Perfect Moment

 

I kind of see this all love as this, escape for two people who don’t know
how to be alone. People always talk about how love is this totally unselfish,
giving thing, but if you think about it, there’s nothing more selfish. 

– Before Sunrise

 

Semalaman saya berdiskusi cukup menyenangkan dengan salah satu sahabat terbaik saya, Stephanie, di tempat yang belum pernah kami duga: gerbong kereta ekonomi. Di saat para pembuat keramaian di kursi seberang sudah tertidur dan malam kami ditemani dengkuran teratur seorang bapak di sebelah saya, saat itulah saya dan dia justru terbangun dan tidak bisa memejamkan mata lagi. Kami tidak terbiasa tertidur sebelum pukul 12 malam sementara Yusrina sudah tumbang sedari awal perjalanan.

Cukup sering saya dan dia terlibat pembicaraan absurd yang terkadang menjadi berat, entah bagaimana kami bisa menghabiskan berjam-jam membahas masa depan, asmara, bahkan membicarakan orang. Dengan cara yang berbeda, kami tiba-tiba menjadi begitu feminis dan (sok) bijaksana menanggapi satu persatu topik yang meluncur begitu saja. Dengan posisi kursi yang berhadap-hadapan, kami puas mengobrol dan dia bisa mem-bully saya yang kadang-kadang salah tingkah jika topiknya agak menyentil masalah hati.

Tiba-tiba Stephanie meluncurkan kalimat yang menurut saya absurd.

” Kin, kamu mesti nyobain. Kayak kita sekarang ini. Duduk berdua di kereta, berhadap-hadapan sama cowok kamu. Terus sepanjang perjalanan kalian ngobrol, kamu bebas natap mata dia. Kalo bosen, tinggal tidur! Hahaha…” celetuk dia tiba-tiba sembari tertawa puas dan menyipitkan matanya yang sudah sipit.

“Jangan sebelahan, nanti kamu nggak bisa liat dia ngomong…”

Celakanya, apa yang diucapkan Stephanie tersebut persis sekali dengan bayangan akan momen impian saya. Seketika teringat pada sebuah film jadul berjudul Before Sunrise, yang memiliki adegan-adegan utama sangat mirip dengan apa yang kami pikirkan saat itu. Seorang lelaki Amerika bertemu seorang perempuan Prancis di sebuah kereta. Mereka tidak saling mengenal tetapi obrolan di mengalir begitu saja, seketika mereka klik satu sama lain. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk berlibur bersama ke Wina, dan lanjutan kisahnya tidak perlu saya ungkapkan di sini. Film Before Sunrise memiliki sekuel yaitu Before Sunset yang keluar tahun 2004 dan saya belum nonton yang ini. Hahaha 🙂

Snapshot adegan utama di kereta dalam Before Sunrise di atas memang tidak dapat disamakan dengan kondisi di Indonesia ya. Tetapi feel-nya tetap sama, seperti yang saya pernah katakan di posting beberapa minggu lalu: selalu ada romansa di gerbong kereta ekonomi. Di antara kursi-kursi tegak lurus dan lutut yang saling berbenturan.

Dan yang paling penting momen impian saya bisa menjadi kenyataan.

selalu ada romansa di kereta ekonomi, percaya kan? 🙂

11 thoughts on “Perfect Moment

  • Ya Ampun… ngeliat fotonya.
    Itu mbak yang paling pinggir pake jilbab, kayak nggak tidur sebulan aja mbaknya. Hahaha..
    Saking lucunya liat mbak itu, sampe2 nggak puas kalo ketawa cuma pake "hahaha", enaknya pake "wakakakakakaka"… =))
    Huft..

  • Ya Ampun… ngeliat fotonya.
    Itu mbak yang paling pinggir pake jilbab, kayak nggak tidur sebulan aja mbaknya. Hahaha..
    Saking lucunya liat mbak itu, sampe2 nggak puas kalo ketawa cuma pake "hahaha", enaknya pake "wakakakakakaka"… =))
    Huft..

  • No string attached hubunganya isinya nafsu.njijiki kin sakjane :))) tapi Jd keliatan lebih realistis buat bule

    btw, gupi!! Hahaha. Perfect moment di bayanganku simple2 gup

    btw,ni gel2

  • No string attached hubunganya isinya nafsu.njijiki kin sakjane :))) tapi Jd keliatan lebih realistis buat bule

    btw, gupi!! Hahaha. Perfect moment di bayanganku simple2 gup

    btw,ni gel2

Leave a Reply

%d bloggers like this: