Belajar dari Sebuah Kelas

Anak-anak adalah pengkritik yang paling jujur.

Sejak tiga purnama lalu, panggilan untuk saya berubah. Saya tidak lagi mengendarai motor kemana-mana untuk melakukan hal-hal yang saya sukai, kini pagi saya diisi dengan berjalan kaki mendaki bukit diiringi teriakan “Ibu Guru!” dari penjuru sekolah. Saya punya ruang kerja sederhana – sebuah kelas yang diisi dua rombongan belajar tanpa sekat yaitu kelas 5 dan kelas 6. Sebagai seorang yang sebelumnya mempunyai nilai transaksi sosialisasi rendah – atau dengan nama lain suka menyendiri – saya dipaksa bertemu dengan banyak orang.

Enam puluh anak yang saya temui hampir setiap hari, lebih dari sekedar angka statistik. Mereka adalah manusia-manusia kecil yang punya kemampuan mencontoh lingkungan lebih hebat dari seekor bunglon yang menyamar. Cerminan perilaku masyarakat – kita sebut saja begitu – adalah anak-anak ini. Dan yang paling sering mereka temui selain orang tua mereka adalah guru di sekolahnya. Bahkan bagi beberapa anak, mereka bertemu dengan gurunya lebih sering daripada mereka bertemu dengan orang tuanya di rumah.


Dulu, salah satu alasan saya mendaftar menjadi guru bantu adalah karena saya ingin belajar menjadi pemimpin. Dan menurut saya yang paling sulit serta menantang adalah memimpin anak-anak. Mengapa? Kita tidak hanya memimpin mereka, tapi kita juga ikut mencetak isi kepala mereka. Di tengah kondisi dusun saya dimana banyak orang tua mengabaikan perkembangan anak-anaknya, guru memiliki peran sangat besar untuk mendidik para generasi muda ini. Generasi yang pada 20-30 tahun lagi akan memimpin Indonesia. Bolehkah saya bilang, para guru memimpin para calon pemimpin bangsa.

Saya merinding sendiri menulis ini.

Punya kewajiban mengajar semua mata pelajaran di sebuah kelas setiap hari menjadi tantangan tersendiri. Saya begitu ingat masa SD ketika saya merasa sangat malas untuk berangkat ke sekolah karena saya gurunya membosankan. Saya tidak mau hal yang sama terjadi pada anak-anak didik saya sekarang; mereka malas datang ke sekolah karena malas bertemu dengan gurunya. Anak-anak adalah pengkritik paling jujur. Kita bisa dengan mudah melihat binar matanya yang melemah ketika mulai bosan. Mereka akan dengan mudah mengatakan ‘Bu, saya tidak suka pelajaran ini!’ ketika kita tidak mampu menjelaskan sebuah materi dengan baik. Mereka akan senantiasa jujur tentang perasaan mereka di dalam kelas.

Dan rupanya, membuat suasana kelas menjadi hidup adalah pekerjaan gampang-gampang susah bagi seorang introvert seperti saya ini. Saya bekerja keras setiap malam memikirkan apa yang harus saya bawa keesokan harinya ke dalam kelas, untuk sekedar membuat mereka tertarik pada materi pelajaran. Satu dua kali berhasil, satu dua kali gagal. Feedback dari anak-anak adalah yang saya harapkan, dan kejujuran mereka dalam mengungkapkan pendapat menjadikan saya terus berkembang.

Saya belajar banyak dari sebuah kelas.

Saya belajar bagaimana mengatur anak-anak agar mau mengerjakan piket dan berdoa sebelum pelajaran dimulai. Saya belajar bagaimana memulai sebuah kelas dengan menyenangkan. Saya belajar bagaimana menyampaikan pendapat dan memberikan perintah. Saya belajar memberikan kritikan yang positif. Saya belajar memberikan semangat. Saya belajar mendengarkan dan memberikan tanggapan. Saya belajar menghargai. Saya belajar melerai perkelahian. Saya belajar mengatasi masalah antara saya dengan anak didik. Saya belajar untuk disukai. Saya belajar dalam setiap detik saya berada di kelas tersebut.

Mengisi sebuah kelas selama satu hari penuh rupanya sangat melelahkan. Tetapi, hal tersebut tidak dirasakan sepanjang kegiatan belajar mengajar. Barulah saat kelas mulai kosong dan saya mengunci satu-persatu ruangan, rasa lelah itu muncul. Ada helaan nafas panjang tanda kelegaan setiap anak terakhir beranjak pulang ke rumah.

Mungkin sebenarnya, saya tidak layak menjadi guru. Ilmu kependidikan saya mungkin jauh dari cukup. Saya mungkin tidak pandai mengajarkan matematika karena sebenarnya sayapun membenci matematika. Tetapi, ada satu tekad kuat yang membuat saya terus (berusaha) bersemangat untuk melakukannya.

Saya yang akan menjadi guru untuk anak-anak saya nanti.
Saya yang akan memberikan kepada mereka sebaik-baiknya pendidikan.

Dan ruang kelas saya sekarang ini adalah tempat saya belajar. Seperti apa yang senantiasa dikatakan oleh Anies Baswedan, “Pimpinlah kelas besarmu dengan memimpin kelas kecilmu terlebih dahulu.”

Cinta pertama saya: Suadi-Hafiz-Rasi-Mila-Kisra. Sanwadi, murid keenam, sedang terlalu malas masuk sekolah. 

26 thoughts on “Belajar dari Sebuah Kelas

Leave a Reply

%d bloggers like this: