Dalam Tiga Puluh Menit

Hanya kurang lebih tiga puluh menit saya mendengar suara khasnya setiap kami bertemu dalam telepon. Mendengar suara tawanya, saya hanya bisa membayangkan ia di sana tergelak menampakkan gigi-giginya yang putih dengan perut naik turun. Mendengar ia bercerita, saya hanya bisa membayangkan ia di sana tengah duduk sendirian dalam remang lampu karena ditinggalkan oleh orang-orang rumahnya. Mendengar ia menguap, saya membayangkan ia bersandar di dinding dengan mata berat tetapi tetap ia tahan demi komunikasi yang terus terhubung.

Awal cerita kami sangat berbeda. Saya begitu dimanja oleh kebaikan penduduk yang tidak membiarkan saya kelaparan dan tanpa tempat tinggal, sementara ia di sana sendirian harus membeli makan di warung dan tidur tanpa ditemani keluarga angkatnya. Di sini air melimpah saya gunakan untuk mandi dan mencuci, di sana ia harus pergi ke sungai berair cokelat untuk sekedar membersihkan pakaian-pakaiannya.

“Kebingungan kita berbeda. Aku bingung harus menerima tawaran menginap di rumah yang mana, sementara kamu bingung malam ini harus tidur di mana.” ujar saya, diselingi gelak tawanya yang miris.


Mungkin ada satu sisi di mana ia lebih beruntung dari saya. Lokasi desanya yang berdekatan dengan dua BTS provider utama yang ia gunakan membuatnya dapat terhubung dengan dunia luar kapanpun ia mau. Sementara saya yang harus menggunakan sinyal-tempel-tembok terpaksa membatasi komunikasi karena sulitnya menelepon atau sekedar berkirim pesan. Saat-saat di mana saya terpapar sinyal lebih banyak akan selalu saya manfaatkan untuk memberi kabar semua orang; termasuk menelponnya selama tiga puluh menit tersebut untuk sekedar mendengar suaranya dan mengetahui apa yang sedang ia lakukan di sana.

“Di sini tabungan syukurku penuh hingga tumpah. Begitu banyak hal sederhana yang aku syukuri, betapa aku selama ini tidak pernah puas dengan kehidupan yang aku jalani.” Ia nampak begitu bersemangat menanggapi perkataan saya,” Iya nduk, semuanya mah disyukuri dan dijalani saja, nggak ada gunanya mengeluh. Kadang-kadang aku malah tertawa sendiri kalau menghadapi kesulitan-kesulitan, kita nikmati aja lah ya.”

Setelah berbulan-bulan sebelumnya kami selalu bertemu setiap hari tanpa jeda, kali ini kami hanya dibatasi tiga puluh menit dalam suara. Tiga puluh menit yang begitu cepat, begitu melenakan. Pun tidak setiap hari. Tapi ini kami syukuri. Akan ada lebih banyak doa yang saya layangkan untuknya dan sebaliknya.

Kita bertemu setahun lagi, berjanjilah masing-masing kita akan menjadi orang yang lebih layak untuk sesama, ya? 🙂

3 thoughts on “Dalam Tiga Puluh Menit

Leave a Reply

%d bloggers like this: