Kedua mempelai ini sebenarnya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ibu mempelai wanita adalah single parent dengan banyak anak dan tanpa pekerjaan. Ia mengandalkan kiriman saudara-saudaranya dari Malaysia. Kondisi mempelai lelaki tidak jauh berbeda. Tetapi, kondisi tersebut bukanlah hambatan untuk tetap merayakan peristiwa berbahagia yang (semoga saja) hanya terjadi sekali seumur hidup. Saya khawatir dengan kelangsungan rumah tangga mereka. Bukan karena apa-apa. Mempelai wanita baru berumur 16 tahun lulusan SD. Mempelai lelaki hanya empat tahun lebih tua darinya dan tidak mempunyai pekerjaan. Semoga keputusan untuk menikah muda ini bukanlah ego sesaat yang akan disesali di hari kemudian.

Berselang minggu, warga Serambah bergotong royong membangun sebuah panggung sederhana. Di panggung itulah nanti malam sebuah orkes mandailing (seni bernyanyi pantun dengan bahasa Bawean) akan tampil. Mereka diundang keluarga besar Nin’Ali dan Sanna unjuk gigi sebagai puncak acara pesta. Jangan bayangkan gemerlap pesta dengan dana ratusan juta. Tak ada pelaminan dengan dekorasi gemerlap nan rupawan, cukup dua buah kursi sofa berlatar belakang kain satin murah untuk pemanis suasana. Tamu pesta duduk lesehan di atas tikar yang dipinjamkan tetangga, sisanya cukup berdiri sekitar halaman rumah. Saya sendiri membantu pembuatan tulisan “Selamat Datang” dan “Semoga Berbahagia” yang hanya dicetak seadanya di atas kertas karton dan diberi kertas krep warna-warni agar lebih meriah.

Lupakan katering mahal dengan puluhan macam hidangan. Keluarga dan tetangga dusunlah yang akan menjadi juru masaknya, sebuah dapur besar dengan tiga tungku kayu raksasa mendadak dibangun di sebelah rumah. Di situlah acara memasak dilakukan secara gotong royong, dimana kayu bakarnya pun dicarikan oleh seluruh warga dusun yang berkenan. Makanan kecil, minuman, hingga hidangan utama dimasak bersama-sama tanpa sekalipun para tukang masak itu mengharapkan imbalan. Biarkan Nin’Ali dan Sanna menjadi raja dan ratu sehari.

Perihal nikah-menikah itu menjadi satu contoh betapa manisnya kebersamaan di dusun tempat saya tinggal ini. Kuatnya rasa persaudaraan menjadikan titik peluh mereka terlalu berharga untuk sekedar dihargai dengan rupiah. Ucapan terima kasih dan balasan bantuan nampaknya lebih bermakna – karena sebagian besar warga hidup di kisaran garis kemiskinan. Mungkin para manusia ini sadar, bahwa hidup sendirian akan membuat mereka tak bisa apa-apa.

Ah iya, Nin’ Ali dan Sanna sama-sama baru berusia 16 tahun. Menikah muda masih menjadi tren yang disukai oleh penduduk Bawean meskipun jumlahnya tidak semasif dahulu. Mungkin zaman Emak Masnah, emak saya, masih suka lari-lari bermain di sawah, para gadis yang baru lulus SD – jika memang bersekolah – sudah punya suami. Saya pernah melihat Mak Samma, tetangga saya yang usianya menginjak kepala enam, berjalan bersama dengan anak keduanya, sembari menggendong cucunya yang paling bungsu, dan cicitnya yang pertama. Mungkin ini ya enaknya menikah muda. Kamu masih bisa melihat garis keturunan yang berada tiga tingkat di bawahmu, hehe.

Ingin sekali saya memikirkan sebuah pernikahan sebagai hal biasa dalam hidup yang memang harus dipersiapkan, tetapi tidak untuk ditakuti. Pernikahan yang diharapkan semua orang hanya terjadi satu kali seluruh hidup mungkin butuh seremoni. Tapi bukan berarti ini harus dirayakan besar-besaran. Dan lagi, ingin menikah bukan berarti sudah harus punya rumah, kendaraan, tabungan, dan tetek bengek lainnya. Saya ingin memikirkan sebuah pernikahan sebagai sebuah hal yang sederhana. Maksudnya, tidak perlu dipersulit lagi. Lha wong aslinya sudah sulit.

Ini saya nulisnya kemana-kemana. Sebenarnya memang sejak awal tidak ada tujuannya sih. Intinya saya ingin sekali memiliki hidup simpel layaknya orang-orang di Serambah. They live happily in their own way.

Jadi, kapan ya saya nikah? #eh

The Moment(s) They've Captured

Tangan Haera (kelas 6) membayang di matanya saat ia mencoba memotret dirinya sendiri.

“Ibuuuu, lihaaat! Gambar bunga saya kabur kenapa Bu?” rajuk Kisra, anak kelas 5 yang saat itu kebagian giliran memotret objek yang ia suka.
“Lihat Kisra, kalau memotret tangannya tidak boleh goyang-goyang biar gambarnya bagus,” ujar saya sambil mencontohkan cara memegang kamera padanya. Ia manggut-manggut tanda paham.


Hampir empat bulan lamanya ekskul fotografi berjalan di SDN 2 Kebuntelukdalam. Meski pelaksanaannya masih musiman, antusiasme anak-anak begitu nampak dalam raut wajah mereka. Kebetulan peserta ekskulnya adalah siswa-siswi kelas 5 dan 6. Dua kamera digital sumbangan dari seorang temanlah yang setia menemani kami mengabadikan setiap momen yang dianggap menarik. Saya pernah menulis secara khusus tentang ekskul fotografi ini di sini.

Harapan saya tak pernah muluk. Mereka belum perlu tahu apa itu diafragma, shutter speed, atau jenis-jenis kamera. Saya hanya ingin mereka mampu membekukan sebuah momen dan tahu mengapa mereka menganggap momen tersebut harus diabadikan. Jawaban yang muncul pun bermacam-macam.

Karena lucu Bu.
Warnanya bagus sekali!
Habis saya bingung mau ambil gambar apa..
Karena gambar-gambar ini ngga mungkin bisa Bu Kinkin ambil.

Jawaban terakhir dari Mila membuat saya ternganga.Tepat sekali! Saya tak akan bisa mengabadikan peristiwa seperti yang mereka lakukan. Itulah mengapa saya tekankan bahwa setiap foto adalah istimewa: momennya tak akan bisa terulang. Ada yang memotret wajah adiknya, temannya yang naik pohon jambu, pose-pose narsis anak-anak (padahal kalau sama saya malu-malunya bukan main saat diajak foto!), sampai berbagai pemandangan di sekitar Serambah. Semua itu tampak sangat menarik.

Saya biasa menyerahkan kamera dalam dua kelompok besar: laki-laki dan perempuan. Maklum saja, mereka sulit sekali disuruh bertukar anggota kelompok agar bercampur. Terkadang saya membuat sistem giliran pegang kamera: 1 anak 1 hari. Setiap hari ada dua anak yang mendapat kesempatan memotret apapun yang mereka suka. Hebatnya, mereka tahu bagaimana memperlakukan kamera itu. Disimpan di dalam tas saat tidak digunakan, tidak boleh kehujanan, dan jangan sampai terbanting. Jika kamera itu sampai rusak, namanya juga dipakai. Toh saya tahu bahwa mereka tidak akan merusaknya secara sengaja. Kini saya juga bisa mempercayakan dokumentasi pada anak-anak tersebut setiap kami pergi berjalan-jalan. Tim andalan saya adalah Kisra, Haera, Rasi, dan Herman. Belum rutin, sih. Memang, ada beberapa anak yang masih nampak segan memegang benda yang menurut mereka mahal tersebut. Tapi pastilah lama-lama akan terbiasa.

Ada satu hal lagi yang membuat saya selalu tersenyum. Kini mereka menambahkan satu lagi hobi di lembar biodatanya: foto-foto. Duh, senangnya! Bahkan ada anak yang rela mendaki Gunung Bitangor di belakang sekolah demi mendapatkan foto dusun Serambah dari atas!

Mungkin di lain waktu, saya akan memperkenalkan profil beberapa fotografer terkenal pada mereka. Siapa yang tahu, dua puluh tahun nanti, salah satu dari anak-anak ini akan membuat jejak pencapaian yang sama. Siapa tahu.

“Ibu Guru! Mun Ibu tak e dinna poleh, kamerana e kiba sapa Bu? Eshon pakkun oleh poto-poto Bu?” (Ibu, kalau ibu tak di sini lagi, kameranya di bawa siapa? Saya masih bisa foto-foto Bu?)
“Kamera ini akan terus bersama kalian, asal kalian mau merawatnya.” jawab saya pelan.

Seketika nampak secercah senyum dari wajah-wajah mungil itu. Ayo, abadikan terus momenmu Nak!

***
Di bawah ini, sedikit dari begitu banyak momen yang mereka abadikan.

Dusunku Dari Atas – Hafiz, kelas 5

Ikan-ikan kecil – Rasi, kelas 5
Kucing saya, Ibu! – Kisra, kelas 5
Gunung Batu – Hafiz, kelas 5
Di Bawah Tenda – Herman, kelas 6
Ini Saddam, Bu! – Herman, kelas 6
Adikku – Aisa, kelas 6

 

Atok Rudi – Nasima, kelas 6
Lomba makan kerupuk – Anonim
Bungaku – Kisra, kelas 5
Sahabat – Santi, kelas 6
Buah Melinjo – Santi, kelas 6
Fauzi dan Irul – Haera, kelas 6
Ikmal – Haera, kelas 6
Bunga di Depan Rumah – Kisra, kelas 5
Isa Naik Pohon Jambu – Mila, kelas 5
Lari Ke Pantai – Santi, kelas 6

Adit Akhirnya Pulang


Selamat jalan, Adit…

Di tengah teriakan anak-anak didik yang asyik bermain bola di lapangan tepi pantai Bhayangkara, saya duduk dan membiarkan kaki terendam genangan air di antara ceruk karang. Fauzan, rekan sepenempatan yang ikut meramaikan piknik mendekati saya tanpa banyak bersuara.

Sejurus setelah saya membaca pesan singkat yang ia tunjukkan, suara anak-anak itu tak lagi terdengar nyata. Sebulir air mata turun perlahan. Saya tak percaya.

***
Halimun di Ranca Upas menjadi saksi akan dimulainya perjalanan kami sebagai guru tepat selepas hasduk merah putih dikalungkan oleh ketua yayasan, Anies Baswedan. Memori itu, tepat lima bulan yang lalu, mengakhiri cerita kebersamaan kami selama dua purnama sebelumnya di camp pelatihan Pengajar Muda. Kami, Pengajar Muda angkatan VI akan segera menjejak tanah baru di lokasi penugasan selama satu tahun ke depan.

Dia orang yang penuh semangat. Ucapannya menggebu-gebu, seakan tak kenal jeda di antara kalimatnya yang penuh optimisme. Perawakannya kecil dengan kacamata bertengger di hidung, senyum tak pernah lepas dari wajahnya yang cerdas. Apalah namanya jika bukan jodoh, di antara 7500 orang pendaftar, dia salah satu di antara 73 lainnya yang akhirnya dipertemukan dalam idealisme yang sama.

Saya tidak pernah mengenalnya sampai begitu dekat. Interaksi antara kami berjalan begitu normal: guyonan dan diskusi pendek di meja makan, lantunan doa saat sembahyang subuh berjamaah, argumentasi dan dukungan sepanjang microteaching, hingga jabat tangan akhir sebelum tim saya berangkat sebagai tim pertama. Tetapi ada satu perasaan mengikat sebagai rekan satu nasib dan satu rasa. Sudah sejak awal pertemuan di registrasi ulang pelatihan, saya, pun teman-teman yang lain, akan mengamini bahwa kami sudah layak disebut teman seperjuangan. Jalan yang sama. Idealisme yang serupa. Tujuan akhir kami mungkin memang berbeda, tapi satu tahun ini kami akan belajar dan berproses dalam kadar yang hampir sama banyaknya.

Kemarin, 5 November 2013. Saat umat Islam meninggalkan satu tahun di belakang dan menapak satu hari di tahun yang baru, ia pun melanjutkan perjalanannya di tempat yang baru, yang sama sekali lain dengan tempat kami berada saat ini. Lima bulan berjalan dan purnalah tugasnya sebagai seorang pendidik. Ia meninggal dengan tenang dalam tidurnya. Tampak jelas bayangan saya bagaimana ia menyambut anak-anak didiknya di depan kelas, mengajar dengan penuh semangat, dan ia tunjukkan kecintaannya akan pendidikan dengan memberikan sebaik-baiknya usaha. Berkelebat kemudian, bayangan kursi yang biasa ia tempati untuk menunggui murid-muridnya, papan tulis yang biasa ia bubuhi beragam ilmu, atau bilik kecil tempatnya menanti pagi. Kosong. Bukan lagi raganya yang akan mengisi kekosongan itu.

Aditya Prasetya, telah dicukupkan bekalmu untuk menghadapi penantian hari akhir yang entah kapan datangnya. Sosokmu akan selalu terkenang di hati kami, orang-orang yang sepenuh hati mendukung dan menyayangi. Tetapi rupanya Tuhan lebih sayang pada Adit, dengan cara-Nya yang tak pernah kita ketahui. Semangat juangmu takkan pernah padam, dan justru menjadi minyak pembakar semangat kami yang mungkin memudar. Pengabdianmu tak akan sia-sia. Ketiadaanmu menjadi pemompa harapan kami untuk terus mengestafetkan mimpi di ujung-ujung negeri. Binar mata anak-anak didikmu pasti tak akan bohong, betapa mereka nanti akan merindukan Bapak Gurunya yang senantiasa optimis. Binar mata kami pun, menunjukkan betapa kami bangga kepadamu, Adit.

Selamat menempuh jalanmu yang baru. Kami iri padamu yang nir dalam keadaan begitu tenang, dalam derasnya pengabdian. Umurmu mungkin tidak panjang, tapi kamu telah meninggalkan goresan makna yang begitu panjang di hati orang-orang: keluarga, sahabat, rekan, dan mereka yang ada di Timur sana.

Akan kami lanjutkan perjuanganmu. Jangan pernah merasa sendiri, karena sebenarnya kamu memang tidak pernah sendiri.

*Sore 6 November 2013, jenazah Adit tiba di Lampung setelah menempuh perjalanan panjang dari Saumlaki, Maluku Tenggara Barat. Beberapa rekan Pengajar Muda datang mewakili kehadiran kami, Bapak Anies Baswedan, Bapak Hikmat Hardono, dan tim Galuh pun ikut mengantarkan Adit hingga ke peristirahatan akhirnya. Semoga keluarga dan sahabat yang ditinggalkan diberi ketabahan. amin yaa rabbal al amin.