Uncategorized

Orang-orang Anonim dan Percakapan-percakapan Kecil di Sebuah Pasar

Sejak kecil saya akrab dengan pasar. Almarhumah Simbah dahulu rutin mengajak saya bebelanja ke pasar terbesar di Jogja setiap akhir pekan. Biasanya kami berangkat menumpang bus jalur 4 dan pulang ke rumah dengan becak langganan. Aroma rempah-rempah di gedung belakang yang bercampur dengan bau kain batik terasa familiar tiap saya berkunjung. Simbah pasti akan mengajak saya makan soto daging favoritnya atau membeli es dawet di lorong pasar. Saya kemudian pulang membawa baju baru yang akan dikeluhkan Ibu karena warnanya selalu merah. Sayangnya ketika beranjak SMP saya sudah hampir tak pernah pergi ke pasar bersama Simbah. Bermain dengan teman terasa lebih menyenangkan.

“Jangan lupa sholat,” kalimat itu pasti diucapkan beliau ketika kami turun dari becak.

Entah mengapa, memori manis tentang pasar tak berhasil mengalahkan kecemasan saya bertahun kemudian. Setelah menikah dan hidup berpisah dari orang tua, sebagaimana para istri pada umumnya saya memegang kendali atas dapur rumah tangga. Walau saya terbiasa pergi ke pasar, status saya hanya sebagai pengikut dan tidak punya keputusan akan berbelanja di lapak mana. Kalaupun pergi sendiri pasti sudah dipeseni untuk pergi ke penjual langganan dengan membawa daftar belanja.

Lalu tiba-tiba saya hidup jauh dari rumah. Pasar di tempat tinggal saya selanjutnya, Jakarta dan Jambi, terasa asing dan menakutkan. Saya cemas membayangkan harus mengatur rencana belanja sendiri, paham kualitas bahan pangan yang saya beli dan tidak kikuk saat bertransaksi dengan para penjual.

“Aku harus ke penjual yang mana? Gimana kalo harganya dimahalin ato aku salah milih sayur yang jelek?”

Pikiran-pikiran itu kemudian mengurungkan niat saya pergi ke pasar di Jakarta. Saya pasti memilih belanja di supermarket walau harganya lebih mahal. Saya merasa lebih aman berbelanja di sana.

Dua tahun kemudian, saya ikut suami ke Jambi. Saya langsung mencoba pergi ke supermarket saat kami tiba di sini. Apes banget. Supermarket di Jambi yang saya datangi semuanya tidak menyediakan sayuran, buah, atau bahan segar yang lengkap. Mau tidak mau saya harus ke pasar tradisional.

Perumahan tempat kami tinggal terletak dekat sekali dengan sebuah pasar. Menurut pengamatan saya, pasar di Jambi biasanya berawal dari satu-dua pedagang yang berjualan dekat pemukiman. Banyak sekali saya temukan pasar-pasar kecil sepanjang jalan. Mungkin karena itulah tukang sayur keliling tidak lazim ditemukan di jalanan kampung.

Saya sengaja datang di akhir pekan saat pasar sangat ramai. Bagi beberapa orang pergi ke pasar adalah perkara biasa, tapi buat saya perlu persiapan matang. Saya ingin tahu pedagang mana saja yang punya banyak pembeli dan saya bisa melihat-lihat isi pasar tanpa dipanggil-panggil. Saya baru memutuskan kemana akan berlangganan setelah beberapa kali datang.

Satu hal yang saya syukuri adalah saya tetap dapat menjadi anonim saat berinteraksi dengan pedagang di pasar. Saya memang tidak terlalu nyaman ditanya nama dan identitas lain oleh orang yang sifatnya tidak urgent. Di pasar, saya tak perlu khawatir. Para pedagang tidak pernah menanyakan nama saya, apa pekerjaan saya atau hal-hal privat lainnya. Mereka hanya peduli dengan frekuensi berbelanja, bahan apa saja yang saya cari, atau hal-hal remeh seputar harga bahan pangan yang merangkak naik.

Saya kemudian menjadikan waktu pergi ke pasar sebagai rutinitas menyenangkan karena saat itulah saya bisa mengobrol dengan banyak orang. Oh tunggu, akan “menyenangkan” jika saya berhasil menyusun daftar belanja dalam seminggu. Di saat berbelanja itulah saya mengamati banyak hal seperti apa saja yang membedakan pasar di Jogja dan Jambi atau mengapa sebagian besar penjual sayuran adalah orang Batak, sementara warung kelontong dikelola orang Lampung. Karakteristik penjual di pasar ini memang cukup beragam. Saya bisa menemukan orang Melayu Jambi, Minang, Batak, Jawa, dan Lampung dalam satu bangunan kecil.

Saya bahkan bertemu sesama orang Jogja yang berjualan ikan di sana. Suami istri dari Gunungkidul tersebut tidak pernah bosan menjawab pertanyaan saya tentang nama lokal ikan tertentu dan padanannya di Jawa. Suatu ketika saya lupa membawa ikan yang sudah dibeli, mereka mau menunggu saya kembali sebelum menutup lapak dan pulang ke rumah. Kadang saya beranikan bertanya kepada pembeli lain yang nampak menggebu-gebu mencari satu jenis ikan. “Ikan pari enak nian dibakar!” kata seorang ibu paruh baya saat saya heran mengapa ia harus berebut separuh bagian ikan pari dengan orang lain. Penjual ikan yang lain hapal bagaimana ikan lele yang saya beli harus diperlakukan: kerat-kerat dan jangan potong ekor karena anak saya menyukainya.

Dua pedagang lain yang sering membuat kunjungan saya ke pasar memakan waktu lama adalah penjual ayam dan jamu tradisional. Kami sering mengobrol banyak hal, seperti bagaimana mengelola hasil penjualan hari itu dan berapa harga sewa lapaknya. Penjual ayam tak sungkan bercerita sulitnya dulu dia mendapatkan anak. Lain waktu saya terkagum-kagum melihat kepiawaiannya memisahkan daging paha dari tulangnya. Sementara penjual jamu memberi tahu bahwa harga barang di pasar akan lebih mahal pada akhir pekan.

“Mahal banget ya?” tanya saya penasaran.

“Lumayan Mbak, beda seribu lho!”

Dia bercerita dengan semangat seakan-akan yang dia bagi adalah info A1. Betul juga sih, pasti terasa bedanya kalau saya beli buat kulakan warung. Masalahnya saya beli cabe dua ons saja ga akan habis sampai kedatangan berikutnya.

Setelah hampir empat tahun menjadi pelanggan Pasar Villa, saya akui bahwa berbagai kekhawatiran tentang pasar tradisional tak pernah terbukti. Harga yang diberikan para pedagang cukup murah sehingga saya tidak terpikir untuk menawar. Sekali-dua kali salah hitung hal biasa. Saya baru satu kali merasa ditipu saat membeli santan segar yang rupanya stok lama.

Mungkin saya tak lama tinggal di Jambi. Saya berniat menyempatkan diri untuk berpamitan kepada para penjual langganan jika tiba waktunya pindah. Mereka lah yang membuat saya tetap waras karena jadi punya banyak teman bicara. Mungkin di saat itu saya akan memperkenalkan diri. Sebaliknya, saya ingin mengingat lebih dari sekedar apa yang mereka jual. Saya ingin mengingat mereka dengan nama.

Banyak hal yang bisa saya pelajari dari percakapan kecil dengan orang-orang biasa ini. Mereka memperlakukan para pembeli sebagai teman yang layak ditanya kabarnya. Seperti yang pernah disampaikan Garin Nugroho, “Di pasar tradisional kita manusia, di pasar modern kita hanyalah angka.”

4 Comments

  • Niken

    Kalau belanja di kang sayur lewat jadinya ngegosip. Tapi kalau di pasar jadinya bersosialisasi. Eh panggilan kamu di pasar apa, Kin? Dulu aku sering ngintilin ibuku ke pasar, dan beliau selalu dipanggil bu haji *padahal belum berangkat haji wkwkwk benar katamu pedagang di pasar bisa jadi tidak tahu namamu, tapi hafal dengan seleramu setiap kali belanja di lapaknya.

    • kinkin

      eh lha bener.. hahaha. sebenernya di pasar tu para pedagang ya pada gosip ya, cuma karena kita di luar circle jadinya ga kena gosip haha. lain cerita kalo di rumah ya..
      tergantung belanja di lapak mana. kalo pedagangnya Batak aku dipanggil sayang, kalo Jawa/Lampung mbak’e, tapi paling sering dipanggil Adik apalagi kalo lagi ga bawa anak hahaha

Leave a Reply

%d bloggers like this: