Wajah Bawean dalam Sebuah Jamuan Makan

 

Makanan sederhana yang selalu dirindukan, sarikaja adalah favorit saya

“Be’na tak ngakan? Eshon la mare masak cukok,” seorang wanita tua yang belakangan kusebut Emak, mengajakku makan. Saat itu aku tengah duduk di teras rumah Emak memperhatikan hamparan padi menguning di kejauhan. Buppak yang telah siap makan sedari tadi, ikut memanggil dari dapur.

Menu kami siang itu sebagaimana makanan penduduk di gemunung Bawean pada musim barat: nasi putih, singkong rebus, dan anak tongkol yang diasap. Nasi pulen yang dimasak dengan tungku, berasnya dihasilkan langsung dari sawah Buppak. Ganasnya ombak Laut Jawa di musim penghujan menghentikan pasokan logistik di Pulau Bawean, mulai dari ikan laut, sayuran, hingga bahan bakar. Pada musim inilah nampak kearifan lokal orang Bawean perihal bertahan hidup.

Kami makan di dapur berdinding bambu dan atap daun aren yang terpisah dari bangunan utama, duduk mengelilingi meja kayu lapuk. Di rumah sederhana di tengah pulau Bawean inilah aku bernaung sementara. Buppak memulai makan siangnya dengan menghisap sebatang rokok linting hingga habis. Nasi dan ikan yang dimasak oleh Emak makin terasa mantap dibubuhi sambal buja cappi. Kuakui ini adalah makanan favoritku selama berada di sini.

“Aiiih, nyamanna Maak!” ujarku sembari mengambil ikan kedua. Emak tertawa mendengar bahasa Bawean yang bercampur logat medokku.

Pulau Bawean dilihat dari kapal yang merapat ke arah pulau

Pulau Bawean dilihat dari kapal yang merapat ke arah pulau

 

Keseharian Emak dan Buppak, menganyam tikar dan jaring

Keseharian Emak dan Buppak, menganyam tikar dan jaring

 

Dari sawah inilah saya makan nasi enak setiap hari

Dari sawah inilah saya makan nasi enak setiap hari

Jika saja tingkat penghasilan tidak dijadikan indikator kesejahteraan masyarakat, mungkin orang Bawean bisa disebut berkecukupan. Ada beberapa bentuk kearifan lokal yang masih bertahan hingga kini. Bahan makanan dicukupi dari kebun dan laut. Bahan bangunan rumah diperoleh dengan mudah dari hutan dekat kampung. Tenaga kerja melimpah dari saudara atau tetangga dimana sistem aroyong (gotong royong) masih terjaga. Mata pencaharian tradisional sebagai nelayan dan petani berdampingan erat dengan tradisi orang Bawean merantau ke luar Indonesia. Tapi kini, ikatan kuat dengan ekosistem itu memudar seiring hilangnya tradisi kearifan lokal Bawean sementara kemakmuran dipandang hanya dari jumlah rupiah yang dihasilkan.

Sesungguhnya Pulau Bawean hanya bagai noktah di tengah Laut Jawa. Secara administratif, pulau seluas 195 kilometer persegi ini adalah bagian dari Kabupaten Gresik. Nyatanya Pulau Bawean memiliki ragam tradisi dan histori yang berbeda dari Jawa. Sayang, Bawean sekedar dianggap pulau kecil berpantai indah oleh sang induk sampai-sampai julukannya berupa “Bali dari Gresik”.

Saya menghargai pulau Bawean lebih dari sekedar tujuan vakansi. Di pulau ini saya tak pernah merasa kelaparan; tiap rumah membuka pintunya untuk pendatang. Sebagian masyarakat tinggal di pesisir, sisanya berada di balik gemunung dan hidup di desa-desa kecil nan asri. Lansekap Bawean cukup variatif, mulai dari pulau-pulau kecil berpasir putih di sekeliling Bawean, perbukitan yang mewarnai bagian tengah pulau, perairan biru tenang disusuri perahu nelayan, dan hamparan sawah di tepi sungai berair jernih. Lebih dalam lagi, Bawean menyimpan kisah menarik tentang akulturasi budaya Jawa, Madura, dan Melayu, serta situs-situs kuno yang menjadi saksi bisu bagaimana akhirnya penduduk Bawean seluruhnya memeluk Islam.

“Oi, pabanyak ngakanna Kikin! Mun mare ngakan nuru’a eshon ka saba, ja?” Emak memecah lamunanku. Ia mengajakku memanen padi, sebuah hal yang kunanti sejak kemarin. Sembari membersihkan meja, kutulis dalam memori otakku: keikhlasan Emak dan Buppak dalam menjamu tamu adalah potret paripurna wajah Bawean yang bersahaja.

**Tulisan singkat ini diikutsertakan dalam kompetisi Travelmate National Geographic Traveler, sayangnya belum juara. Hehehe.

26 thoughts on “Wajah Bawean dalam Sebuah Jamuan Makan

  • Journal kinchan keren banget mbaak.
    Setuju banget sama “tiap rumah membuka pintunya untuk pendatang”
    Waktu di bawean, bener-bener seminggu numpang di beberapa rumah warga. Dimasakin jugaaa 😮 Masyarakatnya sangat menyenangkan, plus bonus pemandangan alamnya yg bikin nagih. Mudah-mudahan bawean tetep kayak gitu ya, mbak. Petani, nelayan, merantau, dan pariwisatanya enggak ngerecokin hehe.

    • yup, seperti itulah Bawean, saya bilang sih salah satunya karena gotong royong masih sangat kuat, kekerabatan pun juga kuat, jadi semua tamu dianggap keluarga. berita A di ujung barat di hari yang sama bisa kedengeran di ujung timur. Sempiit bener Bawean hehe. Tapi menurut saya Bawean perlu bersiap untuk pariwisata yang lebih masif, kalau seluruh elemen masyarakat tidak dipersiapkan, akan gagap thd pendatang dan tentu saja, terhadap uang.

  • Salah satu alasan saya tertarik untuk bepergian ke Bawean adalah membaca jurnal perjalanannya Mbak di blog ini, jujur saya terpukau. Karena bagi saya, saya seperti mendapat gambaran sisi lain dari Gresik, yang selalu diidentikkan dengan industri dan terik siang yang menyengat hehehe. Thanks for sharing Mbak, 🙂

    • Dulu tiap balik dari acara di Gresik, dari kapal liat Bawean rasanya damai banget.. Hehehe inget Emak yang akan masakin ikan kering pakai nasi hangat. Sama-sama 🙂

    • Halo, salam kenal juga! Senang sekarang makin banyak media asli buatan orang Bawean, bisa mengobati rindu saya pada Bawean 🙂

  • Tulisan yang indah mba..Saya sering ketemu orang bawean yang merantau hingga ke negeri2 tetangga..mendenger cerita mereka dan sekarang membaca tulisan mba ini bikin saya pengen banget kesana. Maturnuwun!

  • Pingback: Cıvata
  • Wah Bawean. Punya kearifan lokal yg luar biasa ya. Btw, saya suka tulisan Mba Asri. Mengabdi cukup lama dengan dokumentasi yang apik dan mengispirasi. Semoga saya bisa belajar banyak dari Blog ini ya Mba 🙂

    Hidup merantau di LN menjadi pilihan mereka ya. Dengan hasil alam yg melimpah padahal.

    • halo salam kenal mas Hannif. Iya panggilan saya Kinkin, biar gampang diinget gitu :p
      salam kenal juga.. Bawean memang hasil alamnya melimpah, tapi karakter orang Bawean suka merantau, jadi mungkin lebih suka mencari penghidupan di negeri orang 🙂

  • Suka kak sama tulisan ttg kepulauan Bawean ini. Hampir sama dengan di Aceh, kita di sini juga menerima pendatang dengan ramah, Bahkan menjamu tamu layaknya orang yang sudah lama dikenal. Saya juga tertarik tentang sejarah bagaimana penduduk Bawean memeluk Islam secara menyeluruh.

  • Suka dengan tulisannya kak, mengalir layaknya air di pematang sawah. Saya tertarik tentang keramahan penduduk Bawean dan sejarah masuk Islamnya penduduk Bawean, Smga suatu saat bisa ke sana. Salam dari Aceh Kakak.

    • halo, salam kenal juga mas 🙂 iya, bumbunya ngga macem-macem, tapi karena makannya sama keluarga Serambah, jadi selalu terasa enak 😀

Leave a Reply

%d bloggers like this: