senja di lempuyangan

hahaha over banget mataharinya, dan saya gagal membuatnya ‘lebih ramah’ 🙁

Sore di bawah Jembatan Lempuyangan selalu ramai seperti biasanya. Dipadati manusia dan kendaraan yang mereka bawa. Luasnya tak seberapa, hanya sekitar 25 meter persegi dan itupun telah dipenuhi berbagai macam pedagang yang ingin ikut mengais rezeki dari keramaian pengunjung. Apalagi kemudian dibuat larangan untuk turun ke area rel kereta api sehingga tempat nongkrong menjadi lebih sempit. Padahal tempat itu sangat nyaman untuk duduk dan menunggu matahari terbenam.

Kali ini, entah untuk keberapa kalinya, saya menyepi ke Lempuyangan. Biasanya saya duduk di besi bekas rel di sebelah barat parkiran motor, tapi kali ini ketika saya baru mau melangkahkan kaki menuruni pembatas, suara peluit keras dibunyikan dari pos penjagaan rel. Seorang penjaga menunjuk-nunjuk saya sambil tetap meniup peluit. Saya cuma melihat si penjaga dengan tatapan tak paham hingga akhirnya pengunjung lain mengingatkan saya, ‘mbak, sekarang udah gaboleh lagi turun ke rel.’

Daerah di bawah Jembatan Lempuyangan ini merupakan salah satu public space andalan masyarakat Jogja yang ingin membawa anak-anaknya bermain atau melihat lalu lintas kereta dari Stasiun Lempuyangan tanpa dipungut biaya. Spot ini juga menjadi andalan para fotografer yang ingin mencari momen human interest yang cukup menarik. Saya sendiri, semenjak Stasiun Lempuyangan melarang pengunjung tanpa tiket masuk ke peron, memilih tempat ini sebagai salah satu tempat favorit mengejar matahari terbenam. Dan tentu saja, duduk sambil makan jajanan. The Art of Doing Nothing. Saya sudah lebih dari tiga kali posting tentang Lempuyangan. Saya tidak pernah bosan 🙂

 

jadi tempat favorit orangtua buat nyuapin anak-anaknya


_________________________________________
yang di bawah ini ga ada hubungannya sih sama judul.
Tadi saya bimbingan skripsi dengan seorang dosen, yang dikenal sangat religius di kampus. Tetapi orangnya sangat ramah dan bersahabat serta suka memberikan pendidikan moral kepada para mahasiswanya. Sebelum saya ada beberapa adik kelas yang menanyakan masalah kuliah, gatau kenapa mereka nyasar sampai ke urusan menikah.

“Yang namanya menikah itu seperti akuntansi yang kita pelajari ini to.. Transaksi (ijab kabul) dulu, baru kalo ternyata nggak cocok kita melakukan adjustment (penyesuaian)… Sayangnya yang dilakukan sama anak-anak jaman sekarang itu melakukan adjustment lewat pacaran, nggak cocok ya nggak nikah. Ya to?”

Para adik kelas tertawa terbahak-bahak, sementara kami tetua di barisan belakang cuma bisa senyum simpul. Pacaran tidak dianjurkan lewat agama. Dan jodoh itu bukan semata-mata bisa didapatkan begitu saja, tetapi merupakan hasil usaha kedua belah pihak untuk saling mencocokkan diri dan menjadi yang terbaik untuk pasangannya. Itulah kenapa saya berani bilang, ‘jodoh itu dia yang menemani kita sampai tua…’
Karena itulah, di umur segini saya masih single, saya mempercayai bahwa jodoh saya ada di luar sana, dan kami akan bertemu ketika masing-masing dari kami telah berhasil untuk memantaskan diri. Jodoh baik untuk orang baik, ditemukan di tempat baik pula. Nah loh, masalahnya apakah kita mau memantaskan diri agar mendapatkan jodoh yang baik? 🙂

Menutup posting kali ini, salam hangat dari saya dan senja cantik Lempuyangan.

21 thoughts on “senja di lempuyangan

Leave a Reply

%d bloggers like this: