Bumi Halmahera: Triple Combo Morotai (2)

bersambung dari Tripe Combo Morotai (1)

 

 

Selamat datang di bumi Moro!

Sembari menunggu jumlah ojek genap menjadi delapan, saya melempar pandangan ke penjuru pelabuhan Morotai yang jalan utamanya diselimuti pasir cokelat keabuan. Balok-balok beton penahan ombak nampak berserakan di sepanjang tepi pulau, bercampur dengan sampah! Sayang sekali, pelabuhan Morotai ini tidak terjaga dengan baik kebersihannya. Mungkin karena terpengaruh statusnya yang baru menjadi kabupaten pada tahun 2008 lalu sehingga pulau ini masih belum selesai berbenah.

Sukseskan Sail Morotai 2012!

Setelah kedelapan ojek datang dan berjajar menunggu kami, segeralah saya dan teman-teman lain memilih tukang ojek idola masing-masing. Ternyata tidak semuanya mengerti tempat yang dimaksud oleh Acil, dan kebetulan tukang ojek yang saya tumpangi menjadi pemimpin perjalanan. Seorang bapak tua berkulit keling asli Maluku yang ramah tetapi agak bau badan. Hahahahaha, lanjutkan!

Pertanyaan saya mengapa bentor tidak dipilih sebagai transportasi menuju rumah saudara Acil terjawab sudah. Jalanan di Morotai lebih buruk dari jalan lintas Sumatera seperti yang saya lihat di televisi. Kondisi jalan yang kering, berdebu, berpasir, dan penuh lubang besar membuat saya berkali-kali meringis kesakitan karena ojek yang saya tumpangi bermanuver menghindari jackpot. Beberapa kali motor ojek harus bekerja keras mendaki jalanan yang menanjak tajam dan cukup berkelok. Sebenarnya saat kami masih berada di bagian yang padat penduduk, nampak bahwa
jalanan sedang diperbaiki, dihaluskan, dan diaspal. Tetapi itu hanya
beberapa kilometer pertama. Selebihnya, mengenaskan.

sempat ada konflik kecil di Morotai akibat pilkada bupati Morotai

Sepanjang jalan saya merenung, inikah pulau Morotai yang dibanggakan sebagai salah satu surga tropis di Indonesia? Yang akan menjadi venue utama dilangsungkannya Sail Morotai di pertengahan tahun 2012 besok? Yang akan didatangi turis-turis mancanegara? Inikah wajah Morotai sesungguhnya?

Wilayah yang kami susuri ini adalah kota Daruba kecamatan Morotai Selatan. Bapak ojek mengatakan bahwa wilayah ini adalah yang paling maju dibandingkan dengan wilayah lainnya, ditandai dengan listrik yang menyala selama 24 jam. Sementara di bagian lain tidak menyala sepanjang hari, bahkan sudah biasa listrik mati sehari penuh. Kejadian listrik nyala-mati memang sudah biasa dialami penduduk di pulau Halmahera dan sekitarnya.

Bapak ojek kembali bercerita, bahwa keunggulan Pulau Morotai adalah sejarah dan pemandangan bawah lautnya. Pulau di permukaan memang jelek tetapi Morotai dahulu adalah salah satu pusat pertahanan Sekutu di masa Perang Dunia II. Mungkin kita masih ingat film Flags of Our Father dan Letter from Iwojima; Morotai rupanya juga menjadi salah satu arena pertempuran antara Sekutu dan Jepang karena letaknya yang sangat strategis. Pada akhirnya Jepang menyerah pada Sekutu dan Sekutu berhasil merebut kembali Philipina. Sementara si bapak terus bercerita, saya membayangkan di atas kepala saya ini ada pesawat-pesawat tempur yang menderu kencang membombardir pulau….

Konon, banyak sekali bekas-bekas peninggalan perang seperti peluru-peluru, ranjau, hingga mortir di pekarangan dan ladang-ladang warga. Sementara bangkai kapal dan pesawat tempur bertebaran di lautan Morotai dan menjadi daya tarik tersendiri untuk para penyelam yang ingin melihat ship wreck di kedalaman laut. Selain itu, Pulau Morotai memiliki tujuh (TUJUH!) landasan pesawat udara masing-masing memiliki panjang 3000 meter bernama Pitu Strep yang juga merupakan peninggalan Sekutu. Sementara itu di Pulau Zumzum akan ada tugu peringatan untuk Jenderal Douglas Mac Arthur yang menjadi komandan untuk pangkalan militer Morotai ini. Bapak ojek juga mengingatkan saya agar tidak lupa membeli oleh-oleh asli dari Pulau Morotai yaitu kerajinan besi putih. Berbagai jenis perhiasan dibuat langsung menggunakan besi bekas peninggalan perang sehingga dijamin tidak akan berkarat dan senantiasa berkilau.

“Dulu banyak sekali yang jarah besi rongsokan dari laut. Dijual bisa, dibuat perhiasan bisa. Tapi sekarang tentara itu sudah jaga besi-besi yang di laut, kalau ambil bisa baku tembak nanti deng tentara… hahaha…” celetuk bapak ojek dengan tawa khasnya.

Sesi dongeng si bapak ojek berakhir setelah kami sampai di sebuah desa kecil dengan rumah-rumah kayu yang berpagar dan berpohon. Beberapa rumah nampak ramai dan kami berhenti di sebuah rumah kecil yang belum jadi. Hanya ada dua ruangan kecil tanpa sekat permanen dan salah satu ruangan lantai kayunya sedang dipasang. Saudara Acil menyambut dan kami dipersilakan masuk. Saya memilih untuk tetap di luar karena ruangan itu sudah penuh oleh lima manusia termasuk saudara Acil.

Mungkin karena kasihan melihat kami berdempetan, saudara Acil mempersilakan kami untuk beristirahat di rumah tetangganya. Kami diperbolehkan menonton TV dan tidur di kamarnya yang lapang. Akhirnya bisa beristirahat juga, tidur kami sangat nyenyak siang itu. Kemudian saya terbangun di sore hari karena mendengar suara yang tidak asing. Morotai hujan deras! Saya tidak bisa tidur lagi dan memilih untuk menunggu di ruang tengah sementara teman-teman yang lain masih terlelap.

Sore ini suram sekali rasanya, saya hanya memandangi jendela yang menampakkan pemandangan abu-abu di luar. Hujan masih deras dan angkot yang kami tunggu masih juga belum datang. Satu persatu teman mulai bangun dan nampak Indro sudah berkeringat deras. Alhamdulillah, ia sudah lebih baik sekarang. Saya sering tidak tega melihat teman satu ini kalau malarianya kambuh. Dia hanya bisa merangsek masuk ke sleeping bag dengan jaket tebal dan menggigil kedinginan di dalamnya.

Tepat sekali ketika kami selesai bersiap, ada suara bising dari kejauhan yang semakin mendekat ke arah rumah tempat kami bernaung. “Oto su datang!” teriak Acil dari ruang depan. Segera kami membawa barang-barang dan berpamitan sekaligus mengucapkan terima kasih kepada saudara Acil yang memberikan tumpangan istirahat. Bergegas kami naik ke oto yang sudah lumayan penuh oleh manusia dan barang-barang tersebut. Saya beruntung dapat kursi di depan, tetapi sayangnya sebelah saya adalah gadis gemuk yang menghabiskan tempat hingga 3/4 kursi -..-

muka-muka lelah karena perjalanan sehari penuh

Oto berisik ini berjalan pelan di tengah jalanan Daruba yang becek dan berbatu-batu. Sepanjang jalan kami terdiam kelelahan ditemani lagu-lagu yang sepertinya tidak ingin saya dengar lagi untuk selamanya. Lagu Alun-Alun Nganjuk, Hamil Tiga Bulan, dan Alay (lagi-lagi!!) mengalun keras dari salon di belakang saya. Ketika saya menengok ke belakang, rupanya keadaan di belakang lebih berdesak-desakan. Bahkan Fahmi sampai harus menggendong anak kecil agar ia bisa duduk. Hahaha.

Kira-kira satu jam di perjalanan, kami sampai di tepi Pelabuhan Morotai. Satu persatu penumpang turun dan tinggal kami berdelapan. Supir oto berbaik hati membantu mencarikan kami penginapan di sekitar pasar dan rupanya hampir semua penginapan penuh! Setelah berkeliling dan masuk ke kampung, akhirnya kami menemukan sebuah penginapan kecil di tepi pelabuhan seharga Rp 150.000/malam. Alhamdulillah, kami tidak jadi luntang-lantung di jalanan malam ini.

duduk di tepi pelabuhan Daruba

Tidak lama kemudian adzan magrib berkumandang. Sembari berdoa buka puasa saya memohon pada Tuhan agar menerima puasa saya hari ini yang penuh perjuangan berat. Mulut saya sudah sangat kering dan rasa debu, segera kami menyerbu warung es kecil di dekat penginapan. Membeli es pisang ijo dan beberapa kudapan manis yang mengenyangkan. Kami menghabiskan hari di tepi pelabuhan memandang jauh ke pulau-pulau kecil yang terselimuti awan mendung sembari membicarakan rencana esok hari. Kemudian kami makan malam di sebuah warung lalapan seberang penginapan yang ternyata penjualnya adalah orang Surabaya! Si bapak penjual menjanjikan kepada kami bahwa besok sahur dia akan buka warungnya sehingga malam ini kami tidak perlu berjalan jauh untuk mencari makan sahur.

Si bapak tidak menepati janjinya. Kami bangun kesiangan pukul empat pagi dan menemukan tidak ada tanda-tanda kehidupan di warung tersebut. Sial! Makan apa nih untuk sahur? Kami mencoba berjalan menyusur hingga jauh ke pasar, tidak ada satupun penjual makanan! Nampak satu persatu penduduk mulai keluar dari rumahnya dan menuju masjid. Sebentar lagi pasti subuh. Akhirnya kami kembali ke penginapan dengan tangan kosong (saya sempat berpikir untuk mengemis makanan ke rumah-rumah, hahaha). Saya hanya mengonsumsi air mineral dan beberapa biskuit untuk sekedar mengganjal perut.

Perjalanan hari ini akan berat.

7 thoughts on “Bumi Halmahera: Triple Combo Morotai (2)

Leave a Reply

%d bloggers like this: