Mendaki Pananjakan : Sebuah Catatan Perjalanan

Siapa yang tidak setuju kalau Gunung Bromo adalah salah satu objek wisata alam yang paling populer di tanah Jawa. Bahkan Bromo masuk ke dalam daftar top picks di website Lonely Planet yang jadi bible para traveler itu. Perpaduan lansekapnya yang sangat indah, legenda masyarakat dan sejarah suku Tengger yang menarik, upacara Kasodo yang sakral, serta gunung apinya sendiri yang masih aktif saat ini, menjadi magnet besar yang membuat traveler dari seluruh dunia berbondong-bondong datang. Thanks to the internet, saat ini sangat mudah menemukan panduan how to get there, akomodasi, hingga hal-hal menarik yang bisa dinikmati backpacker kere kece hingga tuan tanah yang tidak tahu harus menghabiskan uangnya dimana.

Sebenarnya saya sudah sejak lama ingin sekali mengunjungi Bromo. Tetapi kepopuleran Bromo sebagai destinasi sejuta umat rupanya telah membuat biaya akomodasi di sana melonjak tajam. Setiap bertanya kepada teman atau membaca referensi di internet, saya mendapatkan jawaban jika ingin hidup sedikit layak di Bromo maka kita harus membayar agak mahal.

Setelah bertanya sana-sini dan membaca berbagai catatan perjalanan di internet, saya menemukan tiga spot yang bisa didatangi untuk mendapatkan pemandangan ala postcard tersebut, yaitu:

  • Bukit Pananjakan I wilayah Pasuruan
    spot ini menjadi spot nomor satu yang dijual oleh para pelaku wisata di Bromo. Mayoritas jeep juga mengantarkan pengunjung kesini. Hampir semua referensi merekomendasikan Pananjakan I karena pemandangannya paling sempurna dibanding dua spot lain.
  • Bukit Pananjakan II (Seruni Point) wilayah Probolinggo
    setelah erupsi Bromo yang sempat membuat jalur menuju Pananjakan I terputus, pemerintah Probolinggo mulai gencar menjual spot ini sebagai alternatif. Letaknya berada di bawah Pananjakan I.
  • Bukit Mentigen
    spot ini paling dekat dengan Cemorolawang dan bisa ditempuh dengan jalan kaki sejauh tiga kilometer berlawanan arah dengan Pananjakan I dan II.

Entah mengapa, saya begitu tergoda mencari alternatif transportasi menuju Pananjakan. Apa iya untuk sampai ke Pananjakan I harus naik jeep yang mahal itu? Apakah tidak ada jalur pendakian, atau paling tidak jalur penduduk sendiri naik ke Pananjakan sehingga kami bisa mendapatkan pengalaman yang berbeda? Jika mobil saja bisa sampai ke atas, jalan kaki pun harusnya bisa dong. Kebetulan saya membaca catatan perjalanan seseorang yang mendaki ke Pananjakan I dengan berjalan kaki. Perjalanan yang biasanya ditempuh 45 menit dengan jeep akan ditempuh selama 2,5 jam menyusuri punggungan Pananjakan yang hijau.

Nah! Mengapa tidak mendaki saja?

Sempat pula terbersit keinginan untuk tidak menginap di Cemorolawang tetapi langsung mendaki ke Pananjakan, menanti pagi datang di warung milik penduduk sambil nyemil pisang goreng dan jahe anget. Tetapi karena banyaknya hal-hal tidak terduga (bahkan kami harus menunggu selama 10 jam di pangkalan colt), kami memilih opsi menginap di Cemorolawang dan mendaki Pananjakan di pagi buta.

Awal keberuntungan adalah ketika kami bertemu dengan lima traveler yang sama-sama ingin menghemat pengeluaran. Kami sepakat jalan bareng untuk mengurangi pos-pos pengeluaran yang lebih murah jika patungan, seperti colt, guide, dan penginapan. Mereka juga mengamini usulan kami untuk mendaki ke Pananjakan karena biayanya lebih murah, cukup membayar guide. Agak sulit mencari guide di Cemorolawang yang mau antar kami ke sana karena jauh dan beratnya medan. Belum lagi para calo jeep bercerita bahwa jalur ke Pananjakan itu sempit dan mengerikan. Sempat gelisah, apa kami mampu mencapai puncak di waktu yang telah direncanakan?

Seorang guide mau menemani kami mendaki Pananjakan dengan tarif 200 ribu rupiah. Cukup mahal tetapi jika dibagi 7 orang tidak terlalu berat rasanya. Pak Sukri, guide kami ini rupanya juga sering menemani para turis yang membeli paket perjalanan via travel agent. Dan harga paket pendakian ke Pananjakan via travel agent bisa mencapai 400 ribu rupiah. Wow! Beruntung lagi kali ini.

seven of us! (Noo Aoi)
numpang pick up buat cari makan
(Noo Aoi)

Pendakian ke Pananjakan ini melewati jalur yang berbeda dengan jalur jeep. Jika jeep-jeep itu harus melewati lautan pasir dan memutar, kami langsung potong jalur naik ke Pananjakan. Berangkat pukul setengah tiga pagi di tengah udara Bromo yang dingin menggigit dengan jalur cukup berat, rasanya mirip pendakian Merbabu dari basecamp – pos I jalur Selo. Beberapa kilometer pertama kami masih bisa berlari-lari bahagia di jalan aspal sambil mengagumi bintang, tetapi selanjutnya adalah desah khawatir karena perjalanan mulai didominasi dengkul ketemu jidat.

Seruni Point dan Pananjakan I memiliki jalur yang sama. Kami melewati Seruni Point saat mendaki di tiga kilometer pertama. Letaknya memang tidak begitu tinggi, jalan menuju kesana sangat baik dan jeep atau kuda pun bisa mengantarkan sampai ke spot tersebut. Sayangnya, pada bulan Maret-Juni sunrise dari tempat ini tidak begitu bagus karena tertutup oleh gunung. Jadi, tiba-tiba saja langit sudah putih dan matahari sudah tinggi. Selain itu, Semeru hanya nampak puncaknya saja dan kami tidak dapat melihat kawah Bromo. Hal yang sama juga terjadi dengan bukit Mentigen. Konon sunrise di Mentigen pada bulan-bulan tersebut akan tertutup oleh bayangan gunung. Hiks.

Setelah melewati Seruni Point, tingkat kenyamanan jalur turun drastis. Tetiba jalur pendakian menjadi sangat sempit, berbatu, menanjak tajam, dan yang jelas bikin kami kedinginan di luar tetapi berkeringat di dalam. Jalur berbatu tersebut cukup panjang, mencapai belasan kilometer, dan di dua kilometer terakhir kami akhirnya bertemu dengan jalur jeep menuju Pananjakan I yang sudah beraspal. God save the travelers!

jalur pendakian Cemoro Lawang – Seruni Point
(Aditya Permana)
tekstur tanah keras dan cukup licin
(Noo Aoi)

Walaupun kami tidak mendapatkan sunrise pada hari itu tetapi kami sangat bahagia karena mendapatkan pengalaman baru yang sungguh berbeda. Belum habis decak kagum saya saat turun dari Pananjakan dengan jalur yang sama, pemandangan sepanjang jalan sangaaaaat indah! Tapi tetap harus berhati-hati karena jalurnya cukup sempit dan licin di beberapa titik. Kami sangat puas melihat lansekap perpaduan Bromo – Batok – Lautan Pasir – Semeru (lengkap dengan asap Jonggring Saloka-nya) karena jalur pendakian memang tepat di depannya. Kebetulan kami datang di saat bukit, lembah, dan gunung menghijau subur. Benar-benar memanjakan mata.

Total perjalanan ini adalah delapan jam pulang pergi, termasuk mampir ke kawah Bromo. Kami tidak berkunjung ke savana dan bukit teletubbies karena jarak cukup jauh padahal waktu kami terbatas (termasuk kaki yang pating plethot). Saya cukup bersyukur karena tiga bulan magang terbiasa jalan kaki pulang pergi kosan – kantor sehingga otot kaki dan jantung saya tidak kaget harus bekerja lebih keras.

kembali ke Cemorolawang
 (Aditya Permana)

Serius deh, mendaki Pananjakan adalah salah satu kegiatan yang harus dilakukan di Bromo. Mumpung masih muda, geber kemampuan hingga ke titik batas. Siapa yang tahu besok ketika faktor U sudah berpengaruh banyak, kita tidak bisa menikmati alam Indonesia yang begitu indah ini, dengan cara yang berbeda? 🙂

Jadi, selamat mendaki!

___________________________________
Untuk cerita yang lebih lengkap dan dramatis (tsaah) tentang pendakian ini, langsung mampir ke post milik Adit. Foto oleh Maharsi, Adit, dan Aoi. Ikuti perjalanan kami dalam video dokumenter singkat yang saya buat di sini.

Desa Cemorolawang di kejauhan. Nampak kelok-kelok jalur pendakian menuju Pananjakan.
Berasa di Kashmir :))

44 thoughts on “Mendaki Pananjakan : Sebuah Catatan Perjalanan

Leave a Reply

%d bloggers like this: