#KinkinEdoRabi Bagian I: 101 Persiapan

img_4609

Halo!
Ini saya sebenarnya bingung menuliskan #KinkinEdoRabi mulai dari mana, karena acaranya sendiri sudah hampir tiga bulan yang lalu. Oke, agak geli-geli gitu ya hashtagnya, tapi ini saya pake beneran saat nikah :)) Secara pribadi saya memang sudah lama ingin menuliskannya dalam beberapa posting berseri sebagai usaha untuk mengenang salah satu memori paling berkesan sepanjang hidup. Walau acaranya sudah kelewat lama, tapi hawa perjuangannya masih kerasa sampai sekarang. Dari kesibukan kontak calon vendor tiada akhir, jadi pejuang PJKA (Pergi Jumat Kembali Ahad) Jakarta – Jogja, dan hidup prihatin demi keinginan membiayai pernikahan sendiri. Kalau dipikir-pikir sekarang, untuk momen yang buktinya ‘hanya’ berupa foto dan video (selain cincin di jari manis dan buku nikah sih yang jelas…) memang banyak orang yang benar-benar mencurahkan hati dan pikirannya agar semua berjalan sebaik mungkin. Saya pun begitu. Mas suami dan ibu saya adalah segelintir saja dari sekian banyak yang mengamini bahwa saya begitu perfeksionis dan cenderung susah mendelegasikan pekerjaan. Selama masih bisa dikerjakan sendiri, ya handle sendiri.

Ada suatu titik dimana saya berpikir, apakah saya sudah menjadi seorang bridezilla? Hahahahahaha. Entahlah.

Salah satu orang yang paling saya inginkan kehadirannya di akad nikah saya adalah eyang putri dari garis Ibu. Kebetulan memang eyang kandung saya sudah meninggal semua dan tinggal beliau saja. Sayangnya kesehatan beliau menurun drastis sejak awal 2016 akibat penyakit kanker. Saya kira beliau masih dapat bertahan dan menyaksikan pernikahan saya di bulan Juli, tetapi Tuhan berkata lain. Eyang putri meninggalkan kami semua dengan damai tepat satu bulan sebelum pernikahan saya. Beruntung saya sempat menjenguk dan mengobrol dengan beliau terakhir kali, seminggu sebelum tiada. Eyang saat itu meminta maaf kalau ngga bisa hadir, seperti sudah firasat. Sedih dan menyesal banget kalau diingat, kenapa tidak menikah lebih cepat agar beliau bisa turut menyaksikan. Tetapi insha allah kini sudah lebih ikhlas dan meyakini bahwa Eyang putri-yang memang udah suka banget sama mas suami sejak pertama ketemu-, bahagia melihat kami memulai lembaran baru.

Setelah acara lamaran sederhana di awal tahun 2016, kami berdua segera mencari tanggal yang sekiranya pas. Kedua keluarga menyerahkan sepenuhnya pada kami, hanya diberi ancer-ancer selepas Idul Fitri. Asyik? Tentu saja! Ngga perlu ada tarik ulur keinginan demi memuaskan semua pihak. Semoga kalian yang sedang merencanakan pernikahan juga dipermudah untuk hal ini, ya.

img_5180

Salah satu sudut venue pernikahan saya di Sambi Resort, Kaliurang. Selepas hujan, dingin-dingin basah hahaha.

Salah satu drama dalam pernikahan saya adalah masalah venue. Saya cukup saklek akan konsep pernikahan yang sedari dulu saya inginkan, yaitu pernikahan di luar ruangan dengan tema rustic. Tema tersebut masih cukup jarang saat itu di Jogja, dan kami menginginkannya sesuai kepribadian kami: natural dan hangat #tsaah. Tetapi mengingat kami berdua sudah harus mulai bekerja di luar Jogja, saya pribadi khawatir perencanaannya akan mawut. Keluarga besar saya kebanyakan bekerja di UGM, jadilah venue-venue yang berada di sekitar UGM ada di top list kami. Saat itu saya ngga kepikiran lagi untuk bikin pernikahan outdoor.

Saya langsung mengajak Mamase ke salah satu venue favorit di UGM yaitu University Club (UC). Tempat ini sudah sangat familiar buat kami, karena sering diadakan seminar di sana, bahkan seremoni kelulusan fakultas saya pun dihelat di UC. Luas gedungnya pas untuk kami yang tidak akan mengundang ribuan orang, tapi punya tempat parkir yang super luas, sebelah GSP gitu lho :))

Sayangnya kami harus gigit  jari karena sejak tahun 2016 itu pula UC menerapkan kebijakan yang berbeda. Kalau sebelumnya calon pengantin bebas memilih vendor (hanya membayar sewa gedung saja) sekarang mereka menawarkannya dalam satu paket, mulai dari wedding planner, make up, katering, hingga dekorasi. Macam di hotel gitu.. Kami tidak diperbolehkan mencabut item dalam paket. Yang saya kurang sukai, kan item kayak make up itu sifatnya personal ya.. Bagus buat A belum tentu bagus buat saya. Kalau untuk katering ngga masalah lah, karena UC rasanya sudah teruji. Kemudian saya ngga butuh wedding planner dan dekorasi dalam paket pun model standar adat Jawa pakai gebyok gitu. Kalau menyesuaikan dengan tema yang saya inginkan, pasti harga paketnya akan melambung.

Awalnya saya mau terima jadi aja… Bahkan waktu itu sudah DP tanggal. Biar bisa konsen dengan kerjaan di Jakarta. Tapi saya jadi sering melamun kepikiran apa iya ini yang saya pinginin. Kadang-kadang sampai nangis ke mamase karena berasa ada yang ngga sreg. Saya curhat ke beberapa teman, mereka memaklumi karena sejak dulu saya kan memang suka bikin-bikin sendiri, ketika semuanya diserahkan ke orang tentu rasanya ngga lega. Akhirnya saya bulatkan tekad untuk mencoba melakukan survei ke venue-venue lain, termasuk berbagai vendor incaran saya. Lalu sebagai bahan pertimbangan saya membuat perbandingan harga apabila saya tetap ambil paketan dengan apabila saya merencanakan pernikahan saya sendiri di venue yang saya inginkan. Ada beberapa plan yang saya buat di situ.

Jatuhnya ternyata beda jauh… Karena di harga paketan sifatnya masih standar paket, kalau ada tambahan-tambahan maka harga keseluruhan akan melonjak. Sementara jika saya rencanakan sendiri, saya bisa berhemat di beberapa pos. Anak akuntansi banget ini, seratus dua ratus ribu jadi perhitungan :))

Hasil perhitungan itu saya kasih ke Ibu. Beliau manggut-manggut paham keinginan saya. Keluarga pun bisa menerima setelah beberapa kali saya negosiasi. Akhirnya saya diperbolehkan mencari venue lain.

Nah, cerita tentang survei  venue ini (termasuk pengelolaannya saat hari H yang lumayan menguras tenaga dan perasaan, haha) akan saya ceritakan dalam posting tersendiri.

Intinya ya dalam mempersiapkan pernikahan, komunikasi dan diskusi dengan pasangan itu penting. Jika pun orang tua tidak termasuk pihak yang ribet dalam perencanaan (beruntunglah kalian), mereka tetap harus diajak diskusi lho. Libatkan dalam pengambilan beberapa keputusan karena biar bagaimanapun mereka lebih berpengalaman. Nah saya serahkan ke ibu segala urusan tentang keluarga dan prosesi akad. Hal-hal lainnya beliau percaya pada saya. Ibu saya sebenarnya tipe yang kurang percaya diri dengan pilihan-pilihannya lho, takut anaknya ga suka terus ngambek. Hahaha. Sementara sebagian orang tua lain justru lebih dominan dan memaksakan keinginannya. Masing-masing ada tantangan tersendiri.

Saya pernah membaca sebuah survei di website pernikahan bahwa pasangan generasi sekarang cenderung merencanakan pernikahan yang simpel dan mengundang lebih sedikit tamu. Sebaliknya, tema dan konsep pernikahan akan lebih unik karena banyaknya informasi dan referensi yang bisa diperoleh dari manapun. Vendor pernikahan akan berlomba-lomba membuat diferensiasi mengikuti tren agar dilirik para calon pengantin.

Saya salah satu yang merasa bahwa memikirkan detail konsep pernikahan adalah sesuatu yang membuat tertekan – tapi anehnya – hal tersebut sangat menyenangkan! Untuk mempermudah hal tersebut, setelah konsep kasar sudah jadi, saya mendeskripsikannya dalam bentuk moodboard, timeline, dan list kebutuhan. Tiga benda ini saya jadikan pedoman. Moodboard adalah senjata saya untuk menjelaskan keinginan pada tim dekor dan menjaga saya tetap patuh pada tema. Timeline adalah pegangan saya dan tim rewang untuk memasikan kami masih punya cukup waktu persiapan. Sementara list kebutuhan tentu saja sangat membantu saya dalam memetakan apa saja yang sebenarnya perlu ada dalam tiap pos beserta budget yang dibutuhkan. Saya jadi lebih mudah mengutak atik alokasi budget tiap pos dengan adanya list ini.

Ketiga item tersebut masih saya simpan. Jika ada yang ingin intip-intip, boleh japri saya atau via komen ya. Soalnya ada beberapa yang sifatnya personal, malu kalo dishare di sini hehe.

dsc00169

Para bridesmaid yang banyak bantu selama persiapan, jadi teman diskusi dan curhat. Cantik-cantik pake flower crown dibecandain sama MCnya: Mba-Mba Snapchat :))

img_5240

Thanks to Cinta dan Tuhan! Minus Yusrina dan Icha, we miss you.

Jangan lupa untuk memetakan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki baik selama persiapan atau hari H. Nah, saya memilih untuk meminta bantuan pihak di luar keluarga saya secara profesional karena pertimbangan berikut:

  • Posisi saya dan calon suami yang sama-sama tidak di Jogja, Ibu yang sibuk merawat Eyang Putri, anggota keluarga besar yang berpencar hingga keluar pulau, membuat saya merasa bahwa menyerahkan sepenuhnya kepada keluarga bukan keputusan yang tepat.
  • Saya ingin keluarga saya tidak disibukkan mondar mandir mengurusi tamu, katering, bahkan ngatur parkir, karena sudah selayaknya mereka hadir untuk berkumpul, reuni, dan bersenang-senang.

Teman-teman yang saya mintai bantuannya ini ngga mau disebut EO tapi rewang, haha. Mereka membantu saya menyusun jadwal dan eksekusi saat hari H. Diketuai oleh Mas Pandu, tim ini isinya orang-orang yang baru pertama kali handle acara nikahan… Hahaha. Semuanya sama-sama belajar, alhamdulillah kehadiran mereka sungguh membantu saya. Mereka juga saya posisikan sebagai penengah antar keluarga apabila ada keputusan yang harus diambil saat hari H nanti. Untuk masalah keuangan saya serahkan kepada adik saya, dan masing-masing pihak keluarga tetap ada perwakilan yang dapat langsung dihubungi tim rewang apabila ada hal urgent yang harus didiskusikan.

Nah, hal paling bikin stress sekaligus paling seru adalah saat survei vendor! Waktu itu kok betah ya saya korespondensi dengan vendor via WA, email, dan alat komunikasi lainnya, ga kenal waktu. Survei vendor gampang-gampang susah, dan kalo boleh saya bilang dapat vendor itu jodoh-jodohan!

Survei vendor tidak saya lakukan secara bersamaan tetapi sesuai dengan timeline. Yup, timeline itu penting banget agar kita tahu apa yang harus dilakukan di minggu keberapa. Timeline itu juga yang membantu saya mengefisienkan jadwal pulang ke Jogja, bangkrut cuy kalo tiap minggu PP Jakarta-Jogja. Seminggu sebelum pulang saya pasti sudah sibuk kontak vendor, buat janji rapat dan ketemu orang-orang, atau sekedar menemani Ibu cari seragam keluarga. Kalau diingat-ingat betapa hectic dan padatnya dua hari dalam weekend itu, saya merasa kagum pada ketahanan tubuh ini hahaha.

Misalnya dekorasi vendor A baguuus banget, tapi budgetnya udah setengah dari budget nikah keseluruhan. Bayar katering darimana cyinnn. Venue B cantik banget, tapi manajemennya saklek kayak satpam. Katering C makanannya lumayan, tapi petugasnya ngebiarin piring kotor bertebaran. Pusing kan kalo gitu?

Saya paling sering coret vendor kandidat karena budgetnya ngga masuk dan jadwalnya sudah penuh, huhuhu. Beberapa vendor memang saya prioritaskan dengan budget lebih seperti katering dan make up, sementara penghematan saya lakukan di dekor, misalnya. Tapi saya pernah lho mencoret satu vendor dengan penuh emosi, padahal reviewnya bagus banget di mana-mana. Pertama, mereka menyepelekan janji pertemuan kami, padahal H-1 sudah saya konfirmasi ulang. Kedua, mereka memberikan foto portofolio palsu yang diakui sebagai hasil kerjanya! Lupa kali kalo bisa dilacak di Google. Langsung dong saya ilfeel, padahal kalo mereka mengakui bahwa portofolio untuk tema saya memang belum ada, saya akan maklum. Bhay lah sama yang begini.

img_4950

Kalau ambil paketan, saya ngga mungkin bisa didandani mba Arnie Suryo yang super baik dan talented.

dsc00289

Dapat flower bouquet sesuai keinginan saya dari Hanabira

img_5004

Oke muka mamase failed

dsc00133

Saya meminta dekorasi yang sederhana tapi dibuat dari bahan-bahan alami. Benji made it.

img_20160723_094816

Saat langit masih cerah :))

img_5390

Ini lho yang bikin acara saya jadi rame banget. Thanks Mas Gundhi dan Afgandhozz!

Justru pertemuan saya dengan vendor dekor terjadi ketika saya sudah lemes ngga nemu vendor yang klop di hati. Saya udah pesimis gitu saat menghubungi mereka. Eh si mba ternyata tanggap banget dan langsung ngajak ketemuan untuk ngobrol lebih jauh. Ketika saya tanyakan portofolionya di sosmed, mereka jujur bilang kalo ngga main sosmed hahaha (sekarang udah main tapinyaa) dan saya percaya aja gitu. Sekali ketemu, langsung lho klop obrolannya, tema yang saya pinginin langsung bisa ditangkap. Bahkan mereka banyak kasih saran soal penyusunan acara dan kebutuhan lain yang mungkin saya lewatkan. Kekurangannya saat itu hanyalah masalah koordinasi, karena komunikasinya bersifat segitiga, saya – tim rewang – tim dekor. Saya yang salah sih, meski sudah saya serahkan ke tim rewang, tetep saya pengen ikut ribet ngurusin, mereka jadi bingung harus koordinasi dan laporan ke siapa. Hahaha.

INI SEBENERNYA MAU NIKAHAN ATAU BIKIN SEMINAR SIH?? Serius amat. Hahahaha. Tapi ya bener, 11-12 lah mereka nih. Bedanya, bintang tamunya kita sendiri :)))

Jika susunan acara telah disiapkan, list kebutuhan mulai bisa dipenuhi, jangan lupa untuk bersiap dengan plan cadangan. Kondisi terburuk, naudzubillah, meski telah kita antisipasi, masih mungkin hadir. Memang siapa kita sih bisa atur-atur? Allah lah yang atur semua, dan kita hanya bisa berusaha.

Nah kondisi terburuk untuk saya yang akan mengadakan pernikahan di luar ruangan, di kaki gunung Merapi adalah: hujan! Mending kalo mendung anginnya sepoi-sepoi, nah tambah semangat kan nyeruput soto nya. Gimana kalo yang datang adalah hujan angin nan dingin? Iyaaaa, itulah yang terjadi saat resepsi saya. Padahal saat akad panasnya cetar-cetar sampe Merapi pun kelihatan. Nah tentang ini akan saya ceritakan di postingan tersendiri juga, karena perasaan saya campur aduk ketika tetes hujan pertama mengenai baju saya sore itu : )))

Terakhir, banyaklah berdoa dan tetap jaga kesehatan! Ini yang suka dilupakan sama calon pengantin. Memforsir diri untuk persiapan tapi lupa jaga diri, eh pas hari H malah ambruk karena sakit. Jangan sampai yaa…

Sebagaimana saran para orang tua, perbanyak berdoa dan ibadah sunnah bagi yang Muslim. Katanya sih, agar aura kita memancar di hari pernikahan nanti. Hahaha. Kalau buat saya tentu untuk menenangkan hati. Jikalau doa tidak dikabulkan Allah, paling tidak doa mampu menentramkan hati dan pikiran yang senantiasa kalut. Bisa dihitung jari deh dalam enam bulan itu saya berapa kali tidur bener-bener nyenyak.

img_5480

And the show must go on. You are the queen.

Pada akhirnya, kita sudah berusaha semampu diri memenuhi. Ketika persiapan sudah maksimal, meski kurang di sana-sini, tetapi di hari pernikahan nanti, nikmatilah apa yang sudah kita persiapkan ini. Ada yang kurang, pasti. Ada yang jadi omongan tamu, jelas. Tetapi bukankah saat berdiri di pelaminan ada anugerah luar biasa yang kita dapatkan.. yaitu pasangan halal yang tersenyum sama lebarnya, dan keluarga baru yang menerima apa adanya. That’s your day, so enjoy it!

#bersambung

11 thoughts on “#KinkinEdoRabi Bagian I: 101 Persiapan

Leave a Reply

%d bloggers like this: