#KinkinEdoRabi Bagian II : Desain Sendiri Undangan Pernikahan, Mengapa Tidak?

kinkin300small

 

Seperti pernah saya ceritakan di posting sebelumnya, salah satu printilan dalam pernikahan yang ingin saya siapkan sendiri adalah undangan pernikahan. Pada dasarnya saya suka bikin repot diri sendiri, sih. Jumlah undangan saya tidak banyak sehingga saya putuskan untuk menyampaikan kabar pernikahan saya melalui undangan fisik. Tidak dipungkiri kemudahan teknologi tentu bisa dimanfaatkan, beberapa undangan yang tidak dapat saya temui langsung atau kesulitan untuk dikirimi via pos, akhirnya saya kirimi undangan online juga, hehehe.

Karena sudah punya beberapa pengalaman di bidang desain dan cetak mencetak, saya pede aja gitu untuk mendesain dan mengurus undangan pernikahan tersebut ke percetakan. Saya sempat membandingkan cost yang dikeluarkan untuk desain yang saya inginkan, antara mengurus sendiri dengan menyerahkan semuanya ke percetakan. Perbedaan cost nya bisa 30-an%. Lumayan kaan kalau dikalikan jumlah undangan, hehehe. Ya kalau waktu kalian banyak ngga masalah untuk membuat undangan sendiri, tetapi kalau kerjaan lembur terus dan weekend hanya bisa gegoleran di tempat tidur, menyerahkannya ke percetakan kayaknya bisa jadi pilihan yang tepat.

Lakukan riset dan survei terlebih dulu.
Betapa bahagianya hidup di zaman teknologi ini. Dunia desain jadi penuh inovasi, tiap saat ada aja ide baru yang muncul di masyarakat. Dahulu kita hanya kenal model undangan segi empat model amplop dan cetak dua – tiga warna, sekarang sudah bisa dibuat bermacam bentuk dengan teknologi laser cutting, dipercantik dengan emboss dan foil emas, belum jenis kertas macam-macam dan dicetak dengan warna semau kita. Ada juga yang lebih inovatif dengan laser cutting di undangan berbahan kayu, pakai hardcover berlapis beludruh, aih macam-macam lah bentuknya. Ada harga memang ada rupa, sih.

Saya melakukan riset secara online dan offline. Sekarang banyak sekali vendor undangan dan desainer yang dengan bangga menampilkan portofolio hasil bikinan mereka di internet. Sebagian besar inspirasi tentu saya dapatkan melalui Instagram. Dari situ saya jadi tahu model undangan seperti apa saja yang bisa dicetak oleh vendor. Sayang kan kalau kita sudah bikin undangan unik misal bentuknya aneh-aneh, tetapi ketika akan diwujudkan ternyata ngga bisa karena harganya jadi super mahal. Riset offline saya lakukan dengan mendatangi pameran-pameran pernikahan juga blusukan ke Pasar Tebet untuk tahu trend saat ini. Jika sedang ngetrend di situ, kemungkinan besar vendor undangan kita nanti juga bisa bikin hal yang sama. Saat itu juga saya melakukan survei untuk tahu kisaran harganya. Nah, saya coret lah impian saya bikin undangan pakai laser cutting dan kertas aneh-aneh, karena harganya bisa melonjak di atas Rp 20.000/undangan. Dikalikan 500 saja, saya udah hamburin duit 10 juta rupiah untuk benda yang akhirnya masuk tempat sampah 🙁

Jangan terlalu lama riset, nanti bingung sendiri!

Jika sudah menemukan inspirasi dan terbayang bentuk undangan yang diinginkan, segera buat sketsanya sebagai patokan desain.
Sketsa tidak perlu yang heboh (kecuali emang dasarnya suka nggambar), yang penting detail dan jelas apa saja yang kita butuhkan dalam undangan tersebut. Dari hasil survei saya memutuskan untuk membuat undangan ukuran A5 karena ukurannya pas, tidak terlalu besar atau kecil. Selain itu gampang juga dapat plastiknya dan saat disimulasikan masuk ke dalam kertas cetak, ngga menyisakan banyak space kosong #medhit. Seingat saya undangan yang bentuknya nyaris kotak itu juga cukup efisien dalam pemakaian kertas, maksudnya ngga buang banyak kertas dalam satu area cetak. Pokoknya buat saya yang bisa muat banyak lah. Hahaha. Problem saya adalah bentuk amplop yang berasal dari satu pola memanjang lalu dilipat jadi tiga. Bentuknya cantik, tidak seperti amplop pada umumnya tetapi ternyata jika dicetak bolak balik (di luar untuk cover di dalam saya kasih quote), bakalan boros banget. Akhirnya saya lakukan penyesuaian dengan memindahkan quote agar tidak perlu dicetak bolak-balik.

Dalam sketsa tersebut pula saya masukkan referensi font favorit sambi cari-cari di internet, tata letak kasarnya, dan info/ilustrasi apa saja yang dibutuhkan di dalamnya. Saya membutuhkan ilustrasi saya dan Edo sebagai POI tapi saya ngga bisa gambar bagus 🙁 Beruntung saya punya teman yang baik sebut saja Oci! Style dia sesuai dengan selera saya. Saya cukup kasih foto, referensi warna dan tema baju, dan request lain (ehem agak rempong sih pas itu) lalu dia buatkan ilustrasinya. Selanjutnya ilustrasi itu bisa saya pakai di printilan lain seperti bridesmaid card dan welcome board, hehehe. Dia ngasih versi fisiknya juga untuk saya pajang kalau punya rumah nanti #ehem, Kalau kalian tertarik bikin ilustrasi juga, boleh banget intip portofolio Oci di Instagram @mutiaracininta. Untuk rate-nya, masih bersahabat banget 🙂

Beberapa gambar vector seperti ilustrasi bunga dan desain background saya dapatkan melalui free source di internet. Jadi engga nyolong yah 🙂 Sebagai orang yang pernah bekerja di bidang kreatif, dicolong karyanya itu sedih banget. Kecuali mungkin hanya digunakan untuk kepentingan sendiri bukan komersial sih masih oke ya. Tapi saya cari aman saja dengan mengambil beberapa vector dari website Freepik. Kalau kurang puas dengan yang gratisan – ada harga ada rupa dong – bisa cari yang berbayar di website Shutterstock. Sempat tergoda beli di Shutterstock sih, tapi gapunya cc saya akhirnya kekeuh makai dari Freepik aja. Hehe.

Sketsa sangat membantu saya untuk tetap dalam jalur ketika mendesain di PC. Udah ngga boleh meleng sana-sini istilahnya. Makin tergoda buat intip-intip inspirasi lain, makin ngga fokus dan malah desainnya ngga selesai-selesai. Proses dari survei sampai akhirnya desain jadi ini saya selesaikan dalam waktu sekitar dua bulan. Lama ya? Tapi kerasa sebentar lho. Saya juga melakukan semuanya di antara jam kantor, curi-curi waktu dikit… Habis laptop saya ngga kuat buat Corel Draw. Saya membuat deadline untuk diri sendiri bahwa desain ini sudah harus diterima oleh percetakan maksimal 2,5 bulan sebelum hari H. Meski vendor bilang bahwa undangan bisa diselesaikan dalam waktu 2-3 minggu, saat itu saya ketar ketir karena ada bulan Ramadhan, habis itu Lebaran. Tau kaaan habis lebaran banyak banget yang nikahan. Kalau ngga gerak cepat, bisa ketahan di antrian cetaknya nanti.

Periksa isi undangan, jangan cuma sekali, sepuluh kali kalau perlu.
Banyaknya informasi yang tercantum dalam undangan membuat mata kita siwer dan rentan salah. Beberapa hal penting yang harus kita pastikan sudah benar sebelum undangan masuk percetakan antara lain:

  1. Nama dan gelar (jika ada) kedua pasang mempelai dan orang tua mempelai.
  2. Tanggal dan jam pernikahan, jika berniat menuliskan waktu akad dan resepsi, tuliskan keduanya dengan jelas.
  3. Lokasi pernikahan, alamat lengkap, dan peta yang mudah dibaca. Saya memasukkan link Google maps untuk antisipasi peta tidak dipahami.
  4. Printilan seperti salam pembuka dan penutup, kata pengantar, juga harus diperhatikan. Biasanya percetakan sudah punya draftnya kalau kita masih bingung.

Nah, saat undangan saya selesai, tiba-tiba ada keputusan untuk membagi waktu resepsi menjadi dua agar tamu tidak menumpuk! Pusing dah… Tadinya udah mau numpuk bagian jam resepsi pakai kertas putih (terus undangannya jadi jelek gitu). Tapi saya dapat ide. Untunglah, pada lembar hardcover bagian informasi waktu dan tempat pernikahan, bisa ditumpuk semua. Jadi saya cetak lagi lembar satu itu di Jogja, lalu saya tempelin deh satu-satu. Capek sih, tapi saya jadi jago nempel undangan nih! Hahaha. Dan jadi tidak terlihat kalau ada perbaikan di bagian situ.

Masukkan draft desain ke vendor dan pastikan dia paham yang kita mau.
Meski nikahan saya di Jogja dan tamu saya kebanyakan di Jogja pula, saya memilih untuk cetak di Jakarta. Kenapa? Karena akan lebih mudah bagi saya memonitor perkembangan cetak tersebut di Jakarta. Saya pilih vendor di Pasar Tebet karena letaknya dekat dari kantor. Jadi kalau tiba-tiba vendor ingkar janji tinggal ngeeeng sampe deh ke Tebet. Kalau untuk hal yang sifatnya detail teknis banget kayak undangan gini, saya ngga berani deh nanya-nanya via Whatsapp.

Walau banyak yang bilang vendor-vendor di Pasar Tebet kadang suka janji manislah, hasilnya ngga sesuai keinginan lah, tetapi alhamdulillah lho saya ngga mengalami kendala apapun. Nah saya survei beberapa vendor saja seperti Abadi Card (teman-teman di kantor saya kalau saya tanyain cetak di mana pasti di sini deh), Duta Graphia, Putra Karya, Bias Grafika, Ridho Card, dan beberapa vendor lain yang saya lupa namanya. Untuk model undangan yang berbeda, tiap vendor punya standar harga yang beda pula. Bisa saja buat undangan hardcover seperti yang saya mau harganya lebih murah di A, tapi untuk undangan beludru lebih murah di B. Jangan lupa bawa minum saat survei kesana. Gerah bok, hati-hati dehidrasi saat keliling pasar.

Pilihan saya jatuh pada Ridho Card dengan pertimbangan:

  1. Harga undangan untuk model yang saya inginkan lebih murah dari vendor lain. Di Abadi Card penawaran untuk model tersebut mulai dari Rp 9.000/undangan, di Ridho Card mulai dari Rp 7.000/undangan.
  2. Tempatnya terlihat meyakinkan, dengan pintu kaca dan AC. Hahaha, muree ya saya. Habis mikirnya kalau lagi konsul atau nunggu hasil proofing, kalau tempatnya panas pasti nggak pewe deh.
  3. Ownernya, Mba Yanti, mau melayani pertanyaan saya yang berjibun dan menyatakan sanggup dengan model desain yang saya inginkan. Oh ya, setelah bayar DP Mba Yanti mau buatkan dummy-nya dulu buat bahan diskusi.
  4. Dia mau ngasih diskon dan order bisa diselesaikan sebelum Ramadhan.

Nah minusnya Ridho Card ini, lokasi tokonya mojok banget di belakang dekat mushola jadi saya suka hilang arah kalau kesana. Katanya dia ada dua lokasi toko, tapi saya ngga tahu satunya di sebelah mana. Karena tempatnya mojok itulah, suka susah sinyal jadi mbaknya kadang ngga bisa dihubungin. Minus kedua, Mba Yanti bilang saya bisa kasih draft dalam bentuk Corel Draw. Udah semangat ndesain nih, ternyata desainernya make software lain dan gabisa diimport jadi dia bikin ulang dong :)) Mubadzir kerjaan saya udah rapi-rapi. Hahaha. Untungnya dia bisa membuat yang sangat mirip dengan punya saya tapi saya harus kasih bahan-bahan mentahnya untuk isi. Ada beberapa miss juga, misal di peletakan bunga atau font yang harusnya tebal tapi nggak ditebalin, gitu. Untungnya mas desainer responsif, dijelaskan via email sudah paham.

list-revisi-kinkin-edo-2904

undangan-curve-amplop

 

Kalau untuk kisaran harga saya bingung juga pasnya berapa, karena saya pakai beberapa tambahan seperti emboss, foil emas, dan saya harus nambah biaya untuk bikin pon (semacam cetakan besi untuk motong sesuai bentuk yang diinginkan) untuk amplop karena model amplop saya belum ada sebelumnya. Kalau dibagi rata jatuhnya sekitar Rp 8.000 per undangan (untuk 350 undangan) karena saya cetak di bawah jumlah minimal yaitu 500 undangan. Alhamdulillah, saya tidak ada drama janji manis vendor atau tiba-tiba vendor tidak ada kabar saat harus ngambil. Malahan yah, orderan saya selesai lebih cepat satu minggu dari janjinya dan saya dikasih bonus 20 undangan tambahan. Harga itu sudah termasuk plastik dan tag ucapan terima kasih juga.

Kalau ada yang tertarik sama Ridho Card, sok atuh langsung datang ke Pasar Tebet lantai basement ya, boleh banget tanya-tanya harga dulu di sana. Ini dia hasil jadi undangan pernikahan saya.

dscf1316

 

dscf1318

 

dscf1324

 

dscf1325

 

dscf1321

 

Dari desain undangan tersebut, bisa saya manfaatkan untuk beberapa macam stationery lain agar senada, seperti bridesmaid card dan undangan online, kayak gini 🙂

 

bridesmaidcard

bridesmaid dicetak bolak-balik, ilustrasi kaftannya saya bikin sendiri, jangan diketawain ya kalo kaya remah rempeyek dibanding ilustrasi Oci :))

 

undangan-online-330-430

undangan online untuk dikirim via whatsapp

 

Semoga review saya membantu, ya. Jika ada yang ingin ditanyakan atau sekedar sharing, feel free to contact me!

4 thoughts on “#KinkinEdoRabi Bagian II : Desain Sendiri Undangan Pernikahan, Mengapa Tidak?

  • Hi mba kikin salam kenal!
    Kebetulan banget aku juga lagi bikin desain undangan sendiri buat acara pernikahanku. Di Ridho desain bisa terima file dalam format apa selain coral ya mba?

    • halo salam kenal juga Ayu,
      nah sebenarnya corel pun bukan jenis file yang dia pake karena dia pake software lain (maaf aku lupaaa..) jadi dia kayak bikin ulang gitu. kalo pengen ke Ridho, kusaranin tanya2 dulu aja coba, ini no nya 0812-1890-9190 ato 021-35996725, dan pastiin jenis file apa yg sebenernya dia terima. karena ownernya iya2in aja ternyata pas aku ke desainernya bukan corel. kan kasiaan haha.

Leave a Reply

%d bloggers like this: