Suadi, Bisakah Berdikari?

Empat siswa laki-laki istimewa di kelas yang saya ampu. Suadi berdiri paling kiri.

Selalu memilih bangku yang sama di pojok belakang kelas, ia menumpuk semua buku pelajarannya di atas meja. Seragam merah putihnya yang beranjak kumal selalu alpa dikancingkan. Ah, bukannya lupa. Baju itu sudah kekecilan, bahkan celananya menggantung hingga di atas mata kaki. Bukan karena ia tumbuh terlalu cepat, usianya yang sudah terlalu tua untuk jenjang kelas lima.

“Suadi, ini huruf apa? Lihat, gendutnya di belakang,” ujar saya sembari menunjuk huruf ‘b’ pada kertas yang saya tulisi huruf-huruf dengan beragam warna. Tujuannya agar ia mudah mengenali perbedaannya. Saat itu, satu bulan sudah saya menjadi penduduk dusun Serambah.

Lama ia berpikir, hingga akhirnya terucap ‘d’ dari mulutnya. Lirih. Ia tak percaya diri. Saya menghela napas. Belum genap lima menit yang lalu saya memperkenalkan – tentu bukan pertama kali – huruf ‘b’ padanya, Suadi sudah melupakannya lagi. Mungkin pula Suadi sebenarnya tak lupa, tapi ia tak pernah bisa mengingatnya.


“Lihat baik-baik, kalau ‘d’ gendut di depan, d – depan, kalau ‘b’ gendut di belakang, b – belakang. Kita ulang lagi ya?”

Engghi (iya) Bu.” Wajahnya lelah, dan tentu ia ingin pulang. Beberapa kali dalam seminggu, Suadi pulang lebih lambat. Saat saya tidak harus buru-buru beranjak pergi, sepulang sekolah saya selalu berusaha memberikannya les membaca selama 15 menit.

Satu bulan memberikan les, meski tak setiap hari, Suadi mulai bisa membedakan huruf ‘b’ dan ‘d’. Tetapi tantangan untuknya belum usai. Ia harus dapat membedakan ‘u’ dan ‘n’, ‘m’ dan ‘n’, huruf ‘p’ dengan dua saudara sepupunya ‘b’ dan ‘d’, serta ‘c’ dengan ‘e’. Huruf-huruf lain sebenarnya juga tak begitu ia kenal, tapi tidak sesulit ia mengenal huruf-huruf berkarakter mirip di atas.

Lima belas tahun sudah Suadi – yang mempunyai nama kecil Rap’aeli – menghirup udara secara bebas ke dalam rongga dadanya. Sudah setengah masa hidupnya pula ia belajar mengenal huruf dan angka, berbahasa Indonesia, serta mempelajari ragam pengetahuan lainnya. Tujuh tahun Suadi duduk di bangku sekolah dasar, belum pernah sekalipun ia berteman baik dengan deretan huruf latin atau Arab. Suadi kesulitan membaca.

Awalnya saya pikir Suadi mengidap diseleksia. Ia tidak mampu membedakan huruf-huruf yang memiliki karakter mirip. Tetapi setelah membaca beberapa referensi, saya dapatkan informasi bahwa penderita diseleksia biasanya punya keahlian yang sangat menonjol di bidang lain. Sayangnya, saya belum menemukan mutiara macam apa yang terpendam di dalam diri Suadi. Memang, ia begitu suka sepakbola. Tapi kesukaannya pada olahraga beregu tersebut senormal anak-anak lain yang juga menyukainya. Suadi pun agak kesulitan merespon pertanyaan dan percakapan dalam bahasa Indonesia. “Engghi.” Selalu, satu kata itu yang ia gunakan untuk menjawab pertanyaan saya.

Meski kebingungan membaca, ia bisa membedakan angka-angka. Suadi masih bisa berhitung selama angka tersebut cukup untuk dihitung dengan jari-jarinya. Entah, apakah ia memahami penjelasan selama saya mengajar di depan kelas. Tetapi, ia tak pernah membuat ribut. Ia hanya diam – menanggapi dengan berkedip atau menguap – berusaha menulis apa yang saya tulis, dan sesekali saya menemukannya tertidur. Terkadang untuk membuatnya sibuk, saya memberikannya soal-soal matematika sederhana atau memintanya menuliskan huruf-huruf.

“Bu, apa Suadi bisa naik kelas Bu? Dia kan tidak bisa membaca. Besok bagaimana ujiannya Bu?” anak-anak lain selalu menanyakan hal yang sama pada saya. Mereka nampak khawatir sekaligus iba pada teman-tak-sebaya nya tersebut. Saya hampir selalu menjawabnya dengan tersenyum sembari berujar,”Ibu masih berusaha mengajarinya membaca. Kalian sebagai temannya juga harus maklum, ya.” Hebatnya, anak-anak didik saya tak pernah menghina Suadi. Bahkan mereka sering membantu Suadi membaca atau menerjemahkan perkataan saya.

Saya selalu khawatir jika Suadi tak masuk kelas. Saya takut ia tiba-tiba berhenti begitu saja karena merasa sudah tak ada gunanya lagi bersekolah. Saya takut Suadi putus asa. Apa yang lebih menyedihkan daripada manusia yang tak punya harapan?

Biasanya saya akan mencarinya sepulang sekolah. Dan ia selalu di sana, di durung dekat jalan kampung. Suadi sering harus membantu orangtuanya mencari rumput untuk pakan sapi atau melakukan pekerjaan lainnya sampai mengabaikan sekolah. Suatu ketika Suadi tidak masuk sekolah, dan saya melihatnya menggendong adik perempuannya pergi ke sebuah warung. Ia rupanya harus menjaga sang adik sementara orangtuanya bekerja. Seketika, saya kehabisan kata-kata.

“Mungkin kamu adalah orang terakhir yang akan mengajarinya, Kin.” Guru muda pendahulu saya mengatakan hal tersebut lewat sebuah percakapan singkat. “Saya takut jika kondisinya seperti itu, Suadi akan segera berhenti dari sekolah.”

Bulan kelima sejak penempatan saya di dusun Serambah.

“Suadi, ini huruf apa?”
“Be,” jawab anak itu, lirih.
“Betul. Suadi, huruf yang seperti kursi ini namanya apa?”
“Ge.” saya menghela napas.
“Suadi, kita ulang dari awal ya. Ini huruf apa?”
“De.” Huruf yang tadinya ia sebut ‘b’, kini menjadi ‘d’. Ia lupa lagi.
“Suadi, kamu bingung ya melihat huruf-huruf ini?” tanya saya dalam bahasa Bawean yang kaku. Anak itu mengangguk pelan. Ada diam sesaat, saya biarkan ia berpikir.
“Bu, saya mau bisa baca.” Akhirnya ia berbicara pendek.Pandangannya tak berpindah dari kertas huruf yang saya bawa. Saya tahu, ia benar-benar serius. Suadi, saya masih memiliki enam bulan tersisa untuk berusaha agar kamu dapat membaca. Dan saya berjanji saya akan berusaha sejauh apa yang saya bisa.

 

Bulan kedelapan sejak penempatan saya di dusun Serambah.

Bangku paling belakang itu sudah tak berpenghuni sejak awal semester dua lalu. Suadi, ia memilih kalah perang melawan suara-suara sumbang di sekitarnya. Suadi mengeluh pada orang tuanya bahwa tubuhnya yang terlalu besar sudah tak cocok untuk belajar di sekolah dasar pun kemampuannya yang berjalan di tempat. Di belakang Suadi, tetangga sekitar mencemoohnya. Orang tua Suadi berkali-kali berbagi keluh kesahnya, tapi mereka pun akhirnya pasrah Suadi berhenti sekolah.

“Ibu, bagaimana jika Suadi tak punya ijazah. Nanti Suadi tidak bisa cari kerja, tidak bisa nikah, siapa yang mau sama orang yang tidak bisa membaca. Tapi bagaimana mau dapat ijazah Bu, membaca soal ujian saja dia nggak bisa. Tiap Suadi saya suruh sekolah, dia selalu bilang, ‘Saya benar-benar tidak tahu…’ mukanya sedih. Saya jadi tidak tega suruh Suadi sekolah. Akhirnya dia bantu saya cari rumput sama jaga Diva.” Kira-kira begitulah Bapak Suadi bercerita dalam logat Bawean yang khas.

Saya, sebagai seorang guru, merasa gagal karena telah kehilangan salah satu murid teristimewa. Saya merasa bersalah karena pernah jenuh mengajarinya. Saya merasa bersalah karena saya malas membuatnya bisa membaca. Inilah salah satu turning point di mana saya merasa bahwa kehadiran saya bukan untuk menyelesaikan semua masalah.

Beberapa hari lalu saya lihat Suadi ikut serta dalam pertandingan bola antar dusun yang diadakan di Serambah. Wajahnya nampak lebih dewasa, suaranya berat dan dalam. Rambutnya panjang, ia tak lagi dibatasi peraturan dalam ruang-ruang kelas. Suadi langsung menghindar ketika tahu saya juga ada di sana. Semoga ia masih mendengar sayup-sayup suara saya memanggilnya namanya.

Suadi, berdikarilah dengan caramu sendiri.

P.S: Berdasar diagnosis seorang ahli yang menangani anak berkebutuhan khusus, Suadi adalah seorang slow learner, entah tingkatannya apa. Satu-satunya harapan untuk Suadi adalah Sekolah Luar Biasa (SLB) yang sayangnya, belum ada satu pun di Bawean. Kisah seperti Suadi ini tidak hanya terjadi di Serambah, ada beberapa kasus serupa anak berkebutuhan khusus yang terpaksa berhenti karena ketidakmampuan sekolah memberikan pendidikan yang sesuai. SDM nya tak ada, kurikulumnya tak sesuai. Gresik, inklusi mu untuk siapa?

4 thoughts on “Suadi, Bisakah Berdikari?

Leave a Reply

%d bloggers like this: