Ini Dia, Keluarga Saya di Tanah Serambah!

Jadi ceritanya sudah satu bulan lebih meninggalkan Bawean tapi saya masih belum bisa move on. Masih sering teringat-ingat keluarga angkat saya di sana, kalau kangen hanya bisa nelpon atau lihat foto saja. Yap, saya bertekad nggak akan ‘pulang kampung’ ke Bawean sebelum menikah. Nikahnya kapan? Wallahu alam. *backsound tarakdungjes

Saya ingin memperlihatkan keluarga angkat saya di Serambah yang sangat saya cintai dan banggakan. Sebenarnya anak angkat Mak Masnah dan Pak Misrudi ada dua, yaitu Mas Tidar Rachmadi (PM pendahulu tahun pertama) dan saya. Kami sama-sama mengamini bahwa keluarga ini memang begitu hangat dan ngangenin. Dan ya.. kami sama-sama posesif ngga mau Mak Masnah si emak juara jadi emak kita bersama. Walau yang pasti Mas Tidar menang sih karena dia cinta pertama. Untung kakak keren satu itu lagi di Amerika jadi Mak Masnah bisa saya posesif-in sendirian. Hahahaha *kemudian ditimpuk Mas Tidar

Akhirnya, kini mereka menjadi bagian dari nostalgia saya.

Kiri ke kanan: Ulum (anak bungsu), Norma (si tengah), Irul (sulung), saya, Pak Misrudi dan Mak Masnah

 

ceritanya kami dibawakan baju kurung dari Malaysia, saya kembaran dengan Norma dan Asri (sepupu Norma). itu dua precil adalah keponakan Norma
heaa, kembaran bertiga, saya masih ngerasa canggung banget pake baju kurung. Hahahaha
inilah keseharian Emak dan Buppak kalau lagi ngga ke sawah atau cari rumput. Emak pintar menganyam tikar dan membuat berbagai kerajinan dari bambu. Buppak suka nganyam jaring buat cari ikan walaupun sekarang ga pernah ke laut lagi karena Ulum sudah ke Malaysia. Kasian Buppak ngga ada temannya 🙁
kalau selow dan ada rejeki kami suka main ke pantai dan bakar ikan tongkol
Emak, Buppak, dan Mak Suma (kakak Emak) setia menunggui dan bantuin saya packing oleh-oleh dari warga Serambah ketika akan pulang ke Jawa bulan lalu. Kangen euy!
ini dia alat perontok padi yang biasa digunakan saat panen. saya selalu diketawain kalo coba pakai ini karena padi sebatang-batangnya ikut masuk mesin semua :))
“Buppak, senyum!” Meski giginya tinggal satu, Buppak masih aja pede ketawa lebar
Emak salah satu warga Serambah yang paling rajin ngurus sawah dan tanah sawahnya banyaaak banget, diurus cuma bertiga sama Buppak dan Norma.

13 thoughts on “Ini Dia, Keluarga Saya di Tanah Serambah!

Leave a Reply

%d bloggers like this: