Mengundurkan Diri, Menata Hati

Sudah hampir empat bulan sejak saya meninggalkan kubikel di kantor lama, tetapi baru saja saya menyempatkan diri menghapus folder-folder pekerjaan yang memenuhi laptop. Nostalgik. Tidak saya pungkiri semua itu saya rindukan. Bermain dengan kolom-kolom Excel, berdiskusi sambil mencomot cemilan antarkubikel, nelangsa dan berbahagia bersama rekan kerja, hingga pertemuan-pertemuan eksternal yang memperkaya wawasan.

Saya rindu berpikir keras-keras. Menyemangati otak untuk tetap optimal sampai jam pulang kerja tiba, lalu berjibaku dengan ribuan pekerja lainnya, mengemudikan si roda dua memenuhi jalanan ibukota. Saya rindu diskusi ringan, obrolan membicarakan kebijakan para pimpinan (ngrasani lebih tepatnya), membuat program kerja dan saling memberi masukan, menjalani birokrasi dari nota dinas sampai berbagai rapat tanpa jeda, melakukan perjalanan dinas bersama-sama…

Saya rindu semua itu, tetapi saya bersyukur Senja hadir di saat yang tepat.

Jika saja saya dan Edo belum diberikan kepercayaan untuk menjadi orang tua bagi Senja, mungkin hingga kini kami masih berkutat dengan pekerjaan masing-masing, di pulau yang berbeda. Kami akan terbiasa dengan rutinitas bertemu beberapa minggu sekali dan sisanya sekedar jumpa dalam layar. Senja adalah sebuah alasan yang kami syukuri karena pada titik tersebutlah kami ‘dipaksa’ untuk mengingat kembali tujuan rumah tangga yang ingin dicapai.

Sejak awal, suami menyatakan bahwa ia ingin didampingi ketika kami menikah nanti. Saya jawab sekenanya, “Kita lihat nanti ya, sekuat apa kita berjauhan.” Nyatanya kami cukup kuat karena diwarnai berbagai kesibukan. Kami juga merasa cukup dengan adanya dua sumber pendapatan sehingga banyak hal yang kami peroleh. Tapi ada satu hal yang saya ragukan: mampukah saya menetap dan menua di Jakarta? Setahun dua tahun bukan hal yang berat. Tetapi bagaimana untuk tahun selanjutnya?

Jika kami sama-sama kukuh pada pendirian, selama masa pengabdian kami sebagai pegawai negeri, mungkin hanya ada 1-2 kali kesempatan kami bisa hidup seatap. Saya bekerja di instansi sebuah kementerian yang kantor unitnya sebagian besar di Jakarta. Sementara suami akan mutasi secara teratur setiap 3-5 tahun dengan peluang ke seluruh provinsi di Indonesia. Kami hanya dapat mengharapkan hidup seatap ketika suami dimutasi ke Jakarta.

Sebenarnya ada beberapa opsi lain yang dapat ditempuh agar saya tetap dapat bekerja dan hidup bersama suami. Salah satunya adalah opsi mutasi lolos butuh. Sayangnya, masing-masing instansi mensyaratkan minimal masa kerja enam tahun. Kalau Senja belum ada sih, mungkin saya akan pikirkan opsi tersebut. Saya tidak bisa membayangkan hanya hidup berdua dengan Senja, mempekerjakan baby sitter untuk mengasuh Senja selama saya bekerja tanpa ada kerabat dekat yang menemani, berangkat pagi buta dan pulang saat ia sudah pulas, dan hanya bertatap muka dengan Ayahnya sekali dalam beberapa minggu.

Tentu banyak pasangan yang menempuh dan mampu bertahan dengan opsi ini, tetapi ini bukan kami. Kami berdua bukanlah tipikal orang yang mendamba Jakarta sebagai tempat bekerja sehingga untuk menjalaninya tentu akan terasa berat. Apakah ini tujuan rumah tangga yang ingin kami capai?

Opsi tercepat sekaligus terberat adalah harus ada yang mengundurkan diri. Saya mengajukan diri dengan penuh semangat agar dapat membersamai suami dan Senja. Saya tidak pernah merasa mengalah atau berkorban karena setelah dipikir-pikir saya orangnya bosenan (apalagi kalau kerja di birokrasi, krik. Kayanya baru 3 tahun kerja udah sambat terus sama suami.) Tidak menutup kemungkinan saya nanti akan bekerja kembali, yang jelas kami akan lebih banyak pertimbangan agar dapat tetap hidup bersama.

Banyak pertanyaan, cibiran, sindiran, tetapi juga banyak dukungan dan semangat yang hadir di masa-masa saya mulai mengusahakan pengunduran diri tersebut. Saya menghormati segala respon yang datang karena saya yakin setiap orang punya prinsip hidup masing-masing. Para bapak-bapak kebanyakan memberikan dukungan karena mereka sendiri merasakan nikmatnya bisa didampingi istri. Beberapa rekan kerja wanita nampak berat karena menganggap eman pekerjaan yang didapat dengan susah payah tersebut. Insha allah buibuk, slot kosong saya akan menjadi rezeki orang lain. Ada pula yang langsung mengomentari keputusan saya jadi ibu rumah tangga karena kebutuhan hidup saat ini cukup berat dan sebaiknya suami istri tetap bekerja. Tak luput yang menganggap saya malas karena tidak mengusahakan mutasi (ngotot mungkin lebih tepatnya ya, karena saya sudah tidak lolos di prasyarat pertama).

Bagaimana tanggapan keluarga besar? Sebelum saya memutuskan resign, saya meminta pertimbangan Ibu. Tak disangka, beliaulah yang pertama meridhoi keinginan saya sekaligus memberikan dukungan. Beliau ikhlas anak sulungnya tidak lagi menjadi abdi negara yang (konon katanya) membanggakan orang tua. Makasih Ibuk! Keluarga besar pasti ada yang keluarkan suara sumbang tetapi hingga saat ini saya hanya memegang restu Ibu dan mertua.

Per 1 September lalu, saya resmi mendapatkan surat keputusan pemberhentian PNS dengan hormat. Hampir dua bulan saya berusaha, mulai dari sounding ke atasan dan rekan kerja, menyusun nota dinas dan surat-surat yang dibutuhkan lalu gerilya meminta izin dan restu pimpinan, follow up proses ke BPH Migas, Ditjen Migas, dan Setjen, dan berakhir dengan sesi curahan hati dengan Kabag Mutasi di kantor pusat. Rasa lega dan haru bercampur jadi satu. Saya juga masih menyimpan rasa penasaran, bagaimana keseharian saya selanjutnya menjadi ibu rumah tangga yang 24 jam akan mendampingi Senja. Mungkin saya akan lebih bosan, mungkin pula akan lebih banyak tantangan. Yang jelas Senja akan menjadi teman sekaligus guru saya sehari-hari.

Saya tak pernah ragukan perhitungan matematika Tuhan. Rezeki akan ada selama ada doa dan usaha. Ibuk Senja, bismillah!

 

PS: Saya berterima kasih pada berbagai blog yang membuat keberanian saya terkumpul. Sebelumnya saya keder untuk sekedar membicarakan masalah resign ini dengan atasan. Nyatanya banyak juga yang melakukan ini dan proses yang dijalani lebih sulit dari saya. Terima kasih ya Pak Irawan selaku kepala seksi, beliau merelakan satu-satunya anak akuntansi di seksinya untuk pergi. Tanpa izin beliau, surat permohonan diri saya tidak akan diproses Sekretariat Jenderal. Ditunggu di Jambi, Pak!

Kemarin saya berbincang dengan seorang teman yang juga bimbang ingin resign karena alasan yang sama persis dengan saya. Insha allah kini pilihan hatinya lebih kuat. Karena obrolan dengannyalah, sekaligus pengalaman saya membaca banyak cerita kegalauan para abdi negara yang ingin resign tapi belum berani, saya jadi ingin menuliskan pengalaman saya kemarin mengajukan pengunduran diri. Tapi kok belum siap dijudge ya, hahaha. Yang mungkin lagi galau dengan berbagai alasan, boleh tanya-tanya via email. Siapa tahu bisa bantu hal remeh temeh seperti format surat atau harus bertanya pada siapa di kantor, hehehe.

CPNS Subdit Pengaturan Akun, Tarif, dan Harga Gas Bumi Melalui Pipa

 

Saat pengangkatan PNS BPH Migas 2014. Beberapa sudah dimutasi ke berbagai unit kerja lain. Sukses ya, semuanya!

1 thought on “Mengundurkan Diri, Menata Hati

Leave a Reply

%d bloggers like this: