Haru Biru Mahameru

 

Napas saya tersengal pada setengah perjalanan pendakian dari Cemoro Tunggal menuju Mahameru. Pukul 12 malam tadi kami sudah meninggalkan Kalimati bergerak menyusur hutan Arcopodo yang lebat dan gelap. Trek pasir berbatu yang biasanya ditempuh dalam lima-enam jam ini benar-benar menguras mental dan menguji ketahanan fisik. Jam masih menunjukkan pukul empat pagi, saya berhenti di tengah trek, mengatur napas sembari tetap mencengkeram pasir yang begitu labil. Sudah hampir dua jam saya merayap di lereng Semeru ini: kaki menjejak tiga langkah, merosot satu langkah. Daypack berisi kamera dan air yang saya bawa mulai terasa berat.

Saya tidak sendirian. Di sepanjang jalur pendakian ini ada puluhan pendaki lain yang sedang berjuang melawan egonya masing-masing. Sorot headlamp berjajar rapi di sepanjang jalur, ada yang terus bergerak naik, ada yang berhenti sejenak lalu bergerak lagi. Delapan belas teman saya yang lain sudah berpencar, ada yang berada di depan saya, ada yang tertinggal jauh di belakang. Saya berjuang sendirian, terus naik mengabaikan debu pasir yang bercampur dengan kabut beku Semeru.

Pukul lima, saya masih berjuang dengan ego sendiri. Saya mulai lelah, tak satupun teman sependakian saya nampak. Saya berteriak memanggil Edo yang tadinya mendaki bersama saya, tapi ia menghilang dan tak menyahut panggilan. Saya terduduk diam di tepi trek, memperhatikan satu persatu pendaki melewati saya dengan perlahan. Fajar mulai menyingsing, bulan sabit tak lagi memerah. Sungguh, trek pendakian ini tidak manusiawi. Jalur yang sangat licin dengan batuan labil yang bisa gugur kapan saja, belum lagi jurang-jurang dalam di kanan-kiri jalur. Beruntung saya tidak perlu melihat dengan jelas karena pagi belum hadir.

Saat duduk diam itulah, saya menangis. Seketika saya berpikir ‘saya ngapain di sini? kenapa saya di sini? kenapa saya nggak tidur aja di rumah, pakai selimut hangat, nonton televisi sambil minum segelas cokelat?’

Jujur, saya sangat bimbang saat itu. Jika saya terus mendaki naik, saya tidak yakin kaki-kaki ini terus kuat menopang tubuh untuk merayap di lereng yang kemiringannya mencapai 60 derajat. Jika saya turun, perjuangan saya akan sia-sia. Dan jika saya memilih untuk diam, saya pasti terkena hipotermia dan bisa mati kedinginan. Bahkan saya sempat tertidur, salah satu pantangan paling besar di tengah udara beku begini. Ya, saya mulai putus asa.

“Ayo mbak, semangat! Ini sedikit lagi.. Jangan ketinggalan sunrise di puncak mbak!”
Seorang pendaki yang melihat saya kepayahan naik berteriak memberikan motivasi. Ia kemudian menyamai jalan saya, menapak satu demi satu. Pendaki berjaket kuning itu kemudian mengajak saya mengobrol, yang belakangan saya ketahui ternyata ia nge-camp di sebelah tenda saya di Kalimati. Sejenak saya lupa lelah dan larut dalam pembicaraan singkat pagi itu.

Di alam, semua bisa menjadi sahabat, seketika.

Tetiba saya melihat dua sosok manusia yang saya kenal di belakang: Kentong dan Kiting. Tentu bukan nama asli. Mereka adalah teman-teman sependakian saya dan kami baru saling mengenal saat di basecamp Ranu Pane. Sungguh, mata saya langsung berbinar melihat mereka, saya tidak sendirian. Mereka mendaki dengan sangat cepat, Kentong menjejeri saya sementara Kiting langsung menerabas naik tanpa jeda menuju Mahameru.

“Mas, aku wes capek banget. Udah nggak kuat…” kata saya sembari terduduk di sebuah tonjolan batu di tepi trek.
“Ayo Kin ini dikit lagi. Itu puncaknya udah kelihatan.” 
“Mana mas puncaknya, nggak kelihatan juga Mas, pengen berhenti aja di sini…”
Dia diam saja, hanya memperhatikan saya yang ngos-ngosan mengatur napas di tengah oksigen yang tipis.
“Iki aku manja, aku pengen digeret…” saya sudah mulai putus asa lagi. Saat itu saya sudah ikhlas tidak dapat menggapai puncak karena mental yang sudah dihajar habis-habisan.

Tanpa saya duga, dia meraih tangan saya yang mulai kesemutan karena kedinginan. Ia menyeret saya naik, padahal ia sendiri menggendong carrier berisi logistik dan air. Kami mulai kembali mendaki, satu demi satu langkah berat tapi pasti. Ia mengajari saya bagaimana seharusnya menjejakkan kaki di pasir yang labil ini, agar tidak merosot terlalu jauh.

ketika matahari muncul dan semua terlihat, saya hanya dapat menahan napas dan terus berdecak kagum

Matahari akhirnya terbit juga saat kami berada pada 50 meter terakhir sebelum puncak. Tiap beberapa langkah kami berhenti, untuk mengumpulkan tenaga yang tersisa agar bisa berjalan lagi. Napas Kentong mulai ngos-ngosan, sementara hidung saya sudah sedari tadi terus mengeluarkan air karena kedinginan.

“Mas, aku capek. Berhenti dulu ya, aku mau motret sunrise…”
Dia mengiyakan dan kami duduk di bebatuan. Dia membuka sebungkus roti dan melahapnya sementara saya kesusahan memencet shutter karena jari-jari yang membeku. “Aku santai aja kok Kin.” katanya menenangkan saya yang merasa tidak enak karena telah merepotkan dan memperlambat jalannya. Setelah beberapa jepretan dan seteguk air mineral, kami mulai berjalan lagi.

istirahat sembari menyaksikan matahari terbit

Akhirnya trek pasir Semeru sedikit lebih ringan saat puncak sudah terlihat. Saya bisa berpegangan pada batu-batu besar yang menaungi jalur sementara kaki lebih mudah menjejak karena pasir tidak setebal tadi. Kentong masih ada di belakang, mem-backup saya yang berjalan pelan. Langit yang membiru membuat saya kembali bersemangat, sementara awan mulai tersibak dan nampaklah pemandangan super cantik di bawah sana. Jalur pendakian mulai nampak dan semangat saya terpompa dua kali lipat, sudah hampir sampai!

Akhirnya, pada 05.55 WIB, saya menggapai Mahameru. Mencumbui pasirnya bersama puluhan pendaki lain yang sudah datang lebih dulu. Seketika saya kembali menangis terharu, tidak percaya saya akhirnya tiba di sini. Tak henti saya ucapkan terima kasih pada Kentong yang memberi semangat dan membantu saya pada jengkal-jengkal terakhir.

Sesuai tekad saya sebelumnya, akhirnya saya berhasil memberi hadiah ulang tahun untuk diri sendiri yang bertambah umur menjadi 22 tahun pada 12 Juli yang lalu. Mungkin tekad ini juga yang menguatkan mental saya sehingga mampu berdiri di tanah tertinggi Jawa saat itu. Saya bisa melihat sendiri letupan kawah Jonggring Saloka, mendoakan Soe Hok Gie dan Idhan Lubis di tugu in memoriam-nya, dan tidak lupa bersujud syukur sembari memanjatkan doa dan harapan di dataran pasir ini.

Ini bukan tentang berapa jauh kamu berjalan, ini bukan tentang seberapa cepat kamu mendaki. Ini tentang mengalahkan ego dan menguji mentalmu sendiri. Ini tentang bagaimana kamu mau mengalah untuk teman yang membutuhkan bantuan. Ini tentang cara bersyukur telah diberikan hidup di tanah air Indonesia.

Terima kasih Mahameru.

Resol tiba beberapa menit setelah saya. “Ini puncak pertamaku Kin!” katanya bangga.

 

Akhirnya, Jonggring Saloka dan Mahameru 3676 mdpl.

59 thoughts on “Haru Biru Mahameru

Leave a Reply

%d bloggers like this: