Menjadi Pejalan Bahagia

Soleh, volunteer project Lebak, sedang mengajarkan konsep denah kepada anak-anak.
  Intro: Konsep berbahagia setiap orang berbeda. Yang ini, bahagia menurut saya, dan mungkin beberapa dari anda.

Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata vakansi? Dulu, saya sendiri langsung membayangkan destinasi dengan lansekap indah, bergiga foto dan video yang bisa dibawa pulang sebagai kenangan, kuliner enak dan perjalanan yang melelahkan, dan tentu saja bukti otentik berupa kulit yang menghitam.

Tetapi itu dulu.

Beberapa tahun belakangan ada hal baru yang selalu saya cari setiap melakukan perjalanan: interaksi. Entah dengan orang lokal atau dengan sesama pejalan. Semua itu membuat saya lebih bisa memaknai sebuah vakansi dan menghargai rupiah yang sudah saya keluarkan, yang bagi orang lain mungkin dianggap kesia-siaan. Kemudian perjalanan pun tak melulu soal fisik, tapi lebih kepada perjalanan hati.

Aih berat.

Saya pernah punya mimpi melakukan volunteering di Nepal. Tinggal di sana selama beberapa hari atau minggu, setiap pagi mengajar bahasa inggris anak-anak SD, sorenya mengajar ketrampilan ibu-ibu rumah tangga atau sekedar menikmati suasana kota. Kemudian mereka akan memberikan saya homestay nyaman, makanan yang mencukupi, serta panduan gratis berkeliling Nepal. Tentang kegiatan volunteering di Nepal pernah saya tuliskan di sini.

Arif menjadi favorit anak-anak di Desa Mekarsari karena sifat lucunya

Saya sempat bertanya-tanya, tidak adakah konsep yang sama yang diusung di Indonesia? Sebagai sesama negara dunia ketiga yang juga memiliki kekayaan destinasi wisata, buat saya berlibur sembari menjadi sukarelawan akan sama menariknya di sini. Selanjutnya, saya menemukan beberapa komunitas yang menawarkan konsep vakansi-sembari-berbagi ini meskipun sebagian besar dilakukan di Bali dan target utamanya adalah wisatawan asing.

Lah masa saya sebagai penduduk negara tujuan volunteer tourism tidak punya kesempatan untuk melakukan hal tersebut?

Seperti saya ceritakan di awal, dulu mana pernah saya kepikiran menjadi volunteer di tempat yang seharusnya bisa saya gunakan untuk berlibur. Ada satu momentum penting. Kira-kira dua tahun lalu saya melakukan KKN di Maluku Utara. Saat itu saya dan beberapa teman ingin KKN jauh karena sekalian bisa main-main. Kapan lagi pergi ke Timur, dua bulan ngendon di sana? Polos sekali kan saya waktu itu, hahaha.

Cara pandang saya kemudian berubah ketika mengalami sendiri nikmatnya dekat dengan warga lokal di tempat tersebut. Saya yang awalnya sudah simpan list tentang wisata andalan di Malut dan bertekad mengunjunginya satu persatu di sela KKN, kemudian justru betah tetap tinggal di desa. Awalnya saya masih ngotot pengen jalan-jalan tapi lama-lama ngga enak sendiri dengan teman-teman dan warga desa. Saya mulai hobi main ke rumah tetangga. Duduk-duduk santai dengan anak-anak atau memasak bersama mama depan rumah. Mencuci di kali atau main ke lapangan. Kebersamaan dengan mereka membuat saya sadar bahwa sebenarnya banyak sekali yang dapat saya lakukan untuk sebuah perubahan di tempat tersebut. Dampaknya memang kecil dan susah berkelanjutan. Tetapi bisa berbagi apa yang dipunya, yaitu ilmu dan pengalaman, rasanya lebih menyenangkan daripada sekedar bisa membawa ribuan foto dokumentasi ciamik. Memang, saat itu apa yang saya sebut berbagi lebih merupakan sebuah kewajiban karena proporsi saya sebagai mahasiswa KKN yang dikejar laporan, sehingga belum bisa disebut pekerja sukarela.

anak-anak di depan perpustakaan yang baru selesai dibuat
anak-anak menyempatkan datang pagi membaca buku sembari menunggu kami bersiap-siap ke sekolah

salah satu penampilan pentas seni

salah satu kegiatan favorit mereka: menggambar dan mewarnai

yang ditunggu tiap pulang sekolah: ciuman dan lambaian tangan anak-anak yang beranjak pulang

Perjalanan-perjalanan selanjutnya, membawa saya lebih banyak interaksi dengan warga lokal. Memperluas zona nyaman, bukan meninggalkannya. Puncaknya ketika saya mengikuti program Book For Mountain berupa proyek membangun perpustakaan di sebuah SD di Lebak, Banten. Ini adalah salah satu pengalaman volunteer-tourism saya yang paling berharga. Lari dari hingar bingar kota, menepi ke desa, dan dimanjakan oleh keramahan orang-orang di sana. Beraksi sosial dengan membangun perpustakaan dan rutin mengajar anak-anak SD, dari pagi hingga sore, di sekolah maupun di pondokan.

Bentuk vakansi yang kami lakukan itu benar-benar mengajarkan tentang pentingnya berbagi. Betapa sekecil apapun ilmu yang dibagikan, mungkin saja dampaknya begitu besar bagi mereka yang menerimanya. Pengalaman ini mengajarkan tentang arti perjuangan hidup dan memanusiakan manusia. Banyak dari kita yang memperlakukan orang-orang di destinasi wisata sekedar sebagai objek. Tidak dianggap. Dalam konteks ini, saya justru mendapatkan berbagai ilmu dan cerita baru yang memperkaya. Yap, jangan salah. Pengalaman ini akan memberikan kalian kesempatan untuk belajar banyak tentang hal-hal yang tidak mungkin didapatkan di bangku sekolah.

Memang sih, tidak banyak pejalan yang mau merepotkan diri melakukan perjalanan seperti ini. Sudah harus mengeluarkan uang sendiri, eh di tempat tujuan malah disuruh bekerja. Mungkin ada pula yang kurang setuju dengan konsep ini. Jalan mah jalan aja, kerja ya kerja. Heits, bukankah lebih baik kalau sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui? Jangan kaku-kaku amat gitulah. Selama bahagia bisa dibagi, kenapa tidak? *kasih senyum paling manis*

Ingin punya pengalaman yang sama (atau lebih menyenangkan)? Coba ikut voluntourism yang rutin diadakan oleh Book For Mountain. Para penggagasnya masih sangat muda, bahkan beberapa masih aktif kuliah. Sejauh ini mereka sudah mengadakan dua kali voluntourism di Bromo dan Pulau Sebesi. Berlibur sambil beraksi sosial, literally. Selain itu ada beberapa project membangun perpustakaan seperti di Asahan, Sumut dan Lebak, Banten. Karena berbasis komunitas dengan asas patungan, uang yang dikeluarkan untuk akomodasi tidak akan bikin kantong kering. Sila mampir ke website Book For Mountain.

Banyak cara menjadi pejalan yang bahagia. Tunggu posting selanjutnya ya, saya ingin berbagi tentang cerita pengalaman teman-teman saya yang juga pernah mencoba aktivitas semacam ini. Sungguh, mereka hebat-hebat banget. Bahkan ada yang secara aktif terlibat dalam berbagai komunitas volunteering. Segera! 🙂

14 thoughts on “Menjadi Pejalan Bahagia

  • Maharsi, menarik sekali perjalanan Maharsi ke Morotai dan Banten. Coba ditambahin dong tentang bagaimana bentuk-bentuk apresiasi rakyat setempat terhadap pekerjaan Maharsi dan kawan-kawan di sana. Misalnya bagaimana mereka menghargai perpustakaan untuk anak-anak yang sudah kalian bangun? Apakah mereka mengunjunginya secara sering? Apakah perpustakaan tersebut sampai sekarang masih eksis?

    • hai mba vicky…
      terima kasih banyak ya atas sarannya. orang2 di desa saya, belum semuanya memahami pentingnya buku dan perpustakaan. beberapa masih menganggap lebih seru nonton tivi daripada baca buku, hihihi. habit membaca buku yang ingin kami tanamkan di sana, sayangnya satu minggu tidak cukup sehingga ketika kami pulang, tugas tersebut diampu oleh guru SD setempat.
      kebetulan memang kami ada monitoring tiga bulan pasca perpustakaan dibangun tapi saya belum mendapatkan laporannya dari tim monitoring. jika sudah diupdate, segera saya tambahkan disini 🙂
      makasih sudah mampir ya mbak..

  • Maharsi, menarik sekali perjalanan Maharsi ke Morotai dan Banten. Coba ditambahin dong tentang bagaimana bentuk-bentuk apresiasi rakyat setempat terhadap pekerjaan Maharsi dan kawan-kawan di sana. Misalnya bagaimana mereka menghargai perpustakaan untuk anak-anak yang sudah kalian bangun? Apakah mereka mengunjunginya secara sering? Apakah perpustakaan tersebut sampai sekarang masih eksis?

    • hai mba vicky…
      terima kasih banyak ya atas sarannya. orang2 di desa saya, belum semuanya memahami pentingnya buku dan perpustakaan. beberapa masih menganggap lebih seru nonton tivi daripada baca buku, hihihi. habit membaca buku yang ingin kami tanamkan di sana, sayangnya satu minggu tidak cukup sehingga ketika kami pulang, tugas tersebut diampu oleh guru SD setempat.
      kebetulan memang kami ada monitoring tiga bulan pasca perpustakaan dibangun tapi saya belum mendapatkan laporannya dari tim monitoring. jika sudah diupdate, segera saya tambahkan disini 🙂
      makasih sudah mampir ya mbak..

  • Jadi ingat waktu baksos di Imogiri.
    Kira-kira satu bulan setengah bolak balik ke sana dari kota, lelah kalah dengan senyum bocah-bocah dan indahnya desa. 🙂

    Semoga di kesempatan berikutnya bisa ikut voluntourism. 🙂

    • kita sebagai anak muda, harus punya semangat berbagi dengan sesama. karena kepedulian memang harus diasah biar hati ngga mati rasa ya mas 🙂
      amin, saya doakan bisa ikut voluntourism dan inspire the others ya! 🙂

  • Jadi ingat waktu baksos di Imogiri.
    Kira-kira satu bulan setengah bolak balik ke sana dari kota, lelah kalah dengan senyum bocah-bocah dan indahnya desa. 🙂

    Semoga di kesempatan berikutnya bisa ikut voluntourism. 🙂

    • kita sebagai anak muda, harus punya semangat berbagi dengan sesama. karena kepedulian memang harus diasah biar hati ngga mati rasa ya mas 🙂
      amin, saya doakan bisa ikut voluntourism dan inspire the others ya! 🙂

    • hehe iya banget mas. tapi selama pemerintah belum 'peduli' dg hal ini, masyarakat kita sendiri bisa melakukannya kok mas, asal ada tekad untuk menjadi pejalan bertanggung jawab dan peka lingkungan 🙂

    • hehe iya banget mas. tapi selama pemerintah belum 'peduli' dg hal ini, masyarakat kita sendiri bisa melakukannya kok mas, asal ada tekad untuk menjadi pejalan bertanggung jawab dan peka lingkungan 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: