Tentang Hubungan Jarak Jauh

Halo semua!

Ampun deh saya ini, dilihat-lihat postingan terakhir sudah awal tahun 2017 itupun late post tentang nikahan :))) Mana sudah ngga ada posting tentang traveling atau nggerus yang manis-manis, lama-lama saya akan keseringan curhat deh di sini. Itupun kalau sempat, hahaha. Karena sekarang sudah ada makhluk kecil yang nemplok kemana mana – kecuali pas saya lagi kerja tentunya – yang setahun lalu terbentuk, berkembang, dan hidup di rahim saya selama sembilan bulan. Lalu baru sadar juga kalau saya sudah anniversary pernikahan yang pertama dengan Edo.

Time flies so fast! Seriously.

Sebenarnya banyak banget yang ingin saya ceritakan di sini. Banyaaaak banget. Niat dan waktunya yang belum ada. Saya ingin berbagi tentang gentle birth yang sempat saya pelajari dan coba saya aplikasikan saat kehamilan dan persalinan. Saya ingin berbagi kisah suka – duka hidup di apartemen alias rusun sebagai generasi milenial yang belum sanggup nyicil rumah di pinggiran Jakarta. Saya ingin berbagi kisah tentang Senja – si kecil kami yang kini berusia tiga bulan. Atau sekedar nggerus – nggerus manis, meratapi diri karena belum bisa traveling kemana-mana lagi.

Anyway, apa iya generasi kita sekarang, suami – istri makin banyak yang menjalani long distance marriage ya? Apakah karena makin banyak jenis pekerjaan dengan coverage area yang makin luas, makin banyak pasangan yang terpaksa tidak bisa tidur seranjang, bermesraan tiap hari, atau sekedar mengecup kening istri saat akan berangkat kerja? Frekuensi pertemuan 1 kali sebulan aja sudah bagus, istri kerja di mana, suami di mana, anak dititipin ke eyangnya di mana pula. Momen makan bersama di meja makan rasanya jadi mahal banget, ini berlaku juga buat suami – istri yang terpaksa harus berangkat saat pagi buta dan pulang saat anak-anaknya telah tertidur lelap.

Iya, ini saya lagi curhat tentang diri sendiri~~

Tepat 1 tahun saya LDM dengan suami, dan hampir 4 tahun jika dihitung dari pertama kami pacaran. Sepanjang waktu itu pula kami mengandalkan beragam aplikasi chatting untuk menggantikan waktu-waktu bersama. Rasanya semakin berat ketika tepat sebulan setelah menikah, saya hamil dan di Jakarta tidak punya sanak saudara. Terlewatilah momen-momen morning sickness selama tiga bulan pertama, tinggal di apartemen hanya bersama adik yang saat itu lebih sering dinas keluar kota. Kalau ngga kuat berdiri dan cari makan di bawah, ya ngga makan. Siapa pula yang mau bantuin. Berangkat dan pulang menembus kemacetan Jakarta yang makin naudzubillah, untunglah atasan saya berbaik hati mengizinkan bedrest kalau saya sudah ngga sanggup bahkan untuk berjalan ke kamar mandi :))) Lalu saya membayangkan para ibu hamil yang tinggal jauh di pinggiran Jakarta dan hanya transportasi umum seperti KRL dan transjakarta yang dapat diandalkan sehingga harus berdesak-desakan dengan banyak orang. Salut banget, mereka kuat!

Hormon kehamilan benar-benar memainkan perasaan saya sebagai pelaku LDM. Suami bisa pulang 2-3 minggu sekali sehingga saya bisa beberapa kali diantarkan ke obgyn untuk memastikan kesehatan saya dan si kicik. Tetapi semakin usia kandungan menua, saya harus periksa sendiri karena saat itu suami sibuk dinas. Bahkan dua obgyn terakhir tempat saya periksa, belum pernah ketemu suami saya kayaknya hahaha. Tiap suami harus berangkat sebelum subuh untuk mengejar flight pertama di hari Senin, pasti saya pakai nangis-nangis dulu. Bahkan pernah suatu malam saya nangis nggerung-nggerung gabolehin dia pulang keesokan subuhnya karena feeling ngga enak. Alhasil suami harus reschedule tiket yang harganya hampir sama kaya beli tiket baru.

Saat hamil itu, saya sering meratap. Saya masih ingin menikmati masa berdua – meski tetap harus berjauhan – merencanakan kehidupan bersama selanjutnya, bepergian berdua di akhir pekan, naik gunung, dan masih banyak hal lainnya. Tapi kemudian, nikmat mana yang ingin saya dustakan, ketika banyak orang berharap cepat diberikan keturunan, justru saya malah ingin menundanya. Please tidak perlu ada judgement dalam pandangan saya ini. Akhirnya perlahan kehamilan itu saya terima, saya nikmati, saya jaga baik-baik. Saya ingin si kicik dalam kandungan mengetahui dan merasakan bahwa kami berdua sebagai orangtuanya, menerima dan menyayanginya sepenuh hati. Walau mungkin suara ayahnya sangat jarang ia dengar langsung, tapi si kicik harus tahu bahwa ayahnya sangat menyayanginya. Padahal kami berdua sama sekali engga pernah romantis-romantisan #eaaa

Kalau buat saya, LDM itu jelas mahal. Ada satu pasangan dengan – hmm, anggap saja, dua rumah tangga. Dua rumah, dua dapur yang harus dihidupi, dua kali lipat biaya-biaya seperti listrik, air, dan laundry, belum lagi biaya transportasi untuk bisa ketemuan. LDM, entah karena keadaan atau memang sebuah pilihan, tentu harus dipikirkan masak-masak. Saya sih sangat berharap hubungan jarak jauh kami dapat segera berakhir. Biar si kicik bisa dicium kedua orangtuanya di pagi dan malam hari #lalumbrambangi

Aelah curhaaat.

Terakhir, perkenalkan. Haura Senja Kinanti. Semoga menjadi pribadi yang menyenangkan untuk banyak orang dengan cara yang sederhana, sesederhana senja yang indah di penghujung hari. Mohon doa agar Senja sehat selalu ya.. Dan doakan, LDM kami segera berakhir! 🙂

Senja 1,5 bulan

Selanjutnya, saya pingin cerita bagaimana gentle birth mengubah pandangan saya tentang kehamilan, dan tentu saja cerita tentang persalinan saya yang full of drama! Semoga nanti bisa jadi referensi para mom-to-be agar lebih siap dan bahagia dalam menjalani kehamilan (sok tau banget sih eike, mohon dimaafkan kalo kurang berkenan yaaa)

Love!

Leave a Reply

%d bloggers like this: