Kelana Nusa Tenggara (1): Membelah Bali

Ini adalah bagian pertama dari kisah perjalanan saya,
Edo, Debby, dan Tege menuju Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Akan ada
beberapa bagian, selamat membaca 🙂

“Kin, sudah sholat?”

Suara Tege menyadarkan saya dari kantuk setibanya kami di Stasiun Banyuwangi Baru, malam itu. Melakukan perjalanan darat sepanjang hari dengan kereta berkursi tegak tanpa pendingin cukup membuat tubuh kami menjadi letih dan pegal-pegal. Sambil menyeret kaki, perlahan kami beranjak ke mushola stasiun untuk melaksanakan sholat maghrib dan isya. Saat itu hanya ada rombongan kami dan beberapa penumpang lain yang menanti pagi datang.

Edo rupanya telah mengobrol dengan seorang bapak yang akan pulang ke Lombok bersama keluarganya. Ia mengatakan bahwa kami bisa ikut mereka menuju Lombok agar tidak kebingungan mencari transport. “Nanti kita ke Ketapang jam setengah dua aja, kata si bapak daripada nunggu kelamaan di pelabuhan.” ujar Edo.

Seorang ibu sibuk meninabobokan anak balitanya di samping kursi yang sudah saya set sedemikian rupa agar saya bisa tidur dengan nyaman. Suami si ibu tertidur begitu saja di kursi bagian depan, kata si ibu ia sedang sakit sehingga tidak dapat terus terjaga. Semua teman saya sudah ambil posisi untuk tidur, saya pun tergoda. Setelah mengamankan beberapa barang, saya segera ikut melancong ke dunia mimpi.

“Nguoooong….”
Tepat tengah malam, suara klakson kereta api membangunkan kami dari tidur singkat. Kereta terakhir malam ini, KA Ekonomi Tawang Alun rupanya sudah tiba. Saya pun mulai waswas, karena…

“Mbak, mohon maaf, ini stasiunnya sudah mau ditutup. Mboten saged ten mriki…” seorang petugas stasiun dengan sopan meminta kami untuk keluar dari stasiun tersebut. Tuh kan benar, seingat saya stasiun selalu ditutup ketika kereta terakhir sudah tiba.
“Nggih Pak, mboten nopo-nopo. Matur nuwun njih…”

Di pelataran luar stasiun, rupanya sudah ada beberapa lembar karpet tergelar manis untuk disewakan sebagai tempat tidur darurat bagi para penumpang atau penghuni stasiun. Karpet hijau yang tak lagi baru dan bantal-guling bersarung kumal itu nampak begitu menggoda. Lima ribu untuk sekali pakai sebenarnya tidak begitu mahal, tetapi kami lebih memilih menggelar tikar plastik dan tidur-tiduran dengan carrier sebagai bantal darurat. Nyaman. Suasana masih cukup ramai oleh beberapa penjual makanan, penunggu stasiun, dan orang-orang entah siapa yang lalu lalang di dini hari yang dingin itu.

Belakangan saya baru tahu bahwa Stasiun Banyuwangi Baru salah satu tempat yang paling dihindari untuk bermalam karena rawan copet dan rampok. Untunglah ada dua cowok yang turut serta dalam rombongan ini dan kami saling ganti menjaga barang, sehingga tidak ada orang jahat yang iseng menganggu malam itu.

***
Lebih dari pukul setengah dua pagi, keluarga kecil yang rencananya akan kami tebengi itu tidak bangun-bangun juga. Duh, mau membangunkan rasanya tidak tega. Padahal katanya bus terakhir dari Terminal Gilimanuk menuju Padang Bai berangkat pukul tiga pagi. Jika tidak berangkat sekarang, belum tentu kami mendapatkan bus lain untuk menuju Padang Bai.

Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke Ketapang tanpa mereka. Dibutuhkan 40 menit sampai satu jam perjalanan dengan ferry untuk menyeberang ke Bali. Kami baru bisa menyeberang pukul tiga lebih sedikit dan sudah pasrah tidak mendapatkan bus ke Padang Bai. Ah tapi, Tuhan selalu menyelamatkan para pejalan!

Setelah menyeberang ke Gilimanuk kami harus berurusan sebentar dengan polisi Bali karena saya…. tidak membawa KTP. Lupa lebih tepatnya, hahaha. Saya diinterogasi oleh petugas dan terpaksa harus berdalih KTP tertinggal di stasiun Lempuyangan. Adegannya persis seperti di loket imigrasi bandara saat melakukan penerbangan luar negeri. Entah karena akting melas saya meyakinkan atau memang SIM sudah cukup untuk menggantikan KTP, kami diperbolehkan masuk ke Bali. Alhamdulillah 🙂

Kami tiba di Terminal Gilimanuk tepat ketika bus terakhir menuju Padang Bai akan berangkat. Dengan harga karcis 40 ribu rupiah, kami sudah bisa naik bus yang akan membelah Bali selama hampir enam jam perjalanan. Setelah 14 jam duduk di kursi kereta yang keras, bokong dan punggung kami harus kembali diuji kali ini.

Bali, Sekedar Transit

Pagi di Bali begitu magis. Baru beberapa menit perjalanan kami sudah memasuki kawasan Taman Nasional Bali Barat yang termashur itu. Kami yang duduk di kursi terdepan merasa disuguhi pemandangan pagi terbaik. Pepohonan lebat menaungi di kanan-kiri jalan. Semuanya menghijau dengan latar belakang gundukan perbukitan sejauh mata memandang. Sesekali jalan yang kami lewati berada begitu dekat dengan pantai berpasir hitam yang sepi dan tenang. Inilah pemandangan ala mooi indie yang digandrungi pejabat kolonial Belanda yang membuat mereka tergila-gila dengan vakansi ke Bali.

Hampir satu jam berjalan, suasana khas pedesaan di Bali mulai kental terasa. Bus kami melintas perlahan di kabupaten Jembrana. Pagi itu kabut tipis masih menyelimuti pucuk-pucuk pohon di antara rumah-rumah tradisional dengan pura kecil di halaman sampingnya. Sesekali cahaya pagi menerobos dedaunan menciptakan larik-larik cantik di jalanan. Nampak iringan beberapa warga berangkat ke pura untuk berdoa dan meletakkan sesajen di beberapa tempat. Gerombolan anak perempuan berseragam SD dengan muka bulat berkepang dua beberapa kali berpapasan dengan bus yang kami tumpangi. Ah, cantiknya Jembrana di pagi hari.

Bus berhenti di sebuah pura kecil di tepi jalan. Supir bus dan kernet segera turun dan berdoa dengan khusuk di sana. Kami memperhatikan mereka dengan penuh rasa penasaran, jujur saya belum sekalipun melihat penganut agama Hindu berdoa di tempat ibadah mereka. Seorang ibu muda memerciki bus kami dengan air yang telah didoakan, dan bus pun segera melanjutkan perjalanan. Selebihnya, saya terlelap demi membayar hutang kantuk tadi malam.

Udara panas di dalam bus membangunkan saya yang telah tidur selama satu jam. Nampak antrian panjang kendaraan di depan kami, sementara jalanan sempit hanya cukup untuk dua bus berpapasan. Wah, macet.

“Ada kecelakaan di depan katanya.” kata sang supir bus setelah mengobrol menggunakan isyarat dengan kernet bus yang sudah berada jauh di depan untuk melihat situasi. Kami hanya saling memandang. Bisa terlambat tiba di Padang Bai kalau begini caranya.

Rupanya supir bus kami cukup berani. Ia menyelip antrian panjang kendaraan satu persatu dan segera menepi di jalur kiri setiap ada kendaraan dari arah berlawanan yang lewat. Rupanya antrian ini berkilo-kilometer panjangnya. Belakangan saya baru tahu bahwa ini adalah jalur utama bagi bus dan truk yang menuju ke Nusa Tenggara. Duh, jalur transportasi kita rapuh sekali. Hanya ada satu-dua jalur utama untuk memasok logistik ke Nusa Tenggara, bagaimana kalau ada banyak kejadian seperti ini di jalan? Padahal wilayah Timur Indonesia bergantung penuh dengan pasokan logistik dari Jawa. Duh, sampai kapan ya Indonesia masih Jawasentris macam begini.

Entah berapa kilometer antrian kami lewati, akhirnya kami sampai di lokasi kecelakaan. Ada dua truk besar yang bertabrakan dan muatannya tumpah memenuhi badan jalan. Salah satu truk ringsek berat dan teronggok begitu saja di tepi. Muatannya yang berupa daging mentah yang disimpan dalam kotak-kotak plastik putih tumpah ruah di jalanan. Kasihan.

Selepas titik macet tersebut, perjalanan kembali lancar. Kami melewati kota Denpasar yang padat, sawah di kanan kiri jalan, perumahan mewah, barisan pegunungan hijau, tapi entah mengapa saya merasa begitu mengantuk sehingga memilih untuk tidur sepanjang perjalanan.

Pukul sebelas siang, kami tiba di Pelabuhan Padang Bai. Ugh, udara panas menerjang kulit yang kotor karena sudah dua hari tidak mandi. Haviz, teman kuliah kami yang tinggal di Lombok sudah menanti di seberang sana. Lombok, kami datang!

***
rincian biaya transportasi Jogja – Lombok:
KA Ekonomi Sri Tanjung Jogja – Banyuwangi Rp 35.000
Ferry Jawa – Bali Rp 6.000
Bus Gilimanuk – Padang Bai Rp 40.000
Ferry Padang Bai – Lembar Rp 36.000

45 thoughts on “Kelana Nusa Tenggara (1): Membelah Bali

Leave a Reply

%d bloggers like this: