Bertemu Emak Masnah Sekali Lagi

“Emak kapan ke Jawa?”
“Tak tau Buuuu.. Tak punya uang. Emak belum pernah ke Jawa..”
“Sekali-kali main Maaak. Biar tahu Gresik macam apa.. Tak tua di Bawean saja…”
“Tak tahuuu Buuu..”

(obrolan singkat di amben depan rumah pada suatu malam di Serambah)

Hari Jumat pukul satu dini hari. Bus Patas Jogja-Surabaya yang saya tumpangi rupanya menjadi bus terakhir yang berangkat dari Terminal Giwangan hari itu. Beruntung saya tak terlambat, bisa-bisa perjalanan-singkat-satu-hari saya akan berantakan. Dengan estimasi perjalanan 8-9 jam, sekitar pukul 9 pagi saya akan tiba di Terminal Bungurasih. Lumayan, bisa tidur nyenyak di jalan. Karena keesokan malamnya saya akan berada di bus ini lagi, kembali ke Jogja.

Apa yang membuat saya begitu bersemangat pergi ke Surabaya kali ini?


Masih ingat Kak Irul, kakak hostfam saya di Serambah? Kak Irul akan diwisuda sebagai seorang sarjana Agama Islam. Selama empat tahun terakhir memang ia menuntut ilmu di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah yang membuka cabang di Bawean. Proses kelulusannya sempat tertunda beberapa kali, maklum dosennya diimpor langsung dari Jawa. Tapi akhirnya kepastian didapat juga, akhir September ini ia diwisuda dan harus menyeberang ke Gresik.

Sebagai adik angkat yang melihat perjuangannya untuk lulus, tentu saya sangat bahagia. Saya masih ingat betul bagaimana Kak Irul mencoba menyelesaikan skripsinya sendiri di tengah godaan hebat untuk menyerahkannya pada jasa calo skripsi dan ia tinggal bayar. Ia sempat tergiur, tapi saya yang saat itu sok bijak mengingatkan bahwa ilmu akan barokah kalau diperoleh dengan jalan yang baik. Kalau diingat lagi, saya kepedean amat nasehatin ustadz. Berasa saya sempurna aja. Hahaha.

Ya begitulah. Mendapatkan referensi skripsi di Bawean memang sulit sekali. Boro-boro perpustakaan, buku bacaan kuliah saja minim. Sebagian besar referensi ia dapatkan dari internet (yang mungkin saja akan ditolak mentah-mentah dosen kalau yang melakukannya mahasiswa UGM – ya tapi anak UGM mah sumber ilmunya turah-turah) dan saya hanya membantu di penulisan ilmiah serta penyusunan hipotesis. Setelah melalui itu semua, pada suatu sore ia pulang dengan wajah berbinar dan bercerita pada kami bahwa ia telah lulus.

Hal kedua yang membuat saya bersemangat adalah: Emak Masnah akan menyaksikan sendiri anak sulungnya menjadi seorang sarjana. Saya mewek kalau ingat seumur hidupnya Emak belum pernah menyeberang ke Jawa, tepatnya Gresik, dan merasakan bagaimana detak kehidupan kota yang katanya satu wilayah kabupaten dengan Bawean itu. Ia menyaksikan Jawa dari layar televisi, dari sinetron-sinetron yang sering ia tonton di malam hari. Kak Irul sempat melarang Emak ikut dirinya, malu katanya. Pak Bonaim, guru yang dulu mengajar di Serambah dan ikut Emak selama 4 tahun lah, yang bersikeras meminta Emak agar ikut.

“Biar rasakan naik kapal dan tahu Jawa seperti apa, Mak. Nanti Emak harus menginap di rumah saya,” ujar Pak Bonaim.

Sayangnya Buppak dan Norma tak bisa ikut. Buppak terlalu sayang pada keempat sapinya yang harus dicarikan berkarung rumput setiap hari. Norma tak tega harus meninggalkan Buppak yang sudah sepuh sendirian tanpa teman. Apalagi dia sudah pernah ke Gresik dan bekerja di sana selama satu bulan.

“Kata Norma gantian Bu, dulu dia yang berangkat ke Jawa sekarang giliran saya, hahaha,” ujar Emak dalam bahasa Bawean, seperti biasa.

Akhirnya hari Kamis, mereka jadi berangkat dalam rombongan besar bersama para wisudawan lain dari penjuru Bawean. Usul sudah berangkat duluan jadi saya lebih mudah berkoordinasi dengannya. Sebenarnya saya ingin sekali hadir di wisuda Irul hari Sabtu, sayangnya saya tak punya banyak waktu. Alhasil saya luangkan hari Jumat untuk sekedar bertemu mereka meski hanya beberapa jam saja.

Ketika hampir tiba di Surabaya, saya baru mendapat info kalau Emak sudah ‘diboyong’ ke rumah Pak Bonaim di dekat perbatasan Tuban sana. Kak Irul dan Usul stay di kota. Dengan motor sewaan dan kemampuan spasial terbatas, saya dan Wana nekat melaju kencang di tengah Jumat siang yang panas. Karena biasanya lewat tol kota, kali ini kami kebingungan dan akhirnya mengambil jalan memutar. Butuh waktu hampir tiga jam dari Surabaya untuk mencapai rumah Pak Naim, menyusur jalan lintas provinsi bersaing dengan truk-truk besar dan bus antarkota. Belum lagi di beberapa tempat jalanan bergelombang dan rusak parah akibat sering dilewati truk raksasa kelebihan muatan.

Baru kali itu saya lihat wajah Gresik sesungguhnya. Selama ini saya hanya berkutat di kota saja, saya sempat puji habis Gresik karena terkesan ramah dan menyenangkan. Tapi begitu keluar dari pusat kota, saya menghela napas. Kota ini dilingkupi polusi dari asap-asap pabrik sepanjang jalan. Udara panas menyengat yang merupakan perpaduan hawa pesisir dan kungkungan asap membuat saya selalu berpeluh. Saya hanya tersenyum kecut mendengar Wana mempertanyakan kemana Gresik yang selama ini saya banggakan. Gresik dikuasai oleh pabrik dan industri, sementara banyak warganya yang akhirnya harus menjadi buruh di tanahnya sendiri.

Pak Naim sudah menunggu di tepian jalan menuju rumahnya. Seketika perasaan saya langsung lega seperti disiram seember air dingin di siang hari. Rumah Pak Naim terletak di Ujungpangkah, hanya selemparan batu dari muara Bengawan Solo yang tersohor itu. Di belakang desa Pak Naim terhampar perbukitan kapur nan tandus yang menjadi sumber pasokan utama pabrik-pabrik semen di Gresik. Setelah melewati satu kilometer jalanan kampung yang damai, tibalah saya di rumah Pak Bonaim yang bersahaja.

Perasaan terharu tak terbendung ketika melihat Emak berlari dari dalam rumah menyambut kami yang baru datang. Saya ciumi Emak yang sore itu mengenakan baju kurung hijau kesayangannya. Ia terlihat agak kelelahan, mungkin tak biasa bepergian terlalu lama.

“Ibuuuu, ibu akhirnya datang…” kata Emak sambil tertawa, sementara saya hanya bisa menahan tangis. Saya tak mengira bisa seemosional ini bertemu Emak.

Keluarga Pak Naim sangat hangat menyambut saya dan Wana. Tak henti hidangan mereka suguhkan untuk kami yang mungkin kelihatan kucel dan kelelahan karena tak henti berkendara. Akhirnya terjadi juga seperti yang saya ceritakan dalam posting Nostalgia Dalam Telepon, dimana kami para guru yang pernah ‘dirawat’ oleh Emak akan bernostalgia tentang masa pengabdian di Serambah. Bedanya, Emak kini mendengarkan langsung dua orang yang pernah ia asuh bercerita tentang masa lalunya. Oh iya, kini Emak makin pandai berbahasa Indonesia!

“Saya mabuk Bu waktu naik kapal. Kemarin akhirnya cuma tidur-tidur di penginapan,” Emak berkisah pengalaman perdananya naik kapal menyeberang Laut Jawa. Saya tertawa. “Saya aja mabok padahal sudah berkali-kali naik, gimana Emak endak?”

Melalui pertemuan singkat itu pula, saya banyak mendengar langsung kisah Pak Naim yang selama ini hanya saya dengarkan lewat Emak atau guru lain. Pak Naim adalah guru yang energik dan punya rasa keadilan yang kuat. Mungkin karena itulah ia dicintai masyarakat Serambah. Ia punya banyak cerita untuk dibagi, mungkin lain kali saya akan buat posting tersendiri.

Yang jelas, saya bahagia betul bisa kembali melihat Emak sore itu. Emak yang sehat dan tertawa seperti biasanya. Tak ada kecanggungan dalam diri Emak meski berada di tempat yang baru, dalam sekejap ia sudah bergabung dengan ibu-ibu tetangga yang kebetulan penasaran juga ada siapa di rumah Pak Naim.

Pukul lima sore akhirnya kami pamit pulang. Sebenarnya belum mau berpisah, rasa rindu ini masih meluap-luap. Pak Bonaim pun setengah memaksa agar kami menginap saja malam itu. Sayang, esoknya saya sudah harus berada di Jogja sehingga malam itu juga harus mengejar bus. Selain itu saya masih ingin bertemu Kak Irul dan Usul yang ‘tertinggal’ di penginapan untuk sekedar memberi ucapan selamat.

“Buuu, harus ketemu Irul ya.. Ada oleh-oleh dari orang Serambah. Orang tahu Ibu mau ketemu Emak, mereka titip oleh-oleh,” ujar Emak.

Malam itu, saya tenteng dengan hati berbunga-bunga sebuah kardus bertuliskan “Untuk Ibu Kinkin” berisi ikan kering dan kerupuk asli Serambah. Akhirnya saya bisa menemui Irul beberapa saat sebelum harus beranjak ke Bungurasih. Irul terlihat senang bisa mengunjungi Gresik lagi, untuk wisuda pula. Tapi saya juga tak kalah bahagia. Ada perasaan haru mengingat bahwa saya bukan lagi seorang guru tapi sampai kini mereka masih memanggil saya Ibu.

Selamat wisuda Kak Irul, semoga ilmumu bermanfaat bagi kamu, bagi Serambah, bagi Bawean, dan bagi masa depan generasi penerus. Dan selamat Emak, akhirnya Emak punya anak seorang sarjana. Pasti jadi kebanggaan untuk Emak yang lulus SD pun tidak. Kami, yang pernah diasuh oleh Emak, tahu betul bagaimana perjuangan Emak dan Buppak menyekolahkan anak-anaknya. Pintu sorga menunggumu, Mak. Amin ya rabbal al amiin…

 

Emaaaak… (abaikan muka kucel seharian kena debu jalanan)
Bersama keluarga Pak Bonaim

1 thought on “Bertemu Emak Masnah Sekali Lagi

Leave a Reply

%d bloggers like this: