Catatan dari Prau: Sejauh Mana Kita Bisa Menghargai Diri dan Alam?

yak yang antri yang antri….
(Gn. Prau, 14 Sept 2014)

 

Prolog (yang agak kepanjangan)

Saya bukan pendaki profesional. Kecintaan saya pada kegiatan alam bebas dimulai sejak bangku SMA, saat itu saya bergabung dengan organisasi sispala di sekolah. Sejak pendidikan dasar hingga kegiatan rutin selanjutnya bersama teman sispala, saya diingatkan betul untuk selalu menjalani safety procedure. Awalnya terasa repot. Saat melihat teman dari sispala lain bisa naik gunung dengan sandal jepit dan peralatan minim, kenapa kami harus repot-repot pakai sepatu tertutup, membawa ponco yang berat dan baju ganti pula? Kenapa kami tidak boleh buang sampah sembarangan di gunung atau membakar sampahnya agar tidak perlu kami bawa turun? Bahkan saat itu saya berpikir kami terlihat cupu karena mempersiapkan diri sebegitu ribetnya.


Lalu saya lihat para senior yang rata-rata saat itu sudah kuliah atau bekerja. Kok mereka boleh pakai sandal gunung? Kok tasnya kecil-kecil seperti tidak membawa banyak barang? Oh, ini senioritas ya buat ngerjain para junior, batin saya waktu itu.

Yah, lalu berjalanlah waktu. Jam terbang saya dalam kegiatan alam bebas sudah cukup banyak dan saya mendapatkan banyak sekali pengalaman sebagai pembelajaran. Kemudian saya amini bahwa ‘keribetan’ jaman sispala itu membuat saya belajar. Iya, kenapa sih saya harus ribet-ribet dulu?

Jadi begini pembelajaran yang saya dapatkan.

Saat menjadi anak baru di dunia kegiatan alam bebas, kami adalah orang-orang yang tidak banyak tahu. Anggaplah kami belum mengenal bagaimana diri sendiri akan bereaksi terhadap hal-hal yang terjadi nantinya saat berkegiatan. Mudahnya saja ya, saat mendaki. Kami dianggap sama rata, belum pandai mengelola logistik, belum tahu bagaimana menjaga suhu tubuh dengan baik saat di ketinggian, bagaimana harus bertindak jika ada kecelakaan, dan sebagainya. Ketidaktahuan tersebut ‘dijawab’ dengan peraturan untuk membawa peralatan mendaki sesuai standar yang ditetapkan pada saat kami menjalani diksar. Lalu saat di gunung kelengkapan tersebut diambil dan kami diharuskan bertahan dalam kondisi serba minim. Intinya limit harus ditekan habis-habisan. Barulah saat muncul satu-persatu masalah kami memahami betapa pentingnya kelengkapan tersebut. Tapi ya cuma bisa misuh-misuh karena kami sedang dikondisikan untuk survive dalam kondisi tersebut :))

Pokoknya masa-masa diksar adalah masa-masa failed yang bikin saya ketawa sampai sekarang. Walau sudah dapat teori tetap saja prakteknya saat di alam bikin bingung. Untunglah, waktu itu kami belajar di bawah pengawasan senior yang sudah lama makan asam garam dunia pendakian.

Nah, makin kesini saya makin bisa memilah mana yang sebenarnya saya butuhkan atau tidak saat mendaki gunung. Senior saya ada yang bersandal saat mendaki (tapi mereka tidak pernah sandal jepitan lho) karena memang skill mereka mampu untuk itu. Saya tetap usahakan selalu bersepatu karena saya ternyata tidak tahan dingin dan suka kurang stabil saat menapak lereng miring. Saya kini sudah bisa membuat estimasi logistik yang harus dibawa saat mendaki plus cadangan jika ada apa-apa. Saya bisa mengurangi bawaan karena menggabungkan fungsi berbagai perlengkapan. Tapi P3K dan survival kit pantang ditinggalkan.

Intinya, saya harus kenali kemampuan diri sendiri dulu untuk berkegiatan alam bebas. Jika merasa belum kenal atau belum tahu akibat jika tidak membawa A atau B, saya memilih untuk membawanya saja. Gaya mendaki gunung tiap orang berbeda sesuai skill dan pengalamannya.

Saya juga pernah ngeyel kok. Waktu itu musim hujan dan saya trekking ke Baduy Dalam bersama teman-teman. Karena posisi sedang magang di Jakarta, saya tidak membawa peralatan lapangan yang memadai dan memilih masa bodoh dengan itu. Saya pakai sepatu crocs karena berpikir ia fleksibel saat digunakan di medan berlumpur. Tapi saya akhirnya kapok! Saya juga pernah nekat pakai celana jeans saat mendaki Merbabu hanya gara-gara saya lupa menyimpan celana lapangan. Dan yak ternyata celana jeans bukanlah pelindung dingin dan air yang tepat. Dingin banget untung tidak hujan. Bisa-bisa hipotermia.

***Sejauh Mana Kita Mempersiapkan Diri?Weekend kemarin saya mendaki Gunung Prau (2565 mdpl). Dasarnya sudah rindu dengan gunung, walau teman-teman mengatakan bahwa Gunung Prau sangat ramai kala weekend saya tetap nekat berangkat. Gunung Prau memang menjadi salah satu destinasi pendakian paling hip tahun ini. Dan saya menjadi satu dari ratusan pendaki hari itu yang penasaran dengan keajaiban panorama Prau.

Hari Sabtu malam pukul setengah delapan kami mulai mendaki dari Pos Patak Banteng Dieng bersama 4 teman lainnya: Mas Prastowo, Mas Jo, Lingga, dan Anggi. Tempat parkir sudah dijejali ratusan motor, para pendaki berseliweran tak henti di sekitaran basecamp. Dari situ kami dapat melihat jalur pendakian yang ditandai dengan kelip-kelip senter mengular tak ada putusnya.

“Gila, di puncak kayak apa ramenya kalo begini?”
Kami geleng-geleng pesimis. Yang penting rasa rindu mendaki bisa terobati kali ini.

Sejak dari basecamp kami sudah menemukan pemandangan unik yang bikin hati berdesir. Sebagian pendaki tidak melengkapi dirinya dengan standar pendakian yang memadai. Ada yang bersandal jepit, sepatu crocs, sandal hotel, bahkan wedges. Pakaiannya pun gaul dengan celana jeans ketat dan jaket tipis. Wot? Tapi saya masih berusaha santai karena saya pikir trek Prau cukup landai dan di atas sana tidak begitu dingin.

Eh lha ternyata…

Trek yang dapat ditempuh selama 2-3 jam ini ternyata lebih dari yang saya kira. Bagi yang pernah mendaki Semeru, mungkin trek Prau ini semacam Arcopodo mini. Berdebu, penuh batu dan pasir yang cukup licin, serta curam sampai harus berpegangan pada tali di beberapa titik. Ditambah banyaknya pendaki yang naik membuat trek rusak di sana-sini. Saya sampai memilih lewat jalur baru di kanan kiri trek utama karena di bagian tengah sudah sangat licin seperti perosotan -.-a

Belum lagi ternyata puncak Prau dinginnya bukan main. Sleeping bag saya tidak berhasil menahan hawa ala kulkas yang menerobos masuk. Padahal tenda sudah tertutup rapat dan dialasi matras dan ponco. Gila ini mah nggak bisa tidur! Tapi begitu keluar, di sebelah tenda saya ada beberapa pendaki tidur bergelimpangan begitu saja dengan sarung dan sleeping bag tanpa alas. Hanjir! Ini maunya irit apa ngga sayang nyawa?

Terhitung lebih dari 100 tenda didirikan di puncak Prau malam itu. Cendol? Iya. Ya tapi kita tidak bisa mengeluh karena gunung ini jadi super ramai. Semua orang punya hak untuk menikmati keindahan alam Indonesia. Yang membuat saya miris adalah, masih ada yang belum memahami dasar pendakian gunung serta memiliki tata krama sebagai seorang pendaki. Berperilaku di gunung jangan disamakan dengan saat di kota dong.

Saya mencatat ada beberapa hal yang saya kurang sreg saat mendaki Gunung Prau kemarin. Sayang sekali lho, padahal penduduk desa setempat sudah cukup profesional dalam mengelola wisata pendakian ini.

  1. Masih banyak yang membuang sampah sembarangan di area camping dan sepanjang trek. Padahal pengelola sudah memberlakukan denda bagi pendaki yang ketahuan buang sampah sembarangan. Ini memang masalah utama di gunung-gunung Indonesia (dan luar negeri) sih. Padahal, gunung bukan tempat sampah. Bahkan saat itu ada oknum pendaki yang melempar sampah 1 plastik besar dari atas saat kami antri di trek turun.
  2. Banyak yang tidak paham sistem antri saat mendaki gunung. Dahulukan yang turun, barulah Anda naik. Ada juga yang main serobot antrian dengan berbagai cara. Ada yang melewati antrian dengan membuat jalur baru di kanan kiri tapi gedubrakan lompat-lompat dan membahayakan orang lain. Ada yang lomba lari sama teman-temannya (satu kompi tiba-tiba lewat gerudukan sambil lari-lari, apa ngga bikin kaget?) Ada yang main perosotan tapi tidak memperhitungkan jarak jadi mengenai orang di bawahnya. Ada yang tidak hati-hati sampai membuat batu sebesar kepala menggelinding bebas dari atas dan membuat panik jalur di bawahnya. Problem? Yes.
  3. Saya selalu senang mendaki karena mendapatkan banyak teman baru di perjalanan. Meski tak kenal, kami pasti saling menyapa dan menghormati. Jika saya ingin mendahului pasti ucap permisi dan berusaha ngga bikin jalur berdebu karena lari-lari. Jika ada jalur yang berbahaya pasti saya ingatkan pendaki di belakang untuk hati-hati. Kemarin? Yah tetap ada segelintir yang menyapa, sisanya seperti anak baru gede yang sombong sama tetangga *yaelah tsurhat*
  4. Pukul 12 malam area camping masih sangat ramai oleh orang-orang yang (nggak tahu untuk apa) berteriak-teriak dan tertawa kebablasan. Padahal banyak orang yang butuh istirahat untuk bangun lebih awal demi mendapatkan sunrise di pagi harinya.
  5. Meski disebut gunung piknik sejuta umat, tetap butuh persiapan khusus untuk mendaki Prau. Minimal berpakaianlah dengan baik dan bawa logistik yang cukup. Kemarin saya lihat pendaki yang pakai sandal hotel akhirnya terpeleset berkali-kali saat turun. Mau nyukurin, kok jahat ya. Haha. Kenalilah batas diri sejauh mana kita bisa bertahan tanpa 1-2 barang. Kalau belum yakin, ngga usah ambil risiko. Nanti kalau di atas kenapa-kenapa, siapa yang repot? Ya orang lain juga.

Kegiatan alam bebas bukanlah kegiatan yang bisa dilakukan semua orang, dalam artian, perlu persiapan lebih agar kita selalu aman dan nyaman di jalan. Tidak ada yang pernah tahu kapan kita terkena musibah atau mendapat kesulitan. Cara terbaik? Ya berjaga-jaga dan pelajari dasar-dasarnya. Ini bukan tentang orang lain kok. Ini tentang bagaimana kita belajar menghargai diri sendiri meski di alam bebas sekalipun.

Jadi pendaki bijaksana yuk, karena kita tidak pernah berjalan sendirian.

 
*Foto-foto lain menyusul yaa, belum diedit >,<

15 thoughts on “Catatan dari Prau: Sejauh Mana Kita Bisa Menghargai Diri dan Alam?

Leave a Reply

%d bloggers like this: