Di Bawah Langit Biru: Sebuah Intro

Kuceritakan kepadamu sebuah desa kecil yang terletak di tepian lembah hijau nan subur. Ada petak-petak sawah dengan sungai kecil berair jernih mengalir tenang mengairi tiap jengkal tanah berpadi yang tumbuh merapat. Rumah-rumah dibangun di atas tanah bertingkat, sekilas semuanya akan nampak dari jalan di atas punggungan. Yang menyambut pagimu dan mengucapkan selamat tidur untukmu hanyalah suara putaran kolecer (kincir angin dari bambu,pen.) serta harmoni suara jangkrik dan kodok sawah.

Kamu tidak akan melewatkan pagimu yang begitu menyenangkan. Keluar dari rumah dan menghirup udara pagi yang sejuk serta menatap lama-lama hamparan padi di depan mata akan mengisi energimu sebelum beraktivitas. Kamu tidak akan kekurangan suplai senyum seperti di ibukota, karena setiap orang di sini dilimpahi senyum tertulus dan salam hangat tiap mereka melihatmu lewat. “Mbak, mampir….” ibu-ibu yang sedang menyapu di depan rumah akan dengan senang hati mengajakmu masuk ke dalam sekedar untuk menikmati singkong goreng yang nikmat. Jika siang datang, mereka akan datang ke rumah memastikan apakah kami sudah memasak atau belum. Mereka dengan senang hati membantu menyalakan tungku untuk memasak nasi, kemudian pergi dan terkadang kembali dengan sepiring jagung rebus atau sebongkah timun suri segar yang katanya bisa digunakan untuk mengganjal perut.

Anak-anak SD tempatku mengajar selama seminggu selalu menjemput ke rumah. Menunggui satu persatu dari kami selesai mandi dan makan, kemudian dengan penuh semangat menggandeng tangan dan berjalan bersama ke sekolah. Dua kilometer sesungguhnya adalah jarak yang cukup lumayan bagiku apalagi perjalanan naik turun dan jalannya masih berupa tanah berbatu yang licin, tapi kami selalu senang karena pemandangannya benar-benar menenangkan hati. Sesampainya kami di sekolah, anak-anak lain langsung berlarian menyambut dan mencium tangan kami satu persatu sembari mengucap salam sebelum akhirnya kembali bermain kelereng di sudut sekolah.

Mereka belum begitu tercemar modernitas semu yang memenjarakan kebebasan. Sebagian besar dari mereka belum pernah mencicipi playstation, blackberry, atau shopping di mall meski televisi adalah salah satu hal wajib yang harus mereka temui setiap sore sebelum tidur. Mereka berangkat ke sekolah dengan penuh semangat, senantiasa berbinar mendengar cerita dan ajakan menyanyi dari kami, serta mengikuti setiap materi dengan rasa ingin tahu yang meletup-letup. Mereka sangat suka diajak menggambar dan menulis cerita atau membicarakan tentang cita-cita. Baru sekarang aku benar-benar merasakan betapa menjadi guru itu sebuah kemuliaan. Mencerdaskan manusia, mengajarkan mereka tentang kebaikan-kebaikan dalam hidup, serta menjadi pembimbing untuk masa depan calon penerus generasi bangsa. Dan tentu saja, aku masih sangat jauh dari kapasitas itu.

Mungkin kita di bawah langit biru yang sama, tetapi keadaan di bawahnya sungguhlah berbeda. Aku seakan datang ke sebuah negeri kecil yang selama ini hanya kubaca ceritanya sebelum tidur, kemudian aku melihatnya sendiri. Orang-orang di desa ini bahagia dengan cara yang sangat sederhana, sesederhana mereka menjalani hidup. Berangkat pagi-pagi ke sawah atau ladang, pulang siang hari, memasak makanan untuk anak dan suami, menghabiskan malam dengan kedamaian di dalam rumah-rumah kayu mereka yang hangat.

Di sini, sejenak mungkin kamu bisa melupakan kepenatan dunia yang kamu hadapi. Melepaskan segala identitas yang biasanya melekat dan mencoba berbaur sebagai ‘warga desa biasa’ bersama para penghuninya yang akan menerima dengan tangan terbuka. Berjalan dengan tidak menjadi siapapun akan memperkaya hidupmu. Mengisi toples cerita hidup yang nampaknya memang tak akan pernah penuh, tapi akan membuat senyummu makin lebar karena kamu yakin: masih ada harapan tentang kebaikan manusia, di tempat yang tidak pernah kamu duga.

Mungkin kamu akan berpikir, ah semua berlebihan dan menganggap semua itu hanya cerita yang aku buat-buat. Tapi aku tidak akan pernah berbohong atas apa yang aku lihat. Bukankah hidup terlalu berharga untuk kita habiskan dengan merutuki kehidupan kita sendiri melulu? Mengapa tak kau coba memandang dan menghargai cara hidup orang lain? Kali ini aku mencoba memandang hidup melalui mata orang-orang Cibeber. Dan percayakah kau, aku menemukan harapan dan semangat untuk menjadi lebih baik. Di antara keterbatasan saja mereka bisa bahagia, bagaimana dengan aku yang dikelilingi segala kemudahan? Maka bersyukurlah, karena sekali lagi, hidup itu adil.

 



*kisah ini menjadi awalan catatan perjalanan saya selama sepuluh hari menjadi volunteer komunitas Book For Mountain, membangun perpustakaan di dua SD di Lebak, Banten. Waktu yang singkat, tapi saya belajar banyak. Hik maafkan, saya masih utang tulisan tentang Nusa Tenggara. Saya selesaikan satu persatu, segera.

27 thoughts on “Di Bawah Langit Biru: Sebuah Intro

Leave a Reply

%d bloggers like this: