Pesona Lebaran Dua Kampung Halaman

Panganan yang dimakan bersama-sama di masjid

Home is where your heart is.

Saya lahir dan besar di sebuah daerah (yang konon istimewa) bernama Yogyakarta. Detak kehidupan di kota ini seakan telah menyatu dengan raga, sejak ia masih perawan dengan sawah dan ladang nan subur hingga kini ia mulai bersolek ditumbuhi pusat perbelanjaan dan hotel. Yogyakarta adalah perkara hidup yang senantiasa berubah dimana masa kecil yang diagung-agungkan sebagai masa yang indah kini sekedar bagian dari sebuah nostalgia.

Keluarga besar saya pun tinggal dan tersebar di Yogyakarta. Mereka ada di desa-desa di balik gemunung Kulonprogo hingga di tepian jalan padat di Kaliurang. Tapi tak pernah terbersit sekalipun kata bosan mengunjungi para sedulur ini karena tak tentu dalam satu tahun saya dapat bertemu dengan mereka barang sekali saja. Ada beberapa kerabat yang merantau jauh dari Yogyakarta dan saya bakal lebih jarang bisa bertemu, bahkan saya sampai sering lupa nama mereka.

Salah satu momen di mana kami bisa berkumpul adalah saat Idul Fitri. Hingga usia kurang lebih sepuluh tahun, setiap Idul Fitri saya pasti mengenakan baju baru yang dibelikan Eyang atau dijahitkan sendiri oleh Ibu. Saya mengenal dan menyukai traveling pun karena Idul Fitri. Saat itu Pakdhe saya akan mudik dari Kendari dan selalu terselip agenda jalan-jalan dalam silaturahmi kami. Pakdhe selalu tahu kemana harus membawa keponakan-keponakannya ini untuk menjelajahi daerah baru. Jika tahun lalu kami sudah ke gunung, tahun ini ia ajak kami ke pantai. Jika kami sudah bosan main ke Purawisata, ia akan arahkan mobil ke museum. Kebiasaan ini mulai jarang dilakukan sejak Eyang saya menjadi makin sepuh dan Pakdhe sendiri tak selalu pulang saat Idul Fitri.

Tradisi-tradisi lain menyambut Idul Fitri juga biasa saya lakoni saat masih kecil, mulai dari takbiran keliling kompleks rumah, berebutan dapat salam tempel dari om-tante dan tetangga sekitar, makan opor dan sambal krecek bikinan Eyang yang menggoyang lidah, hingga merasakan mewahnya shalat Ied bersama ribuan orang di lapangan Graha Sabha Pramana UGM. Saat beranjak besar, tradisi-tradisi itu makin saya tinggalkan (apalagi saya di Jogja aja gak kemana-mana) dan Idul Fitri dirayakan secara lebih sederhana.

Tahun lalu, saya mulai merantau. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh empat tahun hidup (ketahuan deh umurnya), saya terpaksa tidak dapat pulang ke kampung halaman. Ya, akhirnya saya merasakan punya kampung halaman dan di saat itu juga saya tidak dapat mengunjunginya. Saya berlebaran di Pulau Bawean! Hehehe.

Sebenarnya kebijakan kantor yang tidak mengizinkan kami untuk pulang kampung dan saya menghormati segala kebijakan tersebut. Tak ada salahnya pula merasakan kemeriahan perayaan hari suci umat Islam di sebuah pulau kecil yang yang penduduknya 100% beragama Islam. Pasti berbeda, dan pasti banyak hal baru yang bisa dipelajari.

“Besok Ibu jangan kaget kalau Lebaran di Bawean terasa sepi tidak seperti di Jogja,” celetuk salah satu guru di sekolah tempat saya mengajar.

Bawean mendapatkan pengaruh budaya Melayu karena banyak penduduknya yang merantau ke negeri jiran. Perayaan Idul Fitri di Bawean mungkin tidak semeriah di Yogyakarta atau kota-kota lain di Indonesia. Justru salah satu hari besar umat Islam yang dirayakan secara gegap gempita di Bawean adalah saat Maulid Nabi tiba. Tapi menurut saya, makna Idul Fitri di yang saya rasakan saat berada di Bawean justru lebih dalam dan lebih bersahaja.

Baju khas Bawean, dipengaruhi budaya Melayu

Takbir telah berkumandang di Bawean sejak ba’da isya di malam Idul Fitri. Di desa saya tidak ada takbiran keliling sehingga saya dan kakak angkat saya mencoba melihat keramaian di kecamatan. Di sana diselenggarakan takbir keliling tingkat kecamatan yang cukup meriah dan membuat macet jalanan Bawean yang tidak begitu besar. Beragam kendaraan pawai hias dibuat sangat unik, bahkan kadang terlalu unik sampai terlihat agak berlebihan maksudnya, hahaha. Oh ya, masyarakat Bawean cukup antusias terhadap acara-acara yang dilaksanakan di kecamatan, seperti pawai, gerak jalan, atau karnaval siswa SD. Kami tidak pernah kekurangan tontonan gratis, cukup duduk di tepi jalan Bawean (yang cuma satu mengelilingi pulau) tak perlu berdesak-desakan seperti di Malioboro, hahaha.

Macetnya jalanan Bawean saat malam takbiran

Keesokan paginya, Emak telah membangunkan dan mengajak saya bersiap-siap sejak subuh. Emak memasak berbagai panganan sejak kemarin untuk dibawa ke masjid. Shalat Idul Fitri dilaksanakan di masjid depan rumah yang tak begitu besar. Jamaah meluber hingga ke area halaman masjid. Di Bawean, masjid merupakan salah satu pusat kegiatan desa yang tak pernah sepi dari berbagai acara. Bahkan saya dulu sering melatih anak-anak menari di pelataran masjid ini.

Selesai shalat, kami langsung saling bersalaman dan bermaafan. Nah setelah acara salam-salaman inilah yang saya tunggu… Setiap rumah akan membawa satu nampan bulat besar berisi berbagai makanan seperti nasi dan gulai, ikan kela celok, buah hasil kebun, snack kering, sarikaje (ketan yang dilapisi campuran telur dan gula merah), dodol, wajik, dan panganan khas Bawean lainnya. Nampan makanan ini dikumpulkan kemudian dibagikan kembali ke warga di masjid secara acak. Kami makan bersama-sama tanpa menghiraukan bahwa isi nampan di depan kami tidak sebanyak nampan yang dibawa sendiri. Tidak ada batas antara kaya dan miskin, semua merasakan makan enak hari itu. Dan entah mengapa, saya merasakan bahwa masakan di Serambah rasanya hampir seragam meski dimasak oleh orang yang berbeda. Mungkin karena saking dekatnya dan sering mengadakan acara yang membutuhkan masak bersama, para ibu-ibu ini jadi punya pakem racikan yang serupa.

Ini disebut tradisi nyo’on, para wanita di Bawean telah terbiasa membawa berbagai barang dipikul di atas kepala

 

Acara setelah shalat Ied, semua warga berkumpul di masjid. Para ibu membawa masakan dari rumah masing-masing untuk dinikmati bersama

Selepas shalat dan makan bersama di masjid, tibalah saatnya silaturahmi keliling kampung. Sejak dua hari sebelumnya, saya bilang pada Emak bahwa saya ingin kunjungi semua rumah di Serambah. Saya lupa bahwa Emak kadang suka terlalu excited dalam bercerita. Alhasil esoknya, beredar berita bahwa Ibu Kinkin akan berkunjung ke rumah-rumah. Para ibu-ibu menyatakan bahwa mereka akan tinggal di rumah agar saya tidak kecelik saat datang kesana. Lah, jadi runyam. Hahaha.

Tak ingin ingkar janji, saya mengajak salah satu tetangga untuk menemani saya berkeliling. Ternyata rumah di Serambah banyak juga! Pukul 5 sore saya baru bisa mengunjungi 70% nya saja. Dan saat itulah saya baru tahu rumah murid-murid saya, si A ternyata anak Bu C, si D ternyata bersaudara dengan si E, dan sebagainya. Sambutan mereka juga sangat menyenangkan, kami tidak diperbolehkan pergi jika belum mencicipi panganan yang tersedia. Beberapa warga baru saya lihat dan saya kenal saat silaturahmi tersebut. Alamak, selama ini saya kemana saja?

Berkunjung ke rumah-rumah di Serambah

Kini saya punya dua kampung halaman dimana saya merasa seperti di rumah. Lebaran di Yogyakarta dan Bawean memang berbeda, tapi mereka punya pesonanya masing-masing. Yogyakarta selalu menawarkan gempita yang membuat jiwa selalu rindu untuk pulang, sementara Bawean dengan kesahajaannya mengingatkan saya bahwa Lebaran bukan saatnya untuk larut dalam simbol-simbol perayaan. Keduanya mengajarkan saya bahwa Lebaran adalah momen luar biasa untuk menjaga ukhuwah dan mempererat tali silaturahmi. Sayangnya tak banyak momen bisa saya abadikan karena lebih sibuk berkumpul dengan warga dan tak sempat memegang kamera terlalu lama.

Lebaran di tempat-tempat lain di penjuru Indonesia pasti punya kisah dan tradisi yang beragam. Bagaimana dengan suasana Lebaran di kampung halaman kalian? Mengapa tidak membagikan ceritanya melalui sebuah foto? A photograph tells us a thousand words. Yogyakarta dan Bawean saja punya cerita yang tak sama. Kota-kota lain pasti juga. Keberagaman ini yang akan selalu mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia.

Foto keluarga yang tak ternilai bersama Alm. Buppak

Yuk, bagikan momen Lebaranmu sekarang juga di Kontes Foto Instagram #PesonaLebaran! Ajak jutaan pasang mata lain melihat kekayaan kampung halaman kita masing-masing. Lebaran tak melulu soal ketupat dan opor ayam, salam tempel dan jabatan tangan. Cukup upload minimal 6 foto dalam sebuah photo series dan ceritakan secara singkat dalam caption foto. Siapa tahu terpilih, lumayan bisa menambah THR kan.. Informasi lebih lanjut mengenai Kontes Foto Instagram #PesonaLebaran bisa diperoleh melalui melalui link ini. Daripada foto-foto itu hanya tertumpuk di folder handphone, tunggu apalagi?

Sungguh, terasa betul nikmatnya hidup di negeri yang majemuk seperti Indonesia! Jadi, apa Pesona Lebaran terbaik di kampung halamanmu?

** Psst, tertarik menikmati pesona lainnya dari seluruh Indonesia? Kunjungi Indonesia.Travel dan persiapkan backpackmu!

5 thoughts on “Pesona Lebaran Dua Kampung Halaman

Leave a Reply

%d bloggers like this: