Hai dan Maaf!

 

photo by Kresno Bagus @afteryoupicture

photo by Kresno Bagus @afteryoupicture

Hai dan Maaf.
Dua kata itu nampaknya paling tepat untuk memulai post kali ini. Enam bulan? Yaaaa, nyaris enam bulan lamanya saya tidak menulis di blog ini, bahkan menyapa teman-teman pun tidak ­čÖü Saya memohon maaf karena┬ákemalasan ke-hectic-an pada bulan-bulan yang lalu menumpulkan keinginan saya untuk membuat barang satu-dua post saja.

Alhamdulillah, akhirnya saya resmi jadi istri orang. Ga single lagi! Tapi tidur teteep sendirian #pejuangjarakjauh sementara Mamase berada di pulau seberang. Semoga saja ini hanya sementara, dan ada waktunya kami bisa berkumpul lagi.

Tulisan ini hanya akan menjadi awalan penyemangat saya untuk mengumpulkan dan menuliskan kembali memori-memori selama enam bulan tersebut. Saya banyak terbantu dengan tulisan-tulisan di blog orang mengenai persiapan pernikahan; mulai dari yang rempong bikin pengen mecah tabungan sampai yang sangat sederhana tetapi penuh makna. Pengalaman-pengalaman mereka membantu saya membuat konsep pernikahan saya pada akhir Juli lalu, yang walaupun penuh kekurangan di sana-sini tapi akan terus kami ingat sampai tua nanti. Saya memang mengurus sendiri sebagian besar printilan pernikahan saya, kecuali pada saat hari H saya menyerahkan pelaksanaan acara pada teman-teman EO (mereka ngga mau dibilang EO sih, katanya rewang. Okthx). Berangkat dari rasa terima kasih itulah, saya bertekad untuk membuat potongan-potongan cerita persiapan pernikahan saya siapa tahu ada yang punya keinginan atau konsep yang sama, saya akan sangat senang dapat berbagi.

Saya beruntung punya begitu banyak teman dari kalangan kreatif yang bisa dimintai tolong (secara profesional tentunya) sehingga saya tidak perlu menabung kecewa akibat keamatiran saya memilih vendor. Meski awalnya saya sangat ingin membuat seremoni pernikahan yang intim dan hanya dihadiri keluarga dan kerabat dekat, nyatanya saya harus berdamai dengan kondisi. Saya bekerja di sebuah instansi yang cukup besar dan punya rasa kekeluargaan yang kuat, kami berdua punya teman-teman kuliah yang masih akrab hingga saat ini, geng SMA yang masih membersamai, hingga teman-teman yang saya kenal dari dunia maya dan masih menjadi rekan diskusi. Belum kolega dari keluarga Mamase, tetangga-tetangga Ibu, teman pengajian, dan lain-lain, akhirnya kami memaklumi bahwa seremoni ini tidak seintim yang kami bayangkan sebelumnya. Tetapi rupanya kami justru bersyukur, kehadiran mereka membuktikan bahwa pernikahan kami diberkahi. Aamiiin…

Saya ingin sekali membagi postingan mengenai persiapan pernikahan saya dalam beberapa bagian. Sementara ini masih dalam tahap editing foto dan susun-susun kronologi (duilee gaya pake kata kronologi). Mumpung masih rada anget dan topik selanjutnya belum bergeser jadi calon buah hati hahaha (mohon doanya, ya!)

Chi trova un amico, trova un tesoro
Who finds a friend, finds a treasure..

Yes my Rifian Ernando, my lifetime bestfriend, my lifetime partner,
you’re my treasure.

3 thoughts on “Hai dan Maaf!

Leave a Reply

%d bloggers like this: