Behind The Scene Penelitian Sosial di Blado, Gunungkidul


Akhirnya observasi perdana kami ke Blado, Purwosari Gunung Kidul terlaksana juga. Penelitian kecil-kecilan untuk mengetahui potensi daerah ini kami lakukan bersama teman-teman dari Shalink dan Kappala. Terdapat beberapa kelompok yang masing-masing meneliti desa yang berbeda, dan kami (saya, Mas Dzul, Mas Resha, Mas Topik, Mas Riski dan Mba Ika) dapat bagian Blado itu. hehehe. Saya sempat mikir banget, jangan-jangan Blado letaknya di pojok jauuuuh. Dan benar, letak Blado memang di pojok tapi pojok dekat, hehehe. Parangtritis naik ke perbukitannya, jalur Parangndok belok kiri 😀

di perjalanan

Belum sempat saya ketiduran di jalan, kami sudah sampai di lokasi.
Seperti daerah Gunungkidul pada umumnya, topografi wilayah Blado pun berbukit-bukit dan berbatu. Orang lokal bilang, ini bukan tanah berbatu tetapi, “batu bertanah” Hahaha. Yang saya suka, saya bisa menghirup udara segar sebebas-bebasnya tanpa intervensi dari polusi kendaraan bermotor. Tapi bukan berarti saya mau kesini naik sepeda. Hahaha. Ngga deh.

Kami disambut salah seorang warga desa saya lupa nama pastinya, kalo ga salah Pak Punijo. Atau Panjiyo? Atau Paijo? Yang jelas si bapak ini masih muda, mungkin seharusnya saya panggil mas saja. Dia sangat menyambut kami dengan baik, memberi kami suguhan sederhana, seperti kacang rebus dan singkong goreng (tapi rasanya sumpah enak banget.. empuk, anget, gurih, yauuum) Dia memberi kami banyak penjelasan awal tentang kondisi dan situasi di Blado ini, mulai dari relokasi penduduk dari bawah tebing sampai ke kangennya dia sama salah satu temannya dari Prancis yang kini hilang kontak.

di peternakan sapi komunal
we love bladooo!

Ditemani semilir angin khas perbukitan yang sejuk tapi ‘panas’, kami lanjutkan perjalanan mengelilingi sekitar, mengunjungi kandang sapi kelompok dan berputar – putar bertanya-tanya dengan warga sekitar. Mereka sangat ramah, menyambut kami dengan baik, menyuguhi kami makan siang, dan mengajak kami mengobrol santai. Saya pikir kearifan lokal dijunjung tinggi disini. Saat kami datang, mereka tengah bergotong royong membangun rumah salah satu warga desa. Wah. Keren. Sukarela tapi ada hasilnya. Ga kayak orang kota yang dikit-dikit mikir duit tapi dikit kerjanya *semoga saya ngga termasuk.. 😛

Sebenernya kunjungan awal ini hanya untuk mengetahui kondisi medan. Kami belum masuk ke tahap yang lebih jauh, karena buat kami adaptasi itu cukup penting. Buat saya sih sebenernya 😀
Dan saya betah disini!!! Sore-sore ngglethakan di teras orang, sejuk abis, dan saya mikir saya ngga mau pulang! Hahahahaa… Mungkin minggu depan saya bisa nginep sini .

Pukul 3 sore, kami langsung cabut. Berhubung Blado cukup dekat dengan Parangndok, saya putuskan mengajak teman-teman naik ke Parangndok untuk melihat panorama Parangtritis dari atas dan kalau sempat-sunset. hehehe.

menunggu sunset
sandal merah saya sudah ke parangndok juga! tapi tempat paling tinggi tetep aja dia ke lawu hahaha

Menunggu sekitar dua jam dia atas, tiba-tiba awan mendung datang! Gyahaaaa… awan jahat itu menutupi sang mentari yang mulai turun malu-malu. Saya sediiih sekali.

pemandangan dari atas landas pacu


nyoba nerbangin pesawat tapi ngga ada yang sukses.. angin jahat,. hahaha

 

Akhirnya kami pulang tanpa foto sunset yang berarti. Huks. Tapi kami masih bersemangat, karena setelah itu kami menonton marching band nya UGM …

Marching band UGM bagus.. Saya suka konser tembang dolanan anaknya. Saya selalu standby tegak di kursi, kecuali saat ada yang maen lagu Cublak-Cublak Suweng dengan improv a la jazz. Lagu aslinya 2 menit, improvisasinya 20 menit. Saya sukses tertidur sebentar.
Makan sebentar di Gudeg Cukupan batas kota (sepertinya saya udah mulai bosan sama gudeg. Gatau neq banget makan gudeg kmaren, stop gudeg untuk sesaat!) akhirnya saya baru sampai rumah jam 12an. Saya tepar, tapi saya sukses ngga mbolos keesokan harinya. Alhamdulilah. 😀

*Hemm.. knapa ya saya mau jauh-jauh ikutan penelitian kayak gitu? Minggu-minggu, panas-panas, jauh-jauh, ngantuk, banyak tugas, tapi saya bersemangat banget. Soalnya saya merasa bakal dapet banyak ilmu baru. Buat saya, pelajaran yang paling efektif yang saya dapatkan adalah ketika saya bisa belajar di tengah masyarakat. Memperhatikan bagaimana mereka bekerja, berkarya, berkumpul dan berdiskusi, membuka wawasan saya dari sudut pandang yang baru, dan belajar berani memberikan pendapat dengan cara yang berbeda dengan di kampus. Waaah…

Saya cinta Bladoooo 🙂

10 thoughts on “Behind The Scene Penelitian Sosial di Blado, Gunungkidul

Leave a Reply

%d bloggers like this: