Jenis-Jenis Pengendara Motor di Jogja: Sebuah Pengamatan (Tidak) Ilmiah

Sebulan terakhir saya rutin membelah Jogja. Bagi yang rutin main atau bahkan asli wong Jogja pasti tahu meskipun daerah istimewa ini kelihatannya hanya seuprit di peta pulau Jawa, tapi luasnya nggak kira-kira. Hahaha. Jadi setiap hari kerja saya harus berangkat dari rumah di dekat Ringroad Utara (kampus UGM) ke kantor di wilayah kota Bantul yang jauuuuh di selatan. Karena itulah saya sebut ‘membelah Jogja’. Jarak tempuh satu arah sekitar 15an kilometer. Lumayan…

Nah, dengan jarak pulang pergi sejauh itu, saya tidak mau menghabiskan waktu, uang, dan tenaga untuk berlama-lama di jalan. Jadilah selama beberapa minggu pertama saya mencoba beragam rute pulang pergi demi mendapatkan efektivitas dan efisiensi maksimal! Pertama saya mencoba pulang pergi lewat tengah kota Jogja, menyusur jalanan utama nan padat yang saya biasa lewati. Daripada nyasar? Tapi saya bisa habis 1 jam lebih di jalan dan melewati lebih dari 15 lampu lalu lintas. Kemudian saya disarankan memutari Ringroad saja, karena meski lebih jauh lampu lalu lintas lebih sedikit dan jalannya tidak sepadat lewat dalam kota. Enak sih, hanya habis 35-45 menit saja di jalan, tapi lawan saya truk-truk gede dan bis AKAP. Akhirnya saya coba rute kombinasi (berasa pesen roti bakar) melewati jalan mblasuk lewat Goa Selarong dan akhirnya blusukan lewat Soragan. Waktunya tidak jauh beda dan tidak selelah saat saya menggunakan jalur Ringroad.

Jadinya curhat.


Dengan jarak tempuh sejauh itu dan beragamnya rute yang sudah saya gunakan, otomatis saya bertemu dengan ribuan pengendara lain di jalanan. Karena naik motor, yang sering menjadi fokus saya adalah sesama pengendara motor yang jumlahnya naudzubillah makin banyak sekarang. Memang dulu nggak banyak? Dulu sih sepi… Yang banyak sepeda onthel. Ya sama saja sih jalannya penuh, karena sudah jadi rahasia umum bahwa angkutan umum di Jogja itu bapuk 🙁

Dari kegiatan pengamatan selo tersebut saya mendapati bahwa pengendara motor di Jogja itu banyak tipenya dan ada-ada saja perilakunya. Suatu ketika saya iseng membuat status tentang ini di Facebook dan ngga disangka yang lain berbondong-bondong urun pendapat. Agar dapat dibaca dengan leluasa saya ingin tampilkan di posting kali ini. Siapa tahu ada yang mau nambahin lagi. Oh iya, saya suka menuliskannya dalam bahasa campuran Indonesia-Jawa karena terkadang ada guyonan yang jadi kemripik alias tidak lucu kalau diubah ke bahasa Indonesia.

blog199

 

Jadi setelah satu bulan rutin membelah kota Jogjakarta demi mencapai kantor di tengah Bantul, saya mengamati ada beberapa perilaku pengendara motor di Jogja yang bikin geleng-geleng kepala.
1. Cah (singkatan dari kata bocah) ndadak. Mau belok ndadak, mau berhenti ndadak, mau nyeberang ndadak. Beberapa kasus lebih ngeselin misalnya menyalakan lampu sen ke kanan tapi belok ke kiri.

2. Cah nyambi. Nyetang nyambi smsan (kelihatan gelagat dari belakang biasanya naik motor tidak stabil dan pelan-pelan) atau nyambi merokok. Luar biasa karena abu dan asapnya kemana-mana 😐

3. Cah priyayi. Naik motor pelan-pelan persis di tengah jalan sempit, ada mobil mau nyalip jadi kesusahan karena arah sebaliknya jg padat merayap.

4. Cah mbablas. Lampu lalu lintas sudah merah, tetap nggeblas. Lampu lalu lintas masih merah belum hijau tapi sudah klakson berkali-kali atau maju sampai garis zebra cross. Kalau di perlintasan kereta biasanya sampai naik trotoar atau memenuhi jalur berlawanan.

Lanjutan di bawah ini adalah komen dari teman-teman yang tidak kalah serunya 🙂

5. Cah mbuang sembarangan. Mbak2 ayu dan wangi mau tak kandani soale buang botol neng kali mambu..(Drajad Sarwo Seto)

6. Cah blong. Ono pengendara sing seneng ngeblong bangjo, mudah dan sering ditemukan di prapatan bioskop permata (ruteku bike to work). pengen tak antemi tenan tapi pitku kalah banter karo pit montor (Danar Wiyoso)

7. Cah ngrogoh. lagi ngrogoh (dirogohi) njungkel neng cerak selokan. *ngakak (Faizal Afnan)

8. Cah lalen. Sering juga orang setelah belok lupa matiin lampu sign padahal jalannya udah lurus2 aja. Ini jadi misleading juga. (Icha Maisya)

9. Cah idu. Pernah di jalan (Area pramita ngidul) nonton bapak2 pakai Mobil keluar gang udah ditengah mau nyebrang (posisi bener). Motor lain berhenti,e lha ada motor nggak mau ngalah malah ngidoni kaca Mobil. Satu kejadian lg,aku arep nyalip neng jalan plered. Seko arah berlawanan motore mecucu siap2 ngidoni, untung rasido. Ps: Sebaiknya pengendara Mobil bawa semprotan mrica atau air cabe. (Handisna Hashfi)

10. Cah ra sabar. Ada yg ngambil jalur berlawanan cuman buat mendahului truk/bis, padahal di arah berlawanannya penuh, dan ttp nekat ambil aja, mungkin si pengendara berfikir kalo kendaraan lawannya bakal ngalah dan minggir secara otomatis, meski ada jg yg berani dan hampir aja terjadi kecelakaan. (Yudi Anwar)

11. Cah ndlenger. Bocah numpak sepeda motor tapi ndelak ndelok tekan ndi ndi. Kuwi yo nyebelin. Mata dimana mata (Rakhmawati Agustina)

12. Cah bingung. Antara meh mandeg ato bablas. Anu ra ngerti dalan. Hehe (Eni Megawati)

13. Cah budeg. Yang pake knalpot brisik. (Gerindra Yusuf)

14. Cah ilang. Mlipir kiwo, sithik-sithik mandeg takon ancer-ancer. Njuk muter mergo kebablasen. (Aichiro)

15. Cah 2-tak. Motor ra tau diservis, kebul e ra umum. (Asyarakhul Imro Nurriza)

16. Cah curhat/cah reuni/cah pdkt. Ngobrol numpak motor sebelahan cekikikan gayeng tenan. Meh tak suguhi kopi karo gedhang goreng sisan oq. (Febrianti Nur Ajizah)

17. Cah galau. Sering banget ketemu dua jenis pengendara motor yang agak ngayeli: cewek galau dan ibu-ibu bimbang. (Arif Lukman Hakim)

18. Cah caper. Mereka akan melakukan hal-hal yang diharapkan menarik perhatian dan reaksi kagum dari pengguna jalan yang lain. Misal:
– tidak memakai helm, membiarkan rambut berkibar sambil pasang muka sensual bak model. Yg ini biasanya utk pengendara perempuan
– utk cah caper yg laki2: tidak memakai helm, ngebut dan melakukan manuver-manuver nyelap-nyelip yg berbahaya sambil sesekali mbleyer. Lebih nyebahi kalau knalpotnya yg jenis mbrebegi (Berto Rastu Dananto)

Gayeng euy komennya teman-teman saya. Oh iya jangan khawatir, di antara para pengendara motor dengan kelakuan unik bin ajaib ini, masih banyak pengendara motor di Jogja yang benar-benar berusaha taat aturan dan menghargai sesama pengguna jalan. Mungkin perlu saya tambahkan satu lagi:

19. Cah apik tapi tetap sial. Sudah menerapkan safety riding, patuh pada peraturan lalu lintas, ndilalah masih juga ketiban sial di jalan.

Kalau kalian termasuk yang mana? 🙂

IMG_4716
Paling enak ya naik sepeda, pagi-pagi udara segar dapat sehat pula. Diambil di Bantul, Nov 2014.

PS: Tadinya kata-kata dalam bahasa Jawa mau saya translate.. Tapi jadi susah sendiri karena banyak yang tidak saya temukan padanannya dalam bahasa Indonesia.

15 thoughts on “Jenis-Jenis Pengendara Motor di Jogja: Sebuah Pengamatan (Tidak) Ilmiah

Leave a Reply

%d bloggers like this: