living in Jambi

Mencari Taman di Jambi

Sebagai salah satu provinsi di Sumatera yang letaknya mepet garis khatulistiwa, rata-rata suhu di Jambi cukup panas di kisaran 26-32 derajat Celcius. Belum lagi saat musim kemarau dan marak pembakaran lahan, hawa panas akan terjebak dan bisa bikin marah-marah saking panasnya, hahaha. Saya mager banget pergi ke tempat outdoor di Jambi karena jam 9 siang aja udah terik banget kaya jam 12 siang. Auto gosong.

Sebenarnya kalo mau cari yang dingin-dingin, Jambi punya destinasi wisata yang sangat terkenal yaitu Gunung Kerinci. Sayangnya kami harus menempuh perjalanan hingga 12 jam melewati jalan lintas yang cukup menantang. Suami saya yang tahan banting aja mabok waktu harus naik mobil travel ke Kerinci. Apalagi membawa Senja? Hmmm nampaknya naik pesawat ATR aja mendingan, hahaha.

Jambi memang masih didominasi hutan dan perkebunan, sisanya baru pemukiman dan wilayah bisnis. Nyari tempat wisata agak susah di Jambi karena pembangunan pariwisatanya memang tidak semaju provinsi tetangganya. Karena saya tinggal di Kota Jambi, tempat dolan kebanyakan ya mall. Orang-orang di kabupaten biasa cari hiburan di Kota Jambi saat weekend. Nyarinya ya mall ato pasar toh. Bisa juga main ke tepi Sungai Batanghari tapi saya dua kali kesana sudah merasa cukup. Lumayan bisa lihat tongkang ngangkut batu bara hilir mudik.

Oh iya, Jambi punya cukup banyak taman kota lho. Dari yang sak uplik sampe yang mayan gede dan rindang. Sayangnya ruang-ruang publik di Jambi juga jadi tempat mencari nafkah para PKL jadi tetap terasa sumpek. Sampai akhirnya saya menemukan tempat cakep untuk nggabur anak saya lari-larian.

Taman Hutan Kota Muh. Sabki Mayang

Hutan kecil di daerah Mayang ini asalnya adalah sebuah perkebunan karet tua. Belasan tahun lalu area di sekitar Hutan Kota ini juga masih berupa perkebunan, tetapi setelah banyak perumahan dibangun, Hutan Kota menjadi sedikit dari area hijau di sana. Setelah diperbaiki dan diisi dengan berbagai tanaman, hutan ini dibuka sebagai salah satu objek wisata andalan di Kota Jambi. Lokasinya persis di belakang perumahan tempat saya tinggal, tetapi untuk ke gerbang utamanya harus mutar jauh. Kadang monyet-monyet dari sana suka mampir cari makan ke perumahan wekekeke…

Kesan pertama datang kesini, tempatnya adem dan luas. Sungguh sebuah oase di tengah panasnya udara Jambi. Terbagi jadi beberapa area: hutan heterogen dengan walking path, jalur offroad bike mengelilingi hutan, lapangan terbuka dengan rumput yang rapi, playground sederhana, dan bermacam-macam hewan yang bisa diberi makan oleh pengunjung. Paket lengkap cukup bayar lima ribu rupiah untuk orang dewasa dan tiga ribu rupiah untuk anak-anak. Murah yaa.

Buat goweser ada track yang mengelilingi area hutan. Saat saya kesana ada beberapa rombongan yang main kesana. Memang saat ini track offroad tersebutlah yang paling dikenal masyarakat Jambi. Sementara kami cukup berkeliling melewati rute pejalan kaki yang telah disediakan. Kadang memang ada pesepeda yang mak bedunduk nongol di walking path, untungnya ngga ngebut. Senja senang sekali belajar meluncur di sini dan memakai sepedanya untuk mengelilingi area hutan. Walking path-nya dalam kondisi baik sayangnya petunjuk arahnya kurang jelas. Saya menemukan beberapa pohon lokal yang kemudian digunakan untuk memberi nama daerah di Jambi, antara lain: trembesi, bulian, pinang, dan pulai. Serunya lagi tiap pohon di sana sudah diberi pelabelan menggunakan QR Code sehingga kita bisa cek informasinya di sistem inventarisasi tanaman yang sudah disediakan oleh Pemkot Jambi. Tapi saya belum nyoba, buat jalan aja udah ngos-ngosan kemarin hehe. Saya pengen ngingat-ingat bentuk masing-masing pohon, tapi sampai saya tiba di ujung rute tetap aja pohon-pohon itu terlihat sama. Dasar tidak berbakat~~

Untuk area kandang satwa saya gabisa komentar banyak. Kelinci dan rusa punya kandang besar yang cukup layak, tetapi di area ujung saya lihat beberapa monyet dan reptil hanya diberi kandang kecil banget. Kelihatan mereka stress. Harusnya mereka memang tidak terkurung seperti itu, sih. Saya lebih senang kalau hewan-hewan seperti rusa, kelinci, ayam, dan kalkun saja yang dipelihara sebagai salah satu daya tarik untuk anak-anak. Kan seru ngasih makan hewan, hehe.

Di dekat pintu masuk ada sebuah area terbuka luas dengan rumput yang rapi. Konon kita bisa berkemah di sini. Saya tertarik mencoba sampai akhirnya saya menyadari kalau nyamuk di sini besar-besar dan ganas. Tipikal hutan tropis, nyamuknya banyak banget. Kami pakai lavender oil dan baju lengan panjang tapi tetap saja bentol-bentol. Ga kebayang kalo nginep dan malem-malem malah sibuk nepokin nyamuk. Saat kami datang juga ada acara pernikahan dan workshop di situ. Enaknya sih pengunjungnya ga terlalu banyak jadi acara lumayan kondusif. Yang kasihan malah satwa penghuni hutan, soalnya suara soundsystemnya kenceng banget, huhu.

Semoga Taman Hutan Kota terus mempercantik diri dengan berbagai fasilitas tanpa mengurangi hutannya yang alamiah. Tidak perlu ada dekor-dekor artifisial yang justru mengurangi keindahan. Hmm WC-nya bisa kali ya diperbaiki.

Update per November 2020: Area rerumputan kecintaan saya rupanya diubah menjadi amphiteater. Saat saya kesana renovasi masih berlangsung dan cukup mengurangi kenyamanan berkunjung. Sila dipertimbangkan jika sensitif terhadap suara dan debu, ya!

Lapangan Gubernur Jambi

Dari dulu saya kesini kok ngga pernah ketemu Zumi Zola waktu masih menjabat Gubernur Jambi ya, hahaha. Yakali sih ketemu. Saya selalu kesini saat weekend. Kalo lapangan ini sudah terkenal sebagai tempat masyarakat Jambi berolahraga. Ada lapangan rumput untuk main bola yang luas banget, di sebelahnya ada jalan beraspal dengan taman dan gazebo. Bahkan kami bisa mainan sampe ke depan pintu kantor gubernur.

Biasanya di sini Senja main sepeda dan Edo latihan skateboard. Kalau hari Sabtu sore juga banyak anak-anak yang belajar sepatu roda. Kadang ada mas-mas BMX yang atraksi atau anak KPop yang latihan di gazebo. Sisanya lari-lari cantik muterin taman, tapi karena Jambi pwanas, mau alon-alon pun jadinya tetep gobyossss…

Foto pas main ke lapangan ini masih saya cari-cari gara-gara kemarin habis mindahin foto ke laptop. Akan saya update segeraaa..

Taman Anggrek Sri Soedewi

Taman ini terletak persis di seberang kompleks Kantor Gubernur Jambi, tetapi saya baru sempat mengunjunginya minggu lalu. Di area depan terdapat beringin besar dan pohon rindang yang mengelilingi. Di dalam taman ada skybridge dari kayu memanjang ke belakang.

Secara konsep, taman ini nampak sangat menarik. Taman terdiri dari dua level, atas yaitu skybridge, dan bawah yaitu taman dan kolam. Taman ini seharusnya memiliki banyak koleksi anggrek, seperti namanya tentu saja, yang bisa dilihat dari atas skybridge. Sayangnyaaaa, itu cuma di artikel berita saja. Saat saya kesana, area taman nampak tidak terawat, dilihat dari banyaknya rumput tinggi kekuningan, greenhouse yang rusak dan bolong-bolong, kolam berwarna hijau keruh, dan tidak ada satupun tanaman anggrek yang nampak. Lantai kayu yang digunakan untuk skybridge berlubang di beberapa titik, makin jauh berjalan makin banyak lubangnya jadi saya memutuskan untuk balik arah. Serem jugaaa. Tinggi banget. Tangan Senja saya pegang erat-erat takut dia tiba-tiba terpikir untuk lari-larian.

Area selasar di bagian depan taman nampak kumuh. Sampah berserakan mungkin bekas orang nongkrong semalam. Tempat ini menjadi salah satu favorit PKL untuk mangkal karena banyak warga Jambi yang nongkrong saat malam hari. Sayangnya tidak diimbangi dengan tempat sampah yang memadai. Beberapa tempat sampah yang tersedia penuh hingga tumpah kemana-mana.

2 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: