Wonderful Salaran!


Lagi-lagi rencana saya mencabut sambungan speedy kemarin batal. Gimana ya. Kalo udah acara sama anak-anak EQ, biarpun cuma makan, akhirnya pasti ada acara jalan-jalannya. Kayak udah satu rangkaian gitu, gabisa dipisahin.

Begitupun kemarin. Ketika kami makan pisang ijo di warung ababil Gejayan, Mba Dini meratapi nasibnya yang akan segera berangkat KKN ke solo esok hari. Kami kasian dan kami gabisa menolak ketika mba dini kemudian mengajak kami pergi, mumpung dia masih bisa maen sama motornya. Saya, Ninda, Koplak, Om jul dan Mas Saiqa adalah tipe orang yang yah yoh aja, mendengar kalimat “kemana yuk” terdengar seperti rayuan pulau kelapa. *lebay.

Akhirnya kami putuskan untuk berpencar dahulu. Saya dan Ninda mengambil kamera saya, sementara yang lain ngendon di rumah Mas Saiqa. Sebelumnya kami sempat punya pikiran, maen ke Waduk Tambakbayan yang ada di daerah Mino atau naik transjogja ke prambanan. Tapi akhirnya saat saya dan Ninda sampai di rumah Mas Saiqa, mereka sibuk menunjuk-nunjuk potongan koran kompas yang ada di meja. Di situ ada artikel mengenai sebuah tempat di Gunungkidul, Watu Wayang. Saya melihat foto-fotonya, dan saya ngiler. Dan ga tau kenapa kamipun serempak berkata , “ayo kita kesana sekarang.”

potongan koran yang menjadi peta kami

Jadi, tempat yang diceritakan di dalam tulisan itu adalah Dusun Salaran Desa Ngoro – oro yang terletak di kecamatan Pathuk. Sebuah dusun yang terletak di perbukitan Gunungkidul, beberapa kilometer dari Bukit Bintang. Sebuah dusun yang ada di lereng perbukitan, yang dikenal sebagai jendela pegunungan sewu dan dusun seribu tower.

perjalanan ke sungai gembyong
berasa di luar negri
seribu tower

Mengapa?
Dusun ini menghadap langsung ke daerah pegunungan sewu dan begitu kita berada di pinggir bukit di depan kita terhampar lembah yang mungkin akan mengingatkan kita pada Ngarai Sianok dengan background pegunungan dan tiang-tiang Sutet di kejauhan. Dan disebut seribu tower karena di tempat ini banyak berdiri tower pemancar siaran televisi yang digunakan sebagai stasiun relay.

Di Dusun Salaran ini ada beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi, antara lain :
1. Sungai Gembyong dan Jembatan Lemah Abang


Untuk mencapai Sungai Gembyong kita bisa menggunakan motor biasa. Hanya saja, jalanan menuju tempat ini sangat curam. Jalanan turun ya bener bener turun, panjang dan berkelok, enggak memberikan kita tempat menghela napas sebentar. Saya sarankan, motor anda pada kondisi prima , kampas rem engga habis, dan orang yang nebeng anda engga overweight, ahehehe. *piss* Saat baru masuk ke daerah Gembyong, kami disuguhi pemandangan aduhai, yang sejenak mengingatkan kami pada daerah pegunungan, kalo buat saya, Merbabu. Udara sangat sejuk, diterpa mentari yang udah condong ke barat, dan lembah terhampar di sebelah kiri kami, saya berkali-kali mengucap subhanallah. I love Indonesia.


Jembatan Lemah Abang yang tergantung di atas Sungai Gembyong adalah jembatan gantung yang dibangun pada tahun 1996. Wah, sudah cukup lama ya. Jembatan gantung kuning ini adalah satu-satunya jembatan yang menghubungkan daerah Sleman dan Gunungkidul di wilayah situ. Begitu ada motor yang melewati, jembatan akan bergetar cukup hebat, bahkan kemaren Om Zul engga kuat jembatannya digoyang-goyang, dia sedikit mabuk. Sungai Gembyongnya sendiri sedang asat, mungkin karena sudah memasuki musim kemarau. Padahal, kalau sedang penuh air, kita bisa bermain air disini dan bercengkrama di dekat air terjun. Memang kecil sih air terjunnya, tapi airnya masih jernih, dan katanya, sensasi boker disini melebihi nyamannya boker di hotel bintang lima. Waakkaka. Next time i’ll try ..

Btw saat jembatan bergoyang dan saya sibuk mencari keseimbangan, tiba-tiba tas saya jatuh dan tutup lensa saya melompat keluar, dan dengan manisnya menyusup lewat sela jembatan, terjun bebas ke bawah diiringi teriakan saya. Ahahahaha. Lebay abis. Untunglah bisa turun kebawah buat ngambil tutup lensanya… 😀

koplak mabok

Di sini kemudian Om Zul dan Ninda pamit pulang duluan. Mereka mau rapat Sempu *weseeeh yang mau ke sempu* Kami merasa eman eman, masa mau pulang juga. Akhirnya kami mencoba ke destinasi selanjutnya, Watu Wayang.

2. Watu Wayang

watu wayang di kejauhan

Saya kira watu wayang itu semacam tempat bertapa. Atau batu yang suangat buesar. Dan ternyata benar. Watu Wayang adalah batu suangat buesar, lebih tepatnya gunung! Hahahaha. Gunung kecil, bukit deh kalo gamau dibilang gunung.Letaknya bersebelahan dengan Gunung Nglanggeran. Tapi topografi Watu Wayang sangat unik, seperti bongkahan batu yang tergerus di sisi-sisinya, ditumbuhi pepohonan, dan di bagian bawah ada batu-batu segede mobil berserakan di pinggiran jalan.Waaw. Berasa di jaman purba. Kami pingin banget naik kesana. Sayangnya waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima, kami juga belum solat ashar. Akhirnya kami asal berhenti di pinggir jalan, sekedar berfoto di batu-batu segede mobil tadi. Kami ingin naik ke atas batu yang segede rumah, tapi buat kesana harus lewat sawah dulu.

Ternyata sawahnya kering, hehehe. Kami jadi mudah berjalan di sana. Tapi sama aja, batunya gabisa dipanjat zzz____________________________________________________

Akhirnya kami memutuskan kembali ke motor. Saat itulah kami lupa dimana tadi kami naik, sementara Koplak dan Mba Dini berputar lewat jalan lain. Saya nekat mlipir di pinggir sawah, dan hap! Saya melompat. SIAL! Ternyata sawahnya berlumpur! Sandal saya terhisap, padahal saya baru beli di depan puskesmas Tawangsari tadi… T.T Tujuh ribuku….
____________________________________________________

tragedi lumpur hisap

Eh tapi nasib koplak ga jauh beda. Sandal sembilan ribunya juga putus. Ahahaha.
Sayang sekali, kalau awan tidak menutupi cakrawala, sunset dari daerah berdirinya tower pemancar cukup perfect. Watu Wayang dibelakang saya berkilau kemerahan diterpa sinar matahari. Cantikkk sekali. Langit juga sudah bersih kebiruan.. eh.. malah pas mataharinya awan jahat bergerombol. Sedih. Baterai kamera saya juga habis. T.T

akhirnya setelah solat magrib, kami memutuskan makan di daerah jalan Wonosari. Saya lupa namanya. Rekomendasi Mas Saiqa sih hahaha, saya mah yang penting makan. Muka Koplak sendiri sudah kayak orang teler, kayaknya dia sendiri udah mabok tadi di jembatan gantung. Makanan disana enak.. engga manis kayak kebanyakan warung makan jogja. Saya sok sugih memesan ayam goreng saos mentega, kuahnya yummy.. Sayang nasinya agak keras, dan jeruk anget saya rasanya kayak campuran mie godog. Wahahaha.

Perlu teman-teman ketahui, tempat tempat di atas sebenernya bukan objek wisata. Tapi menurut saya, biarkan tempat ini seperti apa adanya, jangan bertambah ramai. Saat ini tempat-tempat yang bisa buat refreshing makin sedikit saja, karena modernisasi yang terus dilakukan. Ehm.. sebenernya saya nulis disini pun akan membuat orang2 jadi penasaran dan pengen kesana. Iya enggak sih? Saya jadi dilema… hahaha

Kapan-kapan kami akan menaklukkan Watu Wayang,, dan berteriak dari puncaknya.
Ada yang mau ikutan?

P.S : Foto ini bebas diunduh sepanjang bukan kepentingan komersial, dan tentu saja, atas seizin saya.. 😀

11 thoughts on “Wonderful Salaran!

Leave a Reply

%d bloggers like this: