Penghujung Senja Buppak

Foto favorit alm. Buppak. Biar giginya tinggal satu, tetapi tertawa harus paling seru…

Kupanggil dia Buppak.

Lelaki tua berperawakan kecil yang penuh keriput, namun mata tajamnya masih memancarkan semangat untuk hidup. Tiap kutanya usianya, ia selalu menggeleng. Lupa kapan tepatnya ia lahir, sebagaimana para warga paruh baya di dusun kecil ini. Mungkin ia telah hadir semasa Jepang menginvasi Indonesia. Atau bahkan sebelum itu.

Buppak – sebutan untuk bapak atau ayah dalam bahasa Bawean – adalah kepala keluarga di hostfam saya semasa penempatan di Pulau Bawean. Beberapa kali mungkin namanya pernah muncul di blog ini. Bapak Misrudi, lelaki berdarah asli Bawean ini mau menerimaku sebagai anak angkatnya di rumah.

Yang paling kuingat dari Buppak adalah tingkahnya yang lucu dan selalu energik. Ia berbicara dengan suara yang keras, membuat ciut nyali lawan bicara yang belum mengenal. Tapi dibalik suara kerasnya tersebut, ia sebenarnya senang melucu. Guyon khas Bawean senantiasa terlontar dari mulutnya yang tak henti menghembuskan asap rokok lintingan.

Rutinitas di rumah Serambah yang selalu membuatku geleng kepala adalah saat pukul enam tiba. Aku, Emak, serta para saudara angkatku biasanya telah duduk manis di dapur yang terpisah dari bangunan utama rumah. Biasanya Buppak belum terjaga dan saat itulah teriakan Emak atau saudaraku, Norma, berusaha memanggilnya.

“Buppak! Tidur terus kerjaannya, bangun! Beri makan sapi, orang lain sudah kerja dari subuh, sudah pulang bawa rumput, Buppak malah belum bangun!” ujar Emak dalam bahasa Bawean. Sekilas Emak seperti orang marah-marah. Begitulah cara orang gunung berkomunikasi karena letak rumah yang saling berjauhan.

Tapi percayalah, itu tanda sayang. Tak pernah lepas Emak atau Norma membuatkan kopi untuk Buppak dan menyiapkan makanan khusus untuknya yang sudah tak punya gigi. Usai sarapan, Buppak akan pergi untuk ngarek (mencari rumput) di gunung dan mengurus sapi. Sapi milik keluarga kami memang hanya empat ekor, tetapi rumput harus terus dicari.

Awal saya berada di sana, pohon aren milik Buppak masih rajin mengeluarkan la’ang (semacam air nira). Ia pergi setiap hari memanjat pohon tersebut dan menyadap la’ang nya untuk dibuat gula merah. Jika pohon aren tak mengeluarkan la’ang, Buppak akan pergi bersama para tetangga untuk memanen sagu di hutan. Beratnya luar biasa dan aku heran Buppak masih kuat mengangkutnya berkilometer dari rumah.

Dan ia selalu bepergian tanpa alas kaki. Kulit kakinya lebih tebal dari sandal gunung sekalipun, tak jera ditusuk kerikil tajam atau dibasuh beceknya jalanan. Bahkan jika ia harus pergi dengan mengenakan sandal demi asas kesopanan, ia sering pulang tanpa membawa sandalnya lagi. Lupa.

Buppak adalah sebuah kamus hidup. Aku sering menghabiskan waktu di malam hari untuk mengobrol dengannya. Semua pengetahuan ia dapat dari pengalaman karena ia tak pernah menyelesaikan bangku sekolah. Bercocok tanam, mencari ikan di laut, atau beternak sapi. Jika siang ia membuat jaring ikan, satu demi satu lubang jaring ia rajut hingga akhirnya tertidur begitu saja di kursi. Emak akan selalu berseloroh setiap melihat Buppak tertidur, ‘Lihat Bu, itu namanya orang tua sudah tak punya gigi,’ kemudian kami tertawa.

Tiap aku pergi ke Jawa, Buppak akan selalu menitipkan hal yang sama: tembakau untuk rokok lintingnya. Padahal Buppak punya penyakit batuk kronis menahun. Tapi asap rokok tetap kencang terhembus dari mulutnya. Katanya, Tuhan tak pilih-pilih orang mati. Merokok atau tidak, dia akan tetap mati.

Terakhir menatap wajah Buppak, Emak, dan puluhan warga Serambah lainnya adalah saat perpisahan kami di dermaga Bawean. Buppak ikut mengantarkan karena ia bisa sekalian melihat-lihat kota. Jarang betul Buppak bisa ke kota, paling jauh ke laut yang hanya sepelemparan batu dari gunung. Saat itu Buppak mengenakan kemeja hijau kotak-kotak pemberian anak bungsunya di Malaysia, dengan topi merah andalannya, biasanya Buppak mengenakan kemeja batik panjang khas orang tua. Melihatku menangis, Buppak tidak ingin bicara apa-apa. Tatapan matanya sendu, bahkan ia tidak menjawab salamku karena menahan haru. Sebelumnya Buppak sudah berjanji sekaligus sedikit angkuh mengatakan ia tidak akan menangis ketika aku pergi dari Bawean.

Buppak memang tidak menangis, tapi aku yang kembali menangisinya karena seminggu lalu ia akhirnya pergi.

Sebulan tergolek di tempat tidur karena beberapa penyakit, Buppak akhirnya dibawa ke puskesmas di kecamatan. Ketika kulihat Buppak dari foto yang dikirimkan Bu Sofi lewat Whatsapp, hatiku mencelos. Lelaki yang kuat perkasa di masa mudanya ini kini hanya jadi tulang berbalut kulit. Aku tidak dapat berharap banyak dari pengobatan ini karena dua hal: Buppak dan keluarga tidak akan betah berlama-lama di puskesmas dan puskesmas pun tidak dapat diandalkan karena minimnya fasilitas dan peralatan. Hanya tiga hari di sana Buppak dibawa pulang dengan anggapan bahwa dukun akan lebih mujarab dalam mengobati.

Selama beberapa hari sepulang dari rumah sakit aku tidak pernah lepas menanyakan keadaan Buppak lewat Bu Sofi, guru SD tempatku mengajar yang juga sering menginap di rumah Buppak. Kukirimkan beberapa obat herbal yang sekiranya bisa meringankan sakit Buppak sekaligus memberikan saran tentang asupan makanan Buppak. Hanya itu yang bisa kulakukan, sementara untuk langsung pergi ke sana belum memungkinkan. Tapi obat herbal itu belum sempat dicoba Buppak.

Selang dua hari setelah anak bungsunya datang dari Malaysia demi menjenguknya, Buppak meninggal dunia. Ia pergi di tengah keluarga yang lengkap menemaninya dan menyayanginya sepenuh hati.

“Bu Kinkin, saya menyesal tidak bisa membantu merawat Buppak dengan baik. Kenapa waktu itu saya biarkan Buppak pulang dari puskesmas. Saya kadang-kadang masih marah sama diri sendiri, Bu,” ujar Bu Sofi lewat pesan whatsapp kepada saya.

Bu Sofi, saya menyesal karena saya terakhir kali hanya melihatnya dari jauh di dermaga. Saya tidak pernah menyangka itu pertemuan terakhir saya dengan Buppak. Saya menyesal jarang telpon Buppak, walaupun dia bukan orang tua kandung saya, tapi dia mau menerima dan direpotkan oleh saya.

Orang baik akan pergi dengan cara yang baik pula. Kali ini Buppak diberi jalan terbaik berupa kesembuhan dengan cara yang diberikan oleh Allah. Teriring Al-Fatihah untuk Buppak, semoga tenang penantianmu di sana.

 

61 thoughts on “Penghujung Senja Buppak

Leave a Reply

%d bloggers like this: